Melihat tuyul yang berkeliaran di area dapur, Liana langsung saja mengerti, Pajero hitam yang ia tumpangi tadi ternyata adalah berkat hasil jerih payah tuyul peliharaan di apartemen ini. Barra sama sekali tidak melihat tuyul di sudut manapun. Siang bolong begini mana mungkin ada tuyul atau dedemit yang sejenisnya kan? Gadis ini stres, Barra langsung memutar tubuh. "Tidak ad-" Barra yang hendak bicara menghadap Liana, tidak melihat wujud Liana sama sekali. Bukan hilang mendadak ajaib bin misterius, tapi Liana terus memposisisikan dirinya di belakang punggung Barra sehingga Barra tidak dapat melihat gadis itu. Barra mencoba berputar ke kiri dan juga kanan, tapi Liana tetap mengikuti pergerakannya. Walau berputar 360 derajat, Liana terus menjaga posisi berada tepat di belakang Barra. "Awas, di belakangmu!" Barra menakut-nakuti dan langsung membuat Liana melonjak hebat. Ia beralih bersembunyi di depan perut Barra, meremas erat kemeja putih yang dikenakannya. "Haa Tuan, saya takut, tolong usir dulu tuyul itu dari sini Tuan!" Barra yang mendapati sikap aneh gadis itu merasa jengah, dengan terpaksa ia mengikuti skenario dan memanggil tuyul itu untuk segera keluar dari tempat persembunyiannya. "Tuyul, keluar kamu! Kalau tidak, aku akan mencekikmu!" Walau merasa konyol, tetapi Barra berteriak memanggil tuyul di ruangannya. Lagipula ini adalah tempat tinggalnya, tidak akan ada orang yang menertawakannya bukan? Dan perlahan keluarlah sosok berkepala botak dari balik meja dapur. Tingginya sekitar 1 meter lebih, wajahnya penuh bercak putih seperti bayi baru dibedaki. Ia hanya mengenakan pampers, dan kini tengah memegang sebotol susu. Melihat kemunculan tuyul itu, Barra mengusap wajah secara kasar sambil menggeleng pelan. "Kenn! Apa yang kau lakukan di sana sendirian? Kemana Melani? Bukankah dia sudah kutugaskan untuk menjagamu?!" Barra bertanya kepada tuyul itu, padahal ia tahu sendiri bahwa tuyul itu tidak akan menjawab pertanyaannya. Ia belum paham dan mengerti, dirinya masih berusia 2 tahun. Barra segera melepaskan Liana dari perutnya, berjalan menghampiri tuyul itu kemudian menggendong dan membawanya duduk di atas sofa. Liana hanya bisa berjongkok dan menyaksikan, ia tidak berani mendekat karena amat sangat ketakutan. 'Baru kali ini aku melihat wujud tuyul sungguhan,' batin Liana. "Tuan, apakah tuyulnya jinak? Dia tidak gigit kan?" Liana tetap diam di tempat, melihat keduanya dari kejauhan. "Tidak, dia anak yang baik, hanya saja aku heran, kemana perginya Melani? Bisa-bisanya dia membiarkan anak kecil seperti ini sendirian di rumah." Gerutu Barra dengan tuyul di pangkuannya. "Tuan, usir dulu tuyulnya, aku ingin berbicara sebentar denganmu. Biarkan dia pergi mencari uang." Liana masih berpikir bahwa Ken adalah tuyul. Namun, Ken bukanlah tuyul, dia adalah anak manusia. Asli! "Hah? Apa maksudmu? Dia itu anakku, jangan berkata hal sembarangan!" Barra merasa sangat tersinggung. Kata tuyul masih bisa ia terima, namun tidak jika Liana menyuruh Barra mengusir anaknya sendiri. "Hah?! Ternyata Tuan sudah punya anak?! Dan Me- Melani ... Apakah dia istrinya Tuan?" Liana lebih kaget lagi, ia tidak percaya, dirinya merasa dibodohi. Eh tepatnya dia yang memang bodoh, meminta dinikahi kepada sembarang orang. Dan kini ia baru mengetahui bahwa orang yang ia ikuti ternyata sudah berkeluarga. "Ngaco kamu, sudah, lebih baik kamu istirahat sekarang, mungkin otak kamu bergeser setelah kecelakaan tadi. Em ya, itu juga salahku sih tapi setidaknya aku sudah bertanggung jawab." Barra pikir gadis itu masih belum pulih. Padahal sebenarnya Liana sehat-sehat saja dan dia sama sekali tidak mengalami gegar otak. Dirinya masih hafal nama, alamat, dan tempat tinggal secara lengkap. "Siapa dia, Dad?" Seorang gadis muda tiba-tiba muncul dari balik dapur. Ia keheranan melihat orang asing berjongkok dalam rumahnya. "Ada ternyata, kau habis dari mana? Kenapa membiarkan Ken di dapur sendirian? Itu bahaya Melan!" Bukannya menjawab, Barra lebih dahulu mengomeli gadis yang tengah berdiri di ambang penghubung dapur dan ruang mesin cuci itu. "Aku habis boker Daddy, masa harus ditahan sih? Lagipula Ken tidak apa kan? Mana mungkin dia menyalakan kompor gas sendirian." Melani membela diri dan berhasil membuat Barra mendengus kesal. Mendengar percakapan antara keduanya, perlahan Liana mengerti bahwa Melani yang tadi Barra sebut-sebut bukanlah istri melainkan anak. Pria ini sudah memiliki 2 buah anak, Liana semakin yakin akan keputusannya, ia ingin kabur saja. "Maaf Pak, saya pergi. Saya tidak ingin merusak hubungan rumah tangga orang." Liana langsung bangkit, ia berjalan cepat menuju ke arah pintu. Namun, saat sampai di depan pintu, pintunya terkunci dan tidak bisa dibuka. "Pak, tolong buka pintunya, saya tidak ingin istri anda marah karena mengetahui keberadaan saya." Liana kembali ke hadapan Barra. Barra dan Melani malah terlihat saling pandang keheranan. Barra pun menyuruh Melani untuk pergi memakaikan pakaian kepada Ken yang memang masih telanjang. "Kamu ini bicara apa?" Tanya Barra setelah kepergian anak-anaknya. "Saya tidak mau mengganggu lelaki yang sudah beristri. Dan maaf, saya ke sini karena hanya menginginkan lelaki perjaka!" Liana berterus terang, ia merasa amat sangat kesal. "Kau pikir aku bukan perjaka?!" Mendengar perkataan Liana, Barra langsung bangkit dari duduknya, ia tidak terima dirinya dikata-katai seperti itu. Perlahan, Barra melonggarkan ikat pinggangnya. "K-kau mau apa?!" Liana langsung terkejut panik, ia sedikit melangkah mundur sambil melihat ke arah sekitar, memastikan keberadaan orang di dalam sana.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 18 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (149)
Agustin Simanjuntak
assik
24/04
0
Ida Amelia
keren novel ini sangat seruu
13/03
0
DolPak
sangatt seruuu novell inii,saya sangat suka membacanya
assik
24/04
0keren novel ini sangat seruu
13/03
0sangatt seruuu novell inii,saya sangat suka membacanya
12/02
0Tingnan Lahat