logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Sanksi Sosial

Pesan singkat dari Asep itu terasa seperti sengatan listrik dingin yang menjalar, bukan hanya ke telapak tangannya yang memegang ponsel, tetapi juga ke seluruh sarafnya. "Kau sudah diawasi sejak Ardan ditahan." Tangan Naira gemetar hebat, bukan lagi karena lelah atau amarah, melainkan ketakutan murni. Selama seminggu terakhir ia mengurung diri, merasa aman di balik dinding rumah mewahnya, di balik jendela tebal yang menghalangi dunia luar. Ternyata, itu hanya ilusi. Ia tidak pernah benar-benar sendiri. Ada mata yang mengawasi, telinga yang mendengarkan.
Ia mematikan layar ponsel, melemparkannya ke atas meja seolah benda itu bisa meledak kapan saja. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Siapa? Bagaimana? Sejak kapan? Pertanyaan-pertanyaan itu berkelebat cepat di benaknya, membentuk labirin kepanikan. Hartono. Pasti Jenderal itu. Pria itu tidak akan membiarkan pionnya bergerak bebas setelah dikorbankan. Ardan benar. Ia hanya aset, dan aset yang lepas kendali harus diamankan.
Naira mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam. "Oke, Naira. Tenang. Panik tidak akan menyelesaikan apa-apa." Ia menatap buku agenda hitam di depannya, lalu ke tumpukan buku-buku akuntansi forensik yang baru ia beli. Ini bukan waktunya untuk menyerah. Justru ini bukti bahwa ia berada di jalur yang benar, bahwa ia telah menyenggol sarang lebah.
Dua hari berikutnya, Naira berusaha bertindak senormal mungkin, meskipun paranoia terus membayangi. Ia sengaja tidak menghubungi Asep lagi, tidak membolak-balik buku agenda di tempat terbuka. Ia bahkan mencoba kembali ke rutinitas lamanya, sekadar untuk menguji. Ia memutuskan untuk pergi ke gym di kompleks elite tempat tinggalnya, tempat ia biasa bertemu teman-temannya. Ia perlu melihat, merasakan, bagaimana dunia lamanya bereaksi terhadap dirinya.
Ketika mobilnya, yang kini disopiri sopir lama Ardan, memasuki gerbang kompleks, tatapan satpam terasa berbeda. Lebih tajam, lebih lama. Naira mencoba tersenyum, tetapi senyum itu terasa kaku di bibirnya. Area parkir gym sepi. Hanya ada beberapa mobil mewah yang dikenalnya. Salah satunya, sedan putih milik Karina, ketua arisan sosialita tempat Naira dulu bernaung.
Naira melangkah masuk ke lobi gym yang mewah, beraroma eucalyptus dan kemewahan. Seperti biasa. Namun, atmosfernya tidak. Ada bisikan yang mereda, tatapan mata yang menghindar. Di sudut, di sofa beludru merah, duduk Karina bersama Desi dan Lia, tiga wanita yang dulu selalu mengelilingi Naira, memujinya, tertawa bersamanya. Mereka sedang menyesap kopi mahal, dengan majalah mode di pangkuan.
"Hai, Karina," sapa Naira, mencoba ramah. Ia mendekat, berharap setidaknya ada satu senyum yang tulus.
Karina mendongak, matanya yang dulu ramah kini menyipit, bibirnya tipis. "Oh, Naira. Kupikir siapa." Suaranya datar, tanpa kehangatan. Desi dan Lia hanya menunduk, pura-pura sibuk dengan ponsel mereka.
"Aku... aku cuma mau olahraga. Sudah lama tidak ke sini," Naira mencoba mencairkan suasana.
Karina mendengus pelan, lalu melirik kedua temannya. "Olahraga? Kupikir kamu sibuk. Dengan... kasus itu."
"Kasus apa?" Naira pura-pura tidak mengerti, meski hatinya mencelos.
"Jangan pura-pura, Naira. Semua orang tahu. Tentang Ardan. Tentang dana bansos itu." Suara Karina kini lebih keras, cukup untuk didengar beberapa anggota gym lain yang berlalu lalang. "Jujur saja, kami semua terkejut. Ardan itu kan pria baik, politisi yang menjanjikan. Siapa sangka... istrinya ternyata tidak tahu apa-apa. Atau... pura-pura tidak tahu?" Karina tersenyum sinis.
Desi akhirnya mengangkat kepala, menatap Naira dengan iba yang terasa palsu. "Kasihan juga ya, Naira. Dulu kan kamu selalu bilang Ardan itu pahlawan, berjuang untuk rakyat. Eh, ternyata begini."
Lia menambahkan, tanpa menatap Naira. "Kalau aku jadi kamu, aku malu keluar rumah. Apalagi ke tempat seperti ini. Semua orang kan tahu."
Naira merasakan panas menjalari wajahnya. Malu. Marah. Ia ingin membentak, menjelaskan bahwa ia juga korban, bahwa ini semua sandiwara. Tapi apa gunanya? Mereka tidak akan mengerti, atau tidak mau mengerti. Mereka hanya ingin drama, gosip, dan pembenaran atas kesempurnaan mereka sendiri yang tidak pernah terusik.
"Kalian tidak tahu apa-apa," bisik Naira, suaranya bergetar.
Karina tertawa kecil. "Kami tahu cukup, Naira. Kami tahu kalau orang-orang yang bergaul denganmu sekarang, bisa kena getahnya. Kamu kan tahu, kami ini punya reputasi yang harus dijaga. Bisnis suami-suami kami... tidak bisa dicampuri hal-hal kotor begini."
"Jadi, ini semua tentang reputasi dan uang?" Naira menatap Karina lurus.
"Memangnya apa lagi, Naira?" Karina mengangkat alisnya, seolah Naira baru saja mengatakan hal paling bodoh di dunia. "Di dunia ini, semua tentang itu. Dan maaf saja, sepertinya kamu sudah tidak punya keduanya."
Naira merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya. Bukan karena kehilangan Ardan, tetapi karena ia kehilangan semua orang yang ia anggap teman. Mereka bukan teman. Mereka adalah parasit yang menempel pada status dan kekayaannya. Ia berbalik, tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Langkahnya cepat, meninggalkan tawa sinis Karina dan tatapan iba palsu teman-temannya di belakang.
"Cukup," gumamnya saat masuk ke mobil. "Cukup dengan sandiwara ini."
Sopirnya, Pak Udin, meliriknya dari spion. "Nyonya baik-baik saja?"
Naira hanya mengangguk, lalu meminta untuk diantar ke butik favoritnya. Bukan untuk membeli baju baru, tapi untuk menguji sesuatu. Ia ingin melihat apakah sanksi sosial ini juga menjalar ke sanksi ekonomi.
Butik "La Belle Vie" di pusat kota, tempat Naira biasa menghabiskan puluhan juta rupiah untuk sepotong gaun, kini terasa asing. Penjaga toko, gadis-gadis muda yang biasanya menyambutnya dengan senyum lebar dan panggilan "Nyonya Naira yang cantik," kini hanya menatapnya dengan sopan, namun ada jarak yang tak terlihat. Mereka tidak lagi menawarkan kopi atau sampanye.
"Saya ingin melihat koleksi terbaru, yang baru datang minggu lalu," kata Naira, mencoba mempertahankan citra lamanya.
Seorang asisten toko, yang dulu selalu siap sedia melayaninya, kini hanya mengangguk kaku. "Tentu, Nyonya. Mari ikuti saya."
Naira mengambil beberapa gaun yang menarik perhatiannya, mematut diri di depan cermin. Gaun-gaun itu masih terlihat indah, tetapi entah mengapa, terasa kosong di tubuhnya. Ia memilih satu, sebuah gaun malam berwarna safir yang elegan, dan membawanya ke kasir.
"Ini saja," katanya, menyerahkan kartu kredit platinumnya.
Kasir muda itu memasukkan kartu, lalu mengernyit. "Maaf, Nyonya. Kartu Anda... tidak bisa diproses."
Naira merasa jantungnya berdetak kencang. "Mungkin salah kartu. Coba yang ini." Ia mengeluarkan kartu kredit lain, yang emas.
Kasir mencoba lagi. Hasilnya sama. "Maaf, Nyonya. Semua kartu Anda ditolak."
"Bagaimana mungkin?" Naira mulai panik. Ia memiliki beberapa kartu, semuanya dengan limit yang fantastis. "Coba kartu debit saya saja."
Kasir mencoba lagi dengan kartu debit. Lagi-lagi, ditolak. Wajahnya kini menunjukkan sedikit rasa kasihan yang tulus. "Sepertinya rekening Anda... dibekukan, Nyonya."
Dunia Naira terasa berputar. Dibekukan? Semua? Ia meraih ponselnya, mencoba memeriksa aplikasi bank. Login gagal. "Maaf, akun Anda tidak dapat diakses." Pesan itu muncul berulang kali.
"Ini tidak mungkin," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia menarik napas, mencoba mencari alasan. "Mungkin ada masalah sistem. Saya akan coba lagi nanti." Ia tersenyum tipis, mengambil kembali kartu-kartunya. Perasaan malu yang membakar di gym tadi kini berubah menjadi kedinginan yang menusuk. Ia bangkrut. Nyaris bangkrut.
Ia meninggalkan butik itu dengan langkah gontai, tanpa gaun safir yang tadi ia inginkan. Di dalam mobil, ia menatap deretan kartu di tangannya. Dulu, kartu-kartu ini adalah simbol kekuasaan, kebebasan, dan statusnya. Kini, semuanya hanya plastik tak berguna. Ardan. Hartono. Mereka mengambil segalanya.
"Uang... status... itu semua palsu," bisiknya pada dirinya sendiri, menatap kosong ke jalanan macet Jakarta. "Semua koneksi itu, semua senyum itu... itu bukan untukku. Itu untuk uangku, untuk statusku."
Air mata tidak lagi mengalir. Yang ada hanyalah sebuah kekosongan yang dingin, namun juga kejernihan yang menyakitkan. Ia tidak lagi memiliki apa-apa dari dunia lamanya. Tidak ada teman, tidak ada uang, tidak ada status. Ia adalah Naira yang telanjang, tanpa perisai.
Tapi di balik kehampaan itu, ada sebuah benih yang tumbuh. Benih determinasi. Jika semua yang ia miliki selama ini adalah palsu, maka ia harus mencari sesuatu yang nyata. Koneksi yang nyata. Bantuan yang nyata. Bukan dari dunia elite yang munafik, tetapi dari tempat-tempat tersembunyi, dari orang-orang yang juga terpinggirkan.
Sesampainya di rumah, Naira langsung menuju ruang kerjanya. Ia membuka laci meja yang dulu berisi perhiasan mewah dan dompet desainer. Kini, laci itu kosong. Ia mulai mencari, membolak-balik tumpukan surat tagihan yang ia abaikan selama ini, surat-surat dari bank, dari perusahaan asuransi, dari klub golf.
Tangannya menyentuh sesuatu yang berbeda. Sebuah amplop tebal, tersembunyi di bawah tumpukan tagihan listrik dan air. Amplop itu terbuat dari kertas daur ulang berwarna cokelat, dengan cap pos dari luar negeri yang tidak ia kenali. Ada alamat pengirim: sebuah firma konsultan pajak di British Virgin Islands. Ditujukan kepada Ardan.
Naira menatap amplop itu, lalu matanya menangkap sesuatu yang membuat napasnya tercekat. Di sudut kanan bawah amplop, ada sebuah stempel kecil, buram, berwarna biru tua. Stempel yang sama mencurigakannya, dengan bentuk yang hampir identik, seperti stempel yang ia lihat di surat izin besuk Ardan di Rutan. Stempel yang ia yakini bukan dari institusi resmi.
Perasaan dingin menjalar di punggungnya. Surat ini, dari firma konsultan pajak di luar negeri, dengan cap yang sama mencurigakannya... ini pasti bukan kebetulan. Ini adalah jejak. Jejak lain yang disembunyikan Ardan, jejak yang mengarah ke jaringan yang lebih besar, lebih gelap.
Dengan tangan gemetar, Naira merobek amplop itu. Isi di dalamnya adalah beberapa lembar kertas yang dicetak dengan rapi, namun semuanya ditulis dalam bahasa Inggris dengan istilah-istilah keuangan yang rumit. Di bagian atas, tercetak jelas nama firma: "Offshore Haven & Associates." Dan di baris berikutnya, di bawah nama Ardan sebagai penerima, ada sebuah kode referensi yang disematkan. Kode itu dimulai dengan huruf 'J' dan diakhiri dengan angka 'H'.
JH.
Jenderal Hartono.
Naira memegang surat itu, matanya melebar. Ini bukan hanya tentang Ardan. Ini bukan hanya tentang bansos. Ini adalah sebuah jaringan internasional, dengan Hartono sebagai dalangnya. Dan dia baru saja menemukan petunjuk... yang mengarah ke sebuah rekening yang tidak pernah ia ketahui.

Komento sa Aklat (26)

  • avatar
    BauYulianti Hoar

    bagus banget ceritanya

    19d

      0
  • avatar
    Mirandamega

    mantap

    16/06

      0
  • avatar
    RahardiPutra

    aku sangat suka

    24/04

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata