Homepage/Yang bertanggung jawab dalam Senyum dan Tangisku/
NOSTALGIA
Hayat berbisik pada cermin membayangkan isi hati yang tak pernah pudar memompa perasaan kerinduan sang surya mencengkram dalam sanubari tapi tak satu pun perasaan terobati dengan perangko seadanya, Ku menjelma wesel yang menghampiri dirimu, tapi genap sewindu kau tak pernah datang menemuiku. “Bapak, kapan ke rumah Ibu?” memelas meminta antar untuk menemuinya. “Sabar Bhy, sahutnya padanya”. “Kenapa kau ingin bertemu dengan ibumu Bhy?” tanya nenek “Ataukah Ibu tak merasakan rindu Farabhy ini?” ucap pada nenek. “Jangan bicara seperti itu Bhy” Sahut nenek padanya. “Ibumu itu anak nenek, mana mungkin ia tak merasakan apa yang kamu rasakan saat ini, nenek saja juga telah lama merindukannya”. Sambung nya. “Berdoa Bhy, semoga kita semua diberi kesehatan dan bisa mengunjungi ibumu.” menepuk bahu. “Kamu hari ini tumben didalam rumah saja?”. Tanya pada Farabhy. “Hmm, bapak lupa ya, besok Farabhy ujian sekolah”. Jawabnya “Eh, he he he, bapak lupa Bhy.” menjewer pipiku. “awwww”. Farabhy menjerit. “Ha ha ha.” Sesuatu yang awalnya tak bersama sulit sekali untuk hadir kembali menemani dan mengisi kehidupanku seperti kalanya normal, sesuatu yang mungkin tidak di sadari dulu ada namun nyatanya berupa bayangan yang kemudian hilang dengan sekejap akan memberikan rasa yang berbeda hadirnya kali ini hanya sesaat. “Bapak! Bapak!” lantang memanggilnya. “Kenapa Bhy?” sahutnya. “Bapak pernah bertemu bapak kandung Farabhy?” tanya Farabhy dengan berani. “Kenapa Bhy, apakah kamu ingin berjumpa dengannya?” Balik bertanya padanya. “Emm” tidak. “Lalu kenapa bertanya seperti itu? di sini kamu juga punya bapak kan. Meskipun bapak kandungmu tidak menemuimu, masih ada bapak disini yang mau menemanimu.” mengusap kepala. Menjelama apapun diri Farabhy, berbuat apapun kepadanya namun hingga saat ini sosok lelaki yang tak pernah datang itu telah meninggalkan luka akan tetap saja berdampak tak elok dalam kehidupan Farabhy. “Salah apa Farabhy?” tanya pada bapak. “Tidak, nak” ucapnya “Biarkan semua yang kau alami ini bisa membawa keberuntungan bagimu”. Ucap bapak “Menegok di luar rumah”. Melihat keluarga yang lengkap berboncengan dengan sepeda gayuhnya itu. “Kriing kriing” suara bel sepeda menyapa bapak yang sedang duduk santai di teras rumah. “sssstttt” bolak balik badan di kasur kamar menginginkan hal yang sama seperti tetanggaku itu. “Ingatlah! Saat ini Farabhy sudah memiliki perasa sama seperti anak lainnya. Mereka mendapatkan perhatian, mereka utuh dengan perlindungan sempurna, ingatlah!! “Bagaimana jikalau kau berada dalam posisi ini?” bergumam dalam dirinya. “ Tidakkah kau berfikir bagaimana jika hal ini juga menimpa keluargamu?” sambungnya. “Akankah kau tetap dengan egomu bahwa hari itu kau masih tegap berdiri dan kuasa?” “Ataukah kau tak berpikir kalau Faraby akan membencimu?” “Tidakkah kau berpikir jikalau Farabhy akan menghancurkan harapanmu?” “Dan ataukah kau tidak berpikir Farabhy akan tidak menganggapmu?” “Ataukah kau telah merencanakan untuk hal ini?” yang jelas sosok Farabhy akan berada pada masanya dan engkau akan berada pula sesuai masanya. Tanya pada hatinya. “Bhy!” suara nenek memanggil “Kleteeek” piring disiapkan diatas meja makan. Wangi aromanya “Aaaaaaa”. “Nek, apa ini?” “Bubur item Bhy”. Sahutnya. “Ini nek,?” menunjuk gelas. “Air santan yang di campur dengan telur ayam.” Jawabnya nenek padanya. “Wah. Baru kali ini nenek selengkap ini?” penasaran. “Sudah cepat bantu nenek, selepas itu cepat mandi”. Tegasnya “Kan masih siang neeeekkkk!!.” “Kriiiiiiiiiingg” telpon berbunyi. “Bhy! Angkat.” Perintahnya. . “Halooo?” “Halooo. Bhyyyyyy!” “Siapa?” “Ha ha ha” “Suara tertawanya membuatku tahu siapa yang menelpon.” Oooooooommmm. Ternyata om menelpon hari ini memberi kabar sore ini akan tiba rumah bersama ibu. “Cepaaat datang yaaaaa, Farabhy menunggu.” Ucapnya. “Sudah mandi belom?”. Tanya om “He he he.” “Kok meringis Bhy?” “Ini barusan mau mandi, tapi ada telpon.” “Ooouhhh” baiklah, om tutup telponnya, tunggu yaa sejam lagi sampai. Asssalamualaikuum.” “Waalaikumsalam.” Saat seseorang datang dengan uluran tangan hangat, jiwa mana yang akan menolak tangan itu, sambutan itu sangatlah diharapkan olehku, perlakuan itu sangat diharapkan. Tidak menjadi bahan kemunafikan dalam sanubari betapa pentingnya rasa uluran empati dan simpati tangan yang menghampiriku. “sreeeeettt” mengambil handuk bergegas mandi. “Jebuuurr” suara khas ketika berada dalam kamar mandi. “Bhyyyyyyy!”. “He he he” itulah suara khas nenek saat memberi peringatan pada Farabhy. “Siuurr Siurrr” pelaan peelaaaaan mengguyur tubuh dengan air suara dalam kamar mandi. “Naaaah, begitu doong.” Sahut nenek “dokdokdo” menepuk lembut pintu kamar mandi. “Sreeeett” membuka pintu selesai mandi. Neeeeekk!!. Farabhy memanggilnya. “sudah disiapkan sebelah meja radio Bhyyy!” jawabnya “He he he.” Hari ini Farabhy begitu bahagia setelah mendapatkan kejutan yang akan datang sebentar lagi. Lebih dari sebuah hadiah mewah. “Cukup kisah ini menjadi pengingat betapa sesuatu yang diharapkan dengan sungguh sungguh namun tidak mendapatkan perlakuan yang setimpal akan berdampak tak baik bagi objeknya”. Semua isi rumah telah tertata rapi, bapak dan nenek telah siap menunggu kedatangan Om dan Ibu. Sekian lama mereka tak bertemu. Om yang masih berada disebuah pondok pesantren sedangkan ibu yang telah memiliki keluarga baru. “Neek, berapa tahun tidak ketemu sama om?” tanya padanya “Berapa tahun ya pak?” balik bertanya pada bapak. “Yaah sekitar lima tahunan lah Bhy” sahut bapak memberikan jawaban atas pertanyaan itu. “Tadi om bilang sampai jam berapa padamu Bhy?” “Emm” sejam lagi katanya pak. “Kalau sejam lagi berati badha magrib yah.” Makan sudah siap, tinggal kita ke masjid dulu sambil menunggu kedatangan keluarga kita ini. “Yuk Bhy” ajakan bapak padanya. Harapan Farabhy meskipun semua telah tak sesuai dengan realitasnya akan tetapi jiwa dan sosok aku ini tetap menjadi jiwa yang bersih dalam cerminan, bersih dalam gelapnya kabut embun yang selalu memberikan kesegaran kepada orang lain, tidak memberikan masalah baru kepada orang lain. Nostalgia ini kujadikan kisah penguat moralku bahwa hidup dalam khayalan akan membutuhkan banyak sekali pertentangan dan perjuangan, pertentangan dalam memilih jalan kehidupan dan perjuangan untuk menetapkan kebaikan kebaikan dalam istiqomah menjalankan kehidupan namun, nostalgia tidak menimbulkan kesalahan pada jiwa manusia secara utuh dan juga tidak perlu memberikan dampak tak elok dalam menjalani kehidupan.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 24 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (123)
Gondo KusumaYuliawati
beberapa bab awal alurnya membingungkan bertele tele , bab bab akhir baru jelas alurnya, ceritanya bagus..
beberapa bab awal alurnya membingungkan bertele tele , bab bab akhir baru jelas alurnya, ceritanya bagus..
24d
0sangat baik
05/02
0bagus
17/08
0Tingnan Lahat