Langkah kakinya memang terasa berat saat meninggalkan ruang kunjungan, napasnya masih memburu, namun kepalanya kini dipenuhi rencana. Otaknya bekerja cepat, menyusun strategi untuk kembali. Ia harus mendapatkan buku agenda itu. Di lorong Rutan yang berbau apek, Naira melihat Pak Johan sudah menunggunya, ekspresinya datar. "Bagaimana, Nyonya? Lancar?" tanyanya, seolah baru saja selesai menonton pertunjukan teater. Naira memaksakan senyum tipis, senyum yang terasa asing di bibirnya sendiri. "Lancar, Pak Johan. Saya sudah bicara dengan Ardan. Saya mengerti situasinya." Suaranya terdengar lebih mantap dari yang ia kira. "Bagus. Saya tahu Anda wanita cerdas," Pak Johan mengangguk puas. "Ayo, kita pulang." Saat mereka melangkah menuju pintu keluar, melewati pos pemeriksaan terakhir, Naira tiba-tiba berhenti. Ia menepuk saku gaunnya, lalu tas tangannya. "Ya ampun, Pak Johan," katanya, dengan nada sedikit panik yang dibuat-buat, "ponsel saya! Sepertinya tertinggal di ruang kunjungan. Tadi saya letakkan di meja." Pak Johan mengernyit. "Ponsel? Tapi kan tadi Pak Ardan tidak membawa ponsel." "Bukan, Pak. Ponsel saya. Saya tadi sempat memakainya, lalu lupa mengambilnya," Naira berbohong dengan fasih. Jantungnya berdebar kencang, takut kebohongannya terbongkar. "Saya harus mengambilnya, Pak. Penting sekali." Seorang sipir yang berdiri di dekatnya, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal, menatap Naira dengan curiga. "Tapi Nyonya sudah melewati pemeriksaan. Tidak boleh kembali begitu saja." "Tolonglah, Pak Sipir," Naira mengeluarkan pesona lamanya, meski hatinya mencibir. "Ponsel itu isinya data-data penting. Saya janji tidak akan lama. Hanya sebentar saja." Ia bahkan sedikit memelas, sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Pak Johan, yang sepertinya sudah lelah dengan drama hari itu, menghela napas. "Baiklah, Nyonya Naira. Pak Sipir, tolong bantu Nyonya Naira. Saya akan menunggu di sini." Sipir itu masih ragu, tapi tatapan Pak Johan yang dingin seolah memberi perintah tanpa kata. "Baiklah, Nyonya. Tapi cepat. Saya akan mengantar Anda." Naira mengangguk cepat, mengikuti sipir itu kembali menyusuri lorong-lorong kusam. Setiap langkah terasa seperti mendaki puncak gunung es. Ketegangan mencengkeramnya. Bagaimana jika buku itu sudah diambil? Bagaimana jika Ardan sengaja membiarkan buku itu ditemukan oleh pihak Rutan? Ketika mereka tiba di ruang kunjungan, ruangan itu kosong. Bau disinfektan dan lembap masih pekat. Naira melirik ke arah tempat sampah kecil di sudut ruangan. Buku itu masih di sana! Tersembunyi di bawah tumpukan kertas bekas. Sebuah kelegaan yang luar biasa menyapu dirinya. "Di mana ponsel Anda, Nyonya?" tanya sipir itu, mengamati ruangan. "Oh, itu dia!" Naira menunjuk ke arah meja, seolah baru melihat sesuatu. Ia dengan cepat berjalan ke sana, pura-pura mencari di atas meja. Lalu, dengan gerakan yang sangat cepat dan tersembunyi dari pandangan sipir, tangannya menyelinap ke dalam tempat sampah. Jari-jarinya meraba-raba, menemukan buku agenda kecil bersampul hitam yang licin. Ia menariknya keluar, menyembunyikannya di balik tas tangannya yang besar. "Ah, ini dia! Ada di bawah tas saya," kata Naira, tersenyum lebar pada sipir. Di tangannya, ia memegang sebuah pulpen yang tadi ia pura-pura temukan. "Saya kira ponsel saya." Sipir itu hanya mendengus, tidak curiga. "Baiklah. Ayo kita keluar." Naira mengikuti sipir itu, jantungnya masih berdegup kencang. Ia telah berhasil. Sensasi adrenalin ini, perasaan berhasil mengakali orang lain, adalah sesuatu yang baru baginya. Sebuah kemenangan kecil, namun terasa begitu signifikan. Perjalanan pulang adalah sunyi. Pak Johan sibuk dengan ponselnya, sesekali berbicara dengan nada rendah yang tidak bisa didengar Naira. Naira hanya duduk di kursi belakang, memeluk tas tangannya erat-erat, merasakan keberadaan buku agenda kecil yang kini menjadi bebannya. Ia menatap ke luar jendela, melihat jalanan Jakarta yang ramai, wajah-wajah orang yang lalu-lalang. Mereka semua tidak tahu betapa rapuhnya dunia yang ia tinggali. Setibanya di rumah, Naira langsung menuju ruang kerjanya yang dulu dihiasi dengan barang-barang seni mahal dan buku-buku fiksi modern. Kini, ruangan itu terasa lebih dingin, lebih asing. Ia mengunci pintu, menarik tirai tebal, dan meletakkan buku agenda itu di atas meja marmernya. Buku itu kusam, sedikit kotor karena bekas tempat sampah. Sampulnya terbuat dari kulit sintetis hitam murahan, bukan kulit asli seperti agenda-agenda Ardan yang lain. Ada bekas perekat yang mengering di sisinya, seolah buku itu pernah disegel dengan lakban tipis. "Sialan kamu Ardan," bisik Naira, tangannya gemetar saat menyentuh sampul buku itu. "Apa lagi yang kamu sembunyikan?" Ia mengambil pisau kertas dari laci meja, lalu dengan hati-hati mulai mengikis sisa perekat itu. Perlahan, satu per satu halaman terbuka. Aroma kertas lama dan tinta menyeruak. Harapan Naira untuk menemukan catatan yang jelas, mungkin sebuah surat pengakuan atau daftar nama-nama, langsung pupus. Halaman-halaman buku itu dipenuhi dengan deretan angka, inisial samar, dan kode-kode yang sama sekali tidak ia pahami. "Apa-apaan ini?" gumamnya, membolak-balik halaman. "A-123. B-456. PJ-789. Ini kan bukan daftar belanja, Ardan!" Ada deretan tanggal yang diikuti oleh angka-angka yang sangat besar, terkadang disertai simbol mata uang yang tidak biasa. Lalu ada inisial, seperti "MR," "SY," atau "DW," yang muncul berulang kali di samping beberapa angka tersebut. Tidak ada nama lengkap, tidak ada konteks. Semuanya seperti tulisan hieroglif bagi Naira, seorang wanita yang selama ini hanya berurusan dengan label desainer, daftar tamu pesta, dan jadwal acara amal. "Ini bahasa alien atau apa?" ia bergumam lagi, frustrasi mulai merayapi. Ia membanting pelan buku itu ke meja. "Harusnya ada sesuatu yang jelas! Kenapa harus pakai kode begini, sih?" Ia mencoba mencari pola. Mungkin inisial itu singkatan dari nama seseorang? Tapi siapa? MR bisa Maria, Marta, Mike, Mark. Terlalu umum. Angka-angka itu, apakah itu rekening bank? Jumlah uang? Atau tanggal? Semuanya samar, buram, dan membingungkan. Naira mengambil napas dalam-dalam. "Oke, Naira. Tenang. Kamu bisa memecahkannya. Pasti ada kuncinya." Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba mencari di internet tentang "kode keuangan politisi" atau "kode korupsi." Hasil pencariannya dipenuhi dengan berita-berita tentang kasus-kasus lama, tidak ada yang spesifik membantu memahami deretan kode di depannya. Ia merasa seperti seorang detektif pemula yang baru diberi kasus, tetapi tidak punya alat dan keahlian. "Ini gila," bisiknya, mengusap wajahnya. "Ini benar-benar di luar duniaku." Namun, di balik frustrasi itu, ada percikan determinasi yang baru. Ia tidak akan menyerah. Ardan telah merendahkannya, menganggapnya aset. Ia akan menunjukkan pada Ardan bahwa 'aset' ini bisa menjadi ancaman paling berbahaya. Naira meraih buku itu lagi. Ia mulai memfotokopi beberapa halaman yang paling aneh, dengan harapan bisa membandingkannya nanti. Ia mencoba menulis ulang beberapa kode dan angka di selembar kertas kosong, berharap dengan menuliskannya, otaknya akan menemukan pola yang tersembunyi. Jam-jam berlalu. Malam menyelimuti kota Jakarta, namun Naira tidak peduli. Ia terus membolak-balik halaman, meneliti setiap coretan, setiap angka. Matanya terasa pedih, kepalanya pening. Ia merasa seperti sedang berhadapan dengan labirin yang tidak ada ujungnya. "Ini pasti ada hubungannya dengan Hartono," ia bergumam, mengingat kata-kata Ardan. "Tapi bagaimana menghubungkannya? Di mana bukti yang nyata?" Ia kembali ke halaman-halaman awal, lalu ke tengah, lalu ke belakang. Tidak ada yang jelas. Hanya deretan kode dan angka yang seolah mengejeknya. Hampir saja ia menyerah, hampir saja ia memutuskan bahwa buku ini tidak berguna. Lalu, di halaman terakhir, yang nyaris kosong kecuali beberapa coretan tak berarti, matanya menangkap sesuatu. Sebuah inisial. Ditulis dengan buram, seolah sengaja disamarkan, di sudut kanan bawah. Dua huruf kapital. 'JH'. Naira membeku. Jantungnya berdebar kencang. Itu dia. Inisial Jenderal Hartono. Di sebelah inisial 'JH' itu, ada tanda bintang kecil (*), dan di bawahnya, sebuah jumlah angka yang sangat besar, jauh lebih besar dari angka-angka lain di seluruh buku. Dan di samping jumlah itu, ada catatan singkat yang ditulis tangan: "BANSOS". Naira merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya. Sebuah kepingan puzzle yang tadinya buram, kini tiba-tiba menancap pada tempatnya, membentuk gambaran yang mengerikan. 'JH', dana 'BANSOS', dan jumlah uang yang fantastis. Itu bukan kebetulan. Ini adalah petunjuk. Petunjuk pertama yang nyata. Naira menatap inisial itu, lalu ke tanda bintang, lalu ke jumlah dana bantuan sosial yang tertera. Tangannya gemetar, bukan lagi karena lelah, tapi karena ketakutan dan amarah yang membara. Ini lebih besar dari yang ia bayangkan. Jauh lebih besar.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus banget ceritanya
20d
0mantap
16/06
0aku sangat suka
24/04
0Tingnan Lahat