logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

DUKUN SANTET

"Woy, Lia! Astaghfirullahaladzim…, dari tadi gue gedor, pencet bel, gak dibuka-bukain tu pintu!" itu dia pelakunya, bukankah seharusnya Talia yang mengamuk lantaran salah satu kaca kamarnya dilempari dengan batu hingga pecah begitu? Tidak, mana bisa dia marah pada seorang anak laki-laki di bawah sana.
Talia hanya bisa menghembuskan nafasnya perlahan, lalu turun dan dengan ogah-ogahan membukakan pintu untuk orang itu, "Gantiin kaca jendela gue yang lu pecahin ya! Atau kepala lu gue pajang di ruang tamu buat hiasan dinding kalo Mama gue ngamuk ya!" todong Talia dengan raut kesalnya.
"Buset, iya iya ah bawel, segala kena pula tu batu ih! Biasanya pun meleset, bisa-bisanya kena, ck!" cengirnya sembari berdecak dengan tanpa merasa berdosa. Lalu dengan santainya dia masuk dan duduk di salah satu sofa di depan televisi sembari menyomot snack dalam toples di atas meja.
Talia hanya bisa menggeleng melihat tingkah orang yang tengah menguasai ruang keluarga rumahnya itu, "Eh kok ni keripik rasanya aneh yak? Kek-,"
"Astaghfirullah, itu 'kan udah kadaluwarsa, Ja! Kenapa sih bego banget?! Makanya kalo apa-apa ditanya dulu!" Talia langsung panik dan berlari ke arah dapur untuk mengambilkan segelas air.
"HAH?! UHUK UHUK…!" dengan segenap kekuatannya Muhammad Reza Renaldi (sahabat karib Talia) mencoba untuk memuntahkan kembali apa yang barusan masuk ke kerongkongannya.
Setelah meminum segelas air yang dibawakan Talia, Reza langsung menatap tajam Talia. "Bisa-bisanya lu biarin cemilan kadaluwarsa masih di sini! Harusnya sebelum gue makan lu bilang dulu! Ini emangnya pembantu-pembantu lu gak tahu kalo ini makanan udah kadaluwarsa?! Bik Surtiii! Bikkk!" Reza dengan sikap cerobohnya malah menyalahkan orang lain dan memanggil pembantu rumah Talia, Talia hanya bisa mendengus kesal.
"Za! Bik Surti udah tidur! Gila ya lu?! Malem-malem bikin onar di rumah gue! Pulang lu!" usir Talia meluapkan kekesalannya.
"Oh iya, bentar! Kok gue lupa ya… Tadi tujuan gue ke sini apaan ya?" Reza tampak bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Bentar, sejak kapan lu ke rumah gue harus punya tujuan? Eh kambing berok! Gue capek seharian keliling nyariin barang-barang buat besok, gue mau istirahat!" Talia mencoba mendorong Reza dengan tenaganya yang tak seberapa agar Reza keluar dari rumahnya.
"Bentar dulu, is… Beneran tadi gue ke sini ada tujuan! Eum… Mau bilang apa ya, aduh lupa!" Reza masih berusaha keras mengingat apa yang akan disampaikannya kepada Talia sembari menahan dorongan perempuan bawel tersebut.
"Oh iya! Tadi siang gue ketemu sama cowok 'kan! Mungkin umurnya di atas kita satu tahun atau mungkin seumuran, gue ngeliat di dompetnya kok ada foto masa kecil lu! Sumpah itu mata gue yang siwer atau gimana ya? Waktu gue tanya, dia langsung tutup dompetnya, Njir! Terus dia kabur." ucap Reza heboh.
"Foto masa kecil gue? Siapa? Lu ketemu dimana?" tanya Talia yang malah ikut penasaran.
"Ya gue gak kenal, kalo gue kenal ya gak mungkin gue tanya elu. Gue ketemu di-," Reza tiba-tiba menjeda kalimatnya, membuat Talia semakin penasaran.
"Di?" tanya Talia menunggu sambungan kalimat Reza yang terjeda, "Di… Ah, gue lupa! Hehehe," cengir Reza yang membuat Talia semakin mengernyitkan dahinya. Entahlah, Talia merasa Reza tengah menutupi sesuatu darinya.
"Lu nutupin sesuatu ya dari gue?" selidik Talia menyipitkan matanya.
"Aduh, gue kebelet poop! Bye, Lia!" Reza malah sesegera mungkin keluar dari rumah Talia.
"Foto masa kecil gue?" gumam Talia penasaran.
Keesokan harinya…
Saat ini Talia tengah menahan kesalnya lantaran harus menunggu seorang Reza yang selalu saja membuat Talia menunggu lama di setiap paginya. "Za! Cepetan loh, ini kasian Talia nungguin kamu dari tadi!" pekik Mama Reza yang ikut merasakan kesalnya Talia harus selalu sabar di setiap harinya ketika menunggu Reza berkemas untuk pergi ke sekolah bersama.
"Sabar ya, Lia." ucap Mama Reza tak enak hati. Baginya Talia sudah seperti anaknya sendiri, mengingat mereka bertetangga sangat dekat dan juga persahabatan yang terjalin antara Reza dan Talia memang sudah sedekat itu.
Reza dan Talia menjalin persahabatan sejak awal Talia pindah ke Jakarta, meski pun menyebalkan dan sedikit gila… Bagi Talia, Reza adalah sosok sahabat yang sangat baik. Hal itu membuat Talia kembali mengenang masa awal dimana dia mengenal seorang Muhammad Reza Renaldi dan juga Mamanya yang baik hati.
Sosok Reza hadir di saat Talia merasa dirinya sendiri, ketika Talia sedang terpuruk dan tertekan setelah kehilangan Bik Ranti (pembantu setia keluarga Talia yang telah meninggal dunia). Reza hadir dengan segala kekonyolannya yang mampu membuat Talia kembali merasakan mempunyai seorang teman setia yang rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.
Talia tak akan pernah melupakan moment dimana Reza rela menggendongnya dari sekolah hingga ke rumah di saat mereka kelas VII SMP, yang mana saat itu kaki Talia tengah terluka akibat terjatuh. Talia rasa lukanya saat itu sangatlah kecil, tapi perhatian yang Reza berikan teramat berlebihan hingga merepotkan dirinya sendiri karena merasa harus menggendong Talia hingga ke rumah.
Tak lama berselang, turunlah Reza dengan tampang tak berdosanya sembari meniup-niup rambut bagian depannya. "Gimana? Ganteng gak gue? Ganteng dong ya," ujarnya percaya diri menunjukkan wajah tengilnya di hadapan Talia dan Mamanya.
"Kamu tu, Za! Kasian Lia harus nungguin kamu tiap pagi, lama banget!" omel Mama Reza.
"Ma, namanya hari pertama masuk sekolah itu harus punya image baik di mata para senior. Kan kalo anaknya wangi, rapi, bersih, dan ganteng. Mama gak akan malu!" balas Reza teramat percaya diri.
"Dih teramat PD lu, Ja! Nih mamam nih topi orang gila!" Talia langsung memasangkan topi kerucut yang terbuat dari kardus yang dilapisi banyak permen dan juga tali plastik sebagai penghiasnya. Talia pun segera mencium punggung tangan Mama Reza, lalu mendorong-dorong tubuh Reza setelah Reza mencium punggung tangan Mamanya. "Cepetan! Ntar telat kita kena hukum!" oceh Talia yang gemas sedari tadi.
"Adoooh, repot banget mau MPLS doang! Ni topi juga ngapain lagi ... merusak ke aesthetic-an seorang Muhammad Reza Renaldi!" rutuk Reza seraya berjalan cepat menyusul Talia yang sudah lebih dulu keluar.
Benar saja, saat tiba di parkiran SMAN Lohari mereka kebingungan harus parkir dimana, disebabkan parkiran yang sudah teramat penuh akan kendaraan siswa lainnya.
"Duh parkir dimana nih? Penuh lagi," keluh Reza kebingungan.
"Elu sih! Kalo kesiangan ya pasti kek gini nih, ntar kalo kita telat masuk ruang gugus gimana dong?!" amuk Talia yang benar-benar kesal pada Reza.
Pasalnya Talia sudah sangat mewanti-wanti agar Reza tidak bangun kesiangan, bahkan sedari Talia bangun dia langsung menelepon Reza untuk membangunkannya. Tetap saja usahanya itu sia-sia, Reza akan sangat sulit dibangunkan ketika pagi hari. Sekalipun ada gempa, mungkin Reza tetap tidak akan bangun. Sebegitu cintanya dia terhadap kasurnya.
"Aman, kalo pun kena hukum ya bareng-bareng lah. Hahahaha," tawa Reza tanpa merasa berdosa.
"Itu tuh, kosong!" tunjuk Talia saat melihat ada celah untuk Reza memarkirkan motornya dengan aman.
Baru saja Reza berniat menjalankan motornya ke arah tempat parkir itu, sebuah motor ninja lebih dulu menyalip dan memarkir di sana. "Eh, woy! Gue duluan yang mau parkir di sana!" amuk Reza pada seorang anak laki-laki berseragam rapi dan lengkap dengan atribut MPLS seperti yang Reza dan Talia kenakan.
"Maaf, tapi aku lebih dulu nempatinnya," ujarnya sedikit melirik ke arah Talia yang diam tak berkutik. Setelah itu anak laki-laki tersebut berlari kencang ke arah salah satu ruang gugus yang bersebelahan dengan ruang gugus Talia dan Reza.
"Adoh! Parkir dimana dong?!" Talia benar-benar takut jika dia akan dihukum di hari pertama masuk MPLS.
"Santai, parkir aja di sini," ucap Reza dengan santainya memarkir dimana tempat itu adalah lorong keluar-masuknya kendaraan para siswa.
Setelah itu Reza dan Talia bergegas memasuki ruang gugus mereka dimana di sana sudah berdiri beberapa senior yang siap memarahi mereka yang terlambat.
"Permisi," ucap Talia dan Reza bersamaan. Salah seorang senior perempuan mendatangi mereka, "Telat 'kan? Tahu 'kan apa hukumannya?" ucapnya dengan raut wajah datar yang cenderung tampak galak.
"I-iya, Kak." jawab Talia gemetar, dia benar-benar takut menghadapi situasi seperti ini.
Saat itu juga Reza malah tersenyum ke arah senior tersebut, lalu menggenggam tangan kanan Talia yang mulai gemetar, "Berjemur satu jam di bawah tiang bendera 'kan, Kak?" tanya Reza yang masih setia dengan senyuman manisnya.
"Ck! Iya, sekarang jam 07.40, ntar jam 08.40 masuk ke ruang gugus! Pacaran terus!" ucap Sang senior dengan nada ketusnya.
Setelah itu Talia dan Reza langsung berjemur di bawah tiang bendera sesuai perintah, "Maaf ya, Lia." ujar Reza merasa menyesal sudah membawa Talia pada sebuah masalah.
"Iya ga apa," jawab Talia dengan sedikit tidak ikhlas menjalani hukuman yang harusnya dia tidak terlibat.
Di lain tempat seorang anak laki-laki tengah dimarahi seniornya lantaran terlambat dengan alasan membelikan Ibunya obat terlebih dahulu sebelum pergi ke sekolah. "Klasik! Ga ada alasan lain kah?! Tega banget jadi anak, mengambinghitamkan Ibu biar gak kena hukuman gitu?!" marah salah seorang senior laki-laki.
Anak itu hanya tertunduk, merasa bahwa dia pun salah. "Ini apa lagi?! Kalung anjing? Atau jimat?! Tahu gak kalo peraturan di sekolah ini gak boleh pake aksesoris berlebihan?! Baru juga MPLS udah belaga dukun beranak! Buka kalung lo sekarang juga!" perintah senior tersebut, anak laki-laki itu tak bergeming, dia malah menggenggam erat liontin kalungnya.
"Buka sekarang, atau mau gue yang bukain?!" bentak Sang senior.
Anak laki-laki itu sedikit terkejut, tapi masih juga tak berniat sedikitpun untuk melepaskan kalungnya. "Oh, ngelawan! Sekarang lu pilih, mau lepas tu kalung jimat atau berjemur di bawah tiang bendera selama satu jam?!" ujar senior itu memberi pilihan.
