Adnan dan Kirana keluar dari mobil, memasuki ruangan yang ditutupi pintu kaca tebal, seorang petugas sekuriti bermata sipit khas Palembang membukakan pintu dan membungkuk pada mereka. “Ada yang bisa saya bantu?” sapanya sopan. Seulas senyum tersungging di bibirnya yang tipis. “Kami mau bertemu dengan Trisni.” Adnan mendahului Kirana, menjawab pertanyaan sekuriti. Kirana tersenyum malu pada Adnan yang menoleh padanya. “Ibu Trisni Alika?” Sekuriti itu meralat jawaban Adnan, yang kemudian diiyakan dengan Anggukan. “Silakan langsung ke lantai dua, Bu, Pak.” Ia menyarankan sembari menunjuk ke tangga berpagar besi yang berada di sudut kiri, menuju ke lantai atas. Setelah mengucapkan terima kasih, Adnan dan Kirana berjalan beriringan menapaki anak tangga demi anak tangga, menuju ke lantai dua. Binar bahagia tidak pernah lepas dari wajah Adnan yang berjalan di samping Kirana. Sementara Kirana, berjalan dengan malu-malu, karena ini adalah kali pertama dirinya berjalan beriringan dengan seorang pria. Terlebih lagi, pria ini sanggup mengaduk-aduk perasaannya. Tiba di sebuah ruangan bernuansa abu-abu, keduanya menghentikan langkah di depan meja panjang dengan lima komputer berderet di atasnya. Di samping setiap masing-masing komputer, terdapat papan nama. Mungkinkah ini nama-nama staf yang bekerja di ruangan ini? Kirana memindai ruangan, ia mencari keberadaan papan nama bertuliskan nama sahabatnya. Ah, itu. Akhirnya ia menemukan papan nama bertuliskan Trisni Alika di sudut paling kiri. Kirana tidak sabar ingin segera bertemu dengan sahabatnya itu. Akan tetapi, kursinya kosong. Ke mana gerangan sahabat yang telah sekian lama dia rindukan itu? Di ruangan itu hanya ada seorang wanita muda sekitar usia dua puluh lima tahun, tengah serius menghadapi komputernya. papan nama bertuliskan Esni Kayla, bertengger cantik di samping kanannya. Semenjak mendengar langkah-langkah kaki yang mendekatinya, Kayla menghentikan pekerjaan, kala sudut matanya melihat dua orang yang datang dan menyapanya. Senyum manis terkembang di bibir tipisnya, menyambut kedua tamunya. Namun, pandangan Kayla lebih terfokus pada pria tampan berwajah kearab-araban di depannya. Ah, normal. “Bu Trisninya ada?” tanya Adnan setelah mengucapkan salam. “Dengan Bapa—“ “Adik ini yang mau bertemu.” Adnan memotong, dan tanpa diduga Adnan merangkul bahu Kirana. Namun Kirana adalah gadis yang taat pada aturan agama, ia refleks mundur satu langkah, demi menghindari rangkulan tangan yang belum sah menjadi pemiliknya. Kayla tersenyum, entah kenapa di satu sisi ia merasa senang dengan perlakuan lelaki itu, akan tetapi, ia memilih menyembunyikan rasa itu di dalam hatinya. Kayla bertanya-tanya di dalam hati, siapa pria tampan yang ada di depannya. Kenapa gadis yang bersamanya menghindar ketika pria itu hendak menyentuhnya? ‘Aha ... perempuan itu sepertinya bukan istrinya, atau setidaknya belum menjadi istrinya. Yuhu ... masih ada peluang, Jadi bisa kucari info tentang si ganteng itu dari Trisni, nanti, hi hi ,’ bisik hati Kayla bersorak riang. Walaupun hanya menatapnya sekilas, tetapi Adnan bisa menangkap rasa yang disembunyikan Kayla di balik senyum dan binar matanya. Bagi Adnan, sudah terbiasa melihat para wanita tersenyum-senyum sambil menatapnya tanpa berkedip, ketika pertama bertemu, karena sosok Adnan yang bertubuh atletis, dengan kumis tipis menghiasi bagian atas bibir, dan bulu-bulu halus di sekitar dagunya, juga mata elang itu. Tatapannya begitu tajam menembus setiap jantung kaum Hawa yang memandangnya. Adnan menyadari betul pesona dirinya. Sementara Kirana, terbengong melihat wanita yang bernama Kayla. Kirana menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menyadari, ternyata bukan hanya dirinya saja yang menyukai Adnan. Tiba-tiba hatinya menjadi ciut. Dipandang dari sisi mana pun, Wanita yang ada di depannya memang jauh lebih cantik dibanding dirinya. Kirana mengakui pesona mata Kayla yang bulat indah, mana mungkin Adnan tidak menyukainya. Namun, apa yang telah Adnan lakukan untuk dirinya, hingga mereka berdua berada di sini sekarang? Hati Kirana bagai bunga-bunga yang sedang bermekaran, kala melihat ada secercah asa. Ia seakan terbang di dunia khayal. “Hai, Dik! Itu ditanya. Kok malah senyum-senyum.” Adnan membuyarkan khayalan Kirana. Alangkah malunya hati Kirana, dikejutkan oleh orang yang tengah memenuhi khayalannya. Ia tersipu malu, yakin warna wajahnya telah berubah bak kepiting rebus. “Siapa namanya?” Kayla mengulang dengan sedikit ketupg “K-kirana. Nama saya Kirana.” Kirana tergagap. Malu-malu ia mengulurkan tangan sambil memandang ke arah Adnan dan Kayla secara bergantian. Kayla menerima uluran tangan Kirana dengan senyum yang dipaksakan. “Kirana apa? Nama panjangnya?” Kayla memutar bola mata, malas. Suaranya sedikit ditekan, menandakan suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja. “Saya mau bertemu dengan Trisni Alika. Saya sudah ada janji dengannya.” Kirana mulai lancar mengemukakan tujuan kedatangannya. “Oh, ya. Silakan ditunggu sebentar, ya. Dia sedang mengurusi TKW yang bermasalah, di atas.” Kaila menunjuk dengan mengerlingkan bola matanya ke arah tangga yang menuju ke lantai tiga, kemudian kembali sibuk dengan keyboard komputernya. Lebih tepatnya menyibukkan diri mengatasi perasaannya pada lelaki yang ada di depannya. Tinggal lah Adnan yang tengah memandangi Kirana, dan Kirana yang serba salah dipandangi oleh Adnan seperti itu. Kirana menunduk malu. Sementara Kayla, ia tiba-tiba merasa tempat duduknya yang empuk, seakan berubah menjadi bara api, hingga ia memutuskan untuk bangkit dan menyusul Trisni di lantai atas. Adnan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menatap Kirana begitu lama, menimbang-nimbang apakah akan menyampaikannya di sini tempat ini? Atau menundanya hingga ia menemukan waktu yang tepat untuk menyatakan hasrat hatinya, di tempat yang spesial? Namun, bagai mana kalau kedahuluan oleh orang lain. Adnan tidak menginginkan incarannya lepas dari tangan. “Dik!” “Hm?” Kirana mendongak sesaat, kemudian menunduk kembali. “Kalu Aku melamarmu, mau dak Adik jadi istriku?” Kirana tertegun. Perlahan ia mengangkat wajah menatap lelaki yang baru dikenalnya, tetapi memang dirinya menginginkan tawaran itu. Kirana terbuai, namun ia harus jaga imej sedikit. “Jangan menggodaku, Kak. Kito ni baru beberapo hari kenal.” Lain di mulut lain di hati. Itulah penggambaran sikairana. “Dak masalah kito baru kenal atau dah lamo, yang penting Kau suka idak samo Aku? Jawab itu bae. Hmm ... cak mano?” Kirana mencoba mencari keseriusan dari bola mata Adnan. Namun, ia merasa malu melawan tatapan mata yang seakan membiusnya, membuat bibirnya seakan terkunci, tidak bisa mengatakan apa-apa selain menangguk, kemudian menundukkan kepala. Merasakan degup jantungnya tiba-tiba bagai genderang yang ditabuh bertalu-talu. Ceklek. “Kayla! Trisni!” Seorang wanita berambut ikal sebahu, keluar dari pintu yang baru saja di buka. Celingukan ke arah kursi-kursi yang kosong tanpa tuannya. “Ke mana orang-orang ini?” “Ke lantai atas, Bu.” Adnan berinisiatif memberi tahu, karena ia tahu tidak ada lagi orang lain selain dirinya dan Kirana di ruangan itu. Eh, tapi. Sebentar. Suaranya itu seperti tidak asing baginya. “Adnan?” Adnan memutar badannya, menghadap ke arah orang yang menyebut namanya. “Kau Adnan, ‘kan?” ulang wanita itu seakan ingin memastikan. “Rindya?” gumam Adnan pelan, matanya terkunci pada sosok wanita yang pernah mengisi hatinya beberapa tahun silam, yang kini ada di hadapannya. “Iyo. Aku Rindya. Apo kabar? Lagi apo Kau di sini?” cecarnya. Senyumnya terkembang dengan binar mata yang memancarkan rindu. “Lamo dak ketemu.” Sambungnya. “B-baik.” Adnan tergagap. Ia merasa serba salah, karena Kirana ada di sini, dan baru saja Adnan melambungkan perasaannya. Sebenarnya Rindya ingin memeluk Adnan, melampiaskan rasa rindunya yang membuncah setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan waktu. Barangkali Adnan masih menyimpan rasa itu untuk dirinya. Namun, ia harus menahan keinginannkarena ada wanita lain bersama Adnan. “Ini siapo, Ad? Rindya menunjuk ke arah Kirana dengan dagunya. Memindainya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. “Oh, yo. Kenalke. Ini calon bini Aku.” Adnan mengedipkan sebelah mata memberi kode pada Kirana yang terpaku menatapnya. “Hai, Kirana?” Kirana memalingkan wajah ke arah tangga, tempat di mana Trisni memanggil namanya. Siapa itu Rindya? Yakin nggak Kirana menerima cinta Adnan, ya?
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
terbaik
19d
0keren
03/06/2025
0BAGUS KAKK
27/05/2025
0Tingnan Lahat