Beberapa hari kemudian, kondisiku telah kembali seperti sebelumnya. Walau sudah kembali sehat, aku tetap menolak untuk dikunjungi siapa pun. Aku lebih memilih mengurung diri di dalam kamar dibanding keluar kamar. Untuk pengecekan penelitian yang aku lakukan, aku menyerahkannya pada Raya sehingga dia hanya perlu melaporkan semua yang terjadi padaku. Selama itu pula, aku kembali memikirkan apa yang terjadi. Sejak aku reinkarnasi ke dunia antah berantah ini dan mengalami regresi sebanyak 150 kali, aku sudah sangat sering mendengar ucapan itu. Namun, aku mendengar itu dari mulut orang lain dan bukan mulut Grand Duke sendiri sehingga aku tidak pernah percaya. Di kehidupan pertamaku setelah reinkarnasi hingga kehidupan ke 50, aku selalu mengejar kasih sayang Grand Duke dengan cara apa pun. Beliau pernah mengakuiku sekali, namun akhirnya benar-benar tidak bahagia. Di kehidupan ke 50, aku mati karena fitnah dari Bella dan antek-anteknya. Walau begitu, aku tidak pernah menyerah untuk mendapatkan cinta dan pengakuan Grand Duke. Di kehidupan ke 51 hingga 100, aku kembali melakukan hal yang sama tapi dengan cara yang berbeda. Di kehidupan ini, aku memilih untuk menjadi gadis normal pada umumnya, tapi sebenarnya adalah mata-mata dari Pavenisa. Selama itu, Grand Duke benar-benar mengakuiku sebagai mata-mata terbaik dan menyayangiku. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup dibandingkan apa pun. Tapi, semuanya berakhir setelah anak tidak dikenal itu masuk ke kediaman ini. Dan hal yang paling aku ingat adalah kematian di kehidupanku ke 100. Grand Duke membunuhku dengan tangannya sendiri karena manipulasi anak itu yang menganggap ku menuduhnya. Sejak saat itu, aku sudah mulai berhenti mengejar pengakuan dan kasih sayangnya. Apa pun yang aku lakukan hanya seperti boneka hidup jika aku terus mengejarnya. Jadi di kehidupan ke 101 hingga 150, aku memilih membangkang dan menjalani kehidupan sebagai ksatria, entah ksatria kerajaan maupun ksatria Pavenisa. Dari sana aku mempelajari teknik berpedang, teknik membunuh dalam diam, penyamaran, dan lain sebagainya. Selain menjadi ksatria, aku juga menjadi seorang peneliti teknologi dan obat-obatan saat itu. Tapi, semuanya tidak pernah berjalan mulus. Di kehidupan ke 150, aku mati dengan yah kalian tahu sendiri penyebabnya. Namun dari seluruh kehidupan yang pernah aku alami, justru kehidupan pertamaku sebelum reinkarnasi yang jauh lebih menyedihkan. Tidak hanya dianggap anak oleh orang tuaku sendiri, aku juga mendapat kekerasan dari mereka. Itu jelas memberikan tekanan untukku yang memang masih anak-anak. Jika saja tidak ada Keith dan keluarganya, mungkin aku sudah tidak ada di sana dan terlahir kembali ke tempat ini atau bahkan tidak sama sekali. Dan meskipun aku sudah mendengar kalimat itu dari orang tuaku ratusan kali, tapi bagiku yang merupakan anak kandungnya, itu tetap menyakitkan. “Pada akhirnya aku tetap tidak akan dianggap ya. Sekalipun aku berusaha hingga dunia ini berhenti berputar pun semuanya akan tetap berjalan seperti ini. Jika memang aku tidak bisa mendapatkan keluarga yang harmonis, maka aku tidak akan kembali berharap. Sudah cukup hati ini sakit karena hal itu. Aku sudah tidak ingin merasakan sakit karena apa pun,” ujarku sendiri. Aku segera menghapus air mataku yang hampir jatuh itu. Aku sudah bertekad untuk menghapus semua hal yang berkaitan dengan keluarga ini. Aku akan menyerah untuk mendapatkan apa yang ingin ku dapatkan. Sebagai gantinya, aku akan mempersiapkan diriku untuk bisa hidup tenang seperti di kehidupan ke 36. Meskipun saat itu aku menjadi buronan, aku tetap bisa hidup tenang selama menghindari orang-orang dan pergi ke tempat itu. Tapi pertama-tama, aku harus memanfaatkan keluarga ini untuk bisa tumbuh besar dengan baik. Dengan begitu, sisanya akan berjalan lancar. Untuk memulainya, aku memanfaatkan waktu sendiriku untuk menulis berbagai rencana kedepannya dan apa saja yang harus aku waspadai agar bisa tumbuh normal dan kabur di umur 16 tahun. Butuh waktu 2 hari untuk bisa menyelesaikan rencana besar-besaran itu. Aku bahkan melarang siapa pun masuk ke kamar termasuk Raya maupun Kak Marissa, alias aku tidak makan dan hanya tidur. Dan setelah 2 hari berlalu, akhirnya aku menyuruh Raya untuk memberi kabar pada Grand Duke bahwa aku ingin menemuinya secara pribadi. Rencanaku akan dimulai dari sini. Aku menemui Grand Duke setelah makan siang. Aku pergi menemuinya dengan Raya yang mengawal dan membawa sebuah koper. Grand Duke menyambutku dengan cukup ramah walau tidak ada senyuman di wajahnya. Yah, abaikan saja lah. Kali ini, dia hanya sebatas alat transaksiku saja. “Saya berterimakasih pada anda karena anda mau menerima saya siang hari ini untuk bertemu anda secara langsung,” ujarku dengan menunduk sedikit untuk memberikan salam dan rasa terimakasih. “Tidak perlu basa-basi. Langsung saja ke intinya,” jawab Grand Duke dengan meminum teh nya. “Baik, Yang Mulia. Sebelum itu, izinkan saya berterimakasih atas dokter yang anda kirim minggu lalu untuk merawat saya. Meskipun obat yang dokter berikan tidak begitu berefek, saya tetap sembuh karena beliau dan datang kemari untuk berterimakasih serta membayar apa yang anda kirimkan pada saya selama sakit minggu lalu. Termasuk obat dari buah-buahan yang cukup langka itu. Saya akan membayar semuanya,” ujarku. Hal itu jelas membuat Grand Duke tersentak kaget. Bahkan Tuan Muda Oktara yang jarang berekspresi ketika aku mengatakan sesuatu pun terkejut mendengarnya. “Tunggu, apa mak-” “Saya juga akan mengembalikan seluruh biaya yang anda gunakan untuk membesarkan saya. Tapi karena biayanya terlalu besar dan tabungan saya tidak cukup, saya akan membayarnya dengan bekerja keras di dalam kediaman dan membuat berbagai penelitian yang berguna. Selama itu, pendapatan dari penjualan hasil penelitian itu akan jatuh ke tangan anda untuk mengganti biaya yang digunakan untuk membesarkan saya. Saya juga akan mengambil beberapa untuk keperluan saya sendiri, tapi jumlahnya tidak akan lebih besar dari 2 keping emas.” “Tunggu sebentar! Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya. Apa maksudmu akan membayar kembali dokter yang aku kirim padamu minggu lalu? Sekarang, apa pula maksudmu membayar kembali biaya yang digunakan untuk membesarkan mu? Kau adalah Lila Ivena Pavenisa, seorang Lady dari keluarga Pavenisa. Semua hal yang kau gunakan itu adalah keharusan dan pemberian dariku, lalu mengapa kau menganggapnya sebagai hutang?” tanya Grand Duke yang mendapat anggukan dari putra sulungnya. Aku terdiam dan menatap langsung ke matanya dengan wajah sendu tapi tegas. “Pasal ke 33 dari Aturan Kerajaan untuk Keluarga Bangsawan mengatakan barang siapa di dalam suatu keluarga bangsawan terdapat seseorang atau lebih yang tidak diakui kepala keluarga dari keluarga tersebut, maka semua barang miliknya termasuk yang dia pakai adalah milik keluarga tersebut dan bukan milik pribadi. Dari pasal itu sudah jelas jika barang-barang dari anda maupun dari Nona Pavenisa itu sudah berubah kepemilikan dari milik saya menjadi milik keluarga Pavenisa. Saya pun seharusnya keluar dari mansion ini karena sudah tidak diakui lagi. Tapi karena usia saya masih sangat muda, saya tetap membutuhkan semua itu dan memasukkannya dalam hutang saya,” jawabku langsung tanpa memalingkan pandangan. “Tapi kenapa? Kenapa kau berbuat seperti ini?” tanyanya mengelak. Aku kembali terdiam. Kali ini aku tertunduk. Wajah sendu milikku berubah menjadi wajah sedih. Aku kembali teringat apa yang beliau katakan di malam itu. “Bukankah anda mengatakan sendiri di hadapan Count Rewara bahwa anda tidak mengakui saya sebagai anak di malam ketika saya sakit? Saya masih ingat dengan jelas apa yang anda katakan saat itu. Selain Nona Marissa, anda tidak mengakui orang lain sebagai putri anda termasuk saya. Jadi, untuk apa saya tetap bertahan dengan harapan palsu yang tidak akan berbuah? Saya lebih memilih untuk mundur dan mencari cara lain untuk tetap berguna bagi anda tapi tidak berharap besar, termasuk penelitian ini,” jawabku dengan menepuk bagian atas koper itu. Mendengar itu, Grand Duke memasang ekspresi terkejut yang lebih ke arah sakit hati dan menyesal, sedangkan Tuan Muda Oktara memalingkan wajahnya seperti menahan sesuatu. Aku tidak akan jatuh kali ini, aku akan tetap berada dalam pendirianku. “Walau begitu, anda tenang saja. Saya tidak akan melangkah keluar dari paviliun maupun keluar dari mansion sehingga anda tidak perlu khawatir pada saya. Saya hanya akan keluar jika ingin menemui anda untuk melaporkan hasil penelitian maupun ketika anda memanggil saya. Saya juga akan keluar dari paviliun jika ada anggota keluarga yang menginginkan kehadiran saya. Jadi, anda tidak perlu khawatir akan melihat saya berkeliling di sekitar bangunan utama dan mengganggu tuan muda maupun nona,” ujarku lagi. Beliau masih terdiam tanpa ekspresi. Apa ini begitu membuatnya syok? Aku pikir ini wajar terjadi. Bahkan di kehidupanku sebelumnya pun ini wajar terjadi pada para bangsawan. “Apa... apa itu adalah keputusan final mu?” tanyanya. Aku mengangguk mantap. “Baiklah. Aku akan menerima semua ini, termasuk hasil penelitian mu. Aku akan menjualnya dengan nama Pavenisa dan bukan namamu. Dan sesuai apa yang kau katakan, kau akan mendapat 3 keping emas tiap minggunya,” ujarnya dan menulis sesuatu di atas sebuah kertas. Aku tersentak. “Tunggu, Yang Mulia, saya mengatakan bahwa saya hanya akan mengambil 2 keping emas dan tidak lebih dari itu,” ujarku membantah. Jika masalah keuangan, bagiku 3 keping emas terlalu banyak, maka dari itu aku hanya akan mengambil 2 saja untuk membiayai hidupku sendiri dan menggaji mereka. “Anggap saja itu hadiah dariku karena usahamu. Kau masih sangat muda dan sudah memikirkan semua ini, jadi kau harus diberi hadiah dan bukan penghargaan. Terima saja, atau kau ingin membantah ucapanku?” ujarnya. Aku terdiam dan menggeleng. Baiklah, akan aku terima senang hati. Tak lama setelah pembicaraan itu, Grand Duke menyerahkan kertas yang ia tulis itu padaku. Aku membaca isi dari kertas itu. Rupanya itu adalah dokumen perjanjian kerja sama. Setelah aku baca dengan teliti, ada beberapa poin yang terlihat merugikan ku. Poin-poin itu sebenarnya adalah kalimat berulang yang dipisah dan dipertegas. Jika keduanya disatukan dan mengabaikan kalimat-kalimat formal di dalamnya, maka jadinya akan seperti ini, “Saya akan dengan senang hati mengikuti Grand Duke dan menyerahkan loyalitas saya padanya. Saya juga akan menerima seluruh perintah dan pemberian darinya dalam artian tidak akan pernah membangkang.” “Permainan anda rupanya sangat bagus ya, Yang Mulia,” ujarku dengan senyum kesal. Jangan kira aku tidak tahu mengenai ini hanya karena masih kecil. Tolong jangan lupakan bahwa aku telah hidup berkali-kali. Itu artinya, di beberapa kesempatan dokumen adalah makanan sehari-hariku tahu. “Seperti itulah orang dewasa, nak. Bagaimana sekarang? Apa kau mau menerimanya atau tidak? Yah meskipun kau menolak pun, kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini dengan mudah,” ujarnya dengan tersenyum miring. Sudah ku duga mood nya cepat sekali berubah. Untung saja aku tidak tergoda dengan rasa sakit hati yang beliau tampakkan tadi. “Saya menerimanya dengan senang hati,” ujarku dan menulis namaku sendiri di ujung kanan yang berdekatan dengan tanda tangannya. Baru setelah itu aku menyerahkan dokumen itu pada Grand Duke untuk disimpan. Baiklah, aku akan menjadi anjingmu yang sering menggonggong dengan senang hati. Jadi, jangan kecewakan aku dengan perintah bodoh mu itu. Setelah penandatanganan perjanjian kerja itu, aku memutuskan untuk mengurung diri di dalam paviliun mulai hari itu juga. Aku menolak kedatangan siapa pun dengan alasan apa pun termasuk Nona Marissa. Aku juga menutup diri dan berhenti mengunjungi bangunan utama seperti apa yang aku katakan saat bertemu Grand Duke. Dengan begini, setidaknya aku bisa fokus untuk memulihkan luka mental yang aku