logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bab 6

Mesin mobil menderu pelan, memecah keheningan malam yang merayap di pinggiran kota London. Lampu jalan berkelebat cepat di jendela, menciptakan bayangan panjang yang menari di wajah Lila. Jalan bebas, namun dadanya seolah terjebak dalam ruang sempit yang tidak memberi napas.
Damian duduk di sebelahnya. Tenang. Tenang dengan cara yang berbahaya.
Ia membaca sesuatu di ponselnya seolah Lila bukan manusia hidup di sampingnya, hanya objek yang sedang dianalisis tanpa emosi.
Lila memeluk tubuhnya sendiri, memejamkan mata sebentar.
“Berapa lama perjalanan ini?” tanyanya akhirnya, suaranya berusaha stabil.
“Sesingkat mungkin.”
“Bisa lebih spesifik?”
“Kalau aku mau spesifik, aku akan menyuruhmu diam.” Nadanya datar, konsisten.
Lila menatapnya dengan kesal. “Kenapa kamu harus selalu ngomong kayak gitu?”
“Karena kamu suka bertanya yang tidak perlu,” balasnya tanpa menoleh.
“Aku juga manusia. Wajar aku takut.”
Damian berhenti scrolling, matanya akhirnya berpaling ke arahnya lambat, menghancurkan pertahanan.
“Kamu tidak terlihat takut. Kamu terlihat keras kepala, defensif, dan mencoba membaca pikiranku.”
Ia menyandarkan tubuhnya, mengatur posisi duduk sehingga lutut mereka hampir bersentuhan.
“Itu menarik.”
Lila menelan ludah. “Kalau kamu pikir aku lagi mencoba memanipulasi kamu, kamu salah.”
“Semua orang mencoba memanipulasi,” jawabnya singkat. “Beberapa melakukannya lebih baik daripada yang lain.”
Tatapannya turun sejenak ke bibir Lila cepat, tapi cukup untuk membuat sesuatu di perut Lila mengencang.
Damian kembali ke layar ponsel, seolah tidak terjadi apa-apa.
They left the city.
Gedung-gedung tinggi berganti menjadi jalanan pedesaan, lalu semakin lama, pepohonan menjadi lebih padat. Akhirnya mobil berhenti di sebuah wilayah ke labuan pasar malam kumuh dengan ratusan orang lalu-lalang, suara musik, teriakan pedagang, dan cahaya neon yang memantul dari genangan air.
Tempat yang tidak akan ada kamera keamanan kelas elit.
Tempat yang identitas orang mudah hilang.
Tempat untuk berburu.
Penjaga di kursi depan turun lebih dulu. Damian menyentuh lengan Lila, hanya sebentar cukup untuk menghentikan gerakannya dan membekukan napasnya.
“Sini.”
Ia keluar, lalu menarik Lila turun dari mobil dengan cara yang terlihat normal bagi orang luar tapi sentuhan di punggungnya terlalu mengendalikan untuk disebut ‘mengawal’. Damian berjalan santai menembus kerumunan, sementara Lila mengikuti dengan jantung memompa panik.
Ia sadar sesuatu: Damian melepaskannya di tengah publik.
Tidak ada tali. Tidak ada borgol. Tidak ada pisau menempel ke punggungnya.
Jika Lila ingin kabur… saat ini adalah kesempatan terbaiknya.
Tapi Damian hanya memutar kepala sedikit, seperti bisa membaca pikiran sebelum Lila melakukannya.
“Jangan,” ucapnya lirih.
“Aku bahkan belum melakukan apa-apa.”
“Kamu tidak harus melakukan sesuatu untuk membuatku tahu.”
Lila menggigit bibir.
“Aku bukan boneka kamu, Damian.”
“And yet,” ia mendekat ke telinganya, suaranya seperti belati dingin, “kamu berjalan tepat di belakangku. Tanpa harus ditarik. Tanpa harus diancam. Badanmu mengikuti kemana aku pergi.”
