"Kemana sih?" tanya Rio dalam hati. "Sudah dikasih contekan gratis malah nggak menemani gue," rutuk Rio dalam hatinya. Rio kini melihat Si Tina dkk yang hendak keluar dari kantin dan berhenti di depannya," kok sendirian?" tanya Tina sambil menatap Rio yang wajahnya sangat tampan. "Iya gue sendirian nih,"jawab Rio. "Lo tahu Si Robby sama yang lainnya nggak?" tanya Rio pada Tina. "Udah cabut mereka dari kantin daritadi,"sela Ovie. "Biasanya oppa, mereka tuh ke lapangan basket," ujar Marina. Rio akhirnya berjalan meninggalkan Tina dkk," sudah diberitahu nggak mengucapkan terimakasih," Marina jengkel saat melihat Rio berjalan menjauhi dari mereka. "Isssshhhh," mendesis karena sebal. "Kasihan amat lu, Marimar," ejek Ovie. "Marina, kelllez," teriak nya tepat di telinga Ovie. "Ih Lo teriak-teriak nya tepat di telinga gue!" teriak Ovie. "Udah-udah kalian berdua, jangan ngemeng-ngemeng lagi,"tutup Tina. "Yuk, mendingan kita ke kelas aja," seru Tina pada ketiga temannya. "Ayuk, gue juga pengen bobo di kelas," seru Zahra sambil mengulurkan tangan ke Tina. Keempatnya berjalan menuju ke kelasnya dengan langkah sombong dan penuh percaya diri. Mereka anak orang kaya dan juga memiliki wajah yang cantik bak dewi. ** Rio melangkahkan kakinya menuju lapangan basket,"ternyata kalian pada disini," teriak Rio saat tiba di lapangan basket. Robby,Erik dan Dion lantas menengok kebelakang dengan kompak. "Elo ternyata," ucap mereka dengan serempak. "Mau ikut main basket?" tawar Robby. "Atau gantiin gue main, soalnya kaki gue kayanya encok." kata Robby hingga Rio menahan tawanya. "Kok malah tertawa sih, ini serius loh bukan lagi melawak," lanjut Robby. "Terserah loh deh, Rob," timpal Erik. "Kalian haus nggak? Nanti gue belikan kalian minuman," tanya Rio mencoba pendekatan karena ingin mempunyai teman. "Yaudah sono belikan minuman sekarang, soalnya sudah kehausan nih," balas Robby. "Yaudah gue belikan minuman buat kalian," ucapnya. Rio berjalan ke kantin, setibanya disana Rio membuka pendingin minuman. Secara kebetulan Rio hendak mengambil teh pucuk harum dan ada satu tangan yang akan mengambil botol minuman yang dipegang oleh Rio. "Lo lagi," teriak Diana kesal. "Kayaknya kita jodoh deh," ucap Rio membuat Diana muka nya memerah. "Ogah banget jodoh sama elo," tampik Diana sedangkan Rio dengan santai nya mengambil 4 botol teh pucuk harum lalu membayarnya ke penjaga kantin. Rio tak menjawab perkatan Diana, setelah membayarnya, dia melangkah dengan santai seperti bukan anak baru saja. Kini Si Rio sudah sampai di lapangan basket lagi. "Nih , Bro," teriak Rio kepada Erik, Dion dan Robby sembari berjalan menghampiri ketiga nya. Setelah didekat ketiganya, Rio pun memberikan minumannya ke Dion, Erik dan Robby. "Sial banget sih gue ketemu mak lampir mulu," ucap Rio. "Mak lampir?" tanya Robby. "Serius lo ketemu mak lampir?" tanya Robby tampak serius. "Lo kayaknya transmigrasi dari zaman dahulu ke tahun sekarang yah," selidik Robby. "Apaan sih lu, Robb," sembur Erik. "Nggak jelas amat sih, garing lu," lanjut Erik. "Orang bilang emak lampir sedangkan disini kan nggak ada murid yang namanya emak lampir," timpal Robby. Erik hanya memutar bola matanya malas. "Maksudnya Emak Lampir itu Diana, Rob," jelas Rio. "Ngomong dong dari tadi Si Diana itu Mak Lampir," sembur Robby. "Eh... Kenapa Si Dina disebut Mak Lampir?"tanya Robby dengan pelan. Rio mau menjawab, tapi keburu Robby berbicara. "Dia kan namanya Diana, sudah bagus itu namanya,"sela Robby. Rio mau berbicara, tapi Robby menyela ucapannya. "Oh iya... Dia kan.."ucap Robby terputus. "Berisik lo!"teriak Erik. "Daritadi nyela ucapan nya Si Rio mulu,"tegur Erik dengan suara yang keras. "Biarkan dia ngomong, Rob,"ucap Erik kemudian. "Silahkan,"jawab Robby dengan sopan sekali. "Kenapa sih dia itu sensi mulu bawaannya?" tanya Rio. "Si Diana?"tanya Dion kemudian. Rio menganggukkan kepalanya. "Dia itu orangnya emang jutek abis, dia itu paling nggak suka didekati pria." Dion memberitahu Rio. "Banyak banget sih di sekolah Galaxa yang ingin memacari Diana," lanjut Dion. Sedangkan Robby kini meneguk minumannya sampai habis tak tersisa,"ahhh, segarnya," desah Robby. "Iya gitu semua orang pada ditolak,"sambung Erik. "Mungkin anak-anak cowok yang sekolah di SMA Galaxa nggak ada yang sesuai kali sama kriteria pria idaman nya," sambung Robby. "Tapi Rio itu ganteng lo,"ucap Dion sambil menatap wajah Rio. "Jangan tatap gue gitu dong, gue ngeri jadinya,"ucap Rio ke Dion. "Tenang, gue masih normal,"ucap Dion kemudian. "Masih cinta ke betina dia,"ucap Robby. "Hooh,"nimbrung Erik. Rio hanya terdiam saja. "Rio, kata para ciwi ciwi lo itu kaya oppa korea," cetus Dion. "Berasa kaya Lee Min Hoo gue, kalau para ciwi-ciwi disini memandang gue terus," ucapnya sambil tersipu. "Tapi tidak semua ciwi-ciwi yang suka sama gue, ada satu ce..."ucapan Rio terputus. "Gue mau kasih taruhan sama Lo," ucap Dion dengan serius. "Taruhan?" tanya Rio membelalak. "Taruhan apa nih?" tanya Robby. "Gue juga mau ikut dong," lanjut Robby dengan menatap Dion penuh harap mengizinkannya. "Nggak usah taruhan lo mah, muka kaya babi juga," hina Dion tapi tak membuat Robby merasa sakit hati. "Ganteng lho gue," ucapnya dengan berpose bersedekap dada sambil mengerucutkan bibirnya. "Ganteng menurut lho doang," sambung Erik lalu mengejek Robby. "Orang taruhannya khusus buat Rio," sambung Dion. Rio mengerutkan dahinya dan menatap Dion ingin mengetahui taruhan nya apa. "Nggak ada saingan nggak asik," ucap Rio sambil mengedipkan matanya ke arah Robby. "Betul tuh, Si Rio juga pengen ada saingannya," Robby menimpali. "Lagipula gue suka tantangan," tambah Robby. "Sudah lah mending mulut lo diam saja," suruh Dion menyuruh Robby diam. "Gue akan memberikan hadiah yang sangat besar sekali, Rio," ucap Dion membuat Rio matanya berbinar. "Apa tuh? Bikin gue kepo aja," Robby sangat penasaran. "Uang 2 juta," ucap Dion dengan serius. "Taruhan gampang kok buat loh," ujar Dion. "Lo tinggal mau nya saja," lanjutnya. "Sini gue bisikin," Dion menyuruh Rio mendekatinya lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga Rio. Robby mendekati Rio berharap mendengar bisikan Dion. Setelah mendapatkan bisikan dari Dion, Rio menatap tak percaya jika Dion memberikan taruhan seperti itu. Sambil memundurkan tubuhnya hingga kakinya menginjak kaki Robby. "Arrrggh," Robby mengerang kesakitan lalu Rio yang menyadari kakinya menginjak pun segera melepaskan pijakan kakinya. "Sorry, Rob," ucap Rio meminta maaf. "Lagian loh sendiri ngapain deket gue segala," Rio menyalahkan Robby yang merengutkan wajahnya. "Sudahlah Robb, maafkan saja Rio," ucap Erik menyuruh sahabatnya memaafkan Rio. Sedangkan Rio menganggguk kepalanya membenarkan ucapan Erik. "Hooh, gue maafin," jawab Robby dengan terpaksa. "Makasih, Robby," ucap Rio dengan senang. "Rio, gimana lo mau kan?" tanya Dion memastikan. "Nggak mau," tolak Rio. "Yakin nggak mau?" tanya Dion merasa kecewa. "Yakin nggak nyesel menolak taruhan dari gue?" tanya Dion dan berharap Rio berubah pikiran. "Kalau loh nggak mau nerima taruhan ini, gue nggak mau menjadikan lo sebagai teman,"lanjut Dion. "Kok gitu sih," kesal Rio. "Itu namanya pemaksaan," tambah Rio. "Bodo," sahut Dion lalu pergi dari lapangan basket. Erik dan Robi mengekor dibelakang Dion ke kelas. Bertepatan itu bel berbunyi sangat nyaring. Para siswa dan siswi berhamburan memasuki kelas nya masing masing. *** Pulang dari sekolah Rio memikirkan tawarannya yang diberikan Dion jika dia menerima taruhan bakal dikawani. Sekaligus kalau berhasil mendapatkan hadiah uang tunai senilai 2 juta. "Terima apa nggak yah," Rio kebingungan. "Terima saja deh. Siapa tahu aku bisa memenangka taruhannya," gumam Rio pelan dan yakin bisa memenangkan taruhan yang diberikan Dion.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Tingnan Lahat