logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Piknik

"Namun satu hal yang perlu Dewi tegaskan buat Mas! Jangan sekali-kali Mas mencoba untuk berselingkuh di belakang Dewi. Jika hal itu sampai terjadi, Dewi tidak akan pernah terima sampai kapanpun. Ingat itu," tegasnya padaku.
"Dewi rela jika Mas ajak hidup susah, namun Dewi tidak akan pernah rela jika Mas mencoba untuk mengajak Dewi hidup bermadu. Jangan pernah lupa itu ya, Mas!" tegasnya sekali lagi, dengan sorot mata serius.
Aku tersenyum mendengar perkataannya itu, merasa bahwa prasangka buruk istriku itu terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin aku akan menambah istri lagi, sedangkan untuk menafkahi satu orang sajapun aku belum mampu. Namun di sisi lain, aku juga merasa senang, sebab merasa dicintai sepenuh hati olehnya.
Pernikahan kami ini memang hanya dilandasi oleh rasa cinta semata. Dewi tak sekalipun memberatkanku saat sebelum ijab kabul terucap dulu. Dia tidak pernah meminta macam-macam agar aku bisa mempersunting dirinya dengan mudah. Pokoknya, semua hal dia permudah semudah-mudahnya, tanpa mempersulit sedikitpun.
Walaupun beberapa orang kerabatnya sempat terdengar ditelingaku mencibir, dengan mengatakan bahwa hidupku terlalu enak, datang tidak membawa apa-apa, namun di beri tempat istimewa. Istilahnya, hanya modal dengkul saja, namun tak kuhiraukan. Seperti yang Dewi bilang, biarlah Anjing bergonggong dan Kafilah berlalu.
"Kenapa? Apa kamu terlalu cinta sama Mas, hemmm?" Aku mencoba menggodanya.
Dewi merebahkan diri di sampingku, lalu memeluk tubuhku dengan erat. Hangat.
"Dewi hanya tidak ingin di khianati," ucapnya dengan lembut, berbisik di telingaku.
"Mas juga tidak akan tega untuk mengkhianatimu, Sayang! Dimana lagi Mas akan menemukan wanita sepertimu. Mungkin, jika Mas menghabiskan seluruh sisa hidup Mas sekalipun, berkeliling dunia untuk mencari wanita yang persis seperti Dewi, itu hanya akan sia-sia. Sebab, wanita berhati mulia itu hanya tinggal Dewi seorang saja di dunia ini."
"Sungguh?"
"Hemmm."
"Alah, nanti Mas cuman gombal aja." Dewi mencubit perutku dengan manja.
"Mas, serius," ucapku meyakinkan. Dengan menatap bola matanya dalam.
"Itu karena Mas belum melihat wanita lain di luar sana."
"Tidak. Mas tidak akan melihat mereka."
"Itu karena hidup kita susah, Mas! Jika hidup kita senang, kaya raya, apa Mas masih sanggup untuk menjaga hati Mas untuk Dewi seorang?"
"Insya Allah."
"Serius?"
"Hemmm."
Dia kembali memeluk tubuhku erat. Alunan napasnya bergejolak naik turun membelai kulitku dengan lembut, juga terasa hangat. Ah, betapa nikmatnya menikah dan memiliki istri sah seperti ini. Apalagi jika kebutuhan hidup kita telah terpenuhi semuanya. Ah, rasanya jadi pengen traveling kemana-mana. Seperti mendaki gunung dan melewati lembah, misalnya.
Aku membalas pelukannya dengan hangat pula. Mencium keningnya secara perlahan dan berulang. Kulirik Dewi terpejam sambil tersenyum, pasrah menerima setiap kecupan yang mendarat di kulit lembutnya. Mulai dari kening, pipi, bibir dan akhirnya aku jadi menjelajah kemana-mana. Mulai dari mendaki gunung hingga memasuki kawah lembab yang tersembunyi di balik lahan gambut. Menikmati suasana pengantin baru berdua saja. Tanpa takut terdengar oleh orang lain dari luar sana.
Mungkin, hal ini yang diinginkan oleh Dewi dengan mengajakku untuk pindah cepat-cepat dan tinggal di rumah sendiri. Dia bisa bebas mengekspresikan hasratnya dengan berteriak manja yang membuatku semakin bergairah. Rasa letih siang tadi hilang sejenak tertutupi oleh hawa nafsu yang membara.
"Berapa ronde kita malam ini, Yang?" Suaranya terdengar manja, berbisik di telingaku, menggoda.
"Dewi mau berapa ronde, hemm," jawabku membalas bisikannya dengan menancap gas lebih kencang.
"Lama," desahnya, terdengar semakin menggairahkan.
"Yah, udah keluar," ucapku sembari mengurangi kecepatan gerakan naik turun.
"Ish." Dewi menepuk lenganku sebal. "Mas curang."
"Abis Dewi sih, mainnya berisik amat," jawabku ngos-ngosan.
"Curang," hardiknya lagi.
"Besok aja kita sambung ya!" Aku membujuknya agar jangan sampai merajuk.
Belakangan ini, aku tidur lebih awal dari biasanya dan sempat menolak ajakannya hingga beberapa kali karena faktor kelelahan, sehingga Dewi terlihat ketus padaku pada keesokan harinya. Untuk malam ini, biarlah kusenangkan hatinya terlebih dahulu. Entah itu pula yang menyebabkan rezekiku sulit dalam beberapa hari terakhir. Karena aku tidak menyenangkan hati istri terlebih dahulu.
"Curang," ucapnya lagi. Sewot.
"Oke. Oke. Abis ini kita ulangi lagi."
"Bener?"
"Iya, Sayang."
"Jangan tidur dulu ya."
"Iya. Iya."
Dewi tersenyum dan kembali memeluk tubuhku. Menunggu agar si kecil mau bangun lagi. Sesekali, dia mencoba membelai agar si kecil terjaga. Lama dia berusaha agar si kecil merasa terganggu dan tertantang kembali.
"Ngapain, Yang?" tanyaku saat melihat kerjaannya ditengah malam buta begini.
"Bangunin tuyul."
Kami tertawa lepas bersama, melupakan sejenak kehidupan di dunia nyata. Sebelum esok pagi datang menyongsong, saat matahari mulai menyingsing kembali kepermukaan bumi dari ufuk timur. Saat itu pula, kegalauan jiwa kembali melanda. Ketika aku akan kembali mengayuh sepeda pemberian mertua untuk mencari rezeki, menafkahi keluarga kecilku kini.
"Tadi Mas, keluarnya dimana?" tanya Dewi setelah kami terbaring lemas di peraduan karena kehabisan tenaga.
"Ha," jawabku setengah mengantuk.
"Tadi ngeluarinnya di mana?"
"Di dalam. Emangnya kenapa?" tanyaku lagi dengan mata yang mulai terasa berat.
"Kok didalam, sih! Bagaimana kalau Dewi hamil?" ucapnya khawatir.
"Haaa."
Bagaimana kalau dia hamil? Apa yang harus kami lakukan jika Dewi sampai hamil? Dari mana kami akan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan anak kami nanti. Mulai dari popoknya, biaya melahirkannya, dan tetek bengek lainnya. Sedangkan pekerjaan yang sedang aku geluti ini tidak begitu menjanjikan. Jangankan untung, malahan lebih sering rugi dan termakan modal.
Ada rasa getir yang melanda jiwa kami berdua. Sehingga kenikmatan sesaat tadi hilanglah sudah.
Sejak awal menikah pun, kami telah berencana untuk tidak memiliki momongan terlebih dahulu. Kami berdua berencana ingin meniti karir terlebih dahulu, dengan bekerja bersama-sama untuk membangun setidaknya sebuah rumah agar ada tempat untuk bernaung. Tidak tinggal di rumah kontrakan seperti ini.
Setelah itu, barulah merencanakan untuk memiliki anak. Dari segi usia pun kami masih tergolong muda. Usiaku dua puluh tiga dan Dewi dua puluh lima. Jika kami mampu mendirikan sebuah rumah dalam tempo waktu sepuluh tahun, berarti usiaku masih tiga puluh tiga dan usia Dewi tiga puluh lima. Masih muda. Masih usia ideal untuk melahirkan. Tapi bagaimana kalau Dewi sampai kebobolan dan hamil?
"Makanya, kalau lagi ena-ena itu jangan sampai terlena. Pokoknya Dewi tidak mau kalau sampai Dewi hamil ya! Mas harus tanggung jawab," ucapnya ketus menyalahkanku.
Padahal, kesalahan ada pada kami berdua. Kenapa cuma aku yang harus bertanggung jawab. Bukankah hal itu harus kami tanggung jawabi berdua? Orang yang buatnya juga sama-sama. Ah, payah. Wanita memang egois. Sukanya hanya ingin menang sendiri dan menyalahkan orang lain.
"Iya. Iya. Sudah, Dewi tidur saja. Mas juga sudah ngantuk. Takut besok kesiangan," ucapku untuk menenangkannya. Padahal, aku sendiri pun ikut merasa galau dan merasa ingin di tenangkan juga.
Bagaimana jika Dewi sampai hamil dan punya anak? Pertanyaan itu terus menerus mengisi otak dan pikiranku.
Ah, memang susah kalau hidup miskin. Bahkan hanya untuk punya anak saja pun rasanya masih takut. Takut jika anakku nanti menyesal lahir ke dunia ini karena terlahir dari keluarga miskin seperti kami. Di hina dan senantiasa di rendahkan. Dan aku tak mau anakku kelak mendapatkan perlakuan seperti itu.
****

Komento sa Aklat (68)

  • avatar
    LiyduLismawati

    kirain endingnya bakal nyesel selingkuhin istri. eh malah diapresiasi. kirain ada cerita istri sah mau pisah berjuang demi anak sendiri. eh malah mau dimadu tinggal serumah lagi. keki bacanya langsung loncat aja ke ending pengen liat. taunya mengecewakan kaum istri sah

    20/08/2022

      0
  • avatar
    Sitinorsaidatul Jannah

    yaallah sedap betul kisah cerita ini dia bagi pengajaran untuk kita semua, supaya kita lepas ini berhati hati . dah ada isteri tapi masih nak bergatal dengan perempuan lain jenis tak cukup sorang kalau boleh di saya ini saya pijakkk gitu

    27/07/2022

      0
  • avatar
    PratamaIqball

    bagus sekali saya suka and senang🥰

    29/09

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata