logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Ditegur

"Jika Anda ingin hidup dalam kenangan masa depan anak, sebaiknya dimasa ini anda harus hadir untuk anak"
Meisya ~ DR. ANRO
***
Aku meluk Aroon sepanjang hari, kedua orangtuanya belum kunjung sampai ke Indonesia. Diketahui Aroon tinggal di Jogja hanya bersama Oma dan pemgasuhnya, sedang kedua orang tua Aroon yang bekerja sebagai fotografer profesional sering kali harus terbang dari satu negara ke negara yang lain guna suatu pekerjaan.
Kata pengasuhnya Aroon, saat ini mereka sedang dalam perjalanan bertolak dari Milan menuju Indonesia. Keduanya masih berada di Bandara Jakarta, mungkin sekitar 1atau 2 jam lagi mereka sampai.
"Miss Mei" Kata Aroon memandangiku, tersadar rupanya aku ketiduran sembari memeluk Aroon. Punggungku rasanya sakit sekali, mungkin karena aku tertidur dalam posisi duduk? entahlah.
"Ada yang sakit nak? " Tanyaku sembari mengecek keadaan perban dikepala Anak didikku ini.
Aroon menggeleng, ia bergerak gelisah dalam pangkuanku kemudian mendekati telingaku "Mau pipis" Bisiknya malu.
Aku tersenyum, sepertinya aku memang harus banyak belajar ilmu pendidikan agar aku bisa lebih peka lagi dalam mengurus anak. eh..
"Ayok Miss Mei temani" Kataku, aku membawa Aroon menuju kamar mandi dan segera membantu Aroon untuk bersiap.
"Lepas celananya nak, Miss Mei nggak liat" Kataku sembari memejamkan mata. Aroon bergerak sesuai intuisi dan pengajaran yang telah diberikan di Happiness Kindergarten.
"Miss Mei, Aloon susah buka ini" Katanya menggunakan dialek dan aksen British yang lucu sembari menunjukan resleting celananya.
Aku tersenyum dan membantunya membuka resleting celana, aku menghela nafas. Sudah berapa kali kami mengingatkan orang tua untuk lebih baik tidak memakaikan pakaian yang beresiko kepada anak?
Sejatinya, orang tua sudah mulai mengajarkan anak mengenakan pakaiannya sendiri sejak anak menginjak usia 12 -18 bulan. Mulai dari pemgenalan pakaian sederhana hingga penambahan aksesoris sesuai dengan selera anak.
Mengajarkan anak mengenakan pakaian sendiri selain berguna bagi stimulasi sensor mototik anak, juga sangat berguna untuk kemandirian anak. Namun, untuk jenis pakaian tertentu yang membahayakan sebaiknya tetap dalam pengawasan orang tua.
"Miss Mei udahhhh!!! " Teriak Aroon dari dalam kamar mandi.
"Ingat nak, cebok yang bersih" Jawabku. Satu lagi, perlu diketahui bahwasanya dalam berbicara dan berdialog dengan anak tolong gunakan bahasa yang baik dan positif.
Penggunaan bahasa atau kalimat bermaksud negatif sangat tidak di anjurkan untuk stimulus otak anak, itulah kenapa dalam beberapa artikel yang aku baca penggunaan kalimat "Jangan" sering kali harus di hindari, ternyata ada maknanya.
"Iya Miss!! " Jawab Aroon.
Beberapa waktu kemudian Aroon datang dengan wajah yang lucu, baju dan wajahnya basah kuyup.
"Hei.. ini wajah sama bajunya basah kuyup. Kenapa sayang? " Kata ku sembari mengulurkan handuk, aku jongkok dan mensejajarkan pandangan mataku dan mata Aroon. Hal ini bertujuan agar Aroon merasa nyaman berkomunikasi denganku dan tak merasa terintimidasi.
"Tadi aku nggak sengaja neken tombol di kamal mandi, telus Wussss!!! airnya kena muka. Aku kaget. Terus Basah" Jawab Aroon, aku tersenyum sembari mengelap wajahnya.
"Wahhh... Seru sekali, berarti lain kali Aroon harus apa dong biar nggak basah lagi? " Tanyaku, ia diam menatap mataku lalu kemudian ia bersuara dengan lantangnya.
"Hati-hati, ALOON HALUS HATI-HATI. Iya kan Miss Mei-mei" Katanya bersemangat, aku tersenyum.
"Ganti baju yuk, mandi kering" Kataku, dia mengangguk.
"Sebentar ya sayang, Aroon tunggu di kasur dulu. Miss Mei-mei kekamar mandi dulu" Kataku, ia mengangguk patuh.
Aku berjalan masuk ke kamar mandi, mengecek toilet apakah sudah terguyur bersih atau belum lalu mengecek yang lainya. Setelah membersihkan toilet tempat Aroon buang air kecil, mencuci tangan dan memastikan toilet dalam keadaan bersih aku kembali ke kamar Aroon.
Disana terlihat Aroon tengah bercanda bersama dokter nyentrik itu.
Merasa diperhatikan, dokter itu menoleh kearahku ia tersenyum memperlihatkan sederet gigi-gigi putihnya. Mata yang terbingkai glasses nampak indah diterpa sinar mentari pagi. Ahh mikir apa aku ini.
"Ghemm.. " Aku berdahem, mencoba menormal dan menetralisir hati yang sempat terpesona oleh sosok manusia nyentrik didepan sana.
Soalnya aku melupakan satu fakta, bahwa dokter nyentrik ini adalah manusia dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa, bahkan menara Bruj Khalifa saja insecure apabila disandingkan dengan Dokter ini.
"Good morning Miss Mei-mei" Katanya, aku mendelik. Hanya penghuni Happiness Kindergarten saja yang memanggilku Mei-mei, selebihnya Meisya atau Sya.
"Miss Mei, disapa doktel Ando kok nggak di jawab" Skakmat, itu suara Aroon.
"Ehm.. iya. Goodmorning Dr. Andro" Kataku ramah, meskipun dongkol setengah mati saat mata ini melihat tawa kecil Dokter nyentrik itu.
***
"Miss Meisya, terimakasih telah menjaga putra Kami dengan baik." Tutur kedua orang tua Aroon, keduanya baru saja datang. Dibelakang nya berdiri Miss Titik, Miss Mila, Oma, dan Pengasuh Aroon.
"Iya, Sama-sama Bu, Pak" Kataku merasa sedikit kikuk.
Setelah beramah-tamah, aku dan dua Miss lainya berpamitan undur diri.
"Sekali lagi, kami mohon maaf yang sebesar-besatnya kepada Bapak dan Ibu. Maafkan kami yang kalau pada tugas dan tanggung jawab kami" Tutur Miss Mila, kedua orang tua Aroon tersenyum mereka sama sekali tidak marah kepada kami.
"Tidak apa-apa Miss, justru kami yang meminta maaf. Aroon anaknya emang aktif banget Miss, terimakasih sudah bersedia kami repotin. Terimakasih sudah menjaga putra Kami dengan baik" Tutur Aqilah ibunda Aroon.
Pengasuh Aroon mengantar kami hingga depan Lift "Sekali lagi terimakasih banyak ya Miss Mila, Miss Tiktok dan Miss Mei-mei" Tutur Runa, pengasuh Aroon. Kami tersenyum dan berpamitan.
"Miss Mila dan Miss tiktok duluan aja ya, aku main ke toilet dulu. Sampai jumpa di sekolah" Kataku, setelah berpamitan aku langsung melesat mencari letak toilet.
"Ahh leganya" Gumamku sembari keluar dari dalam toilet, aku membenahi diri dan pakaian ku. Menatap kaca sembari membenarkan letak ikat rambut yang belum terkuncir sempurna.
Sayup-sayup aku mendengar seorang wanita yang menangis dibalik bilik kamar mandi.
"Asoka" Gumamku memanggil teman kecilku, tidak ada respon. Ahh.. dia memang suka seperti itu.
"Asoka" Bisiku lagi, aku sungguh berharap dia datang.
Setelah menunggu beberapa waktu dan tak kunjung merasakan kehadirannya aku berjalan menuju arah bilik.
"Tuk..
Tuk..
Tuk.. "
"Mbak? " Panggil ku pelan, suara tangis seketika terhenti.
"Iya? " Sahut seseorang dari dalam kamar mandi.
Aku bernafas lega, setidaknya itu manusia bukan hantu.
Aku lalu berjalan kembali menuju depan cermin kamar mandi, aku meneruskan aktifitas ku yang tertunda.
Tak lama kemudian, wanita dengan setelan seperti pegawai bank keluar. Matanya terlihat sembab, merah dan berair.
"Aku menyesal banget mbak, nggak bisa hadir buat anakku. Nggak bisa nemenin anakku. Aku sibuk kerja banting tulang nyari uang buat anakku, tapi sekarang aku nggak bisa apa-apa mbak. Anakku sakit, dan aku nggak bisa hadir buat anakku" Katanya melepaskan beban.
Aku berbalik menatap wajahnya, ia cantik dan terlihat masih sangat muda.
"Mbak yang sabar ya," Kataku sembari memeluk tubuhnya, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk sekedar meringankan beban hatinya.
"Kata orang, jika kita ingin hadir didalam ingatan masa depan anak. Kita sebagai orang tua harus mampu hadir dalam menemani anak kita di masa ini. Tapi aku bagaimana mbak? aku nggak bisa mbak. Pekerjaan membuatku harus berangkat pagi dan pulang malam" Katanya, ia kembali menangis.
Aku tak dapat membayangkan bagaimana rasanya bekerja sesibuk itu, tentu selain fisiknya yang lelah jiwanya juga tertekan. Aku salut sama wanita yang mampu se servive dan sekuat mbak ini.
"Mbak, titip salam buat Anakku ya mbak. Nanti kalau mbaknya ketemu, tolong bilangin kalau Mommynya sayang banget sama dia" Katanya. Aku mengangguk.
Aku yang harus segera berangkat ke Sekolah pamit undur diri pada mbak itu, ia mengangguk. Belum sempat buka pintu keluar, aku mendengar ada dua orang ibu-ibu yang tengah mengobrol "Mbak itu gila kali ya ngomong sendiri" Kata Seorang Ibu berbadan gemuk, matanya menatap ku heran.
"Ngomong sendiri? " Gumamku, ah tapi aku tidak punya waktu untuk menghiraukan. Aku segera bergegas pergi dari tempat ini, aku tak ingin terlambat masuk Sekolah.
Sekeluarnya dari rumah sakit, aku dikejutkan dengan kedatangan Ambulance yang membawa seorang wanita dalam keadaan kritis.
Wanita itu terlihat familiar, alangkah terkejutnya saat mataku menangkap wajah wanita yang sama persis dengan wanita yang kutemui didalam kamar mandi tadi.
"Pantesan.. " Gumamku, Ya Tuhan..
**
Bersambung..

Komento sa Aklat (49)

  • avatar
    SamsunAndi

    bagus bangettt sukaaa

    29d

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    mantap

    10/09

      0
  • avatar
    KasihAyuracinta

    suka bangettts

    09/08

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata