logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Part 2. Flashback

Hai, namaku Dina Larasati. Panggil saja Dina. Usiaku 36 tahun. Aku seorang ibu rumah tangga, dengan dua orang anak. Sebenarnya anakku ada tiga, satu dengan perkawinanku terdahulu.
Aku menikah dengan Bagas sembilan tahun yang lalu. Yang mana saat awal perkenalan, dia adalah seorang laki-laki yang baik, yang siap menerima diriku apa adanya.
Perkenalan kami hanya singkat, cuma tiga bulan. Jadi aku tidak tahu seperti apa kepribadian dia yang sebenarnya. Toh aku pikir itu tidak masalah. Karna dengan perkawinan sebelumnya, aku menjalin hubungan hampir empat tahun, tetapi akhirnya kandas juga.
Sebenarnya keluarga Bagas tidak merestui, karna aku seorang janda dengan satu anak.
Pernikahan kami sangat sederhana yang hanya dihadiri orang-orang terdekat kami. Di awal pernikahan, kami tinggal di rumah orang tua Bagas.
Tahu sendirikan bagaimana sikap mereka semua terhadapku, karna aku seorang yang tidak mereka restui. Mereka sangat tak acuh padaku. Tetapi aku tidak perduli, karna aku juga bekerja di siang hari. Jadi waktuku cuma sedikit dengan mereka.
Sebulan pernikahan akhirnya sifat asli suamiku terlihat. Ternyata dia seorang pemabuk berat dan juga sangat posesif. Awalnya aku tidak peduli, selama dia masih menafkahi dan tidak mengambil dari hasil kerjaku.
Tinggal di rumah mertua memang tak seindah tinggal di rumah sendiri. Setiap hari ada saja yang diributkan. Mulai dari makanan, cucian, dan apa pun itu. Bahkan saat aku dan Bagas ingin sarapan sebelum berangkat kerja, tak ada apa-apa di dapur. Karna setelah memasak, mereka akan menyimpannya, agar aku tak bisa memintanya makanan milik mereka.
Akhirnya kami pun hanya makan nasi yang ditaburi garam dan minyak.
Aku cuek saja dengan semua keadaan di rumah mertua. Sebab aku pun bisa makan enak di butik tempatku bekerja. Karna pemilik butik sangatlah baik.
Belum berapa lama kami menikah, sikap Bagas yang arogan sempat membuatku tidak nyaman. Mungkin semua itu karena pengaruh obat-obatan yang dia konsumsi.
Pernah suatu kali kami bertengkar. Penyebabnya pun hanya sepele bagiku. Karena aku marah-marah saat dia mengkonsumsi obat-obatan terlarang yang menyebabkan ngeplay-nya hilang.
Pertengkaran mulut yang tidak bisa dihindari, sehingga menyebabkan Bagas nekat mengambil celurit dan melayangkan ke arahku. beruntung aku sempat menghindar, sehingga celurit itu mengenai lemari box yang berada dibelakangku. Padahal Tata dan ibu mertua berada di rumah, tetapi tidak berani melerai pertengkaran itu.
Tiga bulan berlalu, akhirnya aku hamil. Bagas memang terlihat sangat senang. Tetapi sayang, sifat pemabuk suamiku tidak hilang. Hampir tiap hari dia selalu pulang dengan keadaan mabuk.
Sampai suatu hari, pertengkaran hebat terjadi lagi yang mengharuskan aku pergi tanpa pamit dengan mereka. Dan juga menurutku karena hal yang sepele, hanya gara-gara makanan.

Indah, anak sulung Tata, mengambil makananku di dalam kamar tanpa izin. Memang benar, aku menyimpan makanan yang diberikan oleh Kak Vera pemilik butik tempatku bekerja ke dalam kamar. Bukan hal yang aneh, karena mereka pun seperti itu juga memperlakukanku. Aku hanya mengikuti apa yang mereka lakukan.
Sebenarnya tidak masalah dengan makanan itu, yang aku masalahkan adalah mulut pedasnya Tata. Dia mengataiku pelit dan tak tahu diri.
"Dasar, punya adik ipar kok pelit dan tak tahu diri, ya," katanya saat itu.
"Makanan segitu aja disimpan dalam kamar. Harusnya dia tahu diri, karna numpang di rumah ini," ujar Tata dengan penuh amarah.
Dengan perkataannya itulah aku dan Bagas akhirnya bertengkar.
"Kenapa, sih, Tata yang sewot? 'Kan semua orang dalam rumah ini menyimpan makanan masing-masing di dalam kamarnya. Salahku di mana? Kok aku terus, sih, yang salah," ujarku dengan kesal.
"Jelas kamu salah karna kamu pelit," hardik Bagas.
"Loh, siapa yang mulai duluan menyimpan-nyimpan makanan? Emangnya aku harus ngasih mereka makan semua? Mereka 'kan masing-masing sudah ada yang menafkahin," sahutku tidak mau kalah dan sedikit emosi.
"Harusnya kamu dong, Bang yang bisa membagi uangmu untuk mereka, bukan dengan uangku. Kamu tuh bisanya cuma mabuk aja."
"Aku sudah bersabar dalam tiga bulan ini untuk menerima perlakuan keluargamu dan kamu tidak pernah perduli sedikit pun padaku, bisanya cuma mabuk." Akhirnya tangisku pun pecah.
Mendengar omelanku yang panjang lebar dan juga kakak serta ibunya menyalahkan Bagas, akhirnya dia kalap dan melampiaskannya kepadaku.
Bagas langsung mengambil cel*rit yang dia letakan di belakang pintu dan mengayunkannya ke arahku. Aku pun kaget dan berusaha menghindar dari serangannya. Cel*rit itu kembali mengenai lemari yang berada di belakang tubuhku. ini adalah kali kedua Bagas melakukan itu terhadapku.
Aku tak menyangka dia bisa sejahat itu padaku yang tengah hamil muda anak darinya. Sedangkan keluarganya tidak pernah sedikitpun peduli dengan apa yang kualami. mereka seolah tutup telinga dan tak acuh dengan teriakan dan tangisanku.
Jam menunjukan 23.30 wib.
Aku mengemasi semua pakaianku ke dalam tas dan berniat akan pulang ke rumah
Mamah. Setuju atau pun tidak disetujui Bang Bagas, aku tetap meninggalkan rumah ini tanpa pamit. Tidak peduli apa yang akan dikatakan ibu mertua nantinya. Biarlah mereka mau bilang apa tentang aku, toh mereka memang tidak menyukaiku.
Mungkin inilah keinginan mereka agar aku keluar dari rumah ini. Aku berjanji tidak akan menginjakan kaki lagi ke rumah ini.
___________________________________

Komento sa Aklat (85)

  • avatar
    Phopy Putri Affandi

    bagus bgt

    01/09

      0
  • avatar
    rsty amLya

    ceritanya bagus

    12/06/2025

      0
  • avatar
    Levia Andhita

    bagus sekali

    04/06/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata