'Ajak temen lo ke pesta yang udah gue siapkan, jangan lupa beli obat perangsang di apotek, lalu campur di makanan atau minuman temen lo. Gue udah siapin kamar hotel buat mereka berdua.' Pesan yang dikirimkan Arkan pada Aira membua wanita itu tersenyum sendiri menatap layar ponselnya. Sebentar lagi, ah, Aira merasa sudah tak sabar untuk segera melancarkan aksinya. Lantas ia pun mengetikkan balasan untuk Arkan dengan menanyakan di mana pesta itu diadakan dan kapan waktunya. Tak sampai satu menit, Arkan telah membalas pesan itu. 'Ballroom hotel Airlangga, besok jam sepuluh malam,' bunyi pesan yang dikirimkan Arkan. "Oke, kalau gitu, gue harus kasih tahu dia sekarang, gue harus bisa ngeyakinin dia supaya besok mau pergi bareng gue," ucap Aira. Lalu ARia segera mendatangi Lidia yang masih berada di ruang karyawan. Melihat kedatangan Aira dengan wajah antusias membuat Lida mengernyitkan kening. Tak biasanya Aira seperti itu dengannya, karena selama ini Aira sering kali bersikap sinis padanya. "Lid, temenin gue dong, please," ucap Renata langsung mengambil duduk di samping Lidia dan memegang tangannya. "Temenin ke mana?" "Ke pesta kenalan gue, jadi gue tuh diundang ke pesta ulang tahun dia gitu, tapi, gue gak punya temen buat datang, lo mau kan temenin gue, please." "Tapi, Lid, gue kan gak kenal temen lo," tolak Lidia secara halus. "Gak papa, yang penting kan lo kenal gue, di sana gue juga kenalnya sama kenalan gue ini doang, makanya gue ajak lo. Lo mau ya ... please, kali ini doang." Mendengar rengekan Aira yang terus menerus membuat Lidia tak nyaman dan akhirnya mengiyakan permintaan temannya itu. "Iya udah, gue temein, kapan emang acaranya?" "Besok malam, jam sepuluh, besok lo masuk siang kan? Gue langsun jemput lo ke sini." "Kok malem?" "Ya iyah malem, Lidia, ya kali pesta orang dewasa siang hari kayak ulang tahun anak-anak. Lo udah bilang iya loh, gue gak akan ijinin elo membatalkannya," ucap Aira seakan bisa membaca gelagat Lidia. Akhirnya Lidia hanya bisa pasrah. Sudah terlanjur juga ia mengiyakan permintaan Aira. "Tapi, Ra, gue gak punya baju buat pesta, apa kalau gue nemenin lo gak bikin lo malu?" "Oh, itu gampang, gue punya banyak baju, besok gue bawain lo satu, gue pilihin yang paling bagus, tenang aja pokoknya. Karena gue yang ngajak, jadi lo santai aja, gak perlu mikir apa-apa." "Termasuk kado?" tanya LIdia memastikan. "Yap! Termasuk itu, lo gak perlu siapin apa-apa, yang penting lo mau nemenin gue iu udah cukup. Gimana? Enak kan?" Lidia menganggukkan kepalanya meski merasa ragu dan janggal. Sudah terlanjur, ia tak mungkin bisa membatalaknnya. 'Hanya menemani, tak apalah, mungkin ini awal yang baik untuk memperbaiki pertemanan gue dengan Aira,' ucap batin Lidia. "Ya udah, gue balik kerja lagi kalau gitu, lo hati-hati di jalan ya." Aira lalu kembali ke meja kasir melanjutkan pekerjaannya. *** Sepulang kerja, jika Lidia mendapat jadwal masuk pagi, ia akan menyempatkan diri mengunjungi panti asuhan yang berada tak jauh dari tempatnya bekerja seperti ang ia lakukan saat ini. Di sana, sejenak ia bermain-main dengan anak-anak panti serta mengajari mereka jika ada yang mendapatkan tugas sekolah. Hal itu dilakukan Sarah semata-mata untuk sedikit mengobati rasa rindunya pada suasana panti asuhan tempatnya tinggal dulu. Hari ini, kedatangannya disambut antusias oleh anak-anak panti. Anak-anak itu berbondong-bondong berlari menghampiri Lidia yang baru turun dari ojek yang mengantarkannya. "Kak Lidia!" "Kak Lidia datang!" "Hore, Kak Lidia datang, Yay!" teriak anak-anak itu bersahut-sahutan. Lidia tersenyum menyambut mereka yang berlari menghampirinya. Ia berjongkok sambil merentangkan tangan, empat anak bisa masuk dalam pelukannya walau harus bedesak-desakan. "Kalian sudah besar, jadi tidak muat lagi berpelukan bersama-sama," ucap Lidia melihat wajah mereka satu persatu. "Kalau begitu, aku saja yang peluk Kak Lidia ! Bolehkan, Kak?" ucap gadis kecil berambut sebahu. "Aku! Aku!" sahut yang lainnya. Mendengar keributan anak-anak pantinya, pengurus panti mengecek keluar apa yang sedang terjadi. Wanita paruh baya itu berdiri di ambang pintu saat melihat anak-anak bersama Lidia . Wanita itu tersenyum senang, kebahagiaannya sangat sederhana, cukup melihat anak-anak panti tersenyum bahagia dan mendapatkan limpahan kasih sayang. "Sebentar, ya, Kak Lidia mau beri salam dulu sama Bu Ima," ucap LIdia berdiri dan menunjuk ke arah ibu pengurus panti. Mereka semua berjalan mengikuti langkah Lidia menghampiri ibu panti. "Sepertinya kamu cukup lama tidak mampir, Lid," sapa Bu Ima menerima uluran tangan Lidia yang mengajaknya bersalaman. "Iya, Bu, akhir-akhir ini agak sibuk." "Meski sibuk, kamu harus tetap jaga kesehatan ya, ibu panti kamu di kampung halaman kamu sering menanyakan kabarmu pada Ibu." "Katakan padanya, Lidia baik-baik saja, Bu, supaya beliau tidak khawatir," jawab Lidia tersenyum sedikit sendu. "Ya sudah, kalau gitu Ibu mau melanjutkan masak untuk anak-anak, Ibu titip mereka ya, kamu makan malam di sini juga kan?" tanya Bu Ima. "Tidak, Bu, Sarah hanya mampir sebentar, ada pekerjaan lain yang harus Lidia kerjakan." "Setidaknya tinggal lah sebentar sampai Ibu selesai masak, Ibu akan akan bawakan kamu makanan untuk makan malammu ya?" "Tak perlu repot-repot, Bu." "Sudah, pokoknya kamu tidak boleh pergi sebelum Ibu selesai masak. Ibu titipkan anak-anak sama kamu." *** "Selamat, Pak, akhirnya proyek ini kembali ke perusahaan kita, Pak Gerald memang luar biasa," puji Dita usai menemani Geraldi rapat dengan perusahaan yang tempo hari membatalkan kerja samanya dengan perusahaan Geraldi. "Sepertinya, kita sudah bisa bernapas sejenak sambil menikmati segelas wine atau vodca," ucap Dita lagi. "Carilah bar VIP seperti biasanya." "Di lantai atas hotel tempat kita menginap ada bar VIP, apa tidak lebih baik kita ke sana saja?" tawar Dita yang sudah mempersiapkan segalanya. "Ya." Dita tersenyum penuh kemenangan. Sebentar lagi ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan sejak beberapa hari lalu. Menghabiskan waktu bersama Geraldi di sisia perjalanan bisinis mereka. *** "Ini terlalu banyak, Bu, Lidia hanya sendirian di kosan," kata Lidia saat Bu Ima memberikan beberapa macam makanan padanya. "Tak apa, kalau tak habis kamu bisa menyimpannya di kulkas dan bisa kamu hangatkan lagi untuk sarapan besok." "Makasih banyak, Bu, Lidia jadi merepotkan Ibu." "Sama sekali tidak, kalau ada kamu di sini, anak-anak merasa senang. Ibu bahagia melihat mereka tersenym ceria seperti itu." Lidia mengikuti arah pandang Bu Ima yang sedang memperhatikan anak-anak panti menonton tv bersama-sama. TV LED yang terpasang di dinding ruang tengah itu adalah pemberian Lidia beberapa waktu lalu dari hasil bekerjanya di mini market. Dia memberikannya sebagai hadiah untuk anak-anak. Selain itu, dulu televisi yang dimiliki panti asuhan itu telah usang dan sering rusak. "Lidia juga senang melihat mereka. Mereka semua mengingatkan Lidia pada anak-anak panti, rasa rindu Lidia sedikit terobati tiap melihat mereka," ucap Lidia kembali menatap Bu Ima. "Sering-seringlah main ke sini kalau kamu ada waktu luang." "Iya, Bu, kalau begitu Lidia pamit dulu," ucap gadis itu lalu menyalami Bu Ima. "Anak-anak, Kak Lidia pulang dulu ya, lain waktu Kakak akan mampir lagi ke sini," ucap Lidia menghampiri anak-anak itu dan berpamitan pada mereka. "Kak Lidia besok ke sini lagi ya, aku akan tunggu Kakak." "Kakak besok kerjanya masuk siang, Sindi, jadi Kakak tidak bisa ke sini, maaf ya, tapi, Kakak janji akan meluangkan waktu saat Kak Lidia libur." "Baiklah, aku akan menunggu hingga waktu itu." "Kak Lidia hati-hati, terima kasih sudah mengajariku." "Sama-sama, Citra, belajarlah yang giat supaya bisa mengajari adik-adikmu di sini." "Iya, Kak." Ojek online yang dipesan Lidia telah sampai di halaman panti asuhan, ia pun sekali lagi pamit pada semuanya dan segera menuju driver ojek yang sedang menunggunya. "Sesuai titik di aplikasi, Pak," ucap Lidia sambil menerima helm dari driver itu. "Baik, Kak." Motor itu pun segera melaju meninggalkan bangunan panti asuhan. Melaju bersama kendaraan lainnya membelah kemacetan kota meski malam hari. ***
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 27 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (181)
ZaZa
kok cuma sampe bab 32 aku belum puas please pengen liat couple Lidia dan Gerald berlayar😭😭
14/09
1
Nurul Huda
temannya sungguh keji.. lidia harus bertahan walau bingung dan tidak tahu harus apa
kok cuma sampe bab 32 aku belum puas please pengen liat couple Lidia dan Gerald berlayar😭😭
14/09
1temannya sungguh keji.. lidia harus bertahan walau bingung dan tidak tahu harus apa
10/09
0mantap
03/07/2025
0Tingnan Lahat