Dengan gerakan cepat anak laki-laki itu berlari ke arah tiang bendera dan bergabung dengan Talia dan Reza yang juga tengah menjalani hukumannya. Senior yang melihatnya pun hanya bisa menggeleng, "Gila ya? Demi kalung jimat bela-belain dijemur! Jangan-jangan tu kalung beneran jimat," Gumamnya.
Talia sesekali mencuri pandang pada kalung yang tengah dipakai oleh anak laki-laki itu. Ada satu hal yang membuatnya penasaran akan benda tersebut, dia ingin menanyakan tentang benda itu, tapi… Dia tak memiliki keberanian yang cukup, Talia hanya merasa takut disangka terlalu ingin tahu urusan orang lain. "Kena hukum juga 'kan? Hahaha," ledek Reza memecah kecanggungan, sementara anak laki-laki itu tersenyum, "Iya."
"Buset, tu kalung gede banget bandulnya, Bro. Lu… Ngapain pake begituan? Dukun santet lu?" tanya Reza dengan gamblangnya. Sementara Talia sibuk mengipas-ngipasi wajahnya, entah hanya perasaannya kini cuaca yang terlalu cepat berubah-ubah atau memang cuaca hari ini cukup terik baginya.
Memang! Reza memang selalu bisa mewakili pertanyaan Talia meski dengan caranya sendiri. Anak laki-laki itu hanya menerbitkan senyum manisnya yang mampu membuat Talia terlalu sering mencuri pandang padanya.
"Dih, ini Si Lia apaan dah? Salting? Suka kah sama ni anak?" batin Reza yang merasa janggal dengan sikap Talia.
Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari speaker sekolah...
🎙️Cek, cek… Perhatian, harap perhatikan kendaraan kalian. Motor dengan nomor kendaraan B 1993 B, jenis Matic Scoopy, yang parkir sembarangan harap segera pindahkan motormu, ditunggu lima menit dari sekarang, jika tidak juga berkutik maka dipastikan motor itu tidak akan baik-baik saja.
Jelas sekali Talia, Reza, dan anak laki-laki yang bersama mereka mendengar seruan dari speaker sekolah itu. Tapi mereka malah asik mengobrol dan saling berkenalan satu sama lain, "Bro, nama lu sape? Kok gue kek pernah liat lu ya? Tapi dimana ya? Lupa gue!" cerocos Reza.
"Dih sokab!" celetuk Talia meledek Reza. Talia pun mencoba menyamankan situasi dan mulai berani bersenda gurau di hadapan anak laki-laki tersebut.
"Heh! Beneran, Lia. Gue kek pernah liat ni anak, tapi enggak inget dimana dan kapan," balas Reza yakin.
"Namaku Alfarizi Rahmatullah, panggil aja Far-," belum tuntas kalimatnya, Reza lebih dulu memotong ucapannya.
"Bodo amat siapa nama lu, pokoknya gue panggil lu Dukun Santet! Hahahaha," ledek Reza, puas menertawakan bandul kalung Fariz yang tampak terlalu besar dan berlebihan jika dipakai oleh anak SMA sepertinya.
Sepulang sekolah mereka benar-benar merasa lelah lantaran kegiatan MPLS yang cukup menguras tenaga. Saat Reza dan Talia baru saja akan menunggangi motor kesayangan milik Reza, tiba-tiba Reza merasa ada yang janggal dengan motor kesayangannya itu. "Lia, coba lu check ban motor depan, kok kek ada yang aneh ya?" pinta Reza, saat itu juga Talia memelototkan matanya. "Za! Kok ban motor lo belah-belah kek gini?!" Talia syok melihat keadaan ban motor Reza yang sudah tidak baik-baik saja.
"Astaghfirullahaladzim! Berarti motor yang tadi disiarin itu motor gue?! Adohhh, pasti diomelin Mama nih sampe rumah!" keluh Reza meratapi nasibnya ketika sampai di rumah nanti.
"Kita ke bengkel aja dulu, benerin. Ntar kita kongsi" usul Talia memberi solusi.
"Gak perlu, duit gue masih cukup buat benerin ni motor, masalahnya gue udah janji bakal nemenin Mama buat kue siang ini, kalo ganti ban 'kan pasti lama!" rutuk Reza frustasi.
"Y-ya terus gimana dong?" Talia.
"Eummm…," di saat Reza tengah berpikir, tiba-tiba motor Faris melintas dan tersenyum ke arah mereka. "Eh! Dukun Santet, minta tolong dong!" panggil Reza yang membuat Talia bertanya-tanya tentang hal gila apa lagi yang akan dilakukan sahabat gilanya itu.
Fariz pun berhenti tepat di dekat Reza dan Talia, dia membuka helmnya lalu bertanya, "Minta tolong apa?" tanyanya dengan ramah.
"Eum, lu tolong anterin Lia pulang ya." ucap Reza tanpa merasa sungkan. "Lia, lu pulang duluan aja, ntar kalo Mama gue tanya bilang aja gue lagi benerin motor, okay! Sana deh cepetan, ntar Mama gue ngamuk." Reza sedikit mendorong bahu Talia. Talia tercengang dengan mata yang memelotot mendengar kalimatnya barusan, bisa-bisanya Reza menitipkannya pada anak laki-laki yang bahkan baru mereka kenal. Padahal biasanya Reza akan sangat teramat posesif dan tidak akan pernah mengizinkan Talia menumpang dengan siapapun kecuali dirinya, bahkan tukang ojek sekali pun.
"Za!" seru Talia menyadarkan Reza akan kekhawatirannya.
Reza yang sangat mengerti sikap Talia pun mencoba menenangkannya. "Aman kok, gue percaya sama dia." ucap Reza meyakinkan Talia.
"Eh, gue titip Lia ya, jangan lu apa-apain, berani lu macem-macem… Gue jadiin lu kurban tahun depan!" gertak Reza untuk menyakinkan Talia sembari menyipitkan matanya ke arah Fariz, Fariz pun terkekeh. "Inshaa Allah, aman." ujarnya yang membuat Talia tenang saat melihat senyum manis seorang Alfarizi Rahmatullah.
Di sepanjang perjalanan terasa begitu canggung lantaran tak ada yang berani memulai percakapan. "Eum… Kalungmu bagus," ujar Talia mencoba mencairkan suasana yang tampak begitu tegang.
"Hehehe, iya. Makasih," entahlah, Fariz pun bingung harus merespons seperti apa.
Setelah itu mereka kembali larut dalam keheningan yang menyisakan suara halus knalpot motor Fariz dan suara terpaan angin yang menampar wajah keduanya.
"Abis ini belok kanan atau kiri?" tanya Fariz.
"Kanan," ucap Talia seadanya.
Setibanya di depan gerbang rumah Talia, Talia berniat untuk berbasa-basi. "Mau mampir dulu?" tawarnya.
"Eum, langsung aja deh ya, soalnya buru-buru juga," Fariz tersenyum kikuk.
"Makasih ya, maaf juga udah ngerepotin," ucap Talia tak enak hati.
"Santai aja," jawabnya yang tak lupa diselingi senyuman manis.
Entah apa yang Talia alami saat ini, yang jelas ketika melihat senyuman Fariz dia merasa nyaman dan tenang.
Setelah berberes-beres Talia langsung menuju ke rumah Reza untuk menemani Mama Reza membuat kue. Ya, rumah Talia dan Reza memang sangat dekat, mungkin hanya terhalang oleh satu rumah di samping kiri.
"Assalamualaikum, Tante… Lia mau-"
"AAA!!! KEBAKARAN! TOLONG!" terdengar lulungan suara Mama Reza yang begitu nyaring membuat Talia hampir saja terlonjak kaget lalu dengan segera berlari ke arah dapur rumah itu.
To be continued...

Komento sa Aklat (3)

  • avatar
    Nur ainahAinah

    bagus banget

    13/11/2024

      0
  • avatar
    RamadhaniSuci

    Baguss

    03/08/2024

      0
  • avatar

    Ih keren critanya😳😳😳🥺

    26/08/2022

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata