Ara terkejut kala melihat Shelby dan Gengnya berada di depannya. Mau apa mereka menghampiri Ara ke Cafe. "Hai Babu," sapa Shelby, dengan sombongnya. "Gue sama teman gue mau kopi paling enak, dan paling mahal di Cafe ini!" "Baik Mbak," jawab Ara sopan. "Shel Babu lo kerja disini?" tanya Jenny. "Ya biasalah nambahin uang jajan." "Hahaha," tawa mereka berempat. "Tapi shel, ngapain sih kita ke Cafe kecil kayak gini? Pengap tauk!" Keluh Mika. "Gue juga ogah disini, tapi gak papalah buat kerjain Ara!" "Oke!" Dukung Mika penuh semangat. "Ini Mbak harganya yang paling mahal!" Shelby meminum kopi buatan Ara, rasanya memang enak, tapi Shelby mempunyai niat utama datang kesini, "ini paling mahal? Rasanya gak enak!" "Disini sudah gak ada yang paling mahal, dan paling enak dari itu Mbak!" "Kalo gak mau beli gak usah sok!" Sarkas lelaki yang baru datang. Ara dan Shelby in the gang terkejut melihat kehadiran Eza. "Bukan gitu Za, tapi aku minta yang paling mahal!" "Di sini hanya ini yang paling mahal, kalo lo mau yang lebih mahal dan bagus dari ini ke Mall!" Bentak Eza Shelby tak bisa berkata apa-apa, namun Lisa, tak terima Eza membentak Shelby. "Terserah kita dong mau minum di mana aja! Lagian Cafe ini gak lengkap, masak kopi yang mahal yang enak gak ada!" Oceh Lisa. "Heh ini Cafe bukan Mall, dan Cafe ini milik gua, gua bosnya disini, jangan harap kalin bisa menginjak kaki ke toko gue lagi, PERGI!" "SATPAM USIR KEEMPAT WANITA INI!" Panggil Eza menyuruh satpam. Ara menunduk ketakutan, apalagi tatapan Shelby yang menusuk membuatnya semakin ketakutan, ditambah pemilik toko ini adalah sahabatnya, lebih tepatnya teman yang tak di akui Eza. "Ck bisa gak sih jangan lo ladenin?" Tanya Eza. Ara tetap menunduk sambil menggeleng ketakutan. "Maaf!" "Gue nanyak, bisa gak jangan lo ladenin! Bukan minta lo buat minta maaf!" Ara menggeleng membuat Eza semakin geram, kenapa wanita di depannya ini begitu aneh! Eza menarik legan ara, tanpa sengaja Eza memegang lengan Ara yang terluka, mebuat Ara menepis tangan Eza sambil merintih kesakitan. "Aw sakit Eza!" Bentak Ara tanpa sengaja. "Maaf Ra!" Ucap Eza merasa bersalah. "Maaf, aku yang salah, udah buat onar, kamu bisa potong gaji aku!" "Ck ikut gue," Eza memegang pergelangan tangan Ara dan mengajaknya ke rooftop toko. "Gue bukannya peduli sama lo! Tapi kenapa sih gak lo lawan mereka?" Tanya Eza heran. "Buat apa aku ngelawan Za?" "Ya buat lindungin diri lo begok!" "Makasih Za, tapi ini bukan urusan kamu, aku mau balik kerja dulu!" Pamit Ara dan pergi meninggalkan Eza. °°°°° "Ara!" Sapa Faiz dengan riang. "Hai fa!" Jawab Ara tak kalah riang. "Yuk masuk kelas!" "Yuk!" Ara terus berjalan di koridor bersama Faiz, namun dengan sengaja Shelby menjulurkan kakinya membuat Ara terjatuh. "BISA GAK SIH KALAU JALAN ITU PAKEK MATA!" Bentak Shelby. "Maaf Shel!" "Shelby aku melihat ya, kamu menejulurkan kaki kamu. Kamu dengan sengaja bikin Ara jatuh kan!" Tuduh Faiz. "Udah Fa, aku yang salah, aku gak ngeliat kalo ada kaki Shelby," "Tuh kan! Ara aja bilang dia yang salah, kok lo yang sewot sih!" Sambung Mika. Shelby membenarkan tata rambutnya yang agak keriting, karna melihat Eza yang akan melewatinya, tak memperdulikan Ara dan Faiz. Ara dan Faiz masuk kedalam kelas, Ara tak memperdulikan lututnya yang sakit akibat mengenai laintai dengan keras. "Hai Za!" Sapa Shelby.  "Hmm!" Jawab Eza tampa memberhentikan langkahnya. Shelby menarik tangan Eza, ia harus mendapatkan Eza bagaimanapun caranya. "Tunggu dong Za, aku mau minta maaf, soal kemarin!" Shelby mengelus lengan Eza dengan sayang supaya Eza mau memaafkannya, lebih tepatnya menggoda Eza. "Lepasin tangan gue!" Tekan Eza. Shelby menggeleng, sambil mengelus pipi Eza supa tergoda. Eza tersenyum dan membisikkan sesuatu di telinga Shelby kata yang membuat shelby melepaskan tangannya. "Ck, lepasin gak Shel! Gue jijik banget sama lo, lo itu cewek jangan bertingkah layaknya Jalang," bisik Eza geram. Eza masuk kedalam kelas tak mau tau, apa Shelby itu menangis, kecewa, bahagia, atau apapun itu, Eza tak perduli. "Dia ngomng apa Shel?" Tanya Jenny kepo. "Dia ngomong kalau gue menarik di mata dia, dan dia suka gue!" Bohong Shelby. "Yayalah, siapasih yang bakal tahan sama pesona Shelby!" Tambah Jenny mengangung-agungkan. Sesampainya Eza dikelas ia melihat para cowok yang sedang melempar tangkapkan tas Ara, sedangkan Ara, hanya menjinjit supaya bisa mendapatkan tasnya. "Za tangkep!" Ucap Iqbal supaya Eza menangkapnya. Dengan sigap Eza menangkap tas milik Ara. Namun bukannya mengoper tas Ara, Eza malah melemparkannya kepada Ara. "Makasih Za!" Ujar Ara ketika ingin diduk di bangkunya. "Hemm!" Jawab Eza singkat padat dan jelas. °°°°° "Inget rumah?" Tanya Marchel 'Papa Eza' dengan nada angkuhnya. "Tentu saya ingat, tapi anda? Sejak kapan pulang? Sudah bosan bermain dengan para Jalang di luaran sana?" Setelah mengucapkan itu, Eza menaiki tangga menuju kamarnya, tak mperdulikan Papanya yang marah akibat sifatnya. "Dasar anak kurang ajar! Saya pulang karna saya masih kasihan sama kamu!" Mendengar penuturan Marchel, Eza kembali menuruni tangga, dan menghampiri Marchel. "Saya tidak butuh rasa kasihan dari anda, bukankah anda, yang mengajarkan saya untuk tak menggunakan hati? Hemm," Eza tersenyum miring, "saya kira anda pulang sendiri, ternyata anda juga membawa jalangnya kerumah, puaskan nafsu anda, saya tidak akan mengganggu!" Eza tidak bohong ia memang melihat seorang wanita yang menggunakan bikini di dapur. "Pergi, pergi yang jauh, kamu sama Mama kamu sama!" Eza memberhentikan langkahnya, dan melirik dengan tajam kearah Marchel. °°°°° Eza mengendarai motornya, dengan cepat, mengingat masa lalunya yang begitu kelam, di tambah Papanya, yang semakin menggila, karna harta, dan kenikmatan bersama wanita. Tanpa Eza sadari motornya menabrak trotoar, akibat lamunannya. BRAK "ANJING, ARGH, GUE BENCI HIDUP GUE, GUE BENCI!" Teriak Eza. Eza membuka helemnya dan memukul-mukulnya kearah trotoar. "ANJING KENAPA HIDUP GUE SEMENDERITA INI, GUE BENCI WANITA, GUE BENCI MAMA, GUE BENCI NATA, GUE BENCI PAPA, GUE BENCI KELUARGA GUE ARGH!" Ara yang sedang berjalan ingin belanja terkejut, melihat seseorang dan motor yang tergletak, sambil berteriak-teriak tak jelas. "Bukannya itu motor Eza?" Ara menyipitkan matanya, mencari kebenaran tentang yang ia lihat. "Hah ia itu Eza!" Ara berlari menghampiri Eza, "Za kamu gak papakan?" "Lo ngapain kesini sih, gue gak butuh bantuan lo!" "Tapi aku mau bantu kamu!" Kekeh Eza. "Gue gak bu_" Ara menahan mulut Eza dengan jarinya supaya tidak berbicara lagi. "Di motor kamu ada P3K gak Za?" Eza hanya mengangguk, tak melawan ucapan Ara lagi. Ara menghampiri motor Eza, membangunkan motor Eza dengan susah payah, dan mengambil P3K di jok motor. "Mana yang luka?"  {Intinya Eza pakek jaket kayak gitu.} Eza menunjukkan betis dan lengannya yang sakit. Ara membukakan jaket Eza, dan membersihkan lukanya. "Aw, perih setan!" Ara memandang Eza tak suka, "kata setannya di buang Za!" "Ck, cepet gak usah bacot!" Ara memngobati luka Eza, sambil meniup-niupnya, supaya rasa perihnya berkurang. Eza tersenyum tanpa sadar, kenapa Ara begitu manis, ditambah perhatiannya sangat tulus. Eza sadar jika dirinya tersenyum. Eza langsung berdiri, dan memakai jaketnya kembali. "Makasih," cetus Eza dan pergi meninggalkan Ara, dengan motornya.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
baguss aku suka
08/07/2025
0bagusss bgtt😭
01/07/2025
0bagus
20/06/2025
0Tingnan Lahat