logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Salah Kaprah

Setiap hari, bibi Prayitno selalu berkata padaku bahwa ia selalu mengkhawatirkan keponakannya yang kini entah apa yang sedang dikerjakannya. Selama ini, akupun merasa miris atas perhatian bibi terhadap Prayitno. Hampir tiap hari bibinya menangis memikirkan nasibnya.
"Kamu dari mana saja, Yit?!" tanya bibi dengan nada marah saat mendapati Prayitno pulang ke rumah setelah berhari-hari pergi entah kemana.
"A a aaku dari rumah teman." menatap bibinya.
"Tidakkah kau memikirkan Bibimu ini, hah?!" sambil melotot melihat keponakannya itu.
Prayitno baru saja mau membuka mulut, hendak menjawab pertanyaan bibinya. Namun bibinya keburu membombardirnya dengan nada keras, "Farabhy kuperintahkan mencarimu! Bukan aku saja yang peduli padamu. Ingatlah! Temanmu itu juga sangat mengkhawatirkanmu!"
Di sela luapan kemarahan sang bibi, aku mencoba menenangkan perasaannya yang semakin tak karuan, hingga aku gemetaran melihat kondisi bibi Prayitno.
“Sudahlah, Bibi. Prayitno sudah pulang.” ucapku pada bibi.
Prayitno yang semula ceria, sampai di rumah menjadi bermuka suram seraya berkata kepada bibinya, “Kenapa selalu begitu? Setiap aku pergi selalu saja mencemaskanku. Aku ini sudah dewasa, sudah tak perlu lagi pengawasan." ucapnya seraya menunjukkan diri penuh keangkuhan.
Sontak bibinya berdiri sembari memelototinya. Seketika itu tak ada lagi komentar yang keluar daru mulut Prayitno kepada bibinya. Entah dia merasa ketakutan atau apa, yang jelas situasi hening seketika.
“Apa yang kau ucapkan tadi! Aku tak ingin mengawasimu terus menerus. Tapi, bibi tak ingin kau menjadi bahan tertawaan orang-orang! Bisakah kau mengerti apa yang kuucapkan, Yit!?"
Menunduk. Hanya itu yang ditunjukkan Prayitno.
Bibinya pun menangis dan memohon dengan sangat, "Cukuplah ibu dan bibimu ini menjadi tertawaan orang, tapi tidak dengan dirimu."
Mendengar ucapan bibinya, Prayitno pun mulai merendah, terkulai lemah. Aku tak mampu membayangkan, ternyata penilaian bibi terhadap Prayitno itu salah dan apa yang bibi percayakan pada Prayitno adalah sia sia.
"Apa?! Apa?! Pekerjaanmu hanya mondar-mandir, mempermainkan wanita, dan selalu hura-hura, tak seperti lelaki yang bibi kenal sebelumnya."
Sambil menunjuk rumah sebelah, "Tengoklah, meskipun pemilik rumah itu tak mampu, setidaknya dia bisa mengangkat derajat orangtuanya."
Melihat bibi marah dan kesal padanya, Prayitno pun menoleh ke arahku dengan wajah padam seperti ingin memukulku.
“Kamu! Kamu ulah pertengkaranku dengan Bibi.” tuduhnya kepadaku.
“Yit! Yit!”. ucapku sembari memegang kerah bajunya, "Aku lebih berani melawanmu dari pada harus melihat tangisan bibimu!" kemudian Prayitno pergi dari kampung halamannya.
Rasa sesal dan kesal kutunjukkan pada Prayitno, tak bisakah dia menghargaiku?
“Bibi, biarkan dia mencari kehidupannya sendiri. Suatu saat jika Bibi membutuhkanku untuk mencarinya, aku siap." ucapku pada bibi.
“Iya, Nak." jawabnya sambil menangis.
***
Aku yang telah lelah mencari Prayitno, melihat kasur spon di pelataran rumah bibi. Kucoba duduk bersenderan sambil menghilangkan lelah, lemas rasanya. Tiga tahun sudah dia tak kembali ke kampung halamannya. Aku duduk bersila melihat bibi dari kejauhan.
"Bibi mau kemana?" tanyaku sembari bersalaman padanya.
"Nak, sudah tiga tahun..." bibi menunduk di hadapanku. Ia tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
“Besok pagi, Farabhy berangkat mencarinya." janjiku pada bibi.
Bibi yang terlihat sedikit lega, “Alhamdulillah, terima kasih, Nak." ucapnya padaku.
Malam harinya, tak sengaja aku bertemu Boy memesan kopi di warung Mbok Sri. Kayuhan sepedaku terhenti di pelataran warung itu. "Boy” sapaku padanya sambil melambaikan tanganku.
"Hey, Bhy! Dari mana kau?"
Kuceritakan kejadian yang sedang bibi alami dengan keponakannya itu. “Sudah tiga tahun Boy, Prayitno tidak kembali ke rumah. Besok aku akan mencarinya." sambil kugaruk kepalaku yang sebenarnya tak terasa gatal. "Tapi aku bingung mau mencari kemana."
Boy terdiam, seperti mengingat sesuatu.
"Bhy!" ucap Boy.
Aku mengangguk sambil menyeduh kopi milik Boy.
"Ikut ke rumahku sekarang!" ajak Boy.
"Ihh, ngapain? Aku mau pulang Boy!"
“Nanti kuberi tahu, Bhy!” sambil menyulut rokok di mulutnya.
“Haaaaahhh, sudahlah. Seharian aku tak pulang ke rumah, masih saja harus ke rumahmu, Boy?!"
Selepas dari warung, kami berdua pun melaju ke rumah Boy. Yah, meskipun sudah lelah sekali, namun siapa tahu ini penting.
"Boy, kutunggu di sini saja ya!" duduk di kursi halamannya.
"Baiklah. Sebentar yah." ucap Boy.
“Kreeekk.” suara derit pintu rumahnya.
“Klek!” dia menghidupkan lampu kamar kemudian membuka jendela.
"Bhy!!" ia memanggilku dari sudut jendela kamarnya.
"Boy, bisakah kau tak berteriak!" kukepalkan tangan mengarah padanya.
“He he he." tawanya.
Boy memberikan lembaran kertas putih padaku yang bertuliskan "Jika kau ingin mencariku, maka pergilah di tiap ibu kota. Aku pasti ada di salah satu tempat itu."
“Boy, siapa yang menulis ini? Dan kenapa kau memberikannya padaku?”
Menggaruk kepala, "Udahlah Bhy, cepat cari!"
“Cari siapa?” sahutku.
“Cari jodoh, Bhy." dengan raut wajah kesal.
"Ha ha ha." tawaku menanggapinya. "Maksudmu apa, Boy? Isi surat ini perintah kepadaku untuk mencari menuju ibu kota. Boy! Tolonglah kau jangan bercanda, ibu kota luas. Aku bukan paranormal yang ahli menerawang orang hilang." gerutuku padanya.
“Bhy! Ini tulisan prayitno." tegas ia berkata padaku.
Membaca isi kertas itu, bergegas aku pergi dengan perasaan yang amat senang. Kampung orang satu per satu kujajaki. Namun setelah terhenti, aku terpikir, kenapa harus percaya begitu saja dengan isi kertas itu. Bagaimana mungkin aku mengitari kota ini.
Kesal karena harus mencari, posisiku yang kala itu sedang libur kerja, harusnya kunikmati masa liburanku. Namun kali ini aku teringat pesan bibi Prayitno padaku.
Bergegas kuambil ponsel. "Tuuutt... tuuutt... tuuutt..." terdengar suara sambungan telepon.
“Boy! Adakah kertas lain lagi yang dititipkan padamu?" nada kerasku padanya.
“Akh! Aduhhhh... suaramu menyakitkan telingaku Bhy!!!"
Dengan spontan Boy mengatakan, “Tidak ada Bhyyyy!” sambil membolak-balik kertas itu.
“Bhy!” kemudian ucapnya padaku. "Kertas ini menyertakan gambar bangunan megah."
Mendengar informasi itu, sontak kujawab, “Ya sudah.” kemudian kututup ponselku.
Dua kode sudah aku dapatkan. Berawal dari mencari tiap ibu kota, dan sekarang adalah rancangan bangunan megah katanya.
Malam telah tiba, aku pun tertidur pulas di sebuah bangunan megah, yang sejak kedatanganku, aku tak menyadari bahwa aku berada di bawah bangunan megah. Entah apa yang aku lihat sejak tadi, apakah aku tak bisa melihat lantaran kemarahanku ini pada Boy?" tanyaku dalam hati.
Keesokan paginya, aku terbangun dan menganga mulutku. "Masya Allah, indah, megah, luas. Ternyata aku tertidur di tempat indah. Siapakah yang membuat ini?" tanyaku pada diri sendiri. Aku pun masih tak terbayang jika Prayitno yang membuat bangunan ini, sebab lapar telah mengganggu perut dan fikiranku.
“Bu, nasi pecel yah!” pesanku pada ibu penjual nasi pecel.
"Nak, engkau dari mana?" tanyanya padaku.
“Jauh bu...” sahutku singkat, tak menyebutkan asal daerahku.
“Bu rumah ini megah ya! Ibu kenal dengan pemiliknya?" tanyaku basa-basi.
"Pasti kenal lah Mas. Kalau tidak kenal, bagaimana mungkin ibu bisa berjualan di sini."
“Emm.. begitu yaa bu."
"Pemilik rumah ini orang pendatang, Mas." kata ibu penjual pecel.
"Dari mana ibu tahu, kalau ia pendatang?”
“Hmm... Dia sendiri yang bilang ke ibu."
“Ouhh”.
"Ia seorang arsitek Mas. Kalau Mas mau tahu orangnya, cobalah tunggu di sini." sembari melahap sarapan, aku mengangguk saja.
Tak lama kemudian, “Kreeeeek!" pintu warung terbuka. Pemilik rumah megah itu datang.
“Pagi Bu, seperti biasa yaa?” kata pemilik rumah megah itu.
Tercengang aku, "Prayitno!" panggilku dengan keras.
Ia pun menoleh padaku, "Bhy!"
Aku yang langsung berdiri menghampirinya, memegang pundaknya, "Kamu sehat, Yit?" tanyaku padanya kemudian.
"Bhy! Sedang apa di sini?" tanya Yitno padaku.
"Aku mencarimu, lantaran bibi menyuruhku. Seminggu perjalananku dari rumah hingga sampai di tempat ini. Aku hampir menyerah sebab ketidakkuatanku berjalan seorang diri."
Kami pun saling berpelukan. "Maafkan aku, Bhy." ucap Prayitno.
Dan tak lama kemudian, mobil kinclong berwarna hitam berparkir di area bangunan itu. Akupun bertanya kepada Prayitno, “Yit, milikmu?”
"He he he. Nanti kita pulang bersama mengendarai itu."
Ha ha ha ha. Jawaban yang sangat melegakanku.
Di malam hari, aku sudah bersama dengan Prayitno. Hal pertama yang aku ceritakan adalah mengenai bibinya. Dia pun berkata padaku, "Kamu jangan pulang ke kampung dulu, tapi tunggulah aku sebentar lagi dan mari kita pulang bersama."
"Mengapa demikian?" tanyaku.
“Aku harus menyelesaikan bangunan ini setahun lagi.”
“Tapi bibimu sudah menunggumu.” sahutku.
"Bibi tidak akan mencemaskanku Bhy. Kamu tenang saja, surat kabar sudah mulai berkembang masuk ke tempat kita." jelasnya padaku.
“Maksudmu apa?”
"Dalam surat kabar itu tertera foto dan namaku. Terbit hari ini dan akan tersebar sampai pelosok daerah. Aku yakin bibi akan melihat surat kabar itu."
Genap dua tahun, aku dan dirinya akhirnya pulang ke kampung halaman kami. Dia merindukan bibiya sedangkan aku merindukan keluargaku. Apa yang dia janjikan kepadaku ternyata telah dia buktikan, surat kabar yang memuat namanya sudah tersebar luas hingga beberapa penjuru kota dan aku yakin kampungku akan membaca ini.
Akhirnya, suasana di gubuk itu pun penuh dengan pembelajaran yang berarti. Yaitu saling mencintai dan memahami perasaan orang lain. Dengan penuh salah Prayitno meminta maaf kepada bibinya, dan dengan bangga bibinya mengucapkan terima kasih telah membuktikan bahwa ia bisa menjadi orang yang berguna sembari menunjuk ke arah tembok. Disana telah tertempel nama Prayitno beserta surat kabar yang memuat namanya. Dari sini, ia sadar bahwa bibinya yang dari dulu sering memarahinya, ini demi kesuksesannya, bukan benci kepada dirinya.

Komento sa Aklat (123)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    beberapa bab awal alurnya membingungkan bertele tele , bab bab akhir baru jelas alurnya, ceritanya bagus..

    27d

      0
  • avatar
    Dewa hardiansya

    sangat baik

    05/02

      0
  • avatar
    Jerry Wahyudi

    bagus

    17/08

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata