Homepage/Aku Kembali sebagai Ibu untuk Anak Duda Beku itu!/
Aku Kembali sebagai Ibu untuk Anak Duda Beku itu!
Gwyneth Havyn
Pesta Pertunangan
Bab 1: Pesta Pertunangan "Adrian, ada apa ini? Kenapa kamu berhenti? Tamu-tamu sudah menunggu," suara Valeria lembut membelah riuh rendah pesta pertunangan mereka. Gaun putihnya yang anggun seolah memantulkan cahaya gemerlap di Ballroom Grand Suryadi. Senyumnya lebar, penuh kebahagiaan. Adrian berbalik menghadap Valeria. Sorot matanya tajam, tidak ada sedikitpun kelembutan yang biasa ia perlihatkan. Aura dingin menyelimuti. "Kamu tanya ada apa?" Adrian mencengkeram lengan Valeria, sentakannya kasar sekali. "Lihat ini!" Sebuah layar proyektor raksasa yang tadinya menampilkan montase foto mesra mereka, tiba-tiba berganti. Deretan angka-angka transfer bank dan nama-nama akun muncul dengan jelas. Di atasnya, tertulis besar: "VALERIA — PENGKHIANAT". Bisik-bisik langsung menyapu ruangan. Ribuan pasang mata menatap bingung. "Adrian, apa ini?" Valeria memucat, terkejut. Ia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Adrian, tetapi genggamannya terlalu kuat. "Kamu masih berani bertanya?" Adrian tertawa sinis, suaranya dipenuhi amarah yang dibuat-buat. "Apa kamu pikir aku bodoh, Valeria? Apa kamu pikir aku tidak akan tahu pengkhianatanmu ini?" Ia mengangkat ponselnya, mendekatkannya ke mikrofon. Suara Adrian yang jelas menggaung. "Aku mendapatkan semua bukti ini. Semua transaksi harammu. Bukti kamu menjual rahasia desain Suryadi Group kepada para kompetitor kami." Udara di ballroom seakan membeku. Para tamu, sosialita, rekan bisnis, semua terkesiap. Ada yang mulai menutupi mulut dengan telapak tangan, ada yang mengernyit jijik. "Tidak mungkin! Aku tidak pernah melakukannya!" Valeria menatapnya memohon. Air matanya sudah siap meluncur. "Adrian, ini pasti ada kesalahpahaman. Aku bersumpah." "Kesalahpahaman?" Adrian membentak, matanya berkilat jijik. "Ini kesepakatan bernilai puluhan miliar! Beraninya kamu menuduhku salah paham? Kamu lihat nominalnya di layar? Apa itu lelucon bagimu?" Salah seorang karyawan Adrian yang ternyata sudah bersekongkol, bergerak cepat dan mencetak puluhan lembar bukti transaksi palsu itu, lalu membagikannya kepada para tamu. Kertas-kertas itu berpindah tangan dari satu sosialita ke sosialita lain, seperti bara api yang membakar reputasi Valeria dalam hitungan detik. "Kau licik sekali, Valeria." Sebuah suara wanita tajam memotong suasana. Saras muncul dari kerumunan, berjalan anggun namun penuh ancaman. Wajahnya terpoles senyum kemenangan. "Saras? Kamu bicara apa?" Valeria merasa seperti ditarik paksa ke jurang yang gelap. "Oh, tentu saja kamu berpura-pura tidak tahu." Saras tertawa mengejek. "Sudah jadi desainer miskin yang hidup dari warisan palsu, masih tega mencuri rahasia tunanganmu sendiri." Adrian mengangguk setuju, melirik Saras penuh kepuasan. "Sejak awal, dia memang bukan yang terbaik, Sayang. Hanya berpura-pura suci." "Tunggu, warisan apa? Rahasia apa?" Valeria menggeleng tak percaya. "Aku tidak pernah mengambil sepeser pun yang bukan hakku! Dan ini bukan warisan palsu!" "Nenekku kan berbisnis dengan kakekmu, Adrian! Warisan itu mutlak milikku," seru Valeria lantang, berusaha meluruskan. "Persetan dengan warisan palsu yang kakekmu tinggalkan, Valeria!" teriak Adrian balik. "Ini semua uang haram, curian! Kau pengkhianat!" Salah seorang anggota keluarga Suryadi, tante Adrian, maju dengan wajah merah padam. "Keluarga kita dinodai, Adrian! Betapa memalukannya! Kita hampir menikahkanmu dengan seorang pencuri!" "Tidak!" Valeria balas berteriak, suaranya bergetar menahan tangis. "Ini fitnah! Adrian, kamu pasti tahu siapa dalangnya!" Adrian menepis tangan Valeria yang mencoba meraihnya. Wajahnya seperti topeng kebencian. "Aku dalangnya? Jangan berani memutarbalikkan fakta! Kamu sendiri yang tertangkap basah menjual desain Suryadi Group ke musuh bebuyutan kami. Bukti transfer bank itu tidak bisa bohong!" Valeria merasa seluruh energinya terkuras. Lututnya melemas. Adrian bahkan sudah menyiapkan daftar kontak di ponselnya yang menunjukkan komunikasi Valeria dengan para desainer dari perusahaan rival Suryadi Group. Tentu saja, itu juga rekayasa. "Telepon-teleponmu dengan perancang itu, apa itu semua salah paham juga?" Adrian menunjukkan layarnya kepada para tamu. "Siapa mereka kalau bukan para anjing penjilat musuh bisnis keluargaku?" Suara bisikan semakin nyaring, bercampur sumpah serapah dan kalimat menghina. "Desainer interior yang licik." "Benar-benar ular berhati dua." "Bagaimana bisa seorang perempuan selugu itu melakukan hal semalang ini?" "Cantik-cantik mata duitan." Valeria melihat Saras tersenyum puas di balik punggung Adrian, seolah menikmati setiap detik penderitaan Valeria. Wajah sombong itu membakar amarah yang belum pernah Valeria rasakan sebelumnya. "Adrian, kamu tega melakukan ini?" Air mata Valeria akhirnya tumpah, namun bukan lagi air mata sedih, melainkan air mata kemarahan. "Apa untungnya bagimu?" "Untungnya? Tentu saja sangat banyak, Sayang." Adrian menjentikkan jarinya ke udara. "Setidaknya aku tidak harus menikahi pengkhianat sepertimu, dan warisan itu sepenuhnya menjadi milikku, bukan milikmu lagi." Seorang satpam besar datang, diutus oleh Adrian. "Nona, sebaiknya Anda pergi dari sini. Jangan mempermalukan Tuan Adrian lebih jauh lagi." "Ini adalah pestaku juga!" seru Valeria putus asa, namun tidak ada yang mendengarkan. Ia mencoba menoleh ke para tamu yang dikenalnya, sahabatnya, tapi semua berpaling. Tak satu pun yang berani membela. "Pergi kau, penipu!" Tante Adrian berteriak, menunjuk pintu keluar. "Kamu bukan siapa-siapa lagi di sini!" Valeria didorong mundur perlahan oleh satpam. Ia tersandung roknya sendiri, jatuh berlutut di lantai marmer yang licin. Rasa sakit di lututnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. "Dasar perempuan rendahan!" Saras tertawa sambil bertepuk tangan pelan. "Pulang saja ke rumahmu yang kumuh itu, kalau tidak sudah disita." Gerimis mulai turun di luar ballroom. Percikan air menghantam kaca. "Aku akan kembali," lirih Valeria, suaranya serak namun penuh tekad. Matanya memancarkan api balas dendam. "Aku akan membuktikan kalau kalian salah." Adrian membungkuk, wajahnya sejajar dengan Valeria yang berlutut. "Jangan pernah kembali ke rumah ini, Valeria. Dan jangan berani mendekati Liam lagi. Kamu bukan ibunya." Mendengar nama Liam, keponakan kecil Adrian yang yatim piatu, hati Valeria bagai diremas. Anak kecil yang sangat ia sayangi. Air matanya kembali tumpah deras, kali ini benar-benar karena luka. Pintu besar ballroom perlahan terbuka, dan Valeria digiring keluar. Gemuruh tepuk tangan sinis terdengar mengiringi langkah kakinya yang berat. Ia menuruni tangga utama, diselimuti tatapan mencemooh dan suara hujan yang kini berubah menjadi badai. Langit malam itu seperti turut menangisi nasibnya, menuangkan kesedihan tanpa ampun. Valeria berdiri di tengah hujan lebat, sendirian. Hancur, tapi api dendam mulai menyala membakar hatinya yang kini menjadi sebeku malam.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Sangat baguss ceritanyaa🥰
02/05
0bagus banget
19/04
0ceritanya menarik utk dibaca
12/04
0Tingnan Lahat