Aku pun semakin bingung. Ingin membukakan pintu, tapi takut nanti dikira telah melakukan KDRT. Padahal baru hitungan jam kami menikah. Mau mencoba menenangkan istriku, tapi teriakannya malah bertambah keras ketika mendengar suara ibunya. "Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku masih mencoba untuk menenangkannya. Namun, tentu saja sia-sia, bahkan tangisannya semakin kencang dan tak terkendali. Setiap kusentuh tubuhnya, ia dengan keras memberontak dan berteriak lebih kencang lagi. Akhirnya dengan perasaan yang berkecamuk, aku membukakan pintu untuk ibu mertua. Begitu pintu terbuka, dengan cepat Bu Dina–––ibu mertuaku–––memeluk Yuri dan memberinya sesuatu untuk diminum. Pak Suryono–––ayah mertuaku–––berdiri tepat disampingku sambil menepuk bahu ini, sepertinya mencoba menenangkan. Aku hanya diam menyaksikan adegan dramtis di depanku. Yuri terus meraung dengan kencang dalam pelukan sang ibu. Bu Dina tampak kewalahan dengan ulah istriku itu, tapi dia tetap berusaha menenangkan dengan bisikan-bisikan lembut di telinga Yuri. Aku masih bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka tampak seperti sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Apakah istriku itu menderita suatu penyakit yang parah? Selang beberapa menit kemudian, Yuri terlihat lebih tenang, napasnya mulai teratur dan sepertinya telah tertidur lelap. Tubuhnya tak lagi tegang dan bergetar seperti sebelumnya. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan Yuri, Bu? Aku tadi hanya mencoba menyentuhnya." Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada Bu Dina setelah beliau selesai membenahi posisi tidur Yuri dan menyelimutinya. "Maafkan kami, Nak Gilang." Pak Suryono yang menjawab, sedangkan Bu Dina tampak menghapus airmatanya dan mencoba untuk tenang. Sambil berjalan mendekati kami. "Ada satu hal yang mungkin belum kami sampaikan padamu ketika masa perkenalan yang lalu. Mari ikut kami. Kita bicarakan masalah ini. Biarkan Yuri tidur dulu." lanjutnya. Aku pun mengikuti langkah kedua mertuaku itu. Hingga di ruang keluarga mereka berhenti dan duduk di sofa depan televisi. Ruangan yang hamper sama luasnya dengan ruang tamu tempat kami melaksanakan akad nikah tadi sejenak sunyi. Aku duduk tepat di hadapan mereka. Sempat kulihat wajah kedua mertuaku yang menyiratkan kesedihan mendalam. Keduanya masih menundukkan kepala. Ingin segera kuberondong mereka dengan semua pertanyaan yanng dari tadi sudah memenuhi pikiran ini. Namun, karena melihat kesedihan di wajah mereka, aku pun memilih untuk menunggu. "Nak Gilang, sebelumnya Ayah dan Ibu mewakili Yuri meminta maaf padamu. Bukan maksud kami untuk menyembunyikan ataupun menutupi masalah ini padamu." Pak Suryono pun akhirnya memulai percakapan ini setelah beberapa menit kami terdiam di ruangan ini. "Sungguh sulit bagi kami untuk membagi cerita masa lalu Yuri pada siapapun. Namun, mau tak mau, kami harus menceritkannya padamu. Apapun tanggapan dan keputusanmu nanti, ayah mohon kebijakan darimu untuk masa depan Yuri," lanjutnya. “Keputusan apa yang harus aku berikan, Yah? Sedangkan aku sendiri belum tahu masalah apa yang sedang terjadi saat ini.” Keadaan semakin membuatku bingung. Masa lalu yang disebut Pak Suryono, apakah ini juga yang dimaksud Yuri saat itu? "Begini, Nak Gilang. Mungkin hal ini akan membuatmu sedih bahkan kecewa. Namun, percayalah kami lakukan semua ini hanya demi kebahagiaan anak kami satu-satunya.” Ada cairan berkilau di sudut mata Pak Suryono. Hal ini membuatku semakin menebak-nebak hal buruk yang terjadi di masa lalu. Rasa penasaran bercampur ketakutan memenuhi rongga jiwaku. “Kebijakan seperti apa yang Ayah inginkan dariku?” Pak Suryono menghela napas berat. Sekali lagi ia menundukkan kepalanya lebih dalam. “Sekitar 9 tahun yang lalu, Yuri pernah mengalami kejadian yang membuatnya trauma. Yuri mengalami kekerasan dan pelecehan s*ksual,” ucap ayah mertuaku itu sambil mengusap sudut matanya yang mulai berair. Bagai petir di siang bolong, aku sangat terkejut mendengarnya. Kekerasan dan pelecehan s*eksual bukanlah masalah yang biasa. Ini sangat serius menurutku. "Maksudnya, Yuri pernah diperk*sa, Yah?" Aku masih berharap ini hanyalah sebuah lelucon yang mereka mainkan. Namun, harapanku musnah ketika Pak Suryono menganggukan kepala sambil meremas rambutnya sedangkan Bu Dina mulai terisak. “Iya, Nak Gilang. Yuri pernah di perk*sa Sembilan tahun yang lalu,” jawabna sambil kembali menyugar rambutnya kasar. Aku membuang napas kasar. Bahuku melorot jatuh mendengar pengakuan mereka. Lidah ini pun menjadi kelu untuk bertanya lebuih lanjut. Semuanya jelas, Aku tertipu. Namun, tetap saja masalah ini harus diluruskn. Karena menyangut masa depanku juga. "Bagaimana bisa, Yah?" Aku masih belum bisa mempercayainya. Bukankah Yuri lulusan dari pondok pesantren yang cukup terkenal? Selalu berpakaian tertutup. Bahkan menurut cerita paman, dia merupakan salah satu santriwati terbaik di pesantren, seorang hafidzah dan qori'ah dengan banyak prestasi. Apa yang membuat baj*ngan itu berniat memperk*sa gadis tertutup itu? “Ayah juga tidak pernah menduga hal ini bisa terjadi pada anak semata wayang kami. Anak yang dari kecil sudah ayah jaga dan perlakukan bak puteri. Namun, semua terjadi karena takdir Allah,” ucap Pak Suryono sambil terisak pelan. Aku diam. Hanya mampu menduga-duga kejadian tak mengenakan itu. Kejadian yang akhirnya berpengaruh pada masa depanku juga. Setelah sekian detik terdiam, akhirnya Pak Suryono menceritakan kisah Yuri Sembilan tahun yang lalu. Pagi itu, Yuri yang baru saja pulang dari pesantren tempatnya menimba ilmu, meminta izin untuk mendaftar kulian di UIN Raden Fatah. Saat itu Pak Suryono menawarkan diri untuk mengantarnya, tetapi ia menolak dengan halus. Ia sudah janjian dengan Mita–––temannya–––untuk berangkat bersama. Sebenarnya, berat hati beliau untuk melepaskan anak semata wayangnya itu pergi tanpa diantar. Karena selama ini ia selalu mengantar kemanapun anaknya pergi. Namun, mengingat Yuri sekarang mulai beranjak dewasa, maka ia memutuskan membiarkannya pergi bersama temannya. “Ayah, Yuri an udah dewasa. Udah tamat pesantren, masa masih diantar jemput. Kapan mandirinya kalau gitu terus,” ucapnya saat itu. Pak Suryono hanya menganguk pelan, walau hatinya terasa berat, tapi ia harus mengajarkan anakya untuk mandiri juga. Hatinya terenyuh saat melihat gadis sembilan belas tahun itu tersenyum sambil melambaikan tangannya setelah mengucapkan salam. Gawai itu bordering saat Pak Suryono baru saja pulang dari mengajar di sekolah. Sebuah nomor tak dikenal tertera di layar benda pipih itu. Sebuah salam terdengar saat ia menekan tombol jawab. “Om, ini Mita teman Yuri. Apakah Om dan Tante baik-baik saja saat ini?” Suatu pertanyaan yang membuat kening Pak Suryono berkenyit heran. “Tentu saja kami baik-baik saja, Nak. Om baru saja pulang mengajar. Memangnya kenapa? Bukankah Yuri bersamamu saat ini?” Pak Suryono balik bertanya pada Mita. Sejenak suasana hening, terdengar di seberang sana Mita menghela napas kasar. “Maaf, Om. Yuri sekarang sedang tidak bersama saya,” jawabnya terbata. “Loh, kenapa? Kalian terpisah? Atau tersesat?” balas Pak Suryono sedikit panik. “Tadi Yuri menerima telepon dari seseorang. Katanya Om dan Tante mengalami kecelakaan dan sedang kritis di rumah sakit. Orang itu bilang akan menjemput Yuri dan mengajaknya ke rumah sakit di mana Om dirawat,” jelas Mita dengan suara bergetar.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 24 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (132)
Ne Ha
sangat bagus sekali.. love it..
21/02
0
MaryanaNini
masyaALLAH suka sekali novel nya .
terima kasih author,bukunya bagus sekali
sangat bagus sekali.. love it..
21/02
0masyaALLAH suka sekali novel nya . terima kasih author,bukunya bagus sekali
06/11
0alur ceritanya baguss saya sangat menyukai
13/08
0Tingnan Lahat