"If there weren't winter, spring wouldn't be so beautiful" _Anna Bradstreet_ 🌸🌸🌸 Ayumi mengetuk pintu apartemen Keiko, "Ayumi-chan." "Ya, siapa?" Seorang pria terlihat membuka pintu. "Kahiro-kun," pekik Ayumi. "Lama tak berjumpa. Darimana saja kau?" Kahiro adalah kakak laki-laki Keiko. Ia kerap menginap di apartemen Keiko ketika mendapat pekerjaan di daerah Tokyo. Kahiro mengedikkan bahu, "Aku berkeliling Jepang untuk memotret segala keindahan yang ada. Termasuk para model cantik," kekehnya. Sebagai potografer, Kahiro memang sering bepergian. "Oneesan, masuklah!" perintah Keiko saat menghampirinya. "Apa itu?" Keiko menoleh memperhatikan barang bawaan Ayumi. "Makanan. Aku memasak makanan yang cukup banyak tadi." "Ada perayaan apa?" tanya Kahiro, yang tiba-tiba merangkul Ayumi. Keduanya memang akrab seperti saudara. "Ini perayaan karena kamu datang." Ayumi bertepuk tangan membuat Kahiro mengangkat alis heran. "Darimana kau tahu aku akan datang?" tanyanya penuh selidik. "Hmm ... dari media sosialmu. Kau mengupdate story yang berisi tiket kereta bukan?" Untung saja Ayumi sempat melihat update terbaru dari Kahiro, sehingga ia mempunyai alasan yang bisa diterima akal. "Wah, aku sangat tersanjung dengan penyambutanmu ini." "Kau harusnya berterima kasih pada Ayumi Oneesan, kau sedang lapar, kan?" Keiko membuka rantang makanan dan menatanya di meja makan. "Kemarilah, kita makan bersama." Kahiro menarik tangan Ayumi menuju meja makan. "Kemampuan memasakmu sepertinya meningkat, Ayumi-chan," puji Kahiro. Makanan yang awalnya di peruntukkan untuk Jeno harus Ayumi nikmati dengan orang lain. Jeno tiba-tiba menghubungi Ayumi mengatakan bahwa ia tak bisa pulang cepat karena temannya yang tidak lain adalah wanita Korea yang Keiko ceritakan, mengajaknya makan malam bersama. Ayumi sedikit merasa kecewa, lantas mengapa tadi ia mengiyakan ajakan Ayumi? Jika acaranya mendadak, setidaknya Jeno mendahulukan Ayumi yang terlebih dahulu membuat janji, pikirnya. 🌸🌸🌸
Suara ketukan pintu menghentikan kegiatan Ayumi yang tengah menyaksikan salah satu variety show yang berasal dari negara Jeno—Korea Selatan. Ayumi membuka pintu dan memaksakan senyumannya saat melihat Jeno berdiri di depan sana. "Kau sudah pulang? Bagaimana pemotretannya? Semuanya lancar, bukan?" Rentetan pertanyaan terucap dari bibir kecil Ayumi. "Maafkan aku, Ayumi," bisiknya, dengan air muka lesuh. "Hei! Mengapa harus meminta maaf, kau tak salah? Sebagai seorang model aku juga tahu bagaimana etika terhadap partner kerja." "Meski demikian, aku tetap ingin meminta maaf," sesalnya menunduk, wajahnya terlihat sedikit murung. "Apakah dia sedang mempunyai masalah?" batin Ayumi. Ayumi memperhatikan Jeno dengan seksama. "Kau punya masalah? Mengapa wajahmu terlihat kusut? Kau tak seceria kemarin?" Jeno memaksakan senyumannya, "Aku hanya merasa tak enak padamu." "Tak apa, Jeno. Aku masih bisa makan bersama Keiko dan kahiro." Jeno mengerutkan alis menatap curiga. "Kahiro. Siapa dia?" "Oh. Dia kakak Keiko, sekaligus seniorku saat kuliah dan orang yang mengajarkanku tentang fotografi." Senyum Ayumi mengembang membuat Jeno mendengus kesal. "Kau menyukainya?" tanyanya dengan penuh penekanan. Ayumi menelengkan kepala, ia sedikit terusik dengan nada bicara Jeno yang terdengar kesal. "Aku hanya menganggapnya sebagai seorang Kakak." Ayumi melirik jam di ponselnya. "Sebaiknya kau kembali ke apartemenmu, Jeno." "Kau mengusirku?" "Tidak. Kau terlihat sangat lelah. Otakmu sepertinya tak bisa bekerja maksimal. Pulanglah istirahat!" Jeno mengangguk. Perintah Ayumi terdengar seperti perhatian. "Baiklah, selamat tidur, Ayumi." 🌸🌸🌸 Sudah tiga hari Ayumi dan Jeno tak bertegur sapa, bukan karena Ayumi marah, melainkan keduanya sedang disibukkan dengan pekerjaan. Deringan ponsel milik Ayumi terdengar, "Moshimoshi, Jeno." ucapnya riang. "Kau di mana? Apa yang sedang kau lakukan? Dan sekarang bersama siapa?" Deretan pertanyaan membuat Ayumi mengerjapkan mata. Ayumi mengambil satu tarikan napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Jeno, "Aku sedang di Yokohama. Melakukan pemotretan. Sekarang bersama Kahiro senpai⁷ dan beberapa kru." "Apa yang kau lakukan bersama dia?" "Dia? Dia punya nama Jeno. Kahiro Asami." Ayumi mengeja nama pria yang menjadi fotografernya hari ini. "Kau pasti senang bersamanya?" tuduhnya terdengar kesal. Ayumi berdecak pelan. "Bukan saatnya untuk memulai pertengkaran, Jeno." Ayumi tahu betul, bahwa Jeno sering mengajaknya berdebat, meski perdebatan mereka sering dianggap bercanda oleh Ayumi. "Kau di Yokohama? Di mana? Tepatnya di mana?" "English Rose Garden." Singkatnya. "Oke." Jeno mengakhiri panggilannya begitu saja, membuat Ayumi melebarkan mata merasa tak percaya dengan tingkah Jeno. Apakah Jeno akan datang? Ayumi tersenyum sumringah berharap Jeno datang dan mengajaknya bercanda. Tiga hari tak bertemu, membuatnya sedikit merindukan laki-laki itu. Jeno yang telah sampai di Rose Garden mencari tempat pemotretan Ayumi. Tidak sulit menemukan mereka di hari kerja seperti saat ini. Pengunjung di hari kerja lebih sedikit dibandingkan hari libur. Jeno menemukan Ayumi. Ia melihat Ayumi tengah bergonta ganti pose, sesekali sang fotografer datang memberinya arahan. Jeno menatap lekat kedua insan yang tengah tertawa bersama. Mengapa ia merasa tak nyaman, melihat keakraban yang mereka lakukan? Dan sialnya, mereka terlihat sangat serasi? Oh tidak! Jeno mulai kesal melihat sang fotografer merangkul Ayumi, meskipun pria jangkung itu hanya memberikan contoh pada model pria yang akan berpose bersama Ayumi, tapi tetap saja hal itu membuat Jeno mendengus dan berkali-kali menghembuskan napas kasar. Ayumi yang telah menyelesaikan pemotretan segera mengambil ponsel, untuk melihat apakah ada pesan masuk dari Jeno. Ia sedikit sedih, melihat tak ada satupun notifikasi pesan atau telepon dari Jeno. "Apakah ia tidak datang?" batinnya. Ada sedikit rasa kecewa saat tahu bahwa Jeno tak menghampirinya, lantas untuk apa dia menanyakan lokasinya sekarang? Ponsel Ayumi tiba-tiba bergetar membuat samg empunya tersenyum lebar. Rasa kesal seketika menguap tertiup angin sore yang sejuk. Nama Jeno jelas terpampang di layar ponselnya. "Moshimoshi." "Berbaliklah!" Ayumi menuruti perintah Jeno. Lelaki yang ia rindukan berdiri di sana sambil melambaikan tangan. Ayumi menuruni tangga kecil dengan sedikit tergesa-gesa, hal itu tak luput dari pandangan Kahiro, "Kau sudah mau pulang?" "Tidak, Kahiro-kun, aku akan berjalan-jalan sebentar bersama temanku," Keiko melambaikan tangan. "Sampai jumpa Kahiro." Ayumi berlari kecil menghampiri Jeno, "Kau baru sampai?" Jeno menggeleng. "Tidak, lima belas menit yang lalu aku sudah berdiri di sini, melihatmu berpelukan dengan banyak pria." "Apa?" Ayumi berkacak pinggang. "Hei! aku tidak berpelukan, itu hanya sekedar rangkulan. Harusnya kau paham, mengingat kita satu profesi." Jeno terkekeh, "Harusnya kau tidak usah sehisteris itu untuk menjelaskannya." "Kau bisa menemaniku minum sake." Jeno mengernyit. "Bagaimana yah, sepertinya aku tak punya banyak waktu." Ayumi memanyunkan mulutnya, "Yah, padahal aku ingin membawamu ke izakaya⁸ langgananku." "Kau ingin mabuk? Kukira kau tak bisa minum sake." "Sebenarnya aku hanya ingin mentraktirmu, di sana banyak minuman non alkohol, jadi kau bisa memesan sake sedangkan aku cukup memesan minuman bersoda." "Mengapa kau ingin mentraktirku?" tanyanya penasaran. "Sebagai bentuk perayaan menjadi tetangga baruku, meski kau hanya sementara di sini." Jeno memicingkan mata, "Oh, aku baru ingat, kau pernah mengajakku makan bersama. Apakah itu bentuk perayaan untukku?" Ayumi mengangguk, "Rencananya seperti itu, tapi kau malah menggagalkannya." "Maafkan aku, Ayumi." "Ah, sudahlah." Ayumi mengibaskan tangan, "kau tak perlu meminta maaf, itu sudah berlalu." Ayumi dan Jeno berjalan menikmati indahnya langit sore. Izakaya langganan Ayumi tak terlalu jauh dari tempat pemotretannya. Sehingga mereka memilih untuk berjalan kaki ketimbang naik taksi atau kereta. "Kau sering datang kemari?" "Yah, Keiko sering mengajakku. Keiko adalah pemanduku saat pertama kali menginjakkan kaki di Jepang. Keiko merupakan mahasiswi pertama yang paling santai menurutku. Di saat orang lain pusing mengerjakan tugas kuliah, ia malah pusing memikirkan mantan yang punya pasangan baru. Di saat orang lain frustasi memikirkan nilai, ia malah frustasi karena tak punya pacar." Ayumi berhenti melangkah sejenak dan menoleh memandang Jeno. "Dan sekarang teman-temannya sedang fokus mengerjakan tugas akhir, dia malah lebih fokus untuk mengenal dirimu." paparnya lalu menggelengkan kepala, mengingat Keiko menghadapi semuanya dengan kesantaian. Sebenarnya, Ayumi sedikit iri pada Keiko yang bisa menikmati hidup tanpa harus memikirkan target pencapaian. Ia membiarkan hidupnya mengalir seperti air. "Kau sepertinya sudah mengenal semua tentang Keiko." "Bisa dibilang seperti itu, aku sangat mengenalnya. Bahkan keluarganya telah kuanggap sebagai keluargaku." "Termasuk fotografer yang tadi." "Mm-hmm." Anggukan Ayumi membuat Jeno tersenyum penuh kemenangan. "Kapan kau ingin pulang ke korea?" Jeno mengedikkan bahu. "Aku juga tidak tahu, awalnya aku hanya ingin menetap selama satu bulan untuk sekedar menikmati masa-masa liburan musim semi. Namun, sekarang sepertinya berubah, aku menemukan hal yang menarik dan membuatku betah untuk berlama-lama di sini." "Menarik? Apa itu?" tanyanya dengan air muka yang penuh penasaran. "Itu rahasia, Ayumi." Jeno mengedipkan sebelah matanya membuat Ayumi bergidik geli. 🌸🌸🌸 ⁷ Senior ⁸ Bar di Jepang
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
16/09
0baguss bgt ka
14/04/2025
0azka
03/01/2025
0Tingnan Lahat