logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Khanza Az-Zahra


Part 1. Kecelakaan

"Awas, hati-hati!"
Braaakkk.
Akhirnya tabrakan itu tak bisa dihindari. Aku yang terguling di aspal baru menyadari, kalau si bungsu posisinya sedang berada di bawah tubuhku. Tanpa berpikir panjang lagi, langsung kuubah posisi kami.

Sedangkan Kakak Iparku, meluncur mulus di atas aspal dengan wajah mencium aspal. Begitu pula kondisi anaknya yang berada di depan. Dia terpental ke jalan dan mengalami kebocoran pada kepalanya.
Seketika lokasi kecelakaan pun langsung dipenuhi warga, warga sekitar langsung menolong kami. Kami langsung dibawa ke rumah salah satu warga. Aku pun shock dan bingung harus berbuat apa.
"Mbak, kami sudah menelpon ambulance. Segera ke Rumah Sakit, ya? Soalnya kondisi kakak ipar Mbak dan anaknya sangat mengkhawatirkan," kata salah satu warga.
Aku tidak tahu harus berkata apa, mungkin karena masih dalam keadaan shock. Aku hanya mengangguk tanda menyetujui apa tindakan warga untuk menolong kami.
Tidak berapa lama aku pun menelpon Bagas--suamiku--untuk memberitahukan keadaan kami.
(Yah, kami kecelakaan dan akan segera dibawa ke Rumah Sakit.)
(Kenapa, sih, gak hati-hati.)
Bukannya terkejut atau bersimpati, Bagas seolah menyalahkanku dan dengan begitu santainya menjawab teleponku.
Ternyata Dia sama sekali tak mengkhawatirkan keadaan kami ataupun bertanya tentang keadaan anaknya.
Saat berada di dalam ambulance, aku pun teringat, sesaat sebelum terjadinya kecelakaan itu.
Saat itu Ibu Mertua menelepon dan bilang, kalau ada keluarga mereka yang akan mengadakan resepsi pernikahan. Lalu aku di minta Ibu Mertua untuk hadir.
(Din, besok ada acara pernikahan keluarga, Ibu harap kamu hadir, ya.) ujar Ibu mertua.
(Iya, Bu. Tapi saya berangkat dengan siapa? Kan sepeda motornya di bawa kerja sama ayahnya Galang dan Gilang.) sahutku.
(Nanti kamu dijemput Tata.)
(Oo geh, Bu.) Telepon pun di tutup.
Hari pernikahan pun tiba. Tata, kakak iparku menelepon dia akan menjemputku sekitar jam sembilan pagi.
Aku pun segera mengerjakan pekerjaan rumah, Karna masih ada tiga jam lagi sebelum Tata menjemput. Aku pun sudah meminta izin kepada Bagas untuk menghadiri acara tersebut.
Sekitar jam sembilan Tata pun datang. Setelah aku lihat, kok tumben anaknya ikut juga. Biasanya Kiki tidak pernah ikut. Walhasil penuhlah motor yang kami tumpangi dan akhirnya terjadilah kecelakaan itu.
*****
Sesampainya di Rumah Sakit kami langsung di bawa ke ruang IGD. Tata dan Kiki langsung mendapatkan penanganan khusus dari tim medis, karena luka mereka cukup parah.
Tata mengalami luka dan bengkak pada separo wajahnya. Sebab, wajah Tata bergesekan langsung dengan aspal. Kancing pada baju gamisnya pun hampir separo terlepas. Sedangkan Kiki wajahnya penuh darah dengan luka di kepala yang serius.
Sedangkan aku dan Gilang, hanya mengalami luka lecet. Tanpa disadari ada sebagian jariku yang patah.
Tidak berapa lama, Bagas datang dengan penuh amarah. Mertua pun datang bersama adik dan Keponakannya.
"Kenapa, sih, langsung dibawa ke Rumah Sakit tanpa izin dulu denganku," ujar Bagas dengan wajah yang merah menahan amarah.
"Ya Allah, Yah, para warga itu membawa kami ke Rumah Sakit ini karna keadaan Tata dan Kiki sangat mengkhawatirkan," sahutku.
"Lalu siapa yang harus membayar semua biaya ini? Kamu? Punya banyak uang sekarang? Dasar kamu ini menghabiskan uang saja," ujar Bagas dengan nada keras tanpa memikirkan orang-orang sekitar yang membuatku malu.
"Seharusnya kamu tidak perlu ke Rumah Sakit juga, cukup di rumah saja. Jadi gak perlu buang-buang uang."
"Lagi pula, kamu tidak izin dulu denganku kalau mau jalan-jalan. Emangnya aku gak pernah ngasih kamu makan sampai kamu ingin menghadiri acara itu segala?" dengkusnya kesal, tanpa memikirkan malunya aku dimarahi di depan orang banyak.
"Sudah, sudah, yang bayar biaya Rumah Sakit biar Ibu saja. Jadi, kalian tidak perlu bertengkar," sahut Ibu Mertua.
"Tuh 'kan, habis uang ibuku gara-gara bayar biaya Rumah Sakit untukmu. Kamu harus ganti," selanya lagi.
Ya Allah, padahal bukan aku saja yang di bayarin biaya Rumah Sakit, tetapi Tata dan Kiki pun juga di bayarkan. Bahkan punya mereka lebih mahal dari punyaku.
Setelah selesai aku dan Gilang diobati, langsung Bagas mengajak kami pulang. Dia bilang kalau lama-lama di Rumah Sakit, akan bertambah mahal lagi biayanya.
****
Di rumah pun, aku masih terus dimarahi Bagas. Tidak perduli dengan tetangga yang menjenguk setelah kecelakaan itu.
"Din, kami pulang dulu, ya. Istirahat yang cukup biar cepat sembuh jarinya yang patah." Para tetangga pun akhirnya pamit karna tidak nyaman dengan omongan Bagas.
"Oiya, terima kasih ibu-ibu," ujarku dengan perasaan sedikit malu.
Sepulangnya para tetangga, Bagas masih mengomel tidak karuan dan mulutnya semakin gak terkedali.
"Sekarang, uang dan beras sudah gak ada. Aku gak mau tahu, bagaimana pun caranya, kamu harus mendapatkan itu semua. Kalau perlu mengemis saja di pasar untuk mendapatkan semua itu," hardik Bagas.
Aku pun hanya bisa pasrah dan menangis. Menjawab omongannya pun percuma, aku selalu salah di depan matanya.
Dan hanya mampu berdoa semoga Allah memberikan bantuannya.
Saat mau berangkat mencari pinjaman demi untuk mendapatkan sedikit uang, tiba-tiba datang teman-teman sewaktu sekolah dulu. Dengan tangan mereka bantuan Allah datang. Untung saja saat itu Bagas sedang keluar. Jadi aku bisa menyimpan sebagian uang bantuan itu sebelum dia mengambil semua.
______________________
Khanza Az-Zahra

Komento sa Aklat (85)

  • avatar
    Phopy Putri Affandi

    bagus bgt

    01/09

      0
  • avatar
    rsty amLya

    ceritanya bagus

    12/06/2025

      0
  • avatar
    Levia Andhita

    bagus sekali

    04/06/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata