Cuaca yang tak begitu bersahabat, dikarenakan hujan yang begitu deras membasahi kota Jakarta. Angin yang kencang, membuat semua orang harus berteduh, dibawah pohon. Ara Valeria, wanita cantik, dengan rambut yang terkuncir sedang memeluk dirinya sendiri karna kedinginan. "Kapan ya hujannya reda? Udah hampir jam kerja lagi!" keluhnya. Ia tak mau Eza memarahinya. Ara semakin memeluk dirinya, karan hujan semakin deras. Hawa dingin seakan bisa menyentuh tulangnya. Namun, semua itu ia tepis, lebih baik ia menerjang hujan, dari pada dimarahi Eza, bekerja belum sebulan sudah terlambat. Ara terus berjalan, tak memikirkan hujan yang begitu deras, dan angin yang dengan kencang mengenai kulit putihnya. "Ara, kamu kuat, kamu bisa kok," ujarnya menyemangati diri. Namun tiba-tiba ada sebuah mobil, berhenti tepat di pinggirnya. Sang pemilik mobil itu membuka kaca mobil. "Masuk dek, hujannya ini deras banget, nanti kamu sakit!" Printah pria pemilik mobil. "Makasih Pak! Tapi maaf saya gak bisa nerima tawaran Bapak," tolaknya. Bukannya apa-apa, Ara menolak, tapi Ara tak mengenali lelaki muda pemilik mobil itu. Dirinya takut pemilik mobil itu adalah penculik yang akan memutilasinya. Pemilik mobil itu keluar dengan payung yang melindunginya dari derasnya hujan, "kamu jangan takut, saya bukan orang jahat, saya hanya mau membantu kamu!" "Tapi Pak!" "Ya sudah kalau kamu tidak mau," ucap pria itu, seakan merajuk. Ara merasa tak nyaman melihat perubahan wajah pria itu. "saya mau Pak!" 🌱🌱🌱 Di dalam mobil hanya ada keheningan, tak ada suara dari keduanya, Ara yang merasa canggung dan takut, sedangkan pria di sebelahnya fokus menyetir. Ara merasa tidak asing dengan pria disampingnya, ia seperti sangat mengenali wajah pria disampingnya. "Kamu kelas berapa?" tanyanya, tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. "Saya masih kelas sebelas pak," jawab Ara. Ia melihat pria disampingnya, sangat tidak asing, tapi tak mungkin orang itu teman masa kecilnya yang berada di luar negeri. Mendengar kata pak dari Ara, pria itu sedikit tetawa. "Pak? Setua itu saya?" Ara meringis, apa salah dirinya jika memanggil pria disampingnya ini pak. Dia tak kenal bukan? Jadi tak ada yang salah menurutnya. "Eh salah ya? Terus saya panggil apa?" "Panggil Kakak aja," jawabnya, memberi ide. "Eh ia kak!" Tak sengaja lengan baju pria itu tersingkap, menampakkan pergelangan tangan yang memekai gelang berwarna hitam, seperi milik teman masa kecilnya. "Kak Aldy!" Ucap Ara tiba-tiba sedikit berteriak akibat terkejut.  Pria itu mengerem secara mendadak, membuat Ara sedikit terhuyung kedepan, lalu melihat kearah Ara. "Nama kamu siapa?" Tanya pria itu. "Ara," jawabnya. Ara juga menatap manik hitam itu. "Ara Valeria?" tanya pria itu, memastikan, yang hanya di jawab anggukan oleh Ara. "Ara ini Kakak, Kak Aldy!" Aldy tak menyangka bisa bertemu lagi dengan wanita kecil temannya dulu, kedatangannya kesini hanya ingin bertemu dengannya, niatnya akan mencari Ara besok, tapi takdir, lebih cepat mempertemukannya. "Ara tau kok kak, karna gelang buatan Ara masih kakak pakai." Senyuman Ara terbit, matanya sudah berkaca-kaca, mungkin satu kedipan tetesan bening itu akan turun. Aldy langsung menarik Ara memeluknya yang juga di balas oleh Ara. Tak terasa tetesan bening itu turun dari asalnya. Sandarannya dulu, tempatnya bercerita kini telah kembali. Keduanya tetap diam dengan posisi yang sama, menuntaskan rasa rindu yang empat tahun ini mereka bendung. Aldy melepas pelukannya, menangkup wajah Ara, memandanginya yang menurutnya cantik. Pipi tirus, bibir yang tak terlalu kecil, dan kulit putih. Membuat Aldy terkagum-kagum. "Kamu udah besar."  "Bukan Ara yang udah besar, tapi Kakak yang pergi lama banget!" Aldy mengacak rambut Ara gemas, kenapa wanita kecilnya itu semakin lucu dan menggemaskan. "Kangen gak sama kakak?" tanya Aldy menggoda. Dengan semangat Ara menubruk tubuh Aldy, mengangguk. "BANGET." Aldy terkekeh, mendengar jawaban Ara, dirinya sangat senang, tuhan mempercepat pertemuannya. 🌱🌱🌱 "Kenapa kita berhenti disini kak, Ara kan mintanya di Cafe Zafandra," omel Ara tak suka, pasalnya Aldy membawa Ara ke toko baju. Aldy menunjuk Ara dari atas sampai bawah. "Liat, baju kamu basah Ra, kakak gak mau kamu sakit, kita beli baju dulu!" "Ara gak ada uang," lirihnya. Aldy bernafas panjang, ia menangkup wajah Ara, mengelus pipi Ara dengan ibu jarinya. "Cukup kamu bertingkah layaknya orang miskin Ra! Kakak kan pernah bilang tinggalin rumah itu." Aldy memang tau, tentang kekejaman keluarga Ara. Aldy tau semua tentang kisah Ara, Aldy juga kenal dengan Oma Ara, tapi Ara melarangnya untuk bercerita tentang kekejaman orang tuanya kepada Farida, dan Aldy adalah orang pertama yang tau tentang hidup Ara, bisa dibilang jika Aldy orang yang paling mengerti Ara. "Kak, Ara gak mau ingkar janji ke Mama!" Jawab Ara dengan seulas senyum manisnya. "Tapi Ra, ini ngesiksa kamu!" "Udah ya Kak, kita jangan bahas ini lagi!" Aldy bernafas kasar selalu begitu, Ara tak pernah mau membahas soal kekejaman orang tuanya, "oke ayo kita beli baju, nanti Kakak anterin!" 🌱🌱🌱 Ara dan Aldy masuk kedalam Cafe Zefandra, ia melihat Eza yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Dengan keberanian Ara menghampiri Eza, ingin meminta maaf karena keterlambatannya.  "Telat dua puluh menit, gaji lo gue potong dua puluh ribu," ucap Eza sebelum Ara meminta maaf. "Ya Za, gak papa," jawab Ara, dengan senyumannya. Aldy tak terima dengan bos pemilik toko itu yang Aldy tau namanya Eza, karena Ara menceritakannya tadi. Menurutnya ia harus lebih konsisten lagi kepada karyawan, dan bisa melihat sisi kondisi sekitar. "Tadi kan hujan, maklumlah kalo Ara dateng telat!" Sewot Aldy. Ara memegang tangan Aldy supaya Aldy tak membelanya. "Kak, udah gak papa, ini salah aku juga gak nerjang hujan dari awal!" "Ck, cari pembelaan," sarkas Eza dan pergi begitu saja meninggalkan Ara dan Aldy. Ara menarik tangan Aldy keluar Cafe secara tiba-tiba."Kak, Ara mau ngomong bentar sama Kakak." "Ada apa?" tanya Aldy. "Kakak jangan kasihanin Ara, kalo Kakak kasihanin Ara, Ara jadi lemah, Ara gak mau kelihatan lemah Kak." Aldy mengangkat satu alisnya, kenapa Ara mengucapkan hal seperti itu. "Maksud kamu?" "Ara gak mau jadi lemah, karna rasa belas kasih dari Kakak," tekan Ara. Aldy menggeleng tak setuju. "Ara-" "Kak Ara mohon, janji sama Ara!" Ara mengacungkan jari kelingkingnya supaya Aldy mau menyatukannya dengan jari kelingkingnya. Aldy menurunkan tangan Ara. "Jangan pernah minta Kakak buat gak ngasihanin kamu. Kakak mengasihani kamu bukan karna siksaan keluarga, atau apapun itu, Kakak mengasihani kamu, karna kakak sayang sama kamu, Kakak peduli sama kamu Ara." Aldy menarik Ara dalam dekapannya, menyalurkan kekuatan yang Aldy punya terhadap wanita kecilnya, ia tak menyangka, beban Ara semakin menjadi-jadi. Jujur rasanya nyaman, berada dalam dekapan Aldy, lelaki yang sudah Ara anggap sebagai kakaknya. "Kak, makasih udah hadir lagi dalam hidup Ara, Ara gak tau caranya berterima kasih ke Kakak, dan gimana caranya menjelaskan kalo Ara seneng Kakak kembali lagi." Aldy mengelus kepala Ara dari belakang. "Kakak kan udah pernah janji, Kakak Bakalan pulang, dunia Kakak disini!" "Makasih, makasih banget!" Aldy melepaskan pelukannya, dan menghapus air mata Ara, "semangat Ra!" Tangannya ia angkat sambil mengepal kearah atas. "Makasih kak!" "Udah sana kerja, nanti gajinya di potong lima puluh ribu hahaha," tawa Aldy, supaya menghilangkan rasa sedih.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
baguss aku suka
08/07/2025
0bagusss bgtt😭
01/07/2025
0bagus
20/06/2025
0Tingnan Lahat