logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

RENCANA BUNDA

"Hahaha ... Safiya kamu kan nggak punya papa, pasti nggak bisa jalan-jalan kan hari minggu besok. Beda sama aku, mama sama papaku pasti ngajak aku main di mall besok," ledek Amara. 
"Aku punya papa kok, siapa bilang nggak punya!" balas Safiya dengan kesal. 
"Kalau punya kenapa papamu nggak tinggal sama kamu dan mamamu?" Ledekan khas anak-anak yang begitu miris di dengarkan. Dari kejauhan Zainal memerhatikan murid mengajinya itu tengah meributkan sesuatu. Segera ustad muda itu menghampiri mereka. 
"Hayo nggak boleh saling meledek ya. Allah tidak suka dengan anak yang suka membuli sesama temannya," ujar Zainal menengahi. 
Anak-anak yang merubungi Safiya pun menjauh. Terlihat wajah sedih dari Safiya. Ia menundukkan kepalanya menahan berbagai perasaan yang berkecamuk di dalamnya. Zainal mengusap lembut kepala Safiya seraya berkata, "Safiya kenapa sedih? Jangan dimasukkan ke hati ucapan teman-teman yang membuat Fiya sedih ya," tuturnya lembut. 
"Pak ustad! Kenapa papa Fiya nggak mau tinggal sama Fiya dan mama? Kenapa papa maunya tinggal sama bunda?"  
Pertanyaan polos itu membuat Zainal sedikit bingung untuk menjawabnya. Di satu sisi ia ingin menghibur Safiya, di sisi lain ia pun tak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga orangtua Safiya.  
"Safiya berdoa aja. Semoga papa dan mama diberikan yang terbaik oleh Allah. Supaya Fiya punya mama dan papa yang bahagia ya." Gadis manis itu kembali ke tempatnya mengaji. Bersama Zainal sang ustad muda yang mengajarnya.  
 
~~••~~ 
 
Akhir pekan selalu dihabiskan Safiya dengan menonton film kartun di rumahnya. Seperti biasa Bunga harus kerja lembur di sabtu malam karena memang pekerjaannya sebagai pemandu lagu sangat ramai di hari sabtu.  
Sore menjelang saat Bunga telah berdandan cantik dengan pakaian tertutup. Hal itu ia lakukan agar Safiya tidak melihat pekerjaannya yang tidak bisa dibanggakan itu. Tentu saja ia akan mengganti baju saat tiba di tempat kerjanya. 
"Sayang, Mama kerjanya lembur ya. Besok pagi Mama pulang, kamu jangan tidur malem ya. Kalau laper makan ya udah Mama gorengin nugget," ucapnya memegangi pipi Safiya. 
"Siap Ma!"  
"Pinternya anak Mama.” Kecup Bunga. 
Bunga meninggalkan Safiya dengan perasaan lega. Malam ini ia akan bekerja keras demi mendapat tip lebih agar esok dapat mengajak Safiya berjalan-jalan di alun-alun kota. Penuh semangat Bunga pun menuju tempat kerjanya.  
Tak butuh waktu lama akhirnya ojek langganannya berhenti tepat di depan tempat kerjanya. "Hei Unge, tumben banget jam segini udah nyampe," sapa Toni atasannya. 
"Iya nih. Mau lembur buat ngajak Fiya besok jalan-jalan Bos," jawabnya. Toni mendekati Bunga untuk membisikkan sesuatu. 
"Kalau lembur nemenin minum doang nggak akan kaya kaya kamu. Apalagi PL di sini bukan kamu sendiri. Kalau kamu mau nambah job, gue yakin bakalan enak idup lo," bisik bosnya. 
Bunga sedikit menepis rangkulan Toni. Di ujung koridor Jeni telah mengawasi Bunga untuk segera berjaga-jaga. Benar saja, setelah melihat pemandangan itu Jeni menghampirinya untuk mengajak Bunga pergi dari sana. 
"Unge, lu gue cariin ternyata di sini. Eh Bos, kita make up dulu ya. Udah mau open, 'kan?" Jeni menyahut lengan Bunga. Menyelamatkan temannya itu dari godaan bosnya.  
Di ruang make up hanya terdapat beberapa pemandu lagu yang masih berdandan. Jeni dan Bunga mengambil posisi di ujung ruangan. "Thanks, ya Jen. Kalau nggak ada lo pasti gue udah dibungkus tadi," ujar Bunga membuka jaket sportnya. 
"Makanya jangan bengong. Salah-salah lu di hipnotis sama tuh om om," balas Jeni tertawa. 
Malam itu dewi keburuntungan tengah menghampiri Bunga. Sejak petang banyak lelaki yang memilih dirinya untuk menjadi pemandu lagu mereka. Tip demi tip ia kantongi dengan bahagia. Namun, alih-alih mengontrol tubuhnya Bunga malah minum begitu banyak sehingga membuatnya mabuk berat.  
Terpaksa beberapa orang bodyguard menjaga Bunga yang tengah mabuk di ruangannya.  
 
~~••~~ 
 
Minggu pagi pun tiba. Hari di mana kebanyakan keluarga menikmati libur singkatnya. Begitupun dengan Safiya yang telah bersiap di depan rumah menunggu Angga untuk menjemputnya.  
Suara klakson mobil berwarna merah terdengar tepat di depan rumahnya. Safiya berdiri dan menatap papanya dengan bahagia. "Safiya!" Angga memeluk erat anaknya yang hampir enam bulan ini benar-benar tidak ditemuinya. Ia menggendong gadis kecil itu penuh rindu. Disusul Vanya yang turun dari mobilnya menghampiri mereka. 
"Pa, kita bisa nunggu mama pulang dulu nggak? Fiya belum minta izin," ucapnya. 
"Halo, sayang. Bunda kangen sama Fiya!" Vanya menyiumi Fiya. 
"Mama pasti pulangnya lama. Nanti Papa yang telpon kalau kamu lagi jalan-jalan sama Papa dan Bunda ya," ujar Angga meyakinkan. 
Fiya yang ragu pun hanya bisa menatap mereka dengan tatapan bingung. Vanya tersenyum menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui saran Angga.  
Akhirnya bujukkan itu berhasil membuat Safiya menuruti mereka. Pagi itu segera mereka pergi untuk berjalan-jalan di tengah kota. Vanya terlihat bahagia bercanda dengan Safiya. Berbeda dengan dahulu saat Vanya menolak keras kehadiran Safiya di rumah tangga mereka. Kini hal itu membuat Angga merasa senang dan yakin untuk mengambil hak asuh anaknya.  
"Fiya mau beli apa lagi? Bunda yang traktir deh," ucap Vanya seraya menyuapi Safiya. Terlihat senyum tersungging dari bibir Vanya. 
"Udah Bun. Ini banyak banget belanjaannya Fiya seneng banget hari ini," balasnya seraya mengunyah nasi dan ayam. 
"Bunda itu sayang sama Fiya loh. Jadi semua keperluan Fiya harus kita beli 'kan mau sekolah sebentar lagi," sahut Angga. 
"Apalagi kalau Fiya mau tinggal sama Papa dan Bunda. Tiap hari Fiya Bunda masakin yang enak-enak," timpal Vanya. 
Mendengar itu Safiya terdiam sesaat. Raut wajahnya berubah seketika teringat Bunga yang selama ini merawatnya. Hal itu disadari Vanya, mungkin rencananya kali ini terlalu cepat hingga membuat Safiya kurang nyaman. "Udah makan dulu, nanti kita obrolin lagi," ucap Vanya. 
Di tempat kerja Bunga, ia masih tertidur di ruangan mirip mess yang disediakan oleh kantornya. Keadaan semalam membuat ia tak mampu sadar dalam waktu singkat. Bunga terbangun saat ponsel temannya terdengar berulang kali.  
"Mmhh ... berisik banget sih!" umpat Bunga. Ia menydarkan diri menuju toilet. Mencuci muka yang terasa berat di kepalanya. Setelah benar-benar sadar ia pun mengecek ponsel untuk memastikan jam berapa sekarang. 
"Hah? Jam sebelas!" pekik Bunga. 
Bunga bergegas pulang untuk memastikan keadaan Safiya yang ia tinggalkan. Di sepanjang jalan tak henti ia mengumpati dirinya sendiri yang tak bisa mengontrol tubuhnya semalam. Pasti anaknya akan kecewa saat tahu dirinya pulang terlambat hari ini. Ditambah lagi hari ini ia akan mengajak Safiya berjalan-jalan di alun-alun kota.  
 

Komento sa Aklat (48)

  • avatar
    BilaCaca

    gilaaaaaa BAGUSS bangettt udah ketagihan nihh baca novel yang iniii😍😍

    03/06/2025

      0
  • avatar
    khumairoharum

    baguss bgt ka ceritanyaaa

    02/06/2025

      0
  • avatar
    Queena Alika Aprilia

    keren

    01/06/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata