Darah di lantai itu masih tampak mengkilap meski sudah mengering. Lila berdiri kaku, tubuhnya ingin berlari menjauh, tapi tatapan Damian yang tak berkedip menahannya di tempat. Ia melihat perubahan nyata dalam pria itu ketika sesuatu menyentuh teritori ancamannya, Damian tidak lagi sekadar dingin. Ia menjadi ganas. Damian menyentakkan wajahnya sedikit menjauh dari Lila, seperti menyadari bahwa ia berdiri terlalu dekat. Tapi jarak itu tetap hanya seutas napas. “Jangan sentuh apapun,” perintahnya. “Aku bukan idiot,” balas Lila, meski suaranya bergetar. Damian menunduk, memeriksa tubuh mayat. “Peluru di kepala, ditembak dari jarak dekat. Eksekusi profesional.” Ia menoleh pada tulisan di dinding. “Dan ini… ini ditulis untukku.” “Untuk kita,” koreksi Lila. “Karena ada kata her di sana.” Damian memandangnya dengan sesuatu yang tidak bisa Lila definisikan ketakutan? Tidak. Damian tidak takut. Tapi ada kemarahan yang dilemparkan melalui rasa protektif yang berlebihan. “Dia menginginkanmu,” ucapnya pelan. “Dan dia sudah lebih dulu melangkah.” Lila memeluk diri. “Kenapa? Kenapa semua orang tiba-tiba menganggap aku penting? Aku hanya… aku hanya Lila.” Damian bangkit berdiri dan dekati Lila lagi, terlalu dekat hingga lutut mereka bersentuhan. “Tidak ada yang hanya jika berhubungan denganku. Termasuk kamu.” Lila ingin menjauh, tapi punggungnya menempel ke dinding. Damian mencondongkan tubuh sedikit dan menekan tangannya di samping kepala Lila mengurung, tetapi tidak menyentuh. Tatapan itu menusuknya. “Ingat apa yang kubilang. Kamu dalam tanggung jawabku. Dan aku tidak membiarkan siapapun merebut milikku.” Lila mendengus, pura-pura berani. “Mengklaim tanpa izin? Klasik toxic masculinity.” Sudut bibir Damian terangkat. “Ini bukan maskulinitas, Lila.” Ia menyentuh dagu Lila dengan dua jarinya, ringan namun membuat nafasnya tersangkut. “Ini obsesiku.” Lila terkejut oleh kejujuran brutal itu. Ia menepis tangannya. “Aku bukan mainanmu, Damian Valtieri.” Damian mengarahkan wajahnya lebih dekat, suaranya turun menjadi geraman rendah. “Kalau kamu milikku, kamu bukan mainan. Kamu prioritas.” Itu adalah kalimat paling menakutkan sekaligus paling menggoda yang pernah ia dengar. Damian menarik ponselnya dan melakukan panggilan. “Bersihkan tempat ini. Tidak ada yang menyisakan bau.” Ia kemudian menyebut alamat lokasi, suara rendahnya menjadi tajam dan profesional. Begitu menutup telepon, ia kembali pada Lila. “Kita pergi.” “A-aku…” Lila menatap mayat itu sekali lagi. “Damian, kalau orang itu mencari Clara dan dia mirip denganku… berarti… Clara mungkin sudah mati juga?” Damian menghela nafas panjang. “Dia tidak akan mudah mati. Dia pasangan yang cocok untuk musuhku sama pintar, sama gila. Aku tidak percaya dia mati sampai aku melihat tubuhnya sendiri.” Nada itu… ada luka lama di sana. Terpendam, dalam, pahit. Lila ingin bertanya… tapi tidak berani. Damian menarik pergelangan tangannya bukan kasar, justru dengan kontrol yang sempurna agar Lila tetap berada dekat tanpa sakit. Ia menuntunnya menuruni tangga menuju mobil. Sebelum masuk, Damian memperhatikan sekitar. Ia melihat seorang pria di ujung jalan menatap mereka. Pria itu langsung menghilang ke tikungan begitu Damian memandang balik. Damian mengencangkan rahangnya. Kemudian ia memegang sisi wajah Lila, memaksanya menatapnya lurus. “Dengar aku baik-baik,” katanya sangat pelan. “Kamu tidak berdiri terlalu jauh dariku lagi.” “Aku tidak berencana kabur,” Lila mencoba bercanda untuk meredakan ketegangan. “Aku tahu aku tidak akan menang.” “Ini bukan tentang menang,” gumam Damian. “Ini tentang hidup.” Ia membuka pintu belakang mobil. Lila masuk. Damian duduk di sampingnya. Penjaga di depan menyetir pergi. Di dalam mobil, suasana sunyi. Tapi bukan sunyi damai—sunyi yang berdenyut dengan energi aneh yang membuat Lila sulit bernapas. “Damian…” Ia tidak tahu kenapa ia memanggilnya. “Ya?” Damian tidak melihatnya, hanya memutar gelas whisky kecil dari minibar mobil. “Apa Clara… seseorang yang penting untukmu?” Pertanyaan itu menggantung di udara. Damian berhenti bergerak. Perlahan ia memutar kepalanya dan menatap Lila. Mata abu-abunya tampak seperti badai yang hendak pecah. “Aku tidak terikat pada siapa pun,” katanya pelan tapi keras. “Aku tidak mengizinkan diri untuk itu.” “Itu bukan jawaban.” “Itu satu-satunya yang kamu dapat.” Lila mengepal tangan di pangkuannya. “Seseorang diluar sana ingin menyakitiku… untuk menyakitimu.” Ia memberanikan diri. “Berarti kamu peduli terhadapku.” Damian tertawa… tapi itu bukan tawa bahagia. “Jangan salah paham pada proteksi, Lila.” Ia mendekat, suaranya seperti bara gelap yang menyentuh kulit. “Itu bukan karena aku peduli. Itu karena aku tidak mengizinkan siapapun menyentuh apa yang sedang menjadi urusanku.” Lila menatap matanya. “Kalau suatu hari kamu bosan ‘mengurusiku’, kamu akan membiarkan aku mati?” Damian memajukan wajahnya. “Aku tidak pernah bosan pada sesuatu yang menantangku.” Lila hampir terengah. “Itu… terdengar jauh lebih menakutkan.” Damian terdiam sejenak, lalu mengecup pipi Lila cepat, mendadak, menghancurkan konsentrasinya. “Itu niatku.” Lila mengusap pipinya dengan tatapan marah, tapi tubuhnya mengkhianatinya jantungnya berdebar tak karuan. Mobil berhenti di sebuah bangunan besar villa lain. Lebih modern, lebih mewah, dan lebih aman. Penjaga berbaju hitam berbaris rapi mengamankan pintu masuk. “Rumahmu?” tanya Lila. “Salah satunya.” Damian keluar dan menunggu pintu Lila terbuka dari luar oleh pengawal. Begitu melangkah masuk ke dalam villa, wangi aroma kayu sandalwood menyambut mereka. Interior minimalis tapi mahal lantai marmer putih, pencahayaan hangat, dan jendela raksasa yang memperlihatkan kota dari kejauhan. Damian melangkah ke sebuah pintu baja hitam. Ia memasukkan kode panjang yang Lila tidak ingat meski ia memaksa diri memperhatikan. Di dalam… bukan kamar. Itu ruang keamanan penuh layar monitor, komputer, dan sistem pengawasan. Damian menatap layar-layar itu seperti seorang raja yang mengawasi kerajaan. Ia menunjuk sebuah kursi. “Duduk.” “Aku bukan binatang peliharaan.” “Aku menyuruhmu duduk agar kamu tidak pingsan saat melihat ini.” Lila terpaksa duduk, meski dengan wajah tidak mau. Damian menyentuh keyboard. Layar menampilkan rekaman CCTV dari pasar tadi. Di salah satu sudut gelap, ada sosok pria berbadan tegap, rambut pirang pucat, tato menjalar ke leher persis seperti deskripsi pria yang ditemui Clara. Namun wajah pria itu tidak terlihat jelas. Dia menonton Damian dan Lila sepanjang waktu. Setiap langkah. Setiap interaksi. Dan tepat sebelum mereka memasuki apartemen lelaki itu menatap kamera dan tersenyum. Lila gemetar. Damian memperbesar gambar. “Senyum itu… ditujukan ke aku.” “Apa artinya?” tanya Lila. Damian menyandarkan tubuh, menatap layar tanpa kedipan. “Itu artinya dia sudah lama memainkan permainan ini,” ujarnya. “Dan sekarang dia memainkannya di hadapanmu.” Lila memegang lengan kursi kuat-kuat. Damian menghadap ke arahnya lagi hening sesaat. “Mulai malam ini,” katanya, suaranya seperti perintah militer, “kamu tidur di kamarku.” Lila membelalak. “Apa?!” “Itu area paling aman di rumah ini. Ada akses khusus hanya untukku.” Damian mendekat, menurunkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar. “Kalau aku jauh darimu, kamu jadi target terbuka.” Lila terpaku. “Jadi aku akan ada di sampingmu,” Damian melanjutkan, “karena aku tidak mempercayakan keselamatanmu pada siapa pun.” “Tetap saja… aku...” “Ini bukan permintaan.” Ia memegang dagu Lila sekali lagi, namun kali ini lembut. “Aku akan menjaga kamu. Dengan cara apa pun.” Wajah Lila memanas. “Damian… kamu tuh obsesif.” “Dan kamu terlalu berharga untuk tidak diobsesikan.” Lila tidak tahu harus merasa ketakutan… atau merasakan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu. Damian menunjuk ke pintu. “Ayo.” Dalam langkah-langkah Lila yang mengikuti Damian ke lantai atas, ia menyadari sesuatu: Dia masuk ke dalam sarang serigala… …dan serigala itu telah memutuskan bahwa dia adalah miliknya. Dan di luar sana… Ada serigala lain yang menginginkannya juga. Perburuan baru saja dimulai.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
17/05
0penasaran
03/01
0Wow cerita ini sangat seru
24/12
0Tingnan Lahat