terima sekaligus memperkuat diri untuk mempersiapkan masa depanku. Hingga akhirnya, 2 tahun sudah berlalu semenjak aku memutuskan untuk mengurung diri di paviliun dan menyembunyikan diri dari khalayak umum. Selama itu, sebenarnya ada banyak hal yang sudah terjadi, tapi males banget jika aku harus menceritakannya. Jadi, ya sudahlah aku tidak akan menceritakan itu pada kalian. Kalian cukup tahu saja jika aku sudah bertambah kuat dan lebih baik dari sebelumnya. Dan karena ini hari pertama di usiaku yang ke 9 tahun, maka aku akan menghabiskan waktuku di perpustakaan saja. Oh iya, di mansion ini ada 1 perpustakaan yang menjadi pusat dari segala perpustakaan yang ada di negara ini. Hal itu karena perpustakaan ini berisi buku-buku yang jarang ditemui atau bahkan sangat langka. Itulah kenapa perpustakaan milik Keluarga Pavenisa menjadi yang terbaik dari yang terbaik di negara ini. Letak dari perpustakaan Pavenisa ada di bangunan utama mansion ini. Seharusnya pun aku tidak diperbolehkan masuk ke bangunan itu karena itu properti pribadi mereka. Tapi, tahun lalu aku mendapat perintah dari Grand Duke untuk mengelola perpustakaan dan mendapat izin untuk bolak-balik dari bangunan utama ke paviliun. Aku sendiri sangat senang dengan izin itu. Itu artinya, aku bebas membaca buku dan meneliti apa pun asalkan tidak keluar dari topik utama. Baiklah, akan aku manfaatkan sebaik mungkin hal ini! “Kali ini, apa yang ingin anda baca untuk penelitian selanjutnya, Nona?” tanya Raya. Aku berpikir sejenak. “Benar juga. Sebaiknya apa ya? Topik penelitian kali ini mengenai batu kristal yang katanya bisa menyimpan energi sihir. Itu bagus sih, tapi aku kurang menguasai hal itu. Sepertinya kita harus mengganti topik penelitian dan berfokus pada penelitian mengenai obat-obatan untuk sementara waktu,” ujarku dan memasuki area perpustakaan. “Baik, Nona. Tapi, apa yang akan anda baca di dalam perpustakaan?” tanya Raya yang berada di luar. “Itu rahasia. Sudah ya, kita bertemu 4 jam lagi. Selama itu, tolong siapkan berbagai berkas yang harus di cek dan perlengkapan penelitian selanjutnya,” ujarku dengan meletakkan telunjukku di depan mulutku sendiri dan mengedipkan sebelah mata. Jangan lupa tersenyum di depannya karena aku bukan orang sekaku itu pada bawahanku sendiri. Melihat itu, Raya hanya mengangguk saja sebagai jawabannya. “Aku serahkan semuanya padamu, Raya. Aku pergi dulu,” ujarku dan menutup pintu perpustakaan. Semua menjadi sepi setelah itu. Hanya ada keheningan di antara aku dan perpustakaan ini. Baiklah, saatnya bekerja. Aku mendatangi rak buku yang berisi buku mengenai politik suatu negara. Aku juga mengambil buku yang membahas mengenai silsilah keluarga kerajaan dan hukum yang berlaku di Kerajaan Guilarnes. Sebenarnya aku kurang tertarik dengan hal-hal yang berbau politik, tapi ini menyangkut kematianku ke 48 karena itu sebenarnya tidak wajar. Belakangan ini aku teringat dengan satu itu, jadi aku memutuskan untuk mempelajari semuanya dan mencari tahu penyebab kematianku itu. Tapi sepertinya, ini tidak akan mudah. Karena aku lebih tertarik dengan teknologi dan sihir, aku terkadang tidak fokus jika sudah membahas sebuah sejarah atau bahkan politik suatu negara. Tapi, aku bisa mengingat dengan jelas pasal dan asal dari aturan yang 2 tahun lalu aku ungkapkan di hadapan mereka. Apa itu hanya kebetulan atau karena ingatan dari kehidupan ke 30 kembali? Au ah, sebaiknya aku bawa saja buku ini dan baca di kamar. Mungkin aku bisa tenang jika berada di sana. “Oh, bukankah itu kau, Lila?” tanya seseorang yang tidak asing di telingaku. Aku yang tengah berjalan menuju pintu keluar, terhenti karenanya. Oh, aku kira siapa, rupanya dia adalah Putra Ketiga Grand Duke. “Selamat siang, Tuan Muda Nathan Thasera Pavenisa. Sudah lama saya tidak berjumpa dengan anda.” ⸨─── ⸙† Loss Of Hope: End †⸙ ───⸩
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
ceritanya seru
19/03
0ini part 2 nya kapan rilis yah🥹🥲
11/02
0bagus
04/01
0Tingnan Lahat