logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

REALITAS

“Assalamualaikum”.
Waalaikumsalam. Sahut kami semua
“Kreeeeek” membuka pintu rumah. “menggendong tas beratnya” om sampai di rumah.
“Assalamualaikum buk?” “mencium tangannya”
Waalaikumsalam. “mengelus rambutnya sambil menatap wajahnya dengan seksama”. Anakku pulang “menangis” sang ibu di pelukan anaknya itu.
“Assalamualaikum pak?”
“Waalaikumsalam, le.”
“Bagaimana di pondok?” tanya bapak padanya.
“Baik-baik saja pak,” sahutnya.
Bersendekap menunggu om menyapa Bhy “Hmmm!!”.
“Eh ada nak kecil rupanya?” sahutnya dengan nada guyon.
“Ha ha ha ha” semuanya tertawa lepas dengan ucapan itu.
Serontak. “Om, oleh-oleh yaaa.” Tutur Farabhy padanya.
“Iyah”. Jawabnya. Sudah disiapkan.
“Sreeeeeeeeeett sreeeeeettt” menarik tas berat itu. “Haaaaaa” beraaaaaaatt!!
Satu anggota keluargaku telah datang, sembari menungu ibu dan Ayah tiri Farabhy.
Tudung saji diatas meja langsung menjadi tujuan utama menuju dapur.
“Hmm, lapar ya, he he he” canda Farabhy pada Om. Kasiaaaaaannn!! Dalam sekejap suasana dalam rumah menjadi ramai dengan kehadiran Om dan guyonan bersama itu.
“Rame sudah rumah ini” ucap bapak kepada nenek. “He he he.”
“Bhy!!! Dapat oleh-oleh apa dari om?” tanya bapak padanya.
Farabhy dan om menghampiri bapak dan nenek di ruang tamu sembari membawa tas yang isinya oleh-oleh.
“Tas berat ini oleh-oleh untuk bapak, ibu dan nak kecil ini.” Ucap om
Dengan pemberian baju lengan panjang dari om, dari situlah titpan dan harapan muncul kepada diri Farabhy.
“Sholeh ya nak kecil!!” begitu ucapnya.
Farabhy yang hari ini dan seterusnya akan di temani oleh sosok baru dalam rumah ini, sosok tampan dan sholih. Bertambah pula hiburan bersamanya, setiap harinya kemanapun ia pergi, tak luput dibawanya, anak kecil ini di sadel belakang sepeda milik bapak.
Mungkin inilah kebagiaan yang selama ini ingin ku dapatkan. Dulu yang selalu bercerita pada temanku keadaan yang membosankan.
Ucap Farabhy pada Prayitno. “betapa miskinnya aku sampai mau mendengarkan dan menunggu janji itu terucap oleh sosok lelaki itu, mulutnya gampang mengucapkan sesuatu bisa jadi hatinya tak sama dengan apa yang ia bicarakan dihadapanku.”
“Sosok lelaki yang diceritakan itu adalah bapak kandung yang tega meninggalkan bersama ibu. Jikalau aku mau berdoa bisakah seorang aku boleh membenci orang itu, apakah aku berdosa pada tuhanku?.. akankah tuhan akan tak berbelaskasih padaku karena perlakuan dan perbuatanku ini, sungguh aneh aku rasakan ini, kenapa harus memiliki sosok lelaki itu, pada dasarnya manusia tak bisa memilih siapa yang menjadi sosok pehlawannya, realitas kehidupan memang seperti itu.”
“Yit, nanti malam menginaplah dirumah?”.
“Tak bisa Bhy.” Sahutnya.
“Apa harus diriku pemitan kepada ibumu?”
“Hmm” kau meminta izin pun pasti tak boleh.”
“Kenapa,Yit?”
“Besok pagi, aku harus pergi ke Pekalongan Bhy. Berkunjung ke rumah kakaku sambil liburan di sana, mumpung sekolah libur.”
“Wah enak sekali, Yit.”
“Nanti ak bilang ke ibu, biar mengajakmu, mau kan Bhy!”.
“Tidak Yit, kasian dengan bapak dan nenek.”
“kenapa denganmu, Bhy?”
“Bosan yit, di rumah kesehariannya begitu saja.”
“Keluargamu tidak mengunjungi om mu Bhy ?”.
“Tidak lah, Yit. Entah kapan om pulang.”
Begitu cerita kepada Prayitno, sebelum dua hari kepulangan om kerumah.
“Pengganti sosok Prayitno menjadi temanku kali ini adalah om sendiri. He he he”
“Sekarang kehidupan Farabhy berada dalam pundak keluarga kecil dengan kepala keluarga adalah Kakek tulang punggung sang pencari nafkah bagi.”
Gayuhan sepeda kuno yang terdengar tanda kakek telah datang menjeputnya sepulang sekolah, keringatnya yang menetes memberikan kesan dikala itu inilah sang pejuang yang tuhan berikan kepadaku, rasa egois dalam dirinya menjadikan karakter yang kuat bisa lebih kenal dengan dirinya, rasa wibawanya itu memberikan penghormatan kepadaknya bahwasanya sosok seorang Ayah ada padanya, usia yang tak muda lagi di kala itu namun, umur yang berkat diberikan oleh tuhan ia bisa sanggup memberikan perlindungan dan kebutuhan apapun, dengan komitmen, ungkapan, pernyataan, perbuatan yang ia contohkan kepadaku sangat membekas dalam hidup.
Usia Farabhy yang masih anak menganggap dialah sang bidadari lelaki yang mampu membuka lebar jendela mata dan hatiku betapa indahnya perjalanan ini sembari berpegang teguh pada pendirian hidup dan tuntunan hidup.
Wajib rasanya meyakini keadaan roda yang berputar menyambut kehidupan kita berputarnya roda menjadikan kita bahwa hidup juga pasti berubah, diatas, dibawah, berada paling atas ataukan berada paling bawah.
Cobaan yang melekat bisa jadi memberikan kekuatan dan ikon manusia bahwasanya menegakkan prinsip hidup dan kehidupan tak semudah yang dikatakan, prinsip itu tercipta bahkan berdiri kokoh dalam kehidupan seseorang jika ia memang benar-benar menegakkannya, walaupun roda itu berputar namun berada dijalan yang salah maka dampak buruk pun akan senantiasa selalu membayang dan terbayng dihati bahkan dikehidupan kita.
Penuhi hidup dengan berjuang meskipun ketidaknyamanan hidup menjadi sekutu yang berlomba lomba mengganggu bahkan memilih mana yang baik dan mana yang tak baik.
Terkadang kebaikan yang dialami tak bisa diterima oleh orang yang terbiasa menerima kebaikan, begitu juga sebaliknya keburukan pun akan mudah di terima oleh orang yang kesehariannya senang memperoleh bahkan berbuat keburukan tersebut. Membedakan kehidupanku saat itu, menjadi tantangan luar biasa untuk bisa meyakinkan orang terdekatku bahwasanya orang dibawah tak selamanya berada dibawah, dan orang tertinggi sekarang tak selamanya akan mau berada pada ketinggian itu, semua ada masanya, namun masa itu kita yang menentukan dengan sesegera mungkin.
Jikalau cemooh yang selalu terdengar kepada kita, kemiskinan yang melanda kehidupan kita tak heran rasanya begitulah jenisnya manusia, berbagai bentuk manusia, berbagai bentuk pikiran manusia, perbedaan pendapat bahkan perbedaan komitmen manusia menjadikanku hidup ada kalanya sedih dan ada kalanya tersenyum, teringat lebih kepada tersenyum dan meminimalisir kesedihan, sesama manusia tak bisa mengingatkan sepenuhnya kepada manusia lainnya akan tetapi mampu mengingatkan dirinya sendiri dan menjadi motivasi kepada dirinya sendiri bahwa apa yang diperjuangkan dengan baik, melekatnya Sujud dan kepasrahan serta ikhtiar kepada tuhan menjadi jatidiri dalam seorang pejuan mencapai titik hidup yang berperadaban.
“Bhy!” panggilan om . Ambil sarungmu sekarang.
Seperti biasa kulakukan, “Neeeekkk!! He he he”.
“Bhy! Ambil sendiri, tidak perlu memanggil nenek.” sambil menunjuk kearahnya.
Nenek yang tersenyum dengan kejadian itu, membuatnya sedikit lega dan ringan pekerjaannya.
“Bhy, mulai sekarang ikuti perintah ommu”. Ucap nenek kepada.
“sarung yang diambil itu ku bawa menuju masjid melaksanakan sholat.”
“Bhy!Kalau ingin mendapatkan ketenangan hidupmu, jangan segan-segan pergi ke masjid.” Begitu nasihat yang diberikan pada.
“Sekarang. Akulah yang bertanggung jawab atas dirimu. Cerdas, baik dan berwibawalah menjadi lelaki.” mengusap kepala Farabhy.

Komento sa Aklat (123)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    beberapa bab awal alurnya membingungkan bertele tele , bab bab akhir baru jelas alurnya, ceritanya bagus..

    22d

      0
  • avatar
    Dewa hardiansya

    sangat baik

    05/02

      0
  • avatar
    Jerry Wahyudi

    bagus

    17/08

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata