logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bab 2

Keesokan paginya. Dengan terburu-buru, Vivian berdandan di depan cermin sambil terus memperhatikan kaca. Setelah semuanya sudah siap, dirinya langsung beranjak dari sana dan pergi meninggalkan rumahnya. Pagi hari kota ini sudah dipadati banyak orang yang sedang berangkat untuk bekerja. Keramaian jalanan membuat dirinya kesulitan untuk bergerak. Seseorang mencoba menaiki bus bersama dengan dirinya. Akhirnya, Vivian sudah duduk di dalam bus dan akan menuju ke tempat itu. Orang-orang terlihat sibuk dengan dunianya. Dan sekarang dirinya terkejut begitu ada panggilan telepon. Dengan cepat, Vivian langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Halo?”
“Maaf, apakah ini dengan anda nona Vivian?”
“Iya betul ini dengan saya.”
“Sebenarnya saya ingin meminta maaf kepada anda.”
“Ya?”
Begitu dirinya mengetahui apa yang dikatakan oleh orang yang menghubunginya tersebut, secara mendadak dirinya langsung merasa lemas. Semangat yang tadi terukir di dalam dirinya kini lenyap dalam sekejap. Tidak lama kemudian, dirinya turun dari bus dan duduk di sekitar halte sambil menarik nafasnya. Beberapa orang yang terlihat memperhatikannya, merasa kebingungan dengan apa yang telah terjadi kepada Vivian sambil berjalan melewatinya. Dirinya yang sudah seperti sangat kecewa, kini hanya duduk saja sambil termenung dan memperhatikan ponsel yang digenggamnya. Keramaian semakin terasa. Namun, semua itu tidak ada artinya bagi dirinya. Harapan yang sebelumnya terukir, kini tinggal rasa kecewa dan ingin sekali pergi dari dunia ini.
“Astaga, ini membuatku gila saja,” gumam Vivian sambil memegang rambutnya yang indah itu.
Beberapa menit sebelumnya, seorang pria yang menghubunginya mengatakan bahwa mereka membatalkan kontrak kerja dengan dirinya. Sebelumnya, Vivian sempat menandatangani kontrak kerja dan juga melakukan interview online pada malam itu. Namun, rupanya mereka mengatakan kepada dirinya untuk mulai kerja di hari ini. Dengan perasaan semangat, sudah tidak sabar bahwa dirinya akan memulai kembali pekerjaan yang memang sudah hampir satu bulan lamanya tidak dilakukan. Dirinya hanya membantu keluarganya mengelola toko yang memang itu bukan keahliannya. Kesenangan yang datang menghampirinya dalam sekejap menghilang dan hanya menyisakan rasa sakit. Tidak ada yang bisa diperbuat, Vivian yang masih duduk di sana kemudian mencoba untuk mencari ketenangan batin. Perlahan, dirinya beranjak dari tempat itu dan berjalan-jalan di sekitar kota. Sampai di suatu tempat yang terlihat indah. Pemandangan danau dari arah pejalan kaki, seketika mampu menghilangkan stress yang kini melanda dirinya. Ada beberapa orang juga yang berada di sana dan tengah melihat pandangan yang sama. Wajah mereka terlihat begitu bahagia berbeda dengan dirinya. Angin berhembus memberikan rasa sejuk yang luar biasa. Ketika dirinya sedang berjalan-jalan perlahan, tiba-tiba saja bertemu dengan seorang anak kecil yang terlihat sedang sedih.
“Permisi nona kecil,” ucap Vivian kepada anak kecil itu. Anak itu menoleh ke arahnya dengan wajah murung.
“Dimana temanmu? Kau sendirian saja.”
“Aku tidak punya teman.”
“Apa?”
“Kurasa tidak ada yang mau berteman denganku.”
“Jangan bilang begitu, mungkin mereka belum terlalu akrab saja.”
“Itu benar. Mereka menganggapku aneh. Apa anda tidak melihatnya juga?” ucap anak itu yang kemudian mengatakan sesuatu kepadanya.
“Ah, bukankah ini boneka?”
“Salah. Ini patung yang terlihat seperti boneka.”
“Begitu rupanya. Cukup menarik.”
“Ini bukan hanya menarik, tapi bagus.”
Anak itu memperlihatkan sebuah boneka yang memang terbilang aneh. Boneka yang ternyata patung mengkilap dan cukup unik. Setelah beberapa menit berbicara dengan anak tersebut, tidak lama setelahnya Vivian langsung pergi dari sana dan saat ini sudah berada di dalam sebuah Café. Suasana tenang berbau aroma kopi membuat dirinya semakin mendalami kepedihan. Ketika pesanannya datang, dirinya dengan ramah berterimakasih kepada pelayan. Aroma kopi yang khas membuat dirinya terasa damai. Sepotong cake memberikan perpaduan yang sempurna untuk dinikmati. Sekali lagi, Vivian memeriksa ponselnya dan ternyata hanya berisi pesan tidak penting dari layanan belanja online.
‘Bagaimana ini?’ batin Vivian
Perasaannya yang masih belum hilang, sekarang dirinya tampak letih. Ketika dirinya sedang duduk di depan meja yang ada dekat jendela, seorang pria dari arah tempat memesan pesanan terlihat memperhatikannya. Sampai akhirnya pesanan miliknya sudah selesai. Orang itu hanya memesan satu Americano dingin. Melihat wajah Vivian yang sangat cantik membuat dirinya tidak bisa memalingkan pandangan. Vivian yang menyadari akan hal itu, seketika dirinya melirik ke arahnya dan menatap wajah pria itu. Dengan gugup langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Sekarang Vivian kembali menikmati waktu sendirinya sambil memakan cake coklat.
“Wah, luar biasa.”
“Cantik sekali.”
“Bagaimana bisa memiliki wajah yang sempurna seperti itu?”
“Aku jadi merasa iri.”
“Seperti selebriti. Tidak maksudku lebih dari selebriti.”
Bisikan-bisikan orang-orang terdengar begitu jelas. Vivian yang sudah terbiasa dengan itu hanya terdiam tanpa memperdulikan mereka. Setelah sudah mulai bosan berada di sana, Vivian pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Cuaca yang indah. Sekarang dirinya berjalan di sekitar jalanan pejalan kaki sambil melihat-lihat etalase beberapa toko fashion yang ada di sekitar jalanan tersebut. Beberapa wanita juga terlihat memperhatikan baju-baju yang ada di dalam etalase tersebut dan seakan terpesona. Sudah lebih dari dua jam, dirinya jalan-jalan di wilayah ini dan ternyata masih belum melupakan rasa kecewa sebelumnya.
“Sepertinya aku harus mencari pekerjaan lain,” gumam dirinya
Sekarang ini, Vivian berjalan memasuki sebuah jalan kecil yang terlihat sempit dan ternyata dirinya menemukan sebuah tempat yang cukup mencolok dengan banner yang ada di sana. Merasa penasaran akan hal itu, dirinya kemudian memasuki tempat tersebut. Sebuah ruangan yang mengarah ke lantai bawah dan ternyata setelah di telusuri, tempat tersebut merupakan sebuah bar yang buka selama 24 jam. Sesampainya berada di dalam bar, seorang bartender menyambutnya dengan ramah sambil meracik minuman. Di sana juga terlihat ada dua orang pelanggan yang sedang mengobrol sambil minum-minum.
“Selamat datang, nona.”
“Ah, iya.”
Vivian duduk tepat di kursi yang ada di depan bartender tersebut dan melihatnya meracik minuman. Tanpa ragu, dirinya pun langsung memesan segelas minuman dengan kadar alkohol sedang. Suasana tempat ini cukup tenang dibandingkan dengan bar pada umumnya. Malah lebih seperti tempat biasa.
“Ada yang ingin kutanyakan,” ucap Vivian kepada bartender yang ada di depannya itu.
“Iya, saya akan menjawab. Katakan saja.”
“Sepertinya tempat ini sangat populer dikalangan introvert.”
“Memang benar. Tapi, non-introvert juga sering datang kemari.”
“Benarkah?”
“Iya, tentu saja.”
“Hey, David sekarang waktunya untukku bekerja! Eh, halo,” ucap seorang wanita yang tiba-tiba datang dan mengomeli bartender tersebut.
“Halo,” ucap Vivian
“Wah, ternyata kedatangan tamu yang luar biasa.”
“Sebaiknya kau pelankan suaramu, Maria.”
“Ah, kalau begitu aku minta maaf. Sebelumnya kenalkan saya Maria bartender juga,” ucapnya sambil bersalaman dengan Vivian.
“Vivian.”
“Senang bertemu denganmu.”
Dua orang yang sekarang ada di hadapannya itu adalah David dan Maria, mereka bekerja di tempat ini sebagai bartender. Senyuman ramah dan cara berbicara yang cukup menyenangkan untuk dijadikan teman. Itulah yang ada di dalam pikiran Vivian.

Komento sa Aklat (12)

  • avatar
    HAM IRHAM

    mantap

    15d

      0
  • avatar
    KphRayhan

    mantap

    20d

      0
  • avatar
    ciboy lyka

    kkkkk

    23d

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata