"Spring sounds like a lot of fun but rest assured that if you want to see it you will have to go through a very cold winter" 🌸🌸🌸 Ayumi menghirup udara pagi melalui jendela apartemennya. "Akhirnya musim dingin berlalu. Selamat datang musim semi," lirihnya sambil membentangkan kedua tangannya. Musim semi adalah musim yang selalu ia nantikan. Sebelum menginjakkan kaki ke Jepang, ia selalu membayangkan hidup di negara yang memiliki empat musim. Sewaktu kecil, Ayumi juga kerap ke Jepang untuk mengunjungi kakek dan neneknya di Kyoto saat libur sekolah. Namun, ketika mereka telah tiada, Ayumi tak pernah lagi liburan ke sana. Ayah Ayumi tak mempunyai kerabat dekat, mengingat ia anak tunggal di keluarganya. Untung saja Ayumi terlahir kembar, jika tidak, mungkin saja ia akan bernasib sama seperti ayahnya yang kerap merasa kesepian. Getaran ponsel Ayumi terdengar. Ia melihat nama Jeno terpampang jelas di layar ponselnya. "Moshimoshi." "Halo, Ayumi. Video musik kita sudah selesai di sunting, kau ingin melihatnya?" Nada suara Jeno terdengar sangat riang. "Datanglah ke apartemenku, kita akan melihatnya bersama." "Bolehkah?" Jeno mengerutkan alis, "Maksud kamu?" "Bolehkah aku masuk di apartemenmu." Ayumi sedikit merasa kikuk. "Hei. Kukira kau sudah percaya padaku, Ayumi." "Oh maaf. Aku hanya takut kau tak nyaman," elaknya untuk menstabilkan suasana. "Bukannya kamu yang merasa tak nyaman. Aku tidak akan menyuruhmu datang ke sini jika akan merasa tak nyaman." Jeno terdiam sejenak, "jangan membuat alasan, Ayumi. Atau kau ingin aku saja yang datang ke apartemenmu?" Ayumi memandang keadaan apartemennya yang sedikit berantakan. Ralat, sangat berantakan, "Oh tidak perlu. Biar aku saja yang ke apartemenmu." "Baiklah, aku akan menunggumu. Jangan membuatku terlalu lama menunggu." Suara kekehannya membuat Ayumi memutar bola mata. Entah bagaimana cara Jeno membuat Ayumi sedikit lebih terbuka padanya? Yang jelas, sekarang Ayumi tak takut lagi jika berada di dekat Jeno. Malah ia akan merasa aman jika Jeno ada di sampingnya. Arumi yang mengetahui hal itu kerap mengejek Ayumi dan mengatakan bahwa Ayumi telah menyimpan rasa pada Jeno. Namun, Ayumi tak menampik hal itu, ia juga sedang bingung dengan perasaannya. Jeno membuka pintu setelah terdengar ketukan yang ia yakini adalah Ayumi. Ayumi memperhatikan apartemen milik Jeno yang di dominasi warna hitam dan abu. Laki-laki tak akan jauh dari warna gelap. Apakah konsep semua lelaki itu sama? memilih warna gelap agar terlihat misterius dan lebih menarik di mata orang lain. Apartemen milik Jeno terlihat kosong, mungkin karena dirinya tak berniat menetap lama sehingga tak membeli perlengkapan rumah. "Kau suka?" tanya Jeno saat memutar musik video. Ayumi tersenyum lebar. "Aku sangat menyukainya. Sangat," ucap Ayumi menekankan kata terakhir. Terlebih karena model prianya adalah Jeno Lim. Bukankah wajah seorang model akan mempengaruhi kualitas dari video tersebut? "Percayalah, namamu akan menjadi topik pencarian utama di Korea Selatan jika musik video ini dirilis," tuturnya. Alis Ayumi bertaut. "Mengapa bisa seperti itu?" "Kau tak tahu. Jung Tae Yeong merupakan penyanyi solo terkenal dan memiliki banyak penggemar baik di dalam maupun di luar negeri. Jika wajahmu terpampang di musik videonya, sudah dipastikan bahwa kau akan menjadi pembicaraan para netizen." Ayumi manggut-manggut. "Rupanya seperti itu. Jujur aku tak banyak tahu tentang projek yang telah kita lakukan beberapa hari yang lalu." Jeno menoleh menatap Ayumi dengan air muka heran. "Benarkah? Mengapa kau tak mencari tahu terlebih dahulu sebelum mengambil pekerjaan ini?" "Hmm, karena ini projek pertamaku setelah vakum selama setahun." Ayumi memandang Jeno sejenak dan kembali beralih pada laptop yang tengah memutar video mereka. Lagi-lagi Jeno kembali menatap Ayumi penuh kebingungan. "Vakum?" tanyanya menuntut sebuah jawabab. "Aku punya masalah sehingga harus berhenti sejenak dari pekerjaanku. Aku memperbaiki diri dan mengobati kejiwaanku yang sedikit ... yah bisa dibilang kejiwaanku sedikit bermasalah saat itu." Ayumi tersenyum kikuk. Jeno menatap iba, meski ia sangat penasaran dengan kehidupan Ayumi, tapi ia menghargai setiap privasi yang Ayumi sembunyikan. "Vakum selama setahun, bukan waktu yang sebentar, Ayumi." "Hei! Jangan menatapku seperti itu, aku tak perlu dikasihani," hardiknya sedikit memekik. "Aku sudah merasa lebih baik sekarang." "Kau punya masalah apa sampai harus berhenti selama setahun terakhir ini?" rasa penasaran Jeno memuncak. "Sepertinya aku belum bisa menceritakannya padamu, Jeno." Jeno mengangguk menyetujui ucapan Ayumi, "Baiklah aku menghargai privasimu." Jeno menatap lekat Ayumi, "Ayumi." panggilan Jeno membuat Ayumi berbalik, "Segera cari aku jika kau ingin mengeluarkan keluh kesahmu, aku siap mendengarkannya." Ayumi tersenyum menanggapi ucapan Jeno. Ia merasa bahwa Jeno bersungguh-sungguh atas ucapannya barusan. 🌸🌸🌸 "Ayumi Oneesan." Teriakan Keiko melengking membuat orang-orang melihat kearah mereka berdua. Ayumi berbalik, Sekarang ia berada di salah satu supermarket terdekat dari apartemennya. Ia ingin mengisi kulkasnya yang sudah kosong melompong. "Apakah Jeno Oniisan punya pacar?" Ayumi menggeleng, "Aku tidak tahu Keiko, aku tak pernah bertanya padanya." Dan memang Ayumi merasa tak perlu menanyakannya, meski sebenarnya ia cukup penasaran akan hal itu. Keiko menurunkan bahu yang semula tegak, "Tidak mungkin orang setampan dia tak punya kekasih." Ayumi membenarkan ucapannya. Jikalau tak punya kekasih, setidaknya dia sudah punya orang yang dekat dengannya. "Tadi aku melihatnya di Showa Kinen Park, dan ia bersama seorang wanita," kabarnya, dengan nada lesuh. Ayumi membulatkan mata. "Benarkah? Mengapa kau bisa melihatnya di sana?" teriak Ayumi tertahan. Ia juga sangat penasaran dengan kehidupan sosial Jeno. "Teman-temanku mengajakku berjalan-jalan menikmati awal musim semi di sana." Keiko mengambil cemilan dan sedikit melemparnya masuk ke troli. Sepertinya ia sedikit kesal mengetahui Jeno bersama seorang wanita. "Apakah dia cantik?" "Yah. Dia cantik. Sangat cantik. Dia juga orang Korea. Mereka terlihat sangat akrab, Oneesan," adunya. Ayumi terkekeh, "Kau terdengar sangat kesal Keiko. Apakah kau menyukai Jeno?" "Hmm, tidak sampai ketahap itu, aku hanya mengagumi. Tapi aku tak menyukai wanita itu." "Mungkin dia hanya kenalan Jeno." Ayumi mengontrol suaranya agar terdengar biasa saja. Padahal hatinya sudah berkecamuk mendengar penuturan Keiko. "Kebetulan sekali jika mereka berdua ada di tempat yang sama. Kemungkinan mereka sudah merencanakannya Oneesan." Lagi-lagu tuduhan Keiko terucap. Ayumi hanya tersenyum kecut memikirkan Jeno. Ia tak habis pikir mengapa ia merasa kesal mendengarnya bersama wanita lain padahal ia dan Jeno tak memiliki hubungan apa pun. Ucapan Keiko masih terngiang-ngiang di kepala Ayumi, apakah benar Jeno memiliki kekasih? Lantas mengapa ia seakan mendekati dan memberi harapan pada Ayumi? Ayumi berusaha untuk melupakannya, namun karena rasa penasaran yang terlalu tinggi membuat Ayumi segera menghubungi Jeno setelah ia telah berada di apartemennya. 'Tuuuttt' deringan pertama 'Tuuutt' deringan kedua belum terjawab. 'Tuuutt' deringan ketiga masih belum ada jawaban. Ayumi berniat mematikannya, namun tiba-tiba suara Jeno terdengar. "Halo Ayumi." Ayumi menghembuskan napas lega, akhirnya Jeno menjawab panggilannya. "Hmm begini, Jeno. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam bersama di apartemenku." Ayumi terdiam sejenak, "apakah kau tak sibuk?" "Sepertinya aku bisa. Aku akan pulang setelah matahari terbenam." "Sekarang kau sedang di luar? Aku tak mendengar suara kehidupan di apartemenmu”? tanyanya sekedar basa basi karena ia sudah tahu keberadaan Jeno. "Sekarang aku sedang melakukan pemotretan." "Kau melakukan pemotretan di Tachikawa?" Ayumi menutup mulut, ia tak sengaja mengucapkannya. Jeno akan menganggapnya gadis stalker. Jeno mengerutkan kening, "Bagaimana bisa kau tahu." "Oh itu. Emm. Tadi aku bertemu Keiko dan dia melihatmu di Showa Kinen Park," jawabnya terbata. "Ia sedikit cemburu melihatmu bersama gadis Korea." "Bagaimana dengan dirimu?" "Aku?" Ayumi spontan menunjuk dirinya sendiri, "kenapa dengan diriku?" Jeno terkekeh di balik ponselnya, "Apakah kau tak cemburu mendengarku bersama wanita lain?" "Hei. Itukan hanya sebatas pekerjaan. Aku tak akan cemburu seperti Keiko. Mengapa aku harus cemburu?" "Benarkah seperti itu?" Jeno menuntut jawaban pasti. Ia ingin tahu bagaimana perasaan Ayumi padanya? Namun teriakan seseorang memanggil namanya membuatnya harus mengakhiri panggilan. "Aku harus kembali bekerja, Ayumi. Tunggu aku. Dan masaklah makanan yang enak." 3 Senyuman Ayumi mengembang dan hatinya merasa lega. "Mengapa aku merasa bahagia?" gumamnya sembari tersenyum. 🌸🌸🌸
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
16/09
0baguss bgt ka
14/04/2025
0azka
03/01/2025
0Tingnan Lahat