logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Menikah Dengan ODGJ

Menikah Dengan ODGJ

Riviya Jasmine


Malam pertama

Hari ini seperti yang sudah direncanakan, aku akan mengucapkan janji sacral di depan penghulu dan para tamu. Semua syarat perkawinan telah terpenuhi. Adanya mempelai laki-laki dan perempuan yang diwalikan langsung oleh ayah kandunganya. Saksi dari pihak keluarganya dan keluargaku dan juga mahar sebuah kalung emas lengkap dengan liontinnya.
Kuedarkan padangan ke sekeliling. Banyak wajah asing yang memenuhi ruangan seluas enam belas meter persegi ini. Jantungku mulai bertalu saat penghulu memulai kutbah nikah. Walau bagaimanapun ini adalah pengalaman yang pertama bagiku untuk malakukan ritual pernikahan. Aku berusaha untuk focus dan mendengarkannya sebagai bekal nanti setelah menikah.
“Ketahuilah bahwa nikah itu adalah sunah dari beberapa sunah Rasulullah saw,” ucap Pak Penghulu yang cukup membuat hatiku merasa bersalah.
Di usia yang telah berkepala tiga ini, aku sempat melupakan kewajiban untuk menikah. Jika saja Om Irfan–––adik ibuku–––tidak mengingatkanku untuk segera menikah.
“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang telah mempunyai kemampuan (menafkahi keluarga), maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih bisa menundukkan pandangan dan lebih bisa menjaga kemaluan.” Aku menundukkan kepala lebih dalam lagi saat kalimat itu diucapkan sang Khotib.
Kini saatnya aku mengucapkan janji sacral itu. Tanganku sedikit basah karena berkeringat. Sempat Pak Penghulu menggodaku karena melihat kegugupan di wajah ini.
“Saya terima nikah dan kawinnya Yuriza Olivianty Binti Suryono dengan mas kawin yang tersebut tunai!"
"Sah!"
"Alhamdulillah." Aku mengucapkan rasa syukur pada Sang Pencipta ketika mendengar kata sah dari para saksi setelah mengucapkan ijab kabul tadi.
Ucapan serupa terdengar dari hampir seluruh undangan yang hadir di ruangan ini. Untaian doa dari Pak Penghulu menambah rasa hikmad acara akad nikah ini.
Mempelai perempuan pun berjalan keluar mendekatiku setelah penghulu selesai membacakan doanya. Gadis itu mengenakan kebaya putih dengan kerudung senada tersenyum ke arah para tamu yang menyapanya.
Sejenak aku tertegun melihat kecantikan di wajahnya. Senyumnya yang manis mampu mengalihkan duniaku. Aku terkesiap dan menunduk malu saat Om Irfan menyikutku. Gadis itu pun duduk di sebelahku. Gadis yang sekarang telah sah menjadi istriku.
Aku mengenalnya dua bulan yang lalu. Om Irfan yang memperkenalkan kami. Setelah beberapa kali shalat istikharah dan membaca profil singkatnya, kuputuskan untuk menerima perjodohan ini.
Namanya Yuriza Olivianty. Seorang gadis berusia 28 tahun, yang berprofesi sebagai ustadzah di sebuah Raudhatul Athfal–––sekolah setingkat TK–––di dekat rumahnya. Dari keluarga yang sederhana, ayahnya seorang Kepala Sekolah di sebuah madrasah dan ibunya seorang ibu rumah tangga biasa.
Sebulan pertama perkenalan, hanya tiga kali bertemu dengan didampingi orang tuanya. Tak banyak yang aku tanyakan saat pertemun kami. Semuanya sudah jelas tertera di proposal. Lulusan terbaik di sebuah pesantren di Pulau Jawa. Begitu pun dengannya, ia hanya meminta agar aku bisa menerima semua kekurangan dan masa lalunya. Semua itu tidak menjadi masalah bagiku. Karena semua yang kutahu tentangnya tak ada yang salah.
Sebulan kemudian persiapan pernikahan. Pernikahan yang sederhana adalah permintaannya. Hanya ke KUA dan mengundang kerabat terdekat saja serta diadakan di kediamannya. Kesederhanaanya inilah yang membuatku suka padanya, selain tutur katanya yang lembut dan terkesan malu-malu.
“Selamat, ya, Bos. Akhirnya belah duren juga malam nanti,” ucap Roy teman kerjaku menggoda kami. Aku hanya tersenyum menanggapi candaan dari teman-temanku sedangkan Yuri hanya menunduk dalam diam.
Satu persatu para tamu menghampiran dan memberikan selamat pada kami. Seperti biasa Yuri hanya diam dan menunduk, sesekali ia juga tersenyum pada tamu yang menyapa.
Walaupun acara sederhana, tapi cukup membuat lelah diri ini setelah seharian menyambut tamu. Setelah memastikan tidak ada lagi tamu yang datang, aku pun berniat menyegarkan diri dengan mandi. Kulihat Yuri telah berada di kamar sedang duduk di depan cermin. Tampak dia sudah berganti pakaian dan membersihkan diri, tapi tetap mengenakan hijabnya.
"Dek Yuri, sudah sholat isya?" tanyaku lembut.
"Sudah, Mas," jawabnya singkat sambil menunduk. Ah …, mungkin dia masih malu padaku.
"Ya sudah. Mas mandi dulu ya."
Aku pun langsung masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Rasa segar langsung menyapa ketika air dingin menyentuh kulitku. Rasa penat karena seharian ini mengikuti acara sakral pun luntur sudah. Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku berwudhu kemudian keluar dan menunaikan sholat isya.
"Dek, kita sholat sunnah yuk," ajakku setelah selesai menunaikan shalat isya.
Dia pun mengangguk kemudian masuk ke kamar mandi untuk berwudu dan mengenakan perlengkapan sholatnya. Selesai shalat sunah, kuulurkan tangan ini padanya. Namun, dia hanya menatap tanganku dan bergeming.
"Kenapa, dek? Kita kan sudah sah? Masih malu ya?" tanyaku. Namun, lagi-lagi dia hanya bergeming.
Setelah menunggu beberapa detik, tapi tak ada respon darinya, akhirnya aku hanya mengusap puncak kepalanya saja sambil tersenyum dan membereskan perlengkapan sholat. Kulihat wajahnya sdikit pucat dan berkeringat.
“Ah, mungkin dia capek,” batinku.
"Dek, Mas turun dulu, ya. Mau ambil minum."
"Iya, Mas." Lagi-lagi jawabannya singkat sambil menunduk tanpa sedikit pun menatapku. Apakah dia sepemalu itu? Sampai-sampai menatap suaminya sendiri pun dia tak mau.
Aku segera kembali ke kamar setelah mengambil segelas air. Ketika membuka pintu kamar, kutemukan pemandangan yang begitu menakjubkan. Aku melihat dia sedang menatap keluar jendela dengan rambut panjang indah tergerai dan mengenakan piyama warna pink. Sungguh pemandangan yang baru pertama kalinya kulihat.
Walaupun di tempat kerja dikenal sebagai lelaki yang alim dan cuek terhadap perempuan, tapi aku adalah lelaki yang normal. Melihat pemandangan indah di depan mata, naluri kelelakianku pun bangkit. Apalagi dihadapanku ini adalah sesuatu yang telah halal.
Perlahan aku meletakan gelas ke atas nakas dan berjalan mendekatinya. Mencium harum rambutnya membuat hasratku bangkit. Tak ingin berlama-lama langsung aku memeluknya dari belakang.
"Ah ... tidak! Jangan! Ampun ... Tolong ...." Tiba-tiba dia mendorongku dan berteriak. kemudian lari ke atas tempat tidur dan meringkuk memeluk lututnya. Tampak dia sangat ketakutan. Aku yang tak siap karena dorongannya pun terjatuh ke lantai dengan keras.
"Dek, maaf Mas mengagetkanmu. Ini Mas Gilang, Dek, Suamimu." Aku mencoba bangkit dan mendekatinya. Namun, dia semakin keras berteriak histeris. Raut ketakutan sangat tampak dari wajah pucatnya. Keringat mengalir deras di wajahnya yang kemudian bercampur dengan air matanya. Tubuhnya bergetar hebat.
"Dek, aku suamimu. Kita sudah sah menikah tadi siang. Kamu ingatkan?" Aku kembali mencoba untuk menenangkannya dan menyentuh tangannya. Mungkinkah dia lupa jika kami telah menikah tadi pagi?
"Tolong jangan sentuh aku. Tolong ... Tolong! Ibu ...." Dia masih berteriak histeris. Akupun jadi bingung.
Tok … Tok … Tok!
"Nak Gilang, buka pintunya ...." kini terdengar suara Ibu mertua dari luar.

Komento sa Aklat (132)

  • avatar
    Ne Ha

    sangat bagus sekali.. love it..

    21/02

      0
  • avatar
    MaryanaNini

    masyaALLAH suka sekali novel nya . terima kasih author,bukunya bagus sekali

    06/11

      0
  • avatar
    LestariDeya

    alur ceritanya baguss saya sangat menyukai

    13/08

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata