Sebelum melanjutkan kisah Lila, mari kita mundur sejenak ke waktu sebelumnya. Itu terjadi 1 jam sebelum Lila mendengar semuanya atau lebih tepatnya ketika anak itu tertidur pulas dan mulai mengalami tidur berjalan. Di saat itu, Rewara yang baru selesai mengunjungi semua cucunya dan mengunjungi tempat favorit mendiang putrinya, memutuskan untuk pergi menemui Trait sebelum kembali ke rumahnya. Trait pun menyambut pria paruh baya itu di ruangannya walau sedikit tidak suka. Bukan karena dia tidak suka mertuanya datang, melainkan karena perasaan malu karena tidak bisa menjaga putri mereka yang ia pinang. “Jangan cemberut begitu di hadapan orang tua. Saya tidak datang untuk melihat muka cemberutmu itu,” ujar Rewara dengan duduk di salah satu sofa yang ada di ruang kerja Trait. “Saya tidak cemberut, saya hanya...” “Hanya apa hm? Hanya malu karena tidak bisa menjaga Pilma dengan baik dan membiarkannya pergi lebih dulu? Trait, saya dan istri saya tahu jika putri kami pergi karena menyelamatkan anak yang susah payah ia kandung. Itu tugas yang sangat mulia dan kami sangat mengerti tentang itu. Kami juga sudah ikhlas begitu mengetahui ia harus pergi lebih dulu. Jadi, jangan salahkan dirimu sendiri seperti itu,” ujar Rewara menyela ucapan menantunya. Trait terdiam mendengarnya. Dia sudah tahu hal itu, tapi tetap saja dia tidak bisa memaafkan dirinya. “Baiklah, mari kita lupakan saja itu semua. Anda pasti tidak datang kemari hanya untuk bertemu Oktara dan yang lainnya saja bukan?” tanya Trait mengalihkan topik. Mendengar itu, Rewara hanya tertawa sejenak. Dia sangat mengenal menantunya itu karena mereka sudah kenal sejak lama. Bahkan sejak Trait masih kecil, mereka sudah sering bertemu. “Baiklah jika itu maumu. Trait, kau masih ingat bukan hubungan antara keluarga Rewara, Pavenisa, Leyela, dan Guilarnes?” tanya Rewara. Trait mengangguk. Dia ingat betul hubungan keempatnya. Itu karena keempatnya terhubung lewat sejarah Kerajaan Guilarnes yang cukup panjang. Bahkan hingga sekarang, hubungan keempat keluarga ini pun tetap erat seperti sebelumnya. “Jika begitu, kau pasti ingat betul kekuatan yang dimiliki Keluarga Rewara dan selalu dijaga untuk selalu turun pada generasi berikutnya,” ujar Rewara. Lagi-lagi Trait mengangguk, “saya ingat karena Pilma mewarisinya dan menjadi pemilik kekuatan terkuat di antara anggota keluarga lain.” “Baguslah jika kau masih ingat. Beberapa waktu lalu, saya memimpikan sebuah peristiwa. Itu bukanlah kejadian yang baik. Bahkan bisa jadi itu adalah sebuah pertanda buruk tentang sesuatu. Maka dari itu, saya datang kemari untuk menanyakan apakah gerbang perjanjian itu masih ada atau tidak? Itu karena di antara keempat keluarga itu, hanya keluarga Pavenisa yang menyimpan gerbang itu sampai sekarang,” tanya Rewara. “Gerbang itu masih ada. Beberapa hari lalu saya baru mengeceknya dan gerbang itu masih bersinar terang. Jika saya boleh tahu, memangnya apa isi mimpi anda hingga membuat anda gelisah?” tanya Trait. “Itu adalah mimpi tentang kematian seseorang. Jika diingat lagi, itu adalah mimpi tentang seorang gadis yang dieksekusi oleh Raja Guilarnes karena sebuah kejahatan. Kalau tidak salah, dia dihukum mati karena percobaan pembunuhan keluarga kerajaan dan pencurian benda berharga,” jawab Rewara. Trait yang memang duduk di kursi kerjanya, bersandar pada punggung kursi itu seraya memijat pangkal hidungnya dan menghela nafas lelah. “Bukankah itu hanya mimpi buruk biasa? Itu tidak ada hubungannya dengan-” “Justru di situlah letak masalahnya. Saya tidak akan kemari jika itu adalah mimpi biasa. Sebelum kepala gadis itu dipenggal, dia sempat mengatakan sesuatu, “mari kita bertemu dan bermain lagi di kehidupan berikutnya.” Itu yang dia katakan. Dan lagi, gadis itu sangat mirip dengan Pilma walau wajahnya tidak kelihatan dan warna rambutnya berbeda,” ujar Rewara bersikeras. Trait hanya menghela nafas kasar mendengar pernyataan mertuanya itu. Dia masih tidak percaya bahwa mertuanya yang selalu menggunakan logika, justru bertindak di luar itu semua. “Count, itu hanya mimpi biasa dan tidak ada hubungannya dengan apa yang akan terjadi. Bahkan anda tahu sendiri jika Pilma sudah meninggal karena perdarahan, jadi sudah jelas bukan dia. Jika anda berbicara tentang anak yang mirip dengan Pilma, bukankah cucu kesayangan anda pun mirip dengannya?” tanya Trait yang memutuskan untuk kembali melihat tumpukan dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Mengabaikan Rewara yang sedang berpikir keras. “Benar juga, gadis itu pun lebih mirip Lila karena warna rambutnya hitam keunguan. Ngomong-ngomong soal Lila, saya sudah mendengar apa yang terjadi sore ini dari putrimu. Itu cukup mengejutkan karena ini kali pertama Pavenisa kebobolan dan ada pengkhianat di dalam pasukan yang kau pimpin,” ujar Rewara. Dia kembali teringat tentang apa yang diceritakan Lila beberapa jam lalu. Mendengar itu, Trait yang sudah tidak lagi tertarik membahas sesuatu dengan mertuanya, hanya membalas tanpa menatap lawan bicaranya, “begitulah. Saat ini kami sedang melakukan penyelidikan pada seluruh pasukan tanpa terkecuali untuk mencari apa ada pengkhianat lain atau tidak.” “Ucapanmu itu terasa seperti tidak niat. Apa itu karena Lila yang mengetahui lebih dulu adanya seorang pengkhianat? Jika dipikir lagi, putrimu itu juga bercerita jika dia memiliki konflik dengan putra sulungmu. Seharusnya kau mengetahui hal itu bukan? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Rewara lagi. Trait menghela nafas lelah mendengarnya. Dia benar-benar lelah menghadapi mertuanya yang tidak habis bertanya itu. “Saya sudah mendengar konflik itu. Itu adalah salah Lila. Jika saja dia tidak menyinggung tentang ibunya, sudah pasti Oktara tidak akan melakukan itu,” jawabnya. “Kau ini kenapa sebenarnya? Yang memulai duluan adalah putra sulungmu! Lila seperti itu karena ibunya dihina oleh kakaknya sendiri. Lalu, tanggapanmu hanya membenarkan perbuatan putra sulungmu dan menjatuhkan semua kesalahan itu pada Lila? Grand Duke Trait, tidak sadarkah kau kalau putrimu itu masih kecil? Dia masih anak-anak!” ujar Rewara sedikit berteriak. Hal itu membuat Trait menjadi kesal tak terkendali. Ucapan mertuanya itu membuatnya tersinggung karena menganggapnya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan asal menghukum orang. “Lalu memangnya kenapa? Dia juga bersalah karena telah membuat kakaknya sendiri emosi. Itu tandanya dia tidak sopan dan orang seperti itu harus dihukum, terutama orang itu telah berbicara lancang pada anggota keluarga bangsawan,” balas Trait kesal. “Lila masih kecil dan dia juga anggota keluarga bangsawan! Bagaimana kau bisa menyebut putrimu sendiri-” Brak!! “PUTRI PUTRI, HENTIKAN PENYEBUTAN ITU! PUTRIKU HANYALAH MARISSA SEORANG! AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGAKUI ANAK ITU SEBAGAI PUTRIKU, TERUTAMA ANAK YANG MENJADI PENYEBAB TERBUNUHNYA PILMA! AKU TIDAK AKAN MENGAKUI DIA SAMPAI KAPANPUN ITU!” “TARIK UCAPANMU BARUSAN TRAIT!!” Perdebatan panas itu akhirnya berakhir dengan teriakan dari Rewara yang semakin tidak tahan dengan ucapan menantunya. Trait yang sadar telah mengatakan sesuatu yang jahat, segera menutup mulutnya dan menunduk. Dia sadar jika telah salah berucap, dan ucapan itu benar-benar tidak bisa dimaafkan, bahkan oleh mertuanya sekalipun. Meskipun itu bukan kali pertama dia mengatakan itu, tetap saja Trait merasa bersalah karena telah mengatakannya. “Kau benar-benar keterlaluan, Trait. Kau tidak hanya mengatakan itu setelah energi sihir Lila di deteksi, kau pun berteriak dan berkata lantang seperti itu di depan saya, mertuamu sendiri? Benar-benar keterlaluan! Kau tidak berpikir apa yang akan terjadi kedepannya atau tidak? Apa kau tidak ingat apa yang terjadi pada putri bungsumu setelah kejadian itu? Dia sakit Trait, DIA SAKIT DAN KAU TIDAK PEDULI PADANYA SAAT ITU!” teriak Rewara. Trait tidak membalasnya dan terus menunduk bahkan setelah ia kembali duduk di kursinya. “Percuma saja aku datang kemari hanya untuk mendengar hinaanmu pada putrimu sendiri. Padahal apa yang ingin aku bahas adalah masa depan yang menyangkut keluargamu, tapi semuanya sia-sia. Jika memang kau tidak suka saya datang, baiklah. Saya tidak akan pernah datang dan menemuimu lagi. Tapi ingatlah, Grand Duke Trait Kayela Pavenisa, jika sampai putri bungsumu kembali mendengar apa yang kau katakan barusan, jangan harap kau bisa mendapat pengampunan darinya semudah kau mendapatkan buah surga yang terlarang!” ujar Rewara dan pergi dari ruangan itu. Namun, baru saja ia melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu, wajahnya terkejut akan sesuatu dan membungkuk untuk mengambil sesuatu itu. Trait yang memang ingin melihat kepergian mertuanya pun bingung dengan tindakannya. Trait yang penasaran memutuskan untuk mendekat dan melihat apa yang dipungut oleh mertuanya itu. Tapi, ia tertegun bukan karena melihat apa yang dipungut mertuanya, melainkan apa yang dikatakan mertuanya, “ini adalah gelang milik Lila. Jika ini ada di sini, artinya dia telah mendengar semuanya.” Bak tersambar petir di siang bolong, Trait hanya bisa terdiam mendengarnya. Tidak ada sepatah kata pun terucap dari pria yang tidak tahu malu itu. Namun, bukan itu saja kabar buruk yang diterima Trait dan Rewara, tapi ada kabar yang jauh lebih buruk yang dibawa oleh salah seorang pelayan yang mendatangi mereka. Kabar yang dibawa adalah kabar bahwa Lila pingsan di jalan kembali menuju paviliun dan saat ini kondisinya lebih buruk karena dia juga demam. Mengetahui hal itu, kedua pria dewasa itu segera berlari menuju paviliun belakang untuk melihat keadaan Lila. Tapi, mereka berdua dicegah oleh pelayan pribadi Lila karena gadis itu memerintahkan dirinya untuk melarang semua orang masuk ke ruangannya. Bahkan jika itu termasuk Trait yang selalu memaksa sekalipun. Menandakan bahwa Lila benar-benar hancur dan ingin menyendiri. “Saya tahu alasan anda datang kemari, Yang Mulia. Tetapi, Nona tidak ingin dijenguk oleh siapa pun termasuk anda. Saya cukup khawatir juga kasihan pada Nona. Semenjak hasil deteksi sihir minggu lalu yang tidak memuaskan, beliau sudah sering jatuh sakit. Ditambah dengan perlakuan kepala pelayan sebelumnya, beliau yang mentalnya sudah hancur, justru semakin dihancurkan lagi. Dan baru hari ini saya melihat Nona berubah menjadi lebih dingin dari biasanya pada orang lain,” ujar Raya di depan pintu masuk kamar Lila. “Lalu apa maksudmu itu? Kau membantahku? Kau ingin dipecat atau bagaimana?” teriak Trait pada Raya. “Silakan jika anda ingin memecat saya karena majikan saya hanyalah Nona seorang. Saya telah bersumpah di hadapan Nona dan Duchess Pilma untuk menjadi pelayan setia pada beliau. Itu artinya, tidak ada yang bisa memecat atau mengusir saya selain Nona dan Duchess Pilma, bahkan anda sekalipun,” ujar Raya tegas. “Lagipula, Yang Mulia, bukankah ini sudah sangat keterlaluan? Anda tidak hanya mengabaikan Nona, tapi anda juga mengatakan hal yang sangat menyakitkan untuknya. Nona Lila masih berusia 7 tahun! Meskipun beliau terkadang terlihat seperti orang dewasa, mentalnya masihlah tetap seperti anak-anak yang bisa hancur karena satu pukulan pelan. Dan anda menghancurkannya begitu saja tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Orang tua mana yang tega melakukan hal keji seperti itu pada anaknya sendiri?” ujar Raya yang tepat menusuk hati Trait begitu dalam. Walau hanya seminggu, tidak bahkan sudah lebih dari 1 tahun sejak dia mengabaikan Lila, anak itu pasti sudah terluka sangat dalam karena perilakunya. Padahal, istrinya sudah menitipkan kelima anak mereka padanya, tapi ia justru bersikap seperti itu. Ayah macam apa dirinya itu? “Baiklah, aku tidak akan mendatangi kalian untuk sementara waktu, tapi setidaknya aku akan mengirim dokter padanya. Jika Lila bertanya dokter itu dari siapa, katakan padanya itu dari Marissa. Apa kau bisa melakukan itu?” ujar Trait menyerah. Raya mengangguk. “Tentu saja, Yang Mulia. Saya akan melakukannya seperti titah anda,” ujar Raya dengan membungkuk. Tak lama setelah itu, Trait pun pergi tanpa berucap apa pun lagi. Rewara juga pergi setelah meninggalkan beberapa pesan untuk Raya. Setelah semua itu, semuanya menjadi lebih tenang tanpa ada keributan lagi. Mereka juga tidak tahu bahwa Lila telah mendengar semuanya. Mendengar keributan mereka yang membuat hatinya sesak. ⸨──── ⸙† Mistake: End †⸙ ────⸩
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
ceritanya seru
19/03
0ini part 2 nya kapan rilis yah🥹🥲
11/02
0bagus
04/01
0Tingnan Lahat