Rio yang sedang duduk santai, dia pun merasa pengen merokok, kini dia merogoh saku celana nya kemudian mengeluarkan satu bungkus rokok dan mengambil satu batang saja. Tak lama dia mengambil korek api lalu menyalakan korek api membakar ujung rokok tersebut, sedetik kemudian lelaki itu menghisap rokok nya dan mengeluarkan asap dari mulutnya. "Besok gue bakal akan memberitahu Dion, kalau gue setuju mendekati wanita itu,"monolog dalam hati Rio seraya merokok. Kemudian melamun, memikirkan agar bisa mendekati Diana. Dibalik pintu ada seorang wanita paruh baya memanggil-manggil namanya. "Rio!" teriak Mommy nya yang bernama Arin. "Rio!" "Rio!" "Riiio!" "Gue udah mikirin ide-ide untuk mendekati Diana,"gumam Rio sambil tersenyum tipis. "Semoga saja gue bisa menaklukkan hati Diana ,"monolog dalam hati Rio, yang masih tenggelam dalam lamunannya. "Rio!" "Rio!" "Riiiiiioooooo!"teriak Arin. Arin mendengus kesal sekali. "Nggak kedengaran apa sama kamu?"tanya Arin. "Kedengaran, Mom,"jawab Rio dengan keras. "Soalnya Mommy kan berteriak dengan keras, ini kuping juga bentar lagi budeg,"ucap Rio dengan berteriak. "Bukain pintunya kalau gitu,"titah Mommy nya. "Buruuuaaan!"teriak Arin sangat keras. "Bentar napa, Mom. Orang bukain pintu juga, perlu jalan ke depan pintu,", timpal Rio. "Heh anak dajal! Nimpalin terus omongan ortu, kualat, mampus!"Arin mengumpat. "Semoga aja, nggak kena,"gumam Rio sangat pelan. "Pintu pake dikunci lagi, ngapain sih di dalem pake acara dikunci segala?" teriak Arin lagi. "Ya, pengen aja didalam, Mom"timpal Rio dengan keras. "Dikunci pintu supaya nggak ada yang main masuk aja ke kamar,"imbuh Rio dengan keras. "Siapa yang bakal masuk ke dalam kamar kamu, tikus,"ucap Mommy nya sinis. "Kucing,"jawab Rio. Rio sambil mendengus kesal berjalan ke depan pintu, tak lama tangannya membuka kunci pintu lalu membuka pintunya. "Kebiasaan banget yah, kunci motor tuh nggak dibawa! Keenakan maling nya nanti bawa motor kamu! Kamu tuh memang ceroboh banget!" teriak Arin kesal karena anak nya bandel kalau diomongin. "Iya, Rio lupa, Mommy," jawab Rio santai abis. "Lupa mulu! Sudah berulang kali Mommy bilang jangan jadikan kebiasaan buruk habis pakai motor nggak dibawa kuncinya,"teriak Arin seraya ke motor kepala anaknya. "Iya.. Iya... Rio janji nggak ngulangin nya lagi," janji Rio. "Rio, kamu tadi nggak kabur kan waktu jam pelajaran belum selesai?" tanya Arin menyelidik. "Nggak kok, Mommy," jawab Rio. "Nggak mungkinlah baru masuk ke sekolah berulah," tambah Rio membuat Arin menjewer kuping anaknya. "Iya, Mommy. Rio janji akan jadi murid yang baik," ucap Rio dan Arin melepaskan jeweran nya ke telinga anaknya. "Kalau nggak lupa," sambung Rio dan Arin mencubit pinggang anaknya. "Mommy! Sakiit tahu!" pekik Rio. "Rio, kamu ke warung pak Jamal dong," titah Arin melembut. "Giliran nyuruh ke warung, ngomong nya sangat lembut sekali," ujar Rio malas. "Yaudah, kalau kamu nggak mau disuruh sama Mommy. Kamu tadi makan kan sehabis pulang sekolah-" ucap Arin terpotong. "Ya Iyalah Mommy kan lapar," sela Rio dengan cepat. "Rio makin besar, kamu bisanya melawan sama Mommy and Daddy!" teriak Arin kesal. "Belum selesai ngomong, ini mulut main potong aja," kesal Arin seraya mencomot bibir Rio. "Kamu tuh cuma disuruh ke warung sama Mommy nggak mau. Gimana nanti kalau Mommy and Daddy tua," kesal Arin. "Ya di uruslah Mommy. Nggak mungkin Rio tega menelantarkan kedua orang tua," sela Rio. "Yaudah, Rio mau berangkat ke warung sekarang,"ujar Rio. "Sebutkan saja Mommy apa yang perlu dibelanjakan, mana uang nya?" kata Rio. "Nih," sahut Arin seraya memberikan uang pada Rio. "Shampo yang botol yang pantene yah, terus deterjen buat cuci baju, beli sabun batangan biar hemat, mie instan indomie goreng," pesan Arin. "Oke, sabun nya merek apa, Mommy?" tanya Rio kemudian. "Asal wangi saja, jangan sampai lupa, Rio," peringat Arin kepada Rio. "Rio, sebelum ke warung ganti baru dulu," henti Arin pada Rio yang belum sampai membuka pintu utama. "Untung diingetin," timpal Rio kemudian berjalan kembali ke kamarnya sedangkan Arin kembali ke kamar dirinya sendiri. Rio dengan cepat berganti pakaian, setelah itu lelaki itu keluar kembali dari kamarnya. Kemudian bergegas pergi ke warung dengan mengendarai motor nya. ** Berbeda dengan Diana yang disibukan dengan membaca buku pelajaran. Diana mendengarkan ponselnya berdering memilih mengabaikan saja karena dia sedang konsen membaca buku. "Diana," panggil Bunda nya. "Iya, Bunda," sahut Diana seraya menutup buku pelajaran yang dia baca. "Bunda, dikabarkan sama kakak Rania akan melahirkan bayi," Diah memberitahu anaknya. "Bunda, sementara waktu akan tinggal di rumah bude mu," lanjut Diah. "Iya, Bun," sahut Diana kemudian mendekati Diah. "Jaga diri baik baik yah," imbuh Diana seraya memberikan pelukan lalu menguraikan kembali. "Ayah, ikut Bun?" tanya Diana. "Nggak ikut menginap di rumah Bude. Tapi ayahmu nggak bisa nemenin kamu di rumah, karena ayahmu ada urusan pekerjaan diluar kota," tutur Diah. "Kamu nggak papa kan? Tinggal sendirian di rumah ini?" tanya Diah sembari menatap mata sendu Diana. "Nggak papah,"jawab Diana. "Yaudah, ibu mau pergi dulu,"ucap Diah kemudian berjalan pergi. "Ya, Bu, silahkan,"balas Diana. Sedangkan Diana sendiri setelah kepergian Diah, dia pun menutup buku pelajaran yang sedang terbuka itu. Setelah itu Diana pun memegang ponselnya yang sekarang tak berdering-dering lagi. Sekarang Diana pun dia menelepon balik Amara. "Hallo,"ucap Diana. "Hallo, Din,"ucap Amara. "Lo tadi nelepon-nelepon gue ngapain sih?"tanya Diana. "Gue tadi mau nanyain pr yang nomor tiga, gue susah banget menjawabnya,"ucap Amara. Diana pun memberitahu jawaban nya, setelah diberikan jawabannya Amara tanpa mematikan teleponan, Amara pun menuliskan jawaban di buku tulisnya. Setelah menulis nya, hp yang tadinya diletakkan di atas meja, kini dipegang kembali oleh Amara. "Sekarang dah gue tulis,"ucap Amara merasa senang. "Makasih yah,"ucap Amara berterima kasih sekali karena Diana memberitahu. "Iya,"sahut Diana. Sekarang Diana dan Amara berbincang-bincang seru. Setelah selama satu jam berbincang-bincang seru ditelepon, Diana dan Amara pun menyudahi perbincangan itu ditelepon, karena mereka berdua sudah mengantuk. "Sampai jumpa disekolah yah, Din,"ucap Amara. "Ya,"jawab Diana kemudian mematikan sambungan teleponnya. Setelah tak berteleponan lagi dengan Amara, Diana pun kembali membaca buku.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Tingnan Lahat