logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

PELAKOR VS ME

PELAKOR VS ME

devidasti


BUNGA MIMPI

Malam menjelang kala sebagian manusia memulai aktivitasnya. Penatnya rutinitas terkadang membuat banyak kepala menjadi stres. Emosinya tak mampu terbendung saat ego bergelut dengan rasa lelah yang menghujam. Begitupun dengan keadaan Bunga saat ini. Lelah, letih, lesu hingga stres bergelayut dalam tubuhnya. Tubuh yang sudah tak tahan dengan paksaan segudang pekerjaan.  
"Heh itu ada tamu buruan layanin!"  
Bunga Azalea adalah seorang wanita penghibur di pinggiran ibu kota. Pekerjaan yang dipandang hina itu mau tak mau ia lakukan demi menyambung hidup. Kerasnya kehidupan memaksanya merubah pola hidupnya. Siang jadi malam, malam jadi siang. Tak jarang ia lembur hingga dini hari demi mendapat pundi-pundi. 
"Om mau ditemani minum?" tawar Bunga. 
"Kamu ini udah tua, mendingan pulang urus anak di rumah," jawab lelaki berkumis tebal itu.  
Perasaan Bunga kacau balau kala mendengar umpatan hingga makian dari lelaki pengunjung tempat hiburan tersebut. Tak jarang Bunga meluapkan amarahnya dengan berteriak di dalam toilet yang tersedia di sana. Ini bukanlah keinginannya. Namun, keadaan ekonomi memaksanya bertaruh harga diri demi sesuap nasi. Tak sampai di situ, nasibnya sebagai seorang janda beranak satu membuat siapa pun menaruh sinis terhadapnya. Bahkan keluarganya sekali pun enggan mengakuinya.  
"Eh Bunga, lu kenapa? Lu nangis?" tanya Jeni sahabatnya. 
"Enggak, gue sedikit pusing aja kebanyakan minum," jawab Bunga berbohong. 
"Mending pulang aja istirahat, lagian nggak rame juga malem ini," timpalnya. 
"Iya Jen. Thanks ya." 
"Eh bentar ini ada sedikit buat Safiya." Jeni mengepalkan uang dua puluh ribu pada Bunga. 
"Jangan Jen, lu udah banyak banget bantu gue. Gue nggak bisa terus-terusan ngerepotin elu," Bunga mengembalikannya. 
"Ini bukan buat elu, tapi buat anak lu udah ambil," paksanya. Kalau sudah begitu Bunga tak bisa menolaknya. Jeni akan marah bila kebaikannya ditolak begitu saja. "Makasih ya Jen." Pungkasnya. 
Malam itu Bunga memutuskan untuk pulang. Meski tak ada tip yang ia kantongi, tapi ia merasa sudah cukup lelah hari itu. Ia berjalan di sepanjang jalan menuju komplek rumahnya. Angin malam yang beradu membuat tubuhnya  terhuyung bak orang yang tengah mabuk. Dari ujung jalan sepi tersebut nampak dua orang berbadan tegap tengah mengintainya dari kejauhan. Seringainya membuat Bunga sedikit ketakutan.  
"Wuidih abis ngelont* dari mana nih tengah malem," goda salah satu diantara mereka. Bunga tak menjawab dan mempercepat langkahnya.  
"Heh sini dulu lah kita ikut nyobain sisanya nggak papa," ucap lelaki lain diiringi cengkeraman tangannya.  
"Jangan macem-macem ya gua teriak nih!" Ancam Bunga. 
"Hahaha teriak aja di sini kita yang punya daerah. Mendingan sama kita berdua dari pada nanti rame-rame sekampung minta jatah lu," jawab lelaki itu. Seketika mereka berdua mencengkeram lengan Bunga. Membuatnya panik dan segera berteriak sejadi-jadinya.  
"Tolong! Tolong! Tolong! Lepasin tolong!" sekuat tenaga Bunga memberontak tetap tak sebanding dengan tenaga kedua lelaki itu. Di tengah keputusasaan datanglah seorang pemuda berparas tampan berotot besar menyelamatkannya. 
"Woi lepasin nggak! Lu Beraninya sama cewek sini sama gua!" tantang pemuda itu. Kedua preman tersebut saling tatap. Seolah memberi kode untuk siap menghajar lawan di depannya. Mereka pun berkelahi layaknya petarung di atas arena. Dengan kelihaian pemuda itu, ia mampu mengusir dua preman yang tak sebanding dengannya. 
"Kamu nggak papa?" tanya pemuda tersebut. 
"Enggak. Makasih ya." Bunga bergegas pergi meninggalkannya tanpa menanyakan siapa dan dari mana pemuda tersebut.  
Bunga berjalan cepat menembus kegelapan. Perasaannya tak menentu malam itu. Badannya sedikit bergetar sesaat menyadari hal buruk yang hampir menimpanya tadi. Sesampainya di rumah terlihat kedua orang tua Bunga tengah duduk di ruang tamu menunggunya. Ia terkejut mengetahui orang tua yang selama ini tak mau mengakuinya tiba-tiba kini telah berada di rumahnya. 
"Pak, Bu, kok ke sini malam-malam?" tanya Dinda. Sesaat mereka terdiam. Ibu menarik napas dalam seraya berkata, "Kenapa kenapa, harusnya kami yang tanya kamu tuh kenapa ngurus anak satu aja nggak bisa! Kamu udah ninggalin anak kamu dari sore nggak kamu kasih makan terus dia kelaparan sampai dia nelpon ibu pakai nomor tetangga masih kamu tanya kenapa?" jelas Ibunya dengan nada tinggi.  
Bunga hanya bisa tertunduk mendengarkan omelan Ibunya. Segala kesalahannya masa lalu diungkitnya kembali. Air mata mengalir tak terbendung kala Ibu berkata "Coba sekali saja kamu itu nurut jadi anak. Hidup kamu enak nggak kayak sekarang cuman malu-maluin keluarga!"  
Di akhir percakapan bapak memberikan saran pada Bunga untuk memberikan hak asuh pada mereka. Mengingat pekerjaan yang memaksa Bunga meninggalkan anaknya hingga dini hari. 
"Kalo kamu merasa keberatan ngurus anak, biar Bapak sama Ibu aja yang urus. Kamu silakan kerja dengan dunia malammu," jelas Bapak.  
"Tolong Pak, Bu, Bunga nggak bisa pisah sama Safiya. Cuman dia satu-satunya yang Bunga punya sekarang," tangisnya pun pecah. Ia bersimpuh di kaki orang tuanya memohon agar dapat tetap mengurus Safiya.  
Melihat pemandangan itu pun mereka segera bangkit dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Meninggalkan anak semata wayang mereka dalam keterpurukannya. 
Bunga bangkit dan bergegas masuk ke dalam kamar Safiya. Ditengoknya tubuh mungil itu tengah terlelap bersama boneka beruang di dekapnya. Dipandangi wajah malaikat kecilnya itu penuh iba. Baginya ia adalah seorang Ibu yang buruk untuk anaknya.  
"Sayang. Maafin Mama ya," ucapnya lirih. Bunga mengecup kening anaknya sebelum kembali ke kamarnya. 
Di tengah rasa sedihnya, Bunga terduduk di depan meja riasnya memandangi tubuhnya yang kian menua. Trauma masa lalu membuatnya depresi hingga mengharuskannya berkonsultasi dengan psikiater. Itulah mengapa ia selalu menuliskan segala keresahannya dalam sebuah buku harian miliknya. Buku bersampul merah muda ia keluarkan dari lacinya. Diambilnya pena hitam dengan tinta basah diujungnya. Menandakan benda itu sering ia pakai.  
“Hai tubuh rapuhku, masih kuatkah kamu? Apakah kau ingin menyerah kali ini? Tak apa menyerahlah, aku akan mengikutimu, mengikuti setiap alunan gerak tubuhmu. Jari jemarimu sudah tak sehalus dahulu, bahumu sudah tak setegak lalu, bahkan perlahan pandanganmu mulai memudar dari kejauhan. Apakah kau yakin masih mampu bertahan?”  
Tulisnya dalam halaman yang entah sudah berapa ratus dari awal ia menulis. Setiap tulisan mewakili suasana hatinya. Entah marah, kesal, sedih, kecewa bahkan tak jarang ia menuliskan tulisan jenaka dalam bukunya.  
“Dasar wanita jalang! Kamu nggak pantes hidup! Mati aja!”  
“HAHHH! 
Bunga tersentak bangun dari lelapnya. Ia tertidur di depan meja riasnya dengan buku diari yang masih terbuka. Keringatnya mengucur mengingat makian yang selalu terngiang di dalam pikirannya. Mimpi buruk yang terus berulang menghantuinya. Jika sudah begini ia harus rela bergadang hingga pagi menjelang.  
 

Komento sa Aklat (48)

  • avatar
    BilaCaca

    gilaaaaaa BAGUSS bangettt udah ketagihan nihh baca novel yang iniii😍😍

    03/06/2025

      0
  • avatar
    khumairoharum

    baguss bgt ka ceritanyaaa

    02/06/2025

      0
  • avatar
    Queena Alika Aprilia

    keren

    01/06/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata