"Winter taught me the meaning of patience waiting for a beautiful spring". _anonim_ 🌸🌸🌸 "Waw. Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?" Jeno cukup terpukau dengan tempat yang ia kunjungi saat ini. Ayumi mendengus. "Kau lupa jika aku warga Jepang?" Jeno menepuk jidat dan dilanjutkan dengan gelak tawa. "Oh, aku melupakannya, sebab kau tak seperti orang Jepang. Jika kita berada di keramaian, kau seperti pelancong yang datang berlibur sama sepertiku." "Wajahku memang berbeda, tapi aku tahu semua tempat di Tokyo," decaknya kemudian. "Iya. Iya. Jangan menekuk wajahmu seperti itu. Kamu terlihat jelek," sindirnya mengejek tatkala menertawakan mimik wajah Ayumi yang tak bisa dikendalikan. Ayumi mengajak Jeno berkunjung ke Lake Sagami Pleasure Forest yang terletak di Kanagawa Utara. Salah satu Iluminasi terpopuler di Jepang sehingga tempat ini sering mengadakan festival cahaya yang akan berlangsung selama musim dingin yang di mulai dari awal November hingga bulan April. Selain menikmati berbagai macam jenis lampu LED, pengunjung juga bisa menikmati berbagai wahana seperti komedi putar dan kincir ria. "Berdirilah di sini, aku akan memotretmu," perintah Jeno sambil menarik tangan Ayumi. Ayumi berdiri di depan pohon sakura yang belum berbunga, tapi dipenuhi dengan lampu LED, sehingga pohon tersebut terlihat sangat indah. "Mengapa kau terlihat kikuk, kau tak seperti model profesional?" kelakarnya. "Jelek?" Ayumi mengecek foto yang ada di ponsel Jeno. "Mengapa aku terlihat sangat kaku? Ulang!" Ayumi kembali berdiri dan berpose santai. Jeno tersenyum menatap foto Ayumi "Tapi tetap cantik." gumamnya kemudian. "Apa? Cantik? Pemandangannya memang cantik, bukan? Aku tidak salah memilih, kau tak akan bosan jika berada di sini." Jeno terkekeh karena Ayumi salah mengartikan ucapannya. "Untung saja dia sedikit bodoh." Batinnya. "Sekarang giliranmu." Ayumi mengambil ponsel Jeno lalu memotretnya tanpa memberi aba-aba agar foto yang dihasilkan bisa terlihat natural. Bukankah sebuah foto dikatakan berhasil jika foto tersebut bisa mengubah ekspresi orang yang melihatnya? Jika memberi aba-aba, otomatis ekspresi objek akan terkesan dibuat-buat dan terlihat tak alami. "Selesai." Ayumi mengajak Jeno duduk di kursi kayu yang berada di dekat pohon untuk memperlihatkan hasil jepretannya. "Wah. Kau luar biasa. Kau punya bakat menjari fotografer," pujinya. "Cita-citaku memang ingin menjadi fotografer," sambung Ayumi dengan cepat. Ia memandang langit yang sudah gelap. "Lantas mengapa kau menjadi model?" "Karena menjadi model adalah impian kakakku, tapi karena mengalami kecelakaan ia tak bisa menggapai impiannya." "Kecelakaan?" Jeno menatap bingung Ayumi. Ayumi menatap Jeno sejenak, "Kecelakaan mobil." Singkatnya. "Di Jepang? atau di Indonesia?" "Bukan, melainkan di Seoul." Jeno membulatkan mata, "Benarkah? apa yang kakakmu lakukan di Seoul?" "Arumi kuliah di sana. Kejadian itu terjadi saat ia ingin pulang, setelah menghadiri acara fansign idol favoritnya." Ayumi termenung, ia sangat kasihan melihat Arumi pada waktu itu. Ia ingat saat kejadian itu, orang tuanya langsung menjemput Ayumi dan membawanya kembali ke Indonesia. "Aku turut prihatin. Hyung-ku juga pernah mengalami kecelakaan mobil bersama pacarnya. Untung saja dia hanya mengalami geger otak ringan, meski harus berada di rumah sakit selama sebulan, tapi aku bersyukur dia bisa pulih kembali." Jeno menerawang jauh, mengingat kejadian itu membuatnya sedikit merinding. Kecelakaan yang membuat mobil ringsek parah akibat menabrak truk. Dan ternyata kakaknya sedang mengemudi sambil mabuk. Ayumi tersenyum kecut. "Oleh sebab itu, Arumi meminta agar aku melanjutkan mimpinya." Ia menarik napas dalam, "di saat itu aku ingin egois, tapi ketika aku melihatnya menangis seketika membuat hatiku luluh. Mungkin karena kami kembar, sehingga ikatan batin kami juga sangat kuat, aku sangat menderita saat melihatnya bersedih." "Kau kembar dengannya?" Jeno menaikkan suara pertanda bahwa ia sedang terkejut. "Apa wajah kalian juga mirip? Identik?" Ayumi mengangguk. "Ya, dia lahir lima menit lebih cepat dibanding diriku. Dan wajah kami sangat mirip. Banyak orang yang tak bisa membedakan kami." "Jadi bagaimana cara keluargamu membedakan kalian?" Jeno sangat bersemangat mengorek informasi tentang keluarga Ayumi. "Arumi memiliki tahi lalat kecil di hidung sedangkan aku di bawah mata," tunjuk Ayumi pada tahi lalat kecil yang ada di wajahnya. Jeno mengikuti arah telunjuk Ayumi dan memperhatikan wajah Ayumi dari jarak yang cukup dekat. Jantung Jeno tiba-tiba berdegup sangat cepat. "Kau ingin melihat foto kami," tawarnya sambil merogoh tas dan mengambil ponsel. Jeno mendekatkan tubuhnya saat Ayumi memperlihatkan sebuah foto di ponselnya. "Wah kalian memang sangat mirip, bahkan aku juga sulit untuk membedakan kalian." "Coba tebak, aku yang mana?" Tantangnya Jeno mengambil ponsel milik Ayumi memfokuskan penglihatannya. "Aku tahu, kau yang memakai topi hitam, kan?" "Betul sekali, kamu bisa menebaknya karena aku telah memberikanmu petunjuk." Jeno menggeleng. "Tidak. Meski kau tidak memberiku petunjuk aku juga bisa menebaknya. Bukankah di foto ini tahi lalat kalian tak terlihat?" Ayumi mengecek fotonya dan memang tidak ada tahi lalat yang terlihat. Mungkin tertutupi oleh filter dan cahaya yang sangat terang. "Lantas bagaimana caranya kau membedakan kami berdua?" "Hmm sebenarnya mata kalian sedikit berbeda. Hanya sedikit. Matamu lebih besar dibanding Arumi." "Besar?" "Yah, besar seperti mata kucing." "Mengapa harus kucing?" "Bukankah kucing itu imut dan menggemaskan?" Ayumi mengernyit. "Aku tidak suka kucing." Jeno kembali menoleh menatap Ayumi. "Kenapa?" "Aku memiliki alergi dengan bulu kucing." Ayumi bergidik jika mengingat bulu kucing yang lebat. Jika berada di dekat kucing, ia akan merasakan gatal yang luar biasa pada hidung dan tenggorokannya. Sehingga ia akan bersin-bersin dan batuk. Jeno lagi-lagi mengambil ponsel. "Hei bukankah kita juga harus berfoto bersama." Jeno mendekatkan wajahnya pada Arumi dan mengambil foto close up. "Berikan aku ponselmu," pintanya, lalu mengambil ponsel Ayumi dan mengotak atiknya. "Apa yang kau lakukan pada ponselku." Jeno mengembalikan ponsel milik Ayumi, "Kau menambahkanku sebagai teman di aplikasi chat-mu?" Jeno mengangguk. "Agar lebih mudah menghubungimu, dan aku akan mengirimkan foto tadi." Ayumi melirik jam di ponselnya. "Sepertinya kita harus segera keluar. Tempat ini akan segera tutup," terangnya. "Mengapa cepat sekali, padahal kita baru saja sampai." Ayumi mengerutkan alisnya, "Kau tak sadar, kita sudah tiga jam berkeliling." "Oh, ya. Aku tak sadar. Sepertinya bersama denganmu membuatku lupa waktu." Jujurnya. "Apakah aku membuatmu nyaman. Maksudku banyak orang yang ketika diajak jalan bersama, ia akan merasa cepat bosan karena orang yang diajaknya tidak menyenangkan." Ayumi berbicara dengan cepat agar Jeno tak salah paham. "Yah, kau tipe orang yang sangat menyenangkan. Jangan bosan untuk mengajakku berkeliling. Aku masih punya waktu yang cukup." "Setelah menyelesaikan pekerjaanmu, apakah kau akan langsung kembali ke Korea?" "Tadinya seperti itu." Jeno menatap dalam mata Ayumi, "Tapi sekarang aku punya alasan untuk menetap lebih lama di sini." Deg! Lagi-lagi jantung Ayumi berkecamuk, mengapa Jeno menatapnya seperti itu. Ayumi yang juga menatap Jeno ikut terhanyut dalam pikirannya sendiri. Ia merasa jika Jeno seakan mengatakan bahwa Ayumi-lah yang menjadi alasan, sehingga Jeno betah berlama-lama di sini. Ayumi menjadi orang pertama yang memutus pandangan mereka. Ia tak kuat untuk menatap Jeno, ia takut hatinya akan meminta lebih. "Apapun alasanmu itu, aku sedikit senang. Berarti aku masih punya teman untuk menikmati musim semi yang sebentar lagi akan datang." Ayumi berjalan dengan cepat untuk menetralisir degupan jantungnya. Ini tak bisa dibiarkan, jantungnya terus-menerus memberikan reaksi berbeda. "Kau tak punya teman. Misalnya teman saat kuliah dulu? atau teman yang kau kenal saat berada di sini." Ayumi berhenti berjalan, lalu berbalik. "Aku punya teman. Aku bukan tipe anti sosial. Tapi sekarang mereka tak tinggal di Tokyo lagi, ada yang kembali ke negaranya dan ada juga yang bekerja di tempat yang jauh dari Tokyo. Intinya aku tak mempunyai teman sebaya saat ini. Maksudnya teman yang bisa diajak jalan, kau mengerti kan?" Ayumi membuang napas berat, "terdengar kasihan bukan, sudah jauh dari keluarga lantas sekarang tak mempunyai teman." "Tenang saja. Selama aku di sini, aku akan menemanimu kemanapun kau mau." Senyum Ayumi mengembang. "Baiklah. Jangan mengingkarinya, Jeno." Jeno menyamakan posisi mereka, agar Ayumi tetap merasa nyaman. Meski sekarang jaraknya tak sejauh yang dulu. Setidaknya Ayumi tak mengomentari hal tersebut. "Berarti Ayumi tak segan lagi padaku, seperti saat pertama kali bertemu," ucap Jeno dalam hati. 🌸🌸🌸
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
16/09
0baguss bgt ka
14/04/2025
0azka
03/01/2025
0Tingnan Lahat