“Untuk mempertahankan daya mistiknya, para warok pada tahap awal harus menyucikan diri dengan tiga patrap: sucining suwara, sucininng tenogo, dan sucining roso [Patrap (aktivitas) menjaga kesucian lisan, perbuatan, dan hati.]. Tahap berikutnya adalah melakukan tirakat dengan mengurangi makan, tidur, dan mencegah syahwat. Bersamaan dengan lakon ini mereka juga harus meninggalkan sirikan molimo yang ditambah madani dan mateni [Sirikan molimo (pantangan lima perkara): mencuri, candu, judi, mabuk, dan berhubungan badan dengan perempuan, dua tambahan lainnya adalah sewenang-wenang merebut hak orang lain dan membunuh.]. Selanjutnya mereka harus melakukan puasa sembilan macam!” Endaru terbelalak dengan mulut menganga, “Untuk apa daya mistik itu?” Gadis itu menyengih dan mengalihkan tatapan ke pendopo, “Salah satunya untuk hal yang baru saja kau saksikan!” Gadis itu bersedekap, “Termasuk ilmu kebal dari tebasan berbagai senjata tajam.” Endaru menghela napas yang sempat tertahan di dada hingga gembung, “Lalu pantangan madon‒tidak berhubungan badan dengan perempuan‒meskipun itu istri sendiri, apa itu masuk akal?” “Untuk itulah kau dan anak-anak laki-laki lain seumuranmu ada di sini!” jawab sang gadis cilik dengan iba. “Untuk apa?” Endaru masih tak mengerti, “Demang bahkan mempunyai empat orang istri dan seorang putri?” Gadis cilik itu menjawab dengan acuh, “Aku hanya anak tiri Romo Sastro, ibuku seorang janda.” *** “Cah Bagus, kemarilah!” panggil Warok Sastro pada Endaru. Bocah laki-laki itu berjalan jongkok mendekati sang warok yang duduk di kursi goyang dengan kaki bertelekan pada bantal. Pikiran Endaru teralihkan pada sang ibu yang ingin segera ditemuinya. “Sahaya, Ndoro.” Warok Sastro duduk bersandar sambil mencangklong pipa tembakau, “Mulai sekarang panggil aku Romo!” “Sahaya, Romo ....” jawab Endaru sambil memberi sembah. “Cah Bagus, kemarilah lebih dekat!” Endaru merangkak dan berhenti tepat di depan kaki sang warok. Pria itu mengulurkan tangan mengusap perban pada mata Endaru, “Siapa namamu, Cah Bagus?” Bocah itu mengkeret dengan tubuh yang mulai gemetar. Matanya tertunduk ke bantal pijakan kaki sang warok. Endaru ketakutan dengan segala pemikiran sinting yang membayang di dalam benaknya. Dia berbisik lirih dengan kedua tangan masih mengapurancang, “Enes, Romo ....” “Enes? Tak ingin kuberi nama baru?” Suara sang warok berat dan dalam. Anak itu menggeleng lemah. “Biarlah namamu demikian, tapi hidupmu tak akan enes (sebatang kara) lagi karena mulai hari ini kau adalah anakku dan Nyai Larsih adalah ibundamu,” sambil diisapnya pipa tembakau itu cukup dalam dan lama. “Sahaya, Romo.” “Aku sengaja membawa Gandari ke sini agar kau tenang dan tenteram selama ngelmu. Jangan membenciku, Enes, Cah Bagus. Aku begitu menyayangi anak-anak. Selama mampu akan kubawa dan kudidik kalian agar menjadi manusia yang beradab. Kemiskinan selamanya akan membuat generasi ini larat. Kau sudah kugadang untuk menjadi penerusku—warok sakti dan dihormati—di kademangan ini. Kau yang akan menggantikan bapakmu untuk meraih posisi itu.” Saat itu kepala Endaru tegak terangkat. Sembah terlepas dari kedua tangannya, “Bapak sahaya?” Mata kiri Endaru yang liar tertangkap oleh Warok Sastro yang penuh pengalaman hidup, “Kuberikan restu pada bapakmu untuk menjalani hidup sebagai seorang warok sejati. Kuwariskan ilmuku padanya, tetapi di penghujung lelaku tiba-tiba dia mengambil pilihan untuk menikah dan berumah tangga dengan emakmu.” Sastro menatap Endaru, “Begitu tahu kau dilahirkan, aku bersumpah akan menjadikanmu warok sejati. Tak akan kubiarkan kau gagal seperti Bagus—bapakmu.” “Di mana Bapak sahaya berada, Romo?” pekik Endaru sambil menahan keguncangan batinnya. Warok Sastro menyesap kembali pipa tembakaunya dengan pandangan menerawang jauh. “Suatu malam bapakmu datang ke sini dan berkata bahwa dia merasa gagal menjadi seorang bapak. Nak, Gus, maka kubawa kau ke sini untuk kudidik dan kusiapkan sebelum menempuh jalan yang sunyi untuk menjadi warok sejati. Oleh karena itu, belajarlah apa saja yang bisa kau ambil di sini.” Tubuh Endaru semakin bergetar hebat. Dia berusaha mengendalikannya dengan mengepalkan tangan sekuat tenaga dan mengalirkan segala kecamuk rasa itu ke dalam genggaman tangan. “Nyai, bagaimana persiapan menjamas ?” [Upacara mencuci senjata di malam satu Suro] Terdengar suara gesekan kain jarik dan tapak selop Nyai Larsih yang mendekat, “Sudah semua, Kangmas. Mari saya bantu bersalin baju.” Warok Sastro berjalan diiringi Nyai Larsih menuju ke biliknya. Endaru berjalan gontai di belakang mereka menuju ke bangsal para babu. Endaru memperlambat langkah saat terdengar teriakan dan keributan dari batas antara rumah dalem dan luar. “Hei, Gadis ingusan, kenapa kau berkeliaran di sini? Tempatmu di pondok pingitan! Jangan berani menyentuh keris-keris itu!” Endaru menyaksikan seorang pemuda tengah menghardik putri Nyai Centini dengan sangat kasar. Gadis kecil itu melawan dan membalas dengan melempar segenggam pasir. “Dasar Wandu!” teriak gadis kecil itu dengan lantang. Wajah pemuda itu memerah dan siap melayangkan pukulan, tetapi Endaru segera meghalaunya. Keributan terjadi saat tanpa sengaja Endaru menabrak seorang anak yang datang membawa bokor mas berisi air kembang untuk menjamas. Bokor terpental menimbulkan bunyi kelontang. Air kembang membasahi sebagian keris dan tombak keramat yang ditata berjajar di sebuah meja. “Hei, Anak baru, kau mau merusak segalanya?” teriak pemuda yang lain. Sontak para gemblak yang lain berdatangan dan melerai mereka, “Hentikan! Bagaimanapun gadis itu adalah putri Romo, sedangkan anak baru itu yang digadang akan menjadi pewaris padepokan ini.” Endaru menarik gadis kecil itu menjauh meninggalkan para gemblak yang menghujani mereka dengan lirikan tajam dan bisik-bisik permusuhan. Setelah lepas dari kepungan para gemblak, gadis kecil itu menarik tangannya dari cengkeraman Endaru. “Aku bisa melindungi diriku sendiri! Kau tak perlu ikut campur, Anak Baru!” Endaru menatap kepangan rambut gadis itu yang terburai sambil menyeringai, “Benarkah kau seorang perempuan? Berkepang saja kau tak mampu.” “Sialan, kau!” Gadis kecil itu memberengut dan pergi meninggalkan Endaru. Endaru tergelak dan berlari menyusulnya, “Kenapa mereka memusuhimu? Bukankah para Raden Ayu biasanya selalu dihormati dan disanjung?” “Perempuan menduduki posisi paling belakang di bumi Panaragan ini, apalagi di rumah para pembesar yang bergelar warok. Kata Ibundaku, perempuan harus cukup hanya mengabdi sampai di sumur dan dapur. Selamanya gemblak yang menduduki posisi tertinggi setelah waroknya, merekalah yang harus mengabdikan diri di kasur!” “Aku tidak mengerti!” Gadis itu memutar mata, “Mereka menganggap perempuan sebagai pantangan yang harus dihindari, ‘kan? Kehadiran perempuan bisa melesapkan kekuatan dan kesaktian para warok.” Gadis itu tiba-tiba berbalik dan hampir bertabrakan dengan Endaru. “Sebentar lagi mungkin kau juga akan membenciku,” tatapannya tertunduk dan sedih. “Hei, aku tak punya teman di sini! Anak-anak laki-laki itu tampaknya mereka juga membenciku. Bukankah, musuh dari musuhmu adalah temanmu?” Endaru menyeringai memamerkan deretan gigi putihnya yang gingsul. Gadis kecil itu membeliak menatap satu mata Endaru yang tak terbebat kain, “Kau tak mengerti rupanya. Meski kau tak membenciku, tapi mereka akan memaksamu untuk menjauhiku!” Gadis itu berlari sambil menarik lengan Endaru lagi, “Mari aku antar ke tempat emakmu!” “Namaku Enes ... kau?” teriak Endaru dengan napas terengah di antara larinya. Gadis kecil itu menoleh sambil menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Endaru mengikuti gerak bibir itu dan merapal sebuah nama, “Dasi? Nama yang indah. Tapi kenapa aku harus dipaksa membencimu?” ***
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 26 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (529)
dwi saputradolly
mantap
16/02
0
SaputraMuhammad
bagus banget
20/10
0
erna
Ceritanya bagus dan menarik...Cuman sayangnya...banyak bahasa yg gak saya fahami,mungkin bahasa daerah....Dan bahasa belanda juga gk diterjemahkan...Mana ngerti bahasa belanda?!Tolong untuk authornya untuk kedepannya ada terjemahannya...Dan 1 lagi,alurnya...jika mau flash back,dipisah saja,selesaikan dl ceritanya baru flash back,jadi gak bikin bingung yg baca...
mantap
16/02
0bagus banget
20/10
0Ceritanya bagus dan menarik...Cuman sayangnya...banyak bahasa yg gak saya fahami,mungkin bahasa daerah....Dan bahasa belanda juga gk diterjemahkan...Mana ngerti bahasa belanda?!Tolong untuk authornya untuk kedepannya ada terjemahannya...Dan 1 lagi,alurnya...jika mau flash back,dipisah saja,selesaikan dl ceritanya baru flash back,jadi gak bikin bingung yg baca...
09/10
0Tingnan Lahat