“Apa? Siapa orang yang menjemput Yuri?” Pak Suryono muli panic mendengar penjelasan Mita. “Maaf, Om. Mita nggak tahu, karena Yuri tidak mengatakan apa-apa saat pergi. Mita sudah berusaha melarang, tapi dia berkeras ingin pergi,” jawab Mita yang juga ikut panik dan menangis. “Coba kamu telepon siapa saja teman Yuri untuk mengetahui keadaannya. Om juga akan coba telepon beberapa temannya yang Om tahu,” perintah Pak Suryono. Mendengar cerita Mita, Pak Suryono dan istrinya menjadi panik dan berusaha untuk mencari keberadaan Yuri. Mereka berusaha mencari keberadaan Yuri dengan menghubungi temannya yang mereka kenal. Namun, tidak juga mendapatkan hasil. Bahkan Bu Dina sempat pingsan karena terlalu banyak menangis. Hingga sore hari Pak Suryono melaporkan kejadian ini ke kantor polisi, tapi ditolak karena belum 24 jam. “Coba Bapak telepon temannya atau mungkin pacarnya dulu,” jawab salah seorang petugas kepolisian yang ditemui Pak Suryono. “Anak saya tidak punya pacar, Pak. Dia baru saja pulang dari pesantren!” Pak Suryono sedikit emosi dengan tanggapan polisi tersebut. Akhirnya mereka mencari Yuri secara mandiri. Beberapa teman Pak Suryono dihubungi untuk diminta bantuannya. Termasuk juga Om Irfan yang selalu setia menemaninya. Hotel-hotel di seluruh kota mereka datangi, begitu juga tempat hiburan malam. Namun, tetap tak membuahkan hasil. Hingga keesokan harinya Yuri ditemukan di perkebunan yang cukup jauh dari kota dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Pak Suryono kembali membuat laporan ke polisi tentang kasus ini. Sayangnya, Mita yang menjadi saksi kunci tidak melihat orang yang menjemput Yuri, karena dia berada di dalam kampus, sedangkan orang tersebut menjemput di luar area kampus. Sehingga kasus ini belum terpecahkan sampai sekarang. Ayah mertuaku itu menjelaskan kejadiannya dengan detil. Sesekali beliau mengusap airmatanya yang tak mampu lagi untuk dibendung. Tanganku mengepal keras. Rahang ini menyatu dengan erat. Jantungku pun berdegup dengan kencang menandakan adrenalin ini sedang meningkat. Tak terasa bulir bening di pelupuk ini mulai terjatuh. Entahlah. Aku pun tak tahu bagaimana perasaan ini. Sedihkah, kecewa, atau marah? Yang jelas jiwa ini seolah tak ingin bersatu dengan ragaku.. Inikah pernikahan yang aku impikan? Kenapa serumit ini. "Kejadian itu menancapkan trauma yang mendalam bagi Yuri. Yuri selalu berteriak ketakutan setiap ada yang mendekat. Bahkan dia sering berusaha untuk menyakiti dirinya sendiri dan pernah mencoba untuk minum racun serangga." Pak Suryono tak dapat lagi menutupi airmatanya yang mengalir deras. Bu Dina menggenggam erat tangan suaminya sambil mengusap lembut bahu lelaki itu. Ia tampak sangat tegar walau air mata sedari tadi tak henti mengalir di pipinya. "Apakah sudah pernah dibawa ke psikiater, Yah?" tanyaku pelan. "Sudah. Semuanya sudah kami lakukan. Membawanya ke psikiater, ke dokter ahli Jiwa, bahkan di ruqiyah ke ustad pun sudah kami lakukan." “Hasilnya?” Kembali rasa penasaranku tak mampu mengontrol lidah ini. "Dokter menyatakan bahwa Yuri mengalami gejala ODGJ, yaitu Orang Dengan Gangguan Jiwa, dengan kategori Post Traumatic Stres Disorder atau dalam bahasa awamnya gangguan stress pasca trauma," lanjutnya setelah terdiam beberapa saat. Pernyataan Pak Suryono membuatku shock dan sangat terkejut. Bahkkan jantungku hampir meloncat dari posisinya. Kenapa bisa begini? Ini bukan hal biasa-biasa saja. Ini masalah yang cukup serius. 'Orang dengan gangguan jiwa' kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di kepala. Bagaimana bisa aku menikahi seseorang dengan gangguan jiwa dan itupun diketahui setelah menikahinya. Setelah ijab kabul itu terucapkan di depan penghulu dan para saksi pun sudah mengatakan 'sah' yang artinya orang dengan gangguan jiwa itu telah menjadi istriku. Kini tanggung jawab akan dia pun telah berpindah padaku. Sanggupkah aku menjalani pernikahan ini, mendengar teriakannya setiap malam, dan bertanggung jawab akan dirinya? Apa kata orang nanti jika mereka tahu istriku adalah orang dengan gangguan jiwa. Aku terdiam cukup lama. Ruangan pun menjadi hening. Pandanganku kosong, pikiran ini menjadi kacau. Sesekali kuusap wajah ini dengan kasar. Air mata ini sudah tak ingin berlama-lama di pelupuk. Mengalir begitu saja di pipiku tanpa permisi lagi. "Maaf, Yah. Apakah Ayah sengaja menjebak saya dalam pernikahan ini?" Kekalutan ini membuatku berbicara sedikit tidak sopan dan lancing. Pak Suryono sedikit tersentak dengan pertanyaanku. Mungkin karena kelancanganku berbicara. Sejenak ia menatapku dengan tajam, kemudian ia menghela napas berat dan berkata, "Maafkan kami, Nak Gilang. Kami tidak bermaksud menjebakmu." Aku membuang muka, setengah tak percaya dengan ucapan orang tua dari istriku ini. Ya ... siapa pun dalam posisiku saat ini pasti akan merasa terjebak. Akan merasa di bohongi dan dibodohi. Termasuk juga diriku. Aku merasa telah dbohongi dengan kenyataan ini. Dari pertama melihat Yuri, tidak ada sedikit pun kecurigaan akan tingkah lakunya. Semua sikapnya terasa seperti perempuan normal lainnya. Entah aku yang terlalu bodoh atau mereka yang pintar bersandiwara. "Seperti yang saya bilang tadi, kami sudah membawa Yuri ke dokter spesialis kejiwaan. Dokter sudah memberikan pengobatan dan perawatan medis untuk Yuri. Dokter juga sudah memberikan beberapa terapi dan semua itu sudah kami lakukan," lanjut Pak Suryono. "Tapi mengapa kalian tidak berterus terang dari awal proses perkenalan?" cecarku dengan intonasi yang sedikit meninggi. Berkali-kali tangan ini kukepalkan. Ingin rasanya melangkan kepalan ini entah kemana saja untuk melampiaskan emosiku. “Sebenarnya kami ingin berterus terang, tapi kami tak ingin Yuri gagal menikah hanya karena masa lalunya,” jawab Pak Suryono sambil menunduk dan meremas tangannya. “Hanya karena tak ingin gagal menikah? Kalian tak ingin menyakiti putri kalian, tapi kalian telah menyakiti hati ini,” balasku sambil tesenyum tipis. Mereka bilang ‘hanya’, padahal ini adalah masalah yang sangat serius. “Sekali lagi kami minta maaf, Nak Gilang.” Kali ini Bu Dina turut bersuara. Suaranya yang serak membuatku menjadi iba. Aku yakin, mereka pun tak ingin keadaan ini terjadi. Namun, sekarang ini akulah korbannya. Aku menghela napas panjang. Kekecewaan ini sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya kutumpahkan semua kekesalan ini pada kedua mertuaku ini atau bahkan pada istriku sekalian. "Selama 3 tahun kami rutin melakukan pengobatan dan terapi, Yuri menunjukan banyak perubahan yang positif. Lalu kami memutuskan untuk pindah ke sini agar Yuri bisa lebih tenang dan tidak megingat lagi kejadian itu." Pak Suryono kembali bersuara dengan pelan. Menurut Pak Suryono, keadaan Yuri menjadi lebih baik sejak ia ditawari mengajar di Raudhatul Athfal yang terletak di ujung jalan rumah ini. Ia semakin menunjukkan perubahan yang positif dan sudah bersosialisasi dengan baik. Tidak pernah lagi mimpi buruk saat tidur malam. Bahkan ia bisa kembali ceria. Karena itu mereka mengira bahwa dirinya sudah benar-benar sembuh. Hingga akhirnya tim dokter memutuskan untuk perlahan mengurangi dan kemudian menghentikan pengobatannya. Apapun alasannya, aku tidak bisa menerima begitu saja. Apalagi harus terlihat baik-baik saja dengan keadaan ini.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 23 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (132)
Ne Ha
sangat bagus sekali.. love it..
21/02
0
MaryanaNini
masyaALLAH suka sekali novel nya .
terima kasih author,bukunya bagus sekali
sangat bagus sekali.. love it..
21/02
0masyaALLAH suka sekali novel nya . terima kasih author,bukunya bagus sekali
06/11
0alur ceritanya baguss saya sangat menyukai
13/08
0Tingnan Lahat