Homepage/Yang bertanggung jawab dalam Senyum dan Tangisku/
Sinar Lilin
"Tak sepantasnyalah dia kehampaan malam. Masa depan yang mereka inginkan tak seperti kegelapan yang menyelimuti mereka saat ini." ucapku pada May, teman perempuanku itu, yang seumuran dan senasib denganku. “Kita sama-sama mempunyai mimpi," kata May. “May, lihatlah anak kecil itu." ucapku pada May. "Kurasakan girangnya bocah itu, Bhy!" ungkapnya. Jeritan dan teriakan anak-anak dengan sinar lilinnya sembari bersorak bahagia kesana kemari membuat orang di sekelilingnya menjadi terharu melihat dirinya itu. “Ternyata tak ada bedanya Bhy, hidup di kota maupun di desa.” ucap May sambil menopang dagu. "Pasti berbeda sekali May." ucap padanya. “Apa?” menunjuk ke arah bocah itu. "Kecilku dikelilingi bangunan sempit, gelap dan sepi. Pun sama dengan bocah kecil itu, dikelilingi bangunan mewah, terang dan ramai." lanjutnya. "Tuh kan, ada bedanya dong?" berontakku kepada pernyataan May. “Sama Bhy!” tegasnya. "Apa kesamaannya?" kujawab dengan rasa jengkel. “Aku dan bocah itu bergantung kepada lilin untuk mendapatkan kebahagiaan." ucapnya dengan jelas. "Rumahku kecil, gelap, bantuan lilin bisa memberikan penerangan dikala belajarku Bhy. Bocah itu, mewah dan mungkin memiliki rumah yang megah, tapi cobalah lihat, dia tertawa dan menjerit girang hanya dengan memegang sebuah lilin." lanjutnya lagi. Akupun terdiam. “Emm." simpel ungkap Bhy menanggapinya. “Mungkinkah sekarang lilin itu hanya sebagai hiasan May?” tanya padanya. "Bukan hanya mungkin Bhy, sudah pasti iya. Lilin tempel di rumahku dengan berbahan bambu, kamu pun tahu bagaimana rasanya berada di dekatnya, panas bukan?" tuturnya kepadaku. “Siapa yang tahan dengan lilin besar itu May! Itu kebutuhan penerangan desa kita." tukasku. "Justru itu Bhy, semuanya tampak sama, hanya kebutuhannya saja yang berbeda." Aku yang hanya menikmati loncatan dan teriakan bocah itu, mengangguk saja menanggapi apa yang dikatakan oleh May. “Rasa padam dunia ini tak akan pernah mengobati dan terobati dengan sinar hati dalam diri ini. Oleh karenanya, berkat sinar lilin inilah, hati jiwa semangat berkobar laksana aku harus berubah." lanjut tuturan May kepadaku. “Bhy, ingatlah sesuatu hal dan jangan pernah melupakan sesuatu hal itu." Terdiam aku mendengarkan nasihat yang May sampaikan kepadaku. Aku percaya dengan apa yang disampaikan itu, sebab aku tahu semua perjalanan dan keadaan hidupnya. “Apa yang kau rasakan dulu, jangan sampai terjadi pada keluarga dan anakmu May." tuturku padanya. “Aku tak tahu Bhy. Bisakah aku menjadi seseorang yang nantinya tidak menjalani hidup sepertiku dulu. Meskipun hidupku kelak mewah, megah sekalipun, jika keluarga dan anakku lebih mengandalkan pemberian harta orang tua, pastinya sama saja hidupku ini Bhy." tegas May padaku. “Benar juga sih." jawabku padanya sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tak terasa gatal. “Tapi May, paling tidak kamu bisa menjelaskan pada keluarga barumu itu nanti tentang hidupmu.” kataku pada May dengan sedikit keyakinan. “Dulu Bhy, tangisku pada ibu dan bapakku menjerit saking inginnya suasana terang. Sakit mataku dengan keadaan gelap itu. Meskipun usiaku kala itu masih 10 tahun, tapi perasaanku telah mampu membandingkan hidup tetangga di sebelah rumah dengan hidup keluargaku. Hari ini aku bertemu dengan May, sekedar mendengarkan keluh kesahnya di masa kecil dulu." batinku. “May, semua yang kau lakukan dulu, sudah terbayar hari ini. Siapa sekarang yang tidak mengenalmu? Semua orang menyapa dengan berbagai panggilan sapaan kepadamu.” "Bener Bhy, hari ini yah. Entah besok, lusa atau setahun, lima tahun atau nanti usiaku sudah tua renta. Apakah akan tetap sama?" “Semua tergantung padamu May.” jawabku. “Beri aku alasan Bhy, untukku melangkah maju." Aku menunjuk bocah itu. "Anak kecil itu bersorak dan berteriak kencang karena ia telah mampu memegang dan melihat paemandangan. Bahkan mampu mengendalikan lilin yang dipeganggnya agar tangannya tak tersulut api." ucapku pada May. “Kau paham maksudku kan, May?” tanyaku padanya. “Emm.” ia menggeleng. “Haaaah.” kuhembuskan nafas. "Begini May, seseorang yang telah mampu mengendalikan apa yang ia genggam saat ini, entah itu kekayaan, karir, bahkan jabatan dan keluarga sekalipun, percayalah, semua akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan." kucoba memberi penjelasan pada May. "Coba lihat bocah itu. Ia memang masih kecil, akan tetapi ia bisa mengendalikan sinar lilinnya agar tetap hidup. Anginpun tak sanggup membuat sinarnya padam." lanjutku padanya. “Wah wah... Bapak motivator." jawab May dengan ekspresi meledek. “Tak apa kau ngeledek diriku, yang penting aku ganteng menurutmu”. kelakarku sambil tertawa. Kulihat May hanya tersipu malu. “Iya, Cah Gantengku.” ungkapnya. “Maaf May, aku tak mencintaimu.” candaku sambil berpaling muka. “Cuih, cuih, Bhy.” dia tertawa lepas. Sejenak hening. May pun berpesan kepadaku, "Pada dasarnya Bhy, kita semua akan menjadi debu dan tumpahan lilin. Tergantung pada kelakuan kita masing-masing, apakah kita bosan membawa dampak positif bagi orang lain, ataukah membawa mala petaka bagi diri kita sendiri, semuanya akan terseleksi oleh alam." “Benar sekal, Nyonya May. Semua akan ada masanya, tinggal kita mempersipkan diri, jika masa itu sewaktu-waktu datang kepada kita. Siap atau tidak dengan masa itu, tergantung kepada perlakuan terhadap diri kita sendiri." kutanggapi pesan May dengan hati-hati. "Yang terpenting jangan pernah menyamakan kehidupan kita yang menggunakan kekuatan sinar lilin dengan kehidupan orang lain yang sumber kehidupannya telah tersinar oleh rembulan. Namun tetap percayalah, bahwa lilin tadi bisa menyamakan terangnya dengan terang rembulan, dan pastinya dengan wadah dan keadaan yang berbeda, namun tetap sama dengan fungsi dan kebermanfaatannya." Syukuri atas apa yang telah menjadi ketetapan sembari fokuskan pandanganmu pada alam ini. Tengoklah sekelilingmu, akan banyaknya kemiskinan. Bukan mereka tak punya semangat dalam menjalani hidup. Bukan berarti lilin kita dan perjuangan kita tak sama. Namun, diri kitalah yang selalu memberikan sekat kepada mereka, seolah-olah mereka berada dalam kondisi di bawah kita. Sebenarnya yang paling benar adalah lilin yang tersedia tadi menjadi penyambung wasilah dari kita agar mampu memberikan kebermanfaatan untuk orang lain, menjadi tangan pertama dengan bantuan lilin tadi untuk memberikan penerangan yang utuh dan bersinar kepada orang lain, bukan untuk memberikan sekat kepada mereka walaupun telah tersedia lilin-lilin tersebut.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 21 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (123)
Gondo KusumaYuliawati
beberapa bab awal alurnya membingungkan bertele tele , bab bab akhir baru jelas alurnya, ceritanya bagus..
beberapa bab awal alurnya membingungkan bertele tele , bab bab akhir baru jelas alurnya, ceritanya bagus..
26d
0sangat baik
05/02
0bagus
17/08
0Tingnan Lahat