logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

When I Love You

When I Love You

G. Eucalyptus


Episode 1

"Maksudmu? Dia nanyain aku?"
Geliat kebingungan terlihat jelas di mata Sandra. Hatinya yang pernah begitu tertutup mendadak mengintip sedikit dan tergoda untuk mendengar. Jantungnya berdegup kencang, sesungguhnya ia tak sanggup jika apa yang pernah ia bayangkan sejak tiga tahun belakangan ini terjadi.
"Memang yang namanya Sandra Kirana jurusan Kimia ada berapa sih? Tadi jelas banget kok, si Babang Tennis kampus sebelah bilang 'Tahu Sandra Kirana, nggak' hayo?" Ujar Mae dengan pandangan penuh keyakinan pada dua sohib karibnya.
"Dia langsung ngomong 'Sandra Kirana' gitu?" Kedua mata polos Juni malah membuat Mae kesal.
"Iya! Heboh banget deh gedung UKM kampus ini gara-gara si babang tennis itu nanyain Sandra."
Sandra masih terkepung dengan rasa tak percaya. Apakah dia masih mengingatnya? Namun, pertanyaan yang begitu besar gejolaknya adalah, apakah ruang itu masih ada untuknya?
"San, kapan kamu balik ke dunia nyata?" Tanya Mae sambil melambaikan tangan ke wajah Sandra yang sedang melamun. "Apa perlu kuguyur kopi nih?" Tawar Mae.
"Kenapa sih Mae, kamu kasar banget jadi temen?" Juni hanya mampu mempertanyakan komentar kasar Mae kepada Sandra.
"Masalahnya, sejak kasus dia sama Yolanda di forum terakhir, ia sering kepergok melamun."
Sandra tersadar dari lamunannya. Ia menatap kedua teman baiknya yang telah menunggu kembali dari kahyangan imajinasi.
Sandra tak ingin temannya berprasangka lebih jauh lagi, segera ia berkata, "Mae, kemarin ada kedai kopi kecil di dekat pertigaan pintu masuk kampus. Harganya murah dan lagi promo gratis shot espresso."
Usaha Sandra mengalihkan topik tidak sia-sia.
"Sumpah?" Senyum Mae merekah, "Let's go! Kita harus dapatkan free espresso!" Kata Mae sambil menggandeng kedua gadis tersebut. "Yuk, yuk!" Ajak Mae dengan begitu semangat.
"Aku ogah kopi lagi. Aku nggak mau, ya, nggak bisa tidur lagi." ujar Juni menatap tajam Mae, seakan-akan dua malam terakhir yang tidak bisa ia lalui dengan tidur nyenyak adalah kesalahan Mae.
"Ya ampun, Jun. Cuma satu shot espresso, men! Yaudah nanti kamu pesen latte tanpa kopi."
Sejenak, pikiran akan laki-laki yang dimaksud Mae menguap namun berjejak dalam pikiran Sandra. Walaupun berbekas, ia masih mampu mengontrol dirinya. Ia tidak ingin kenangan masa lalu dengan laki-laki itu harus ia keluarkan lagi setelah terkubur begitu dalam.
Hati Sandra masih tidak baik-baik saja. Tubuhnya sedikit gemetar akibat perasaan yang selama ini ia pendam. Keringatnya mulai bermunculan, padahal udara sedang dingin akibat datangnya musim penghujan
"Motormu di mana, Jun?"
"Itu lho, Mae." Sambil menunjuk "Keliatan banget ijo royo-royo."
"Ya Tuhan, norak banget." Kata Mae sedikit mengejek.
"Motor warna neon ada gunanya, kan? Langsung keliatan kalo di parkiran kayak gini." Bantah Juni, menang telak.
"Terserah, dah." Mae membuka tas punggung Juni seperti biasa untuk mengambil kunci, sedangkan Sandra ternyata masih memasang tatapan kosong.
"Eh, San! Astaga! Kupikir dikau sudah kembali dari negeri awan. Kenapa ini balik ke sana lagi sih?" gemas Mae sembari menyubit pipinya.
"Aduh! Sakit Mae!" Sandra mengelus pipi sawo matangnya sambil melotot dan berjalan ke arah salah satu sepeda motor yang terparki. Dari jauh, Mae menatap sahabatnya dengan kecurigaan.
Mae bergumam dalam hatinya," Pasti ada hubungannya dengan pemain tennis dari kampus sebelah. Tapi, apa hubungannya?"
"Kayaknya Sandra lagi mikirin sesuatu deh." Kata Juni penuh curiga.
"Aku juga berpikir seperti itu." Jawab Mae. Dari kejauhan, Mae mengamati Sandra yang terlihat masih aneh, tidak biasanya Sandra seperti itu. Ia tahu, sangat tahu, bahwa temannya satu ini sedang tidak baik-baik saja.
"Pasti ada apa-apa." resah Mae yang tak dapat dibendungnya dalam hati.
Mae meyakini dialah yang paling memahami kawan baiknya. Ia berusaha untuk menjaga semua orang yang ia sayangi. Dan rasanya, kali ini Mae hanya sanggup untuk berprasangka. Entah mengapa ia ingin memberikan ruang untuk Sandra, tidak seperti biasanya yang asal tembak tuduhan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
***
Seorang laki-laki didampingi oleh dua orang laki-laki lainnya sedang menaiki tangga menuju lantai dua.
"Ini adalah sekretariat KBK atau klub buku kampus." Kata salah satu pendamping yang memperkenalkan ruang-ruang yang ada di dalam gedung UKM kampusnya.
Laki-laki yang didampingi tersebut hanya mengangguk dan mengamati ruangan dalam sekretariat dari kaca jendela, namun tiba-tiba ia terpaku akan sebuah foto yang terpajang di salah satu sekretariat.
"Semua sekre dilarang memasang gorden." Imbuh pendamping lain, seakan-akan menebak pertanyaan apa yang akan diajukan segera ia meneruskan, "untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan." Katanya lagi dengan senyum dan lirikan menggoda. seakan-akan, mereka bertiga memikirkan hal yang sama.
Untuk beberapa saat, mereka semua terdiam kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.
"Bener juga sih," lelaki itu mengangguk setuju terkait masalah gorden, " Sayangnya di kampusku belum ada UKM untuk pecinta buku seperti ini."
"Di kampusmu beneran nggak ada, Rom? UKM ini beberapa kali hampir dibekukan karena minimnya anggota. Mereka tidak pernah mencapai anggota baru minimal di setiap tahunnya. Tetapi setiap sidang, mereka selalu berhasil meyakinkan untuk tetap bertahan walaupun tanpa suntikan dana. Kupikir memang tidak banyak kampus yang mendukung klub seperti ini. melihat di kampus kita pun juga nggak banyak peminatnya."

"Tanpa suntikan dana itu sulit. Para ketua dan anggota di KBK sangat gigih untuk bertahan." Pendamping lainnya ikut menambahi, "Ketua terakhir bahkan sampai adu argumen dengan sekertaris pengurus UKM pusat."
"Yolanda versus Sandra sempat trending di kalangan kampus bahkan mahasiswa baru."
Laki-laki dengan bordiran nama 'Romeo80' di bajunya tersenyum tipis. Ia bisa membayangkan bagaimana peristiwa Yolanda versus Sandra terjadi, karena ia sangat mengenal salah satunya.
"Rom, bukannya tadi kamu nyari yang namanya Sandra Kirana, ya?"
Romeo tergelak, ia menyadari bahwa sejak masuk ke kampus ini, yang di dalam pikirannya adalah seorang perempuan yang sangat dirindukannya. Hatinya merasakan gejolak ingin bertemu. Namun, ada begitu banyak hal yang membuatnya mengurungkan niatnya.
"Nggak, kok. Cuma nanya aja tadi. Hehe." jelas sekali bahwa Romeo sedang berbohong.
"Pertandingannya di lapangan B ya, Rom. Di sana." Romeo mengikuti arah tangan kawannya menunjuk, kemudian ia mengangguk.
"Oke, sampai ketemu besok ya." Romeo memandang sebuah foto yang terpajang di Sekretariat tadi, ia tersenyum, kemudian melanjutkan menuruni tangga. Foto dengan tulisan di bawahnya "Ketua Umum" telah membuat hati Romeo tenteram.
Senyuman Romeo masih nampak bahkan setelah ia keluar dari gedung UKM. Gadis-gadis yang berpapasan dengannya tak ada yang melewatkannya walau hanya berkedip.
"Itu cowok bukan anak kampus sini kan?" Tanya seseorang pada teman sebelahnya.
"Senyumannya mirip sama Lee Seung Gi." Jawab temannya, "jelas bukan anak sini."
"Kayaknya dia ketua UKM tennis kampus sebelah. Dilan bilang mau ada pertandingan persahabatan antarkampus."
"Oh. Nonton yuk! Muka dia kalau lagi serius ngeliat bola tenis pasti hot banget." Kedua gadis itu tersenyum cekikikan dan membayangkan apa yang ingin mereka bayangkan.
Romeo mengambil kunci sepeda motornya dari saku bajunya. Ia menaiki sepeda motornya namun menunda untuk menyalakan. Ia masih memandang di sekitar lokasi parkir, ada harap yang tak berani ia utarakan walaupun sudah disimpan terlalu lama. Ia teringat kembali apa yang terjadi pada saat itu.
Romeo hanya sanggup menanyakan "Kenapa, San? Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu?" di dalam hatinya beberapa kali.
Degup jantungnya berkecamuk, perasaannya ingin mengambil alih pikirannya yang berusaha untuk tetap terkendali.
"Apakah selama ini aku bersalah padamu?" tanyanya kembali dalam hati.
Pikirannya mendadak sirna setelah melihat seseorang yang ia sangat yakin mengenalnya. Dengan segera ia menyalakan motor dan mengikuti orang itu.
"Itu pasti kamu, Sandra." keyakinan Romeo menguat.
Kecepatan yang ditempuh oleh Romeo mulai sedikit melebihi batas. gadis yang ia kejar semakin menjauh dari jangkauannya. Ia mengikuti gadis tersebut bukan tanpa alasan. Ia sangat memiliki alasan. Gemuruh hatinya mulai tak menentu hingga ia tertabrak.
“BRAKKKKK!!”
Romeo tergeletak. ia hanya melihat gadis itu semakin tak terlihat.

Komento sa Aklat (120)

  • avatar
    BaruAkun

    good

    14/01

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus hanya akhirnya Sandra belum selesai...

    29/11

      0
  • avatar
    RahmawatiFitria

    sangat lah bagus

    02/10

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata