Faiz, sudah tidak percaya lagi dengan alasan Ara. Selama ini ia pura-pura bodoh mengiakan alasan Ara, dari jatuh, terpleset, tersandung, dan lain-lainya. "Ara cerita sama aku pipi kamu kenapa memar kayak begini? Tanya Fais dengan mendesak. "Faiz, aku gak papa, ini waktu aku tidur jatuh!" bohong Ara. "Aku memang tidak sepintar kamu, tapi aku tau, mana bedanya memar karna jatuh, dan memar karna di tampar, ini luka tamparan, dan ini luka cambukan Ara!" tunjuk Faiz pada bagian yang terluka. Ara hanya diam menunduk, ia merasa bersalah telah membohongi Faiz selama ini, tapi ia tak mau Faiz tau tentang kekejaman keluarganya. "Kamu masih menganggap aku sebagai sahabat kan Ra?" Ara hanya mengangguk, dan enggan melihat kearah Faiz. "Lihat aku Ara! Tatap mata aku, kalau kamu masih menganggap aku sebagai sahabat kamu, tatap mata aku!" Pinta Faiz. Dengan perlahan Ara mengangkat kepalanya menatap mata Faiz yang penuh dengan kehawatiran. "Maaf!" Lirih Ara. Faiz memegang pundak Ara, memandangi netra coklat yang menenangkan, "cerita sama aku, aku sahabat kamu, jangan ada yang di tutup-tutupin dari aku." Ara duduk di sebuah bangku taman, ia ingin menceritakan semua keluh kesahnya yang selama ini ia simpan. "Kamu benar luka ini akibat tamparan Papa, dan ini karna cambukan dari Papa, semua luka dari dulu kamu lihat ini adalah akibat keluargaku." Faiz terkejut, apa salah Ara sehingga ia di perlakukan seperti itu. "Aku gak tau kesalahan aku terletak dimana. Aku juga gak tau kenapa semua keluarga aku mengatakan jika aku pembunuh, aku juga gak tau kenapa Papa bilang aku bukan anak dia!" "Ra!" Panggil Faiz. "Aku pembunuh Fa, aku anak haram, aku pembawa sial," tangis Ara pecah. Faiz langsung menarik Ara memeluknta dari samping. Ia tak kuasa melihat sahabatnya menangis seperti itu. "Semua ada alasannya Ra, cerita ke aku!" Flash back on Seorang anak kecil yang tengah bermain dengan Ayah dan Ibunya, disebuah taman kota. Anak kecil itu sangat gembira, memilki orang tua yang sangat menyayanginya. Anak kecil itu Ara Valeria Atmaja, beserta Ibu dan Ayahnya, Hutomo Atmaja, dan Karin Atmaja. Ara menarik-narik baju Hutomo, melihat penjual eskrim disebrang jalan yang dikerumuni oleh anak-anak. "Papa, Aya mau eckim," pinta Ara dengan suara cadelnya. Hutomo berjongkok, menyamakan dirinya dan putrinya. "Anak kesayangan Papa mau eskrim!" Ara mengangguk antusias, menandakan ia sangat mau membeli eskrim. Hutomo yang gemas mencium pipi gembul Ara, membuat Ara tertawa karna kumis tipis hutomo yang menggelitikinya. "Hahaha Papa hahaha geyi," tawa Ara. "Mas, jangan isengin Ara dong Mas!" tegur Karin. "Kamu mau juga aku gelitikin?" Tanya Hutomo menggoda, sambil mengedipkan satu matanya. Karin mencubit perut Hutomo, "jangan di sini, malu banyak orang!" "Oke di rumah ya," bsik Hutomo pada Karin. "Mesum! Sana beliin Ara eskrim. Ara mau eskrim rasa apa sayang?" tanya Karin, mengalihkan pembicaraan dari Hutomo. "Vaniya, sama cokyat, sama stobeyi, sama-" Ucapan Ara terhenti karna Hutomo mengapit bibir Ara. "Pilih sata, gak boleh banyak-banyak, mau sakit gigi?" Ara menggeleng kuat, ya tak mau ibu peri mengambil gigi kesayangannya "Aya mau eckim yasa cokyat!" "Oke super Hero Papa akan meluncur." Ara dan Karin tertawa melihat tingkah Hutomo yang menirukan gaya Superman ketika ingin terbang. "Hahaha, Papa yucu ya Ma!" "Ia sayang, lucu banget!" Ponsel karin berbunyi, menandakan ada yang sedang menelponnya, "sayang Mama angkat telpon bentar ya. Kamu jangn main jauh-jauh!" Peringat Karin. "Siap Heyo Mama!" Ara bermain dengan bubblenya, ia melihat sebuah kupu-kupu yang sedang hinggap di sebuah bunga. Ara menghampiri kupu-kupu itu. Semakin Ara mendekat kupu-kupu itu semakin menjauh, seperti ingin mengajak Ara bermain. Hingga akhirnya kupu-kupu itu berada di jalanan, Ara tetap mengejarnya. Karin yang sudah selesai, tak melihat anaknya. Ia bingung mencari keberadaan putrinya, betapa terkejutnya Karin kala melihat Ara di tengah jalan. Karin berlari menghampiri Ara, ia semakin panik ketika melihat sebuah truk yang kencang. "ARA AWAS SAYANG." "MAMA!" Ara tidak melihat truknya, ia melambaikan tangannya pada karin jika ia mendapatkan kupu-kupu yang ia tangkap. "ARA!" BRUK BRAK Karin mendorong Ara sampai Ara terpental ke trotoar, sedangkan Karin ia sudah berlumuran darah, akibat hantaman truk yang mengenai badannya. "MAMA!" Ara menghampiri Karin, menidurkannya ke pangkuannya, ia tak memperdulikan lengan dan kakinya yang berdarah. "Mama jangan tinggayin Aya, Aya sayang Mama!" Karin tersenyum, sambil mengelus surai rambut Ara yang terikat. "Jaga Papa sayang, demi Mama, jangan pernah tinggalin Papa!" "Aya janji, Aya akan jaga Papa, Mama juga janji Mama juga janji gak akan ninggayin Aya!" Ujar Ara sambil terisak. Karin menggeleng sambil tersenyum, darah yang semakin mengalir di kepala Karin. "Uhuk uhuk," Karin memuntahkan begitu banyak darah. Ara semakin menangis melihat darah yang begitu banyak keluar dari mulut Mamanya. "MAMA!" Teriak Ara. Karin menutup matanya untuk terakhir kalinya di pangkuan putrinya. Hutomo yang melihat keramayan mengernyit, ada apa disana kenapa begitu banyak orang. Hutomo tak memperdulikan hal itu. Namun, sesampainya di tempat, ia tak melihat istri dan anaknya di sana, "kemana Karin dan Ara?" Hutomo tersenyum, ia mengerti istrinya dan anaknya ada di kerumunan manusia di sana, karna Karin adalah wanita yang sangat ingin tau. "Karin-karin, kamu gak pernah berubah sayang, dari dulu sampai punya anak tetep kepoan!" "KARIN, KARIN, ARA, KARIN!" Panggil Hutomo. Kaki Hutomo lemas, ia mendapati istrinya yang sudah berlumuran darah, berada di pangkuan putrinya. Hutomo tidak bisa berkata-kata apa lagi, ia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Hutomo memberanikan dirinya menghampiri keduanya, dan benar. Wanita itu adalah istrinya, semua ini benar. Flash back of Ara menangis, ia tak kuasa mengingat awal hancurnya kehidupannya, wanita yang melahirkannya tewas akibat menolongnya, menutup mata dipangkunya. Faiz memeluk Ara dengan sangat erat, ternyata beban hidup Ara begitu menyakitkan. Faiz semakin tak mengerti, Ibu Ara sudah meninggal kenapa Ara mengatakan jika ia anak dari asisten rumah tangga. "Ra_" "Aku pembunuh Fa, benar kata Papa aku pembunuh!" Racau Ara dalam pelukan Faiz. "Udah jangan menangis, ini semua bukan salah kamu Ra!" "Ini salah aku Fa, seharusnya aku yang mati bukan Mama!" Faiz membuka pelukannya, dan menghapus air mata Ara dengan lembut. "Dengerin aku Ra! Ini semua bukan salah kamu, kamu juga gak mau kan semua ini terjadi, ini semua terjadi di luar kendali kamu." "Tapi Fa, Mama meninggal karna nolongin aku!" "Ara ini semua kehendak Tuhan, ini semua yang terbaik buat kamu! Dan ingat kamu tidak sendiri, ada aku, cerita semua ke aku, jangan pernah sungkan ataupun apa itu, jangan pernah!" "Makasih Fa, makasih udah mau jadi teman aku." "Tapi, kenapa kamu bilang kalau kamu anak asisten rumah tangga?" "Sebenarnya aku anak Papa Hutomo, Ayah tiri Shelby." Faiz semakin terkejut mendengar semua kebenarannya. "Tapi kenapa_" ucapan Faiz terhenti ketika Ara menjawab pertanyaan yang ada dibenaknya. "Papa ngelarang aku mengaku jika aku anak kandungnya," sela Ara. "Papa menikah lagi dengan Mama Dewi, ketika aku berumur sembilan tahun. Dan tahun itu kehancuran hidupku semakin parah, aku tak bisa pergi karna amanah Mama, tapi aku lelah bertahan!" "Ra, maaf aku gak bisa berbuat apa-apa!" Ara melihat kearah Faiz, "Sut, kamu hadir di kehidupan aku itu udah lebih dari cukup Fa, Thank you for listening to my story, being a friend who is always there for me!" (Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku, menjadi sahabat yang selalu ada untuk aku!) "Aku juga berterima kasih sudah mau bersabat dengan lelaki aneh seperti ku!"
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
baguss aku suka
08/07/2025
0bagusss bgtt😭
01/07/2025
0bagus
20/06/2025
0Tingnan Lahat