Aros yang tidak banyak bicara langsung mengangkat tubuh Larissa ke atas bahunya, membawanya keluar dari kamar itu. "Turunkan aku pria brengsek!" Teriaknya marah memukul punggung aros dengan kedua tangannya. Larissa terus memberontak agar aros menurunkannya, tapi aros tidak menghiraukan perkataannya. Para pelayan melihat aros turun dari tangga menggendong Larissa sedikit terkejut, sekarang tuannya punya wanita yang harus membuat tuan itu bolak balik mengurus nya seperti anak bayi yang rewel. Aros menarik kursi meja makan yang berdampingan dengannya menurunkan Larissa ke kursi itu. "Duduk dan makan dengan tenang bersamaku!". "Aku tidak ingin makan!" Ucapnya berdiri berbalik pergi meninggalkan meja makan. "Berhenti!" Teriak aros berdiri dari kursinya. "Kembali kesini!" Teriaknya Larissa berbalik melihat kebelakang alangkah terkejutnya melihat aros yang berdiri dengan satu pelayan berada disamping aros. Bukan karena itu tapi karena pelayan itu mengarahkan pistol ke kepalanya sendiri atas perintah aros. "Kembali kesini atau pelayan itu akan menembak kepalanya". "Hahahaha. Larissa tertawa sampai membuat perutnya sakit, mana ada orang yang membunuh dirinya sendiri hanya karena orang lain, itu sangat mustahil baginya. "Lakukan saja aku tidak yakin dia akan melakukannya". Ucapnya berbalik. Dorrrr!!! Suara tembakkan membuat semuanya kaget kecuali aros, Larissa sontak berbalik kebelakang tidak percya apa yang dia lihat Kedua pupil mata yang membesar, badannya merinding melihat pelayan wanita itu jatuh ke lantai dengan kepala yang penuh darah. "Dia benar-benar melakukannya!" Terkejut. "Kembali kesini atau, kau akan melihat pelayan lain melakukan hal yang sama." Ancamnya dengan tatapan tajam yang menakutkan. "Kau gila, mana mungkin mereka mengikuti perintahmu."teriaknya tidak percaya. Untuk membuktikan perkataan nya, aros memanggil satu pelayannya lagi. "Kau kemari kesini dan ambil pistol itu."ucapnya dengan sorot mata yang tajam. Tidak pikir panjang pelayan itu langsung datang ke depan aros mengambil pistol dari tangan teman pelayannya yang sudah mati. Tanpa rasa takut, pelayan itu mengarahkan pistol ke samping kepalanya. Larissa yang melihat itu langsung berteriak "apa kau tidak punya otak, kau tidak akan menembak kepalamu sendiri kan?" "Tembakk....." Teriak aros. Dorr!!! "Arghhhh." Teriak Larissa menutup matanya tidak berani melihat pelayan itu membunuh dirinya sediri. "Kau sudah lihat sendiri, jadi cepat kemari." Teriaknya membentak. Para pelayan itu mendedikasikan hidup mereka kepada aros, jadi hanya sebuah nyawa tidaklah berarti bagi mereka dari pada melawan perintah aros. Pikiran bodoh tapi itulah kenyataannya, rasa takut yang ditanamkan aros kepada pelayannya lebih besar dari pada akal sehat yang mereka miliki. Larissa yang tidak mengerti kenapa kedua pelayan itu bisa mengikuti perintah aros jiwanya terguncang melihat dua orang yang bunuh diri karena dirinya. Larissa yang tubuhnya gemetar perlahan lahan berjalan maju dengan kakinya yang terasa berat. Aros kali ini menunjukan sedikit taringnya didepan Larissa. Larissa kembali duduk dikursinya dengan tatapan masih tidak percya dengan apa yang dia lihat sekarang. Sedangkan para pelayan tampak biasa aja, padahal Larissa ketakutan setengah mati. Aros mengelus kepala Larissa sambil tersenyum, akhirnya Larissa mau duduk makan bersamanya "Ayo makan, aku tidak mau kau sampai sakit nanti."ucapnya dengan lembut sambil mengusap kepala Larissa. Dengan tangan yang gemetar Larissa memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan tatapan yang membulat melihat ke depan. Sedangkan aros memperhatikan wanita kesayangannya makan dengan senyum kecil dibibirnya sambil mengelus-elus rambut Larissa. Setelah makan Larissa habis, dia pun mengambil gelas berisikan air putih yang sudah disediakan disamping piringnya dengan tangan gemetar. Perlahan-lahan air turun membasahi tenggorokan nya yang kering. Dengan perasaan yang masih terguncang Larissa berdiri dari kursinya "aku ingin kembali ke kamar."ucapnya datar. Aros pun mengiyakan permintaan Larissa, dia menggandeng tangan nya membawanya pergi melangkahi kedua mayat pelayan yang masih tergeletak dilantai. "Aku mohon biarkan aku sendiri." Mintanya dengan suara pelan. Aros berdiri disamping ranjang tampak datar mendengar permintaan Larissa. Aros perlahan melangkah maju membuat jantung Larissa berdetak kencang dengan rasa takut yang menghantuinya. Jantung Larissa terasa berhenti sejenak karena tiba-tiba aros mencium kepalanya. "Baiklah, aku tidak akan mengganggumu tidurlah dengan nyenyak. Malam ini kau harus menemaniku ke suatu tempat." Ucapnya tersenyum berbalik meninggalkan kamar Larissa. Mendengar langkah kaki aros sudah menjauh, Larissa sontak bangun dari ranjang dengan ekspresi yang masih ketakutan dengan kejadian tadi. "Pria macam apa dia, kenapa para pelayan tadi bahkan dengan suka rela mengikuti perkataannya." Larissa masih tidak habis pikir dengan kejadian barusan, ini pertama kalinya dia melihat itu dan bertemu sosok pria seperti aros. "Aku harus pergi terbebas dari pria kejam sepertinya." "Tapi bagaimana caranya? Keluar dari sini saja tidak bisa. Apalgai mau kabar." Ucapnya sambil memukul ranjang karena Bingung mencari cara membebaskan diri dari genggaman aros. "Tunggu sebentar." Larissa tiba-tiba teringat dengan sesuatu. "Tadi dia bilang, aku harus menemaninya ke suatu tempat. Aku harus memanfaatkan ini bagaimana pun caranya malam ini aku akan kabur dari sini." Larissa sudah membulatkan tekadnya, malam ini saat aros membawanya pergi dari sini dia akan mencari cela untuk kabur. Malam pun tiba. Sesuai permintaan aros tanpa membantah satu katapun darinya, Larissa menerima pemberian pakaian yang dibelikan aros untuknya. Larissa berdiri didepan cermin melihat dirinya yang cantik mengenakan gaun hitam yang membentuk lekuk tubuh nya dengan sedikit belahan ditengah dada. Aros muncul dari belakang memeluk Larissa sambil tersenyum mihat betapa cantiknya wanita pujaan hatinya itu. "Kau sangat cantik sayang."ucapnya berbisik ditelinga Larissa. Hembusan nafas Aros yang mengenai telinga Larissa membuat bulu kuduknya langsung merinding. Tiba-tiba seorang pelayan masuk ke dalam kamar Larissa. "Tuan saya membawa barang yang tuan minta."ucap pelayan itu berdiri didepan kamar. "Letakkan ditempat tidur."ucapnya dengan nada suara terkesan dingin. "Baik tuan." pelayan itu masuk kedalam dan meletakkan sebuah paper bag berukuran besar berwarna putih dengan tulisan merek brand ternama yang diukur dengan warna gold. "Aku masih punya hadiah indah untukmu."ucapnya tersenyum sambil memandangi wajah cantik Larissa dari cermin. Larissa menghela nafas, sebenarnya dia ingin memukul aros karena sudah berani memeluk dan menggodanya tapi dia harus tahan demi rencananya itu. Larissa menarik senyum terpaksa diwajahnya walaupun tubuhnya sudah menolak dengan sentuhan aros. Aros melepaskan tangannya dari pinggang Larissa, pergi mengambil hadiah yang dia beli untuk Larissa. Bersambung....
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
baguss tapi kapan lanjutnyaaa??
19/06
0best
01/10
0terima kasih
26/08
0Tingnan Lahat