Lila ingin menyangkal, tapi kakinya sendiri yang membuktikan.
Damian menghentikan langkah di depan sebuah kios kecil tua yang menjual teh panas. Si penjual pria tua berjanggut putih tersenyum hormat, bukan pada Lila, tapi pada Damian.
“Good evening, Mr. V.”
Mr. V.
Lila sadar nama belakang “Valtieri” tidak boleh diucapkan sembarangan di tempat ini.
“Evening,” jawab Damian singkat. “Ada yang kutanyakan.”
Pria itu berusaha tetap tersenyum, tapi tangannya sedikit gemetar. Ia tahu siapa yang sedang dihadapi.
“Kau kenal perempuan ini?” Damian mengeluarkan foto Clara Jayes dari ponsel, menunjukkannya.
Disebutkan begitu cepat sehingga hampir tidak ada waktu bagi lelaki tua itu untuk menyembunyikan apapun dari ekspresi wajahnya.
Mata pria itu melebar hanya setengah detik tapi Damian menangkapnya.
“Tidak… aku… aku tidak tahu...”
Damian menaruh tangan di bahu pria itu, bukan kasar, justru ringan seperti sentuhan sopan. Namun semua orang yang mengenal dunia gelap tahu: sentuhan ringan adalah peringatan sebelum kekerasan.
“Kamu tahu. Siapa yang terakhir pergi bersamanya?”
Si pria menelan ludah. Pandangan matanya melirik Lila seolah takut Lila adalah Clara. Lila menggeleng cepat, memberi tahu dengan mata: aku bukan dia.
Akhirnya pria itu menyerah dan berbisik,
“Ada pria yang datang menjemputnya malam itu… dia memakai jaket kulit hitam. Banyak tato. Rambut pirang…”
Damian langsung mengunci deskripsi itu di kepalanya dan menepuk bahu lelaki tua itu sekali lagi tepat di titik saraf yang membuat pria itu meringis tanpa suara, namun tetap berdiri.
“Tolong jaga mulutmu,” kata Damian tanpa ancaman langsung.
Dan ancaman yang tidak diucapkan adalah yang paling mematikan.
Damian berbalik dan mulai berjalan lagi.
Lila mengikutinya, tapi kali ini ia terburu-buru menyamakan langkah bukan karena takut melainkan untuk melarikan diri dari rasa bersalah mendalam melihat lelaki tua itu gemetar begitu.
“Jadi prinsip kamu… intimidasi semua orang di dunia demi menemukan satu orang?” tanya Lila.
“Pragmatis.”
“Itu kata lain dari brutal.”
Damian berhenti. Tiba-tiba. Lila hampir menabraknya.
Ia menatap Lila lama.
“Kalau orang-orang tidak membunuh mencoba memutus ku, aku tidak akan perlu menjadi brutal.”
Lila terdiam. Untuk sekejap, ia melihat sesuatu di balik dinding baja itu kelelahan. Luka. Trauma yang tertanam sejak lama.
Tapi Damian segera menutup itu semua.
“Jangan terlalu sibuk menghakimiku,” katanya pelan. “Kamu hidup saat ini karena aku membuat keputusan brutal.”
Kalimat itu menghantam.
Karena betapapun ia membenci Damian… ia tidak bisa menyangkal kenyataan itu.
Mereka melewati bagian pasar yang semakin sepi. Musik tak lagi bergema, hanya ada suara langkah kaki di jalan berbatu dan anjing menggonggong di kejauhan.
Tiba-tiba suara motor besar terdengar. Dua pria bertato dengan jaket kulit menoleh tajam ke arah Damian lalu ke arah Lila.
Tatapan mereka berubah. Saliva menjilat bibir. Penilaian.
Damian hanya menatap balik. Tidak berusaha menyembunyikan Lila. Tidak memegangnya erat. Tidak menghalanginya.
Tapi ada sesuatu yang bergulung di balik ketenangan itu kegelapan dingin.
Salah satu pria membuka mulut, hendak bersiul menggoda.
Damian mengeluarkan pistol dari balik mantel dan menodongkan ke pria itu bahkan tanpa mengangkat wajah.
Semuanya terjadi dalam 0,5 detik.
Pria itu langsung mengangkat kedua tangannya. “Woah, woah, relax we were just looking.”
“Don’t,” suara Damian hampir tanpa nada, “look.”
Damian menurunkan pistol setelah ancaman itu tertanam. Pria-pria itu mundur cepat dan pergi.
Lila terpaku.
“Kenapa?” suaranya hampir berbisik. “Kenapa kamu lakukan itu?”
“Aku tidak mengizinkan siapapun melihat apa yang menjadi milikku.”
Lila terpukul. Kata milikku membuatnya marah… sekaligus membuat hatinya berdetak tidak normal.
“Aku bukan milikmu,” gumamnya.
“Belum,” Damian menatapnya lurus, “tapi semua yang menyentuh kasus ini menjadi tanggung jawabku sampai kebenaran keluar. Termasuk kamu. Termasuk nyawamu. Termasuk tubuhmu.”
Tatapan Damian mengunci miliknya.
Dan di balik semua bahaya, ada sesuatu lain yang menyala di kedalaman iris abu-abunya. Sesuatu yang bukan sekadar klaustrofobia psikologis.
Obsesi.
Dalam 20 menit berikutnya, mereka memasuki daerah perumahan bobrok. Damian berhenti di depan sebuah apartemen tua. Lampu tangga menyala redup.
“Kita kesini untuk apa?” tanya Lila.
“Untuk menemukan pria berjaket kulit itu.”
Lila terdiam, napasnya memburu.
Damian menaiki tangga kayu dengan tenang. Suara deritnya menusuk telinga. Lila mengikutinya karena tidak punya pilihan dan karena sebagian dirinya ingin tahu apa yang akan terjadi.
Mereka berhenti di depan pintu nomor 27.
Damian mengeluarkan pistol lagi.
Ia mengetuk.
Satu kali.
Dua kali.
Tidak ada jawaban.
Damian mendorong gagang pintu.
Tidak terkunci.
Ketika pintu terbuka, aroma logam menusuk hidung Lila.
Damian mengangkat pistol lebih tinggi.
Lila memekik pelan begitu ia melihatnya mayat pria berjaket kulit di lantai, darah sudah mengering.
Dan di dinding, tertulis dengan huruf besar menggunakan darah yang sama:
IF YOU WANT HER
YOU ARE TOO LATE.
Damian menegang untuk pertama kalinya sejak Lila mengenalnya.
Ekspresinya berubah. Tidak lagi dingin. Tidak lagi terkendali.
Ada bara marah di matanya marah yang cukup membuat dunia gelap bergetar.
Lila mengambil satu langkah mundur. Damian berbalik menatapnya perlahan, intens, nafasnya berat.
“Ada seseorang yang mengenalmu lebih dulu.”
Darah di dinding itu memantul di irisnya, membuatnya tampak seperti iblis yang baru ditemukan luka lamanya.
“Dan orang itu,” Damian bergumam, suaranya serak dengan ancaman murni,
“ingin kau jadi miliknya sebelum aku.”
Lila membeku.
Damian mendekat, memegang wajahnya dengan kedua tangan tidak kasar, tapi terlalu menguasai.
“Mulai sekarang, Lila…”
Bibirnya hampir menyentuh bibir Lila. Nafas mereka saling bertemu.
“…kau tidak pernah lepas dari pandanganku. Bahkan sedetikpun.”
Pernyataan itu bukan romantis.
Itu penjara.
Penjara yang terasa… memabukkan.

Komento sa Aklat (7)

  • avatar
    Kilerbibi

    bagus

    17/05

      0
  • avatar
    NoraElvia

    penasaran

    03/01

      0
  • avatar
    Z.NFaza

    Wow cerita ini sangat seru

    24/12

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata