logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Benar-benar Dungu

'Tch! Aku harus lebih mengecilkan perutku lagi!'
Barra melonggarkan ikat pinggangnya kemudian merogoh saku celananya. Celana yang ia pakai terlalu ketat, sehingga susah baginya untuk bisa menemukan sesuatu yang ia cari.
'Bego aku!'
Tak lama Barra menepuk jidatnya sendiri, ia tersadar, dirinya tidak akan menemukan apa-apa di dalam saku celana. Alasannya? Ia tak pernah mengantongi apapun di saku celana kerja. Dengan cepat Barra pun berjalan mendekat ke arah pintu tempat di mana Liana sedang berada.
"A-apa yang akan kau perbuat?! Jangan perko-"
Liana ketakutan melihat langkah cepatnya Barra. Mendengar Liana yang tiba-tiba berteriak, Barra segera menyergap dan membekap mulutnya rapat, membuat Liana yang panik mentok di daun pintu.
Dari awal kata nya, mungkin gadis dungu ini akan bicara hal ngelantur, jadi Barra langsung bertindak cepat. Liana tidak bisa berkutik, tubuhnya kini dihimpit Barra.
Sementara Barra sibuk merogoh-rogoh saku jas yang tergantung di samping Liana dengan satu tangan, si gadis kecil itu justru sedang merasakan hawa panas tak karuan. Dalam posisi sededekat ini, tidak ada pemandangan lain yang bisa Liana lihat kecuali tubuh atletisnya Barra. Kemeja yang mengetat di bagian dada dan tangan, uh perutnya juga pasti kotak-kotak.
Ah tidak, tidak, dia suami orang! Dan di sini sedang ada anak-anaknya, mana mungkin ia akan melakukan hal itu.
Sekian lama merogoh, akhirnya Barra menampakkan senyum keberhasilan. Sesuatu ia tunjukkan tepat di depan mata Liana. Sebuah KTP.
"BE-LUM KA-WIN!" Ucap Barra dengan penuh penekanan.
Mendengar kata-kata itu, Liana yang tadinya fokus menatap foto di KTP, beralih membaca detail identitasnya. Dan benar, status perkawinannya sama sekali belum kawin, ia lahir pada tahun ....
Angka jadul itu ... Satu, dua ... Dua puluh ... Hah? Pria ini berusia 32 tahun?!
Barra melepas bekapannya setelah dirasa Liana sudah selesai membaca. Ia kembali mengantongi KTP-nya ke dalam dompet, namun sebuah tangan langsung menyambar KTP itu.
"Apa angka ini tidak keliru?" Liana menilik-nilik lagi KTP itu, tahun kelahirannya masih sama seperti yang tadi ia lihat. Tapi barangkali angkanya bisa berubah sewaktu-waktu kan? Jelas tidak! Dasar dungu!
"Mana mungkin aku membuat data pribadi yang palsu." Tegas Barra, melihat gadis yang tengah sibuk dengan KTP miliknya.
"Hmm ... Aku tidak percaya, kau terlihat 10 tahun lebih muda." Liana menyudahi penelitiannya, ia berkacak pinggang sambil menengadah, menatap wajah Barra secara cermat.
"H-hey, kau sedang beriklan atau gimana? Sudah, kalau mau pulang akan kuantar." Barra yang merasa dipuji itu tersipu malu, malunya malu-malu kucing. Ia pun segera merebut kembali KTP miliknya.
Sebenarnya Barra mengizinkan Liana ikut ke sini karena ia terlihat imut, tapi karena gadis ini ingin pulang ya sudah biarkan saja, lagipula ia gadis yang stres dan dungu.
"Eh, apa kau tahu di mana tempat tinggalmu?" Barra merasa tak yakin, soalnya Liana mungkin gegar otak.
"A-aku tidak mau pulang! Aku takut bertemu duda!"
Liana memekik dan membuat Barra menutup telinga yang kedua kali. Ya ampun, suara gadis ini sangat melengking, lebih parah dari teriakan paus biru, sudah benar ia harus pulang saja!
Tapi tunggu, tunggu, dia menangis?
"Kenapa kau menangis? Sudah jelas aku bukan duda kan?" Barra sedikit khawatir, ia pikir Liana phobia duda.
"Aku tidak mau pulang, aku tidak ingin ke mana-mana, aku takut Ayah akan memaksaku menikah lagi. Hiks ... Hiks ..."
Liana berubah secara mendadak, kali ini ia terlihat sendu, tatapannya penuh dengan kebingungan. Jelas ia sedang tidak bercanda, Barra pikir ia mungkin bukan stres, tapi memang memiliki sebuah masalah.
Karena merasa bersalah sudah menuduh Liana yang tidak-tidak, Barra pun merengkuh pundak Liana, membawanya untuk duduk bercerita di atas sofa.
"Aku tidak tahu harus pulang ke mana. Semalam aku kabur dari rumah dan dikejar anjing gila." Liana mulai menceritakan legendanya dan dengan setia Barra mendengarkan ceritaannya.
Alkisah Liana si anak sulung, ia dipaksa menikah dengan seorang duda yang entah dari mana asalnya. Awalnya ia kedatangan tamu dan keheranan karena tamu itu mencari dirinya. Saat percakapan sekeluarga beserta pria yang merupakan seorang duda itu disimak, ternyata mereka membicarakan soal lamaran yang merujuk pada Liana.
Ayah Liana langsung berkata setuju tanpa konfirmasi dahulu. Rupanya ia sudah merancang semua ini karena yakin Liana akan menurut. Tapi Liana langsung membuat kekacauan dan duda itu berakhir pulang.
Liana pikir ia sudah bebas walau sempat beberapa konflik terjadi setelahnya. Tak disangka malam tadi tiba-tiba juru make up datang ke rumahnya dan saat ditanya ada apa, ayah Liana bilang mereka akan menggelar acara tunangan antara Liana dengan sang duda.
"Tch! Bau tanah dan sudah beruban! Mau bergaya tunangan seperti anak muda!"
Liana terus bercerita dengan kepalanya yang menempel di bidang kiri Barra. Sedari tadi Barra mengusap-ngusap pucuk kepala Liana, dan jujur membuat Liana yang tengah bercerita sambil menangis, kesal, sedih, dan marah itu merasa berdebar-debar.
Bagaimana tidak? Pria yang ada di sampingnya memiliki wajah tampan, wajar saja Liana yang baru bangun dari pingsan tadi langsung meminta dinikahi olehnya. Tapi Liana masih heran, kenapa paras seperti ini sudah berumur 32 dan belum juga menikah?
"Daddy, Melan ada jadwal volly besok!"
Suara teriakan membuyarkan suasana romantis itu. Liana refleks menjauhkan tubuhnya dari Barra, ia panik karena sudah tertangkap basah, dirinya berani bermesraan saat terlihat tidak ada orang di rumah.
"Hm? Kalian sedang apa?" Tanya Melani yang kini sudah menghampiri keduanya. Ia melihat Liana yang sikapnya terlihat sangat menarik perhatian.

Komento sa Aklat (149)

  • avatar
    Agustin Simanjuntak

    assik

    24/04

      0
  • avatar
    Ida Amelia

    keren novel ini sangat seruu

    13/03

      0
  • avatar
    DolPak

    sangatt seruuu novell inii,saya sangat suka membacanya

    12/02

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata