logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

DOA SAFIYA

“Mama!” panggil Safiya di depan pintu kamarnya.  
“Hey sayang kenapa udah bangun, ini masih gelap loh, ada apa?” tanya Bunga mendekati anaknya. 
“Mama. Safiya mau solat subuh. Kata Amara kalo Safiya solat lima waktunya rajin nanti Allah bakalan kabulin do’a Safiya,” jelasnya polos.  
Bak tertampar di hadapan anaknya sendiri, Bunga menelan ludah. Pandangannya tak tentu arah menatap sudut-sudut kamar. “Emang doa Safiya apa?” tanyanya memandang dalam.  
“Safiya mau punya papa kayak temen-temen Safiya yang lain, Ma,” jawabnya.  
Bunga menundukkan pandangan berusaha menanggapi keinginan anaknya itu. Ia tak mau jika salah memberikan penjelasan akan membuat Safiya membencinya. Bagaimana pun juga permintaan Sayifa bukanlah hal sepele baginya. 
“Ma, jadi bener kan kata Amara? Ayo kita solat subuh sekarang,” ajaknya.  
“Iya sayang. Safiya akan punya papa kok, kita berdoa aja ya.” Jawab Bunga. 
Bocah berumur enam tahun itu dengan antusias mengambil air wudhu. Senyumnya yang lebar membuat siapapun yang melihatnya ikut merasa bahagia. Namun, berbeda dengan Bunga yang selalu merasa sedih kala anaknya itu tersenyum. Entah perasaan macam apa itu, yang pasti ia merasa bukanlah Ibu yang baik untuk anaknya saat ini. 
“Assalamualaikum warrahmatullah. Ya Allah sekarang Safiya udah mulai rajin solatnya. Tolong kabulin do’a Safiya ya Allah. Safiya ingin punya papa biar kalo lagi jalan-jalan ke taman Safiya digandengnya dua tangan Amin,” doa Safiya di akhir solatnya.  
Bunga menahan gejolak perasaannya agar tak diketahui anaknya. Namun, percuma saja ia sembunyikan. Air mata itu deras mengucur kala ia menatap Safiya. Wajah polos tanpa dosa itu seolah menyadarkannya akan pahitnya kehidupan. Terlebih anaknya harus menjadi korban keegoisan orangtuanya sendiri.  
Safiya menoleh ke arah Bunga. “Mama kok nangis sih kenapa?” tanya Safiya. 
“Enggak sayang. Mama nggak nangis,” jawabnya memeluk erat Safiya.  
“Ini air mata Ma, bukan air ujan.” Safiya mengusap air mta pada pipi Bunga. 
“Kalau kita berdo’a sambil nangis itu lebih di kabulin doanya sayang,” jelas Bunga. 
“Yah Safiya nggak bisa nangis dibuat-buat Ma.”  
Percakapan dini hari itu menenangkan sedikit kesedihan Bunga. Ia tak menyangka memiliki seorang anak perempuan yang sangat manis padanya. Bahkan kala Bunga benar-benar lelah dan ingin menyerah Safiya lah yang selalu menguatkannya meski hanya melalui ucapan dan senyumnya.  
 
• RUMAH SAKIT PELITA • 
 
"Jangan banyak pikiran ya, Bu. Semua pasti ada hikmahnya," ujar Dokter Clara. 
"Terimakasih Dok, kalau gitu saya permisi dulu," jawab Vanya seraya keluar dari ruang pemeriksaan. 
Vanya Teresia adalah isteri dari Rendi Anggara. Mantan suami Bunga yang kini telah menikahi wanita idaman lain di dalam rumah tangganya dulu. Mungkin sekarang lebih terkenal dengan kata 'pelakor'. Wanita yang ditemuinya pada suatu pesta kantor yang mendatangkan penyanyi kafe membuat Angga jatuh cinta pada pandangan pertama. Cinta sesaat itu mengalahkan rumah tangga dan anak semata wayangnya.  
Di dalam taksi hampir sepanjang jalan Vanya terlihat melamuni secarik kertas hasil pemeriksaan. Ia tak sanggup memberi tahu Angga akan kondisinya saat ini. Sudah pasti suaminya itu akan kecewa dan sedih mendengarnya.  
Langkah kaki Vanya terdengar lesu dari tangga depan rumahnya. Nampak Angga melongok keluar menyambut kedatangan isterinya. Ia tak sabar mendengar hasil positif dari konsultasi siang itu. "Sayang, kamu udah pulang? Aku baru mau jemput loh," ucap Angga menyambut Vanya di ruang tamu. 
"Iya Mas. Ponselku mati lupa charge jadi nggak ngabarin," jawabnya. 
"Gimana hasilnya? Kita bisa mulai program hamil bulan ini?" Tanya Angga antusias.  
"Kayaknya bulan depan deh, Mas. Aku juga masih kurang fit karena banyak kerjaan juga. Aku masuk dulu ya mau mandi," pungkasnya berlalu. 
Nampak raut wajah kecewa tersirat dari Angga. Namun, ia tak ingin terlalu membebani Vanya dengan permintaannya untuk segera mendapatkan momongan. Satu tahun berlalu sejak akta cerai di dapatkan, Angga telah menikahi Vanya. Selama itu pula mereka belum dikaruniai momongan seperti kehendaknya.  
Percakapan suami isteri itu berlanjut di malam hari. Sembari menunggu kantuk mereka berbincang di atas peraduan. Dada bidang Angga menjadi tempat yang nyaman bagi Vanya.  
"Mas, kamu kangen sama Safiya nggak sih?" tanya Vanya membuka obrolan. 
"Kok tiba-tiba nanya gitu. Biasanya kamu nggak suka ngebahas masa laluku," jawab Angga mengusap lembut kepala Vanya. 
"Aku kepikiran buat ngajak Fiya tinggal bareng kita di sini, Mas. Itung-itung buat pancingan biar kita cepet dapet anak," jelasnya.  
"Aku sih setuju aja, tapi mamanya pasti nggak akan mau ngasih izin buat Fiya tinggal sama kita. Kamu tahu sendiri kan gimana sikap dia ke kita," timpal Angga. 
"Aku punya ide biar Fiya mau tinggal bareng kita." Vanya terlihat sumeringah saat mengutarakan maksudnya pada Angga. 
 
~~••~~ 
Pagi menyingsingkan mentarinya. Pertanda kegiatan sehari-hari dimulai dari sini. Bunga yang seharusnya mekar di pagi hari ternyata masih menguncup di dalam selimutnya sendiri. Bunga memeluk gadis kecil yang masih hangat dipeluknya. 
"Mah, Mama bangun." Safiya mengguncang tubuh Bunga perlahan. Gadis manis itu berjalan keluar dari kamar mamanya. Menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka.  
Kring kringgg  
Bunyi ponsel Bunga terdengar berulang kali di atas meja. Namun, tak sedikit pun membangunkan Bunga dari lelapnya. Safiya yang tak ingin membangunkan mamanya pun berinisiatif mengangkat panggilan tersebut.  
"Halo." 
"Halo, sayang. Mama kemana kok kamu yang angkat telponnya?" tanya Angga di ujung panggilan. 
"Mama masih tidur Pa, soalnya kerja pulangnya malem banget jadi Fiya nggak tega mau bangunin Mama." Jawabnya. 
"Ohh ya udah nggak papa. Eh iya, Fiya mau jalan-jalan sama Papa dan bunda Vanya nggak besok minggu? Papa mau ajak Fiya beli mainan terus beli seragam buat sekolah bulan depan," jelas Angga. Sejenak Safiya terdiam. Ia menatap wajah Bunga dari tempatnya berdiri.  
"Halo, sayang. Jangan khawatir nanti Papa yang ngomong ke mama ya. Ya sudah Papa tutup telponnya ya dadah sayang." Pungkas Angga menutup panggilannya. 
Safiya meletakkan kembali ponsel Bunga. Ia dekati mamanya itu dan mengusap pelan pipinya. Masih teringat jelas saat Bunga melarang Safiya menerima dan mengiyakan apapun tawaran dari papanya itu. Sering kali Safiya memergokinya tengah menangis karena ulah papanya. Semenjak saat itu Safiya terbiasa hidup berdua tanpa sosok papa.  
"Mmhh, sayang kamu udah bangun? Maafin Mama kesiangan ya bangunnya," Bunga bergegas bangkit dari tidurnya. 
"Enggak Ma. Fiya tadi pengen pipis jadi kebangun," jawabnya tersenyum. 
"Oke kita bikin sarapan mi goreng aja mau nggak?" tawar Bunga yang diikuti anggukkan Safiya.  
Bunga kembali berkutat di dapur dengan mengambil mi goreng instan dari lemari penyimpanannya. Tak lupa telur mata sapi menjadi topping kesukaan Safiya.  

Komento sa Aklat (48)

  • avatar
    BilaCaca

    gilaaaaaa BAGUSS bangettt udah ketagihan nihh baca novel yang iniii😍😍

    03/06/2025

      0
  • avatar
    khumairoharum

    baguss bgt ka ceritanyaaa

    02/06/2025

      0
  • avatar
    Queena Alika Aprilia

    keren

    01/06/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata