logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Fitnah di bawah hujan

Bab 2: Fitnah di Bawah Hujan
"Mengapa? Mengapa kamu melakukan ini padaku, Adrian? Demi apa?" suara Valeria serak menembus derasnya hujan, suaranya seperti ditiup angin kencang. Ia meremas kedua lengannya, berusaha mencari kehangatan yang tak lagi ada. Wajahnya yang memucat kini basah oleh tetesan air hujan, bercampur dengan air mata yang terus meluncur deras. Rasa perih itu begitu menusuk, melampaui segala deskripsi.
Sebuah tangan kekar menepuk bahunya dari belakang. Itu Pak Andi, salah satu satpam yang ia kenal. Wajah pria itu menampakkan sedikit iba, namun matanya jelas memancarkan perintah tak terbantahkan.
"Nona Valeria, saya minta maaf," ujar Pak Andi pelan, suaranya ikut ditenggelamkan gemuruh petir. "Saya hanya menjalankan tugas. Tuan Adrian bilang, Anda tidak boleh lagi berada di sini."
Valeria berbalik, menatap pria paruh baya itu dengan tatapan kosong. "Pak Andi, ini tidak mungkin. Ini fitnah. Kamu kenal aku kan? Aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk mengkhianati siapapun, apalagi Adrian, tunanganku."
Pak Andi menghela napas panjang. "Nona, buktinya sudah jelas dipaparkan di dalam. Dokumen transfernya ada, dan semua sudah tersebar di mata tamu." Ia mengangkat tangannya, seolah tak mampu berkata-kata lebih jauh. "Tuan Adrian bahkan menunjukkan riwayat telepon Anda. Sulit sekali dipercaya memang, tapi semuanya nyata di sana."
"Riwayat telepon? Itu pasti palsu!" Valeria menggeram, mencoba menepis kenyataan. Hatinya seperti dirobek-robek, mengingat Adrian menunjukkan rentetan nama kontak yang seolah ia hubungi. "Aku bersumpah itu tidak pernah terjadi, Pak Andi! Dia merekayasanya. Ini jebakan!"
"Saya hanya orang rendahan, Nona." Suara Pak Andi datar, seperti robot. "Perintah dari atas harus saya laksanakan. Tolong segera pergi. Jika tidak, saya harus bersikap lebih tegas."
"Lebih tegas?" Valeria tertawa hampa. "Apalah artinya kekerasan fisik saat hatiku sudah hancur lebur seperti ini, Pak Andi? Kamu pikir aku takut akan hal itu?" Ia menunjuk ke arah ballroom yang kini meredupkan cahaya, bayangan Saras dan Adrian berdiri di sana, mengawasinya dari kejauhan. "Mereka melihatku. Mereka menikmati setiap detiknya."
"Mohon dimaklumi, Nona," suara seorang satpam lain, Pak Budi, menimpali. Ia baru saja keluar dan membawa sebuah kotak kardus kecil, sudah basah karena hujan. "Ini barang-barang pribadi Anda dari paviliun Tuan Adrian."
Valeria mengambil kotak itu dengan gemetar. Isinya hanyalah beberapa helai pakaian dan foto kenangan mereka berdua yang sudah usang. Tidak ada satupun benda berharga lainnya, bahkan cincin pertunangan itu pun kini terlepas dari jemarinya. Ia merasakan ada sesuatu yang tajam menusuk jari telunjuknya. Di dalam kotak, terselip sebuah pisau lipat kecil yang dulu sering Adrian gunakan untuk membuka bungkusan. Sebuah kecerobohan. Pisau itu berkarat, sama berkaratnya dengan perlakuan Adrian padanya.
"Bahkan kenangan pun ingin mereka hancurkan." gumam Valeria pahit, memandangi foto dirinya bersama Adrian saat mereka masih saling mencintai. Setidaknya, itulah yang ia yakini dulu. Sekarang, setiap sentimeter ingatannya terasa bagai luka menganga. "Apakah seluruh hubungan ini hanya omong kosong, Pak Andi? Selama ini?"
Pak Andi menghindari tatapannya. "Nona, ini bukan lagi tentang hubungan. Ini tentang harga diri keluarga Suryadi yang ternoda karena tindakan Anda. Tuan Adrian sangat marah. Beliau merasa dikhianati."
"Dikhianti?" Valeria kembali tersenyum getir. "Dia yang mengkhianatiku! Dengan tuduhan palsu ini! Dengan perempuan lain di belakang punggungku!" Ia menoleh ke arah jendela ballroom, bayangan Adrian dan Saras tampak tertawa. Hatinya mencelos. "Dan sekarang aku dibuang, setelah mereka menguras segalanya dariku."
"Anda harus pergi sekarang juga, Nona," desak Pak Andi, nada suaranya berubah menjadi perintah tegas. "Jangan memaksa kami menggunakan kekerasan."
"Kekerasan?" Valeria menatapnya lurus. Air matanya sudah tercampur hujan, membuat matanya seperti menyala-nyala. "Tidak perlu, Pak Andi. Aku akan pergi. Aku akan pergi dari neraka ini." Ia mengangkat dagunya, menunjukkan sisa-sisa harga dirinya yang tercabik-cabik. "Tapi dengar ini baik-baik. Aku akan kembali."
Pak Budi tertawa sinis. "Kembali? Anda siapa berani bicara seperti itu, Nona? Setelah aib yang Anda torehkan?"
"Aib?" Valeria membentak. "Aku tidak pernah membuat aib! Ini semua ulah Adrian, ulah Saras! Mereka yang jahat, mereka yang busuk! Aku akan kembali, bukan sebagai Valeria yang rapuh ini, tapi sebagai orang yang akan menyeret mereka semua ke hadapan keadilan!" Ia mengangkat tangan kosongnya ke udara, menantang langit yang seakan roboh. "Langit boleh jatuh, hujan boleh membasuh air mataku, tapi ingat, itu semua akan membasuh juga noda yang kalian tanamkan padaku!"
"Omongan orang terhina memang selalu besar," Saras tiba-tiba muncul di ambang pintu utama, memayungi dirinya dengan payung transparan nan elegan. Wajahnya yang arogan memancarkan senyum sinis yang menusuk. Ia berjalan perlahan mendekat, berdiri hanya beberapa langkah dari Valeria yang menggigil kedinginan. "Kamu pikir bisa mengancam kami? Setelah semua yang kami miliki, setelah kamu hanya sampah seperti ini?"
"Saras!" Valeria mendesis marah. "Kaulah sampahnya! Kau perusak, kau jalang!"
"Jalang?" Saras tertawa renyah, seolah Valeria sedang menceritakan lelucon bodoh. "Ini semua bukan karena aku, sayang. Ini karena sifat serakahmu. Kamu yang tidak pernah cukup. Lihatlah dirimu sekarang, terlempar ke jalanan seperti anjing gila yang basah kuyup." Ia menatap remeh dari ujung kaki hingga ujung kepala Valeria yang kuyu. "Bahkan pakaian pelayan lebih berharga dari gaun sampahmu ini."
"Aku tidak serakah," bantah Valeria, bibirnya gemetar. "Aku hanya meminta hakku. Warisan yang kakekku titipkan kepadaku. Bukan karena uang, tapi karena wasiat. Warisan dari mendiang Kakek Suryadi yang menitipkan usahanya sebagian untuk cucunya."
"Wasiat itu juga omong kosong," potong Saras dingin. "Kakekmu tidak punya hak untuk mencampuri urusan kami. Adrian yang pantas atas semuanya. Kau hanya mencoba menipunya, sama seperti kau menipu Adrian dan semua orang dengan wajah lugu dan kebohonganmu tentang desainer ternama."
"Warisan itu sudah lama dijanjikan Kakek Adrian kepadaku, sebelum Adrian muncul!" balas Valeria. Ia tahu betul cerita di balik warisan ini. Kakek Suryadi dan kakeknya Valeria adalah rekan bisnis sejati, dan di masa muda mereka telah membuat perjanjian khusus, salah satunya adalah menyerahkan sebagian kepemilikan saham ke keturunan masing-masing, cucu mereka, yang notabene adalah Valeria dan Ethan. Adrian adalah cucu tiri Kakek Suryadi, dan ia tidak memiliki bagian. "Kakekmu bahkan yang mengatakan itu secara langsung kepadaku."
"Terserah kau mau bicara apa." Saras mengibaskan tangannya meremehkan. "Pada akhirnya, buktinya jelas. Kau seorang pencuri dan pengkhianat. Dan sekarang, seluruh Jakarta akan tahu itu. Semua klienmu akan meninggalkanmu. Keluargamu akan menanggung malu seumur hidup."
"Keluargaku?" bisik Valeria, sejenak terlintas wajah ayahnya yang baru saja sembuh dari sakit jantung. Hati Valeria menciut. Ketakutan itu nyata. Namun, takdirnya adalah melawan. "Tidak. Keluargaku tidak akan menanggung malu karena aku." Ia menghentikan ucapannya, mencari kata yang tepat. "Malu itu adalah beban kalian."
Saras menyeringai. "Berani sekali kau, perempuan. Lihat saja, setelah ini aku akan memastikan hidupmu tidak tenang. Tidak ada lagi kesempatan bagimu di kota ini."
"Itu urusanmu." Valeria berkata, menepis setiap omongan Saras dari pendengarannya. Matanya menusuk ke dalam mata Saras yang tampak puas. "Tapi ingat ini. Ketika aku kembali, kalian akan tahu rasanya berdiri di posisiku sekarang. Hujan ini akan menjadi saksi."
"Pergi sana!" Saras menyalak. "Tatapanku membuat perutku mual."
Para satpam mendekat, mendorong Valeria lebih jauh dari kediaman Suryadi. Tubuhnya berguncang. Langkah kakinya berat. Ia memegangi kotak basah itu erat-erat. Jari telunjuknya yang terkena pisau lipat Adrian terasa perih, mengalirkan tetesan darah segar, sama merahnya dengan bara di hatinya. Hujan seolah mencuci sisa-sisa kebaikan dari dirinya, hanya menyisakan keinginan membara untuk membalas dendam. Valeria tidak lagi berbalik, ia berjalan menyusuri jalanan kota yang sepi dan diguyur hujan deras, bayangannya menjauh dari kemewahan yang telah membuangnya. Ini bukan akhir, ini baru permulaan dari sumpah dendamnya.

Komento sa Aklat (3)

  • avatar
    L Uniii

    Sangat baguss ceritanyaa🥰

    02/05

      0
  • avatar
    Ridho Asg

    bagus banget

    19/04

      0
  • avatar
    S.Sohifah Widyafitri

    ceritanya menarik utk dibaca

    12/04

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata