logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bab 6. Tebar Pesona

“Wow ... masih ori sepertinya.” Sorak Adnan dalam hati.
Ia menerka-nerka wanita yang duduk di belakangnya. Ia tidak mengerti kenapa gadis yang diboncengnya duduk tanpa menempelkan tubuh di punggungnya. Seolah sengaja memberi jarak, padahal tas travel yang berisi pakaian Kirana sengaja disimpan di bagian depan oleh Adnan. Namun, jangankan menempelkan tubuh, bahkan tangannya pun tidak berpegangan pada perutnya, atau minimal di baju bagian pinggang lah.
Motor yg dikendarai oleh Adnan dan Kirana, melaju perlahan di jerambah terbuat dari kayu dengan lebar sekitar satu meter. Di kiri dan kanan terdapat deretan rumah-rumah yang terbuat dari kayu keras, dengan ciri khas Palembang yang berbentuk panggung. Hal ini disebabkan karena kondisi geografis lingkungan yang banyak di daerah perairan dan untuk menghindari air masuk ke dalam rumah, karena sebagian daerah di Palembang adalah rawa-rawa dan sungai.
“Pegangan lah, Dik. Kagek Kau nyampak.” Adnan mencoba menyarankan pada Kirana agar berpegangan supaya tidak jatuh. Namun, Kirana yang mengetahui bahwa bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram itu haram, ia bersikukuh untuk tetap bertahan. Ia lebih memilih berpegangan erat pada jok yang ia duduki.
Demi menyadari Kirana yang seolah sengaja menahan diri untuk bersentuhan dengannya. Adnan merasa mendapat tantangan baru. Seperti mendapat sebuah tarikan magnet, yang membuat dirinya menjadi penasaran. Sang petualang yang sudah lihai menghadapi wanita ini menemukan sesuatu yang lain pada diri gadis ini, sesuatu yang langka. Di mana di zaman sekarang, jangankan bersentuhan, berpeluk-pelukan pun sudah biasa dilakukan oleh gadis-gadis sekarang. Bahkan tidak jarang hal itu dilakukan oleh sebagian dari anak-anak baru gede yang masih bau kencur. Sebagian dari mereka ada juga yang berpakaian tertutup seperti Kirana. Namun, gadis ini lain.
Adnan membawa Kirana menyusuri jembatan Ampera, menyeberangi Sungai Musi, lalu membelah jalan menuju sebuah perumahan mewah di kota itu. Kirana yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di kota provinsi ini tidak menyadari kalau alamat rumah mau pun tempat kerja sahabatnya, justru telah terlewati. Kirana sibuk mengagumi keindahan kota dan gedung-gedung bertingkat, diantara padatnya lalu lintas kendaraan di jalan raya.
“Ini rumah siapo, Kak?” Kirana penasaran, ketika Adnan menghentikan motornya di depan sebuah rumah mewah yang memiliki halaman luas. Kirana mengedarkan pandangan mengagumi keindahan bangunan rumah dua tingkat bercat putih dengan paduan hitam dan terali besi berwarna keemasan, serasi dengan pagar berukir dengan warna emas pula yang tampak mewah.
“Ini rumahku.” Adnan sedikit mengangkat dagunya dengan rasa bangga. Ia memasuki halaman, setelah seorang lelaki setengah baya tergopoh-gopoh membukakan pintu pagar, dan menutupnya kembali.
“Adik duduklah dulu, yo.” Adnan menunjuk pada sepasang kursi berukir di teras berlantai marmer itu, meninggalkan Kirana tanpa menoleh. Namun, bibirnya mengulas senyum saat sudut matanya menangkap bayangan Kirana dari jendela kaca.
‘Wah, sudah tampan, kaya pula.’ Kirana sembari tersenyum-senyum sendiri memandangi sekeliling. Sedikit norak, walau tidak terlalu kentara.
“Pagi, Bos!” Lelaki setengah baya yang membuka pagar tadi mengangguk sopan pada Adnan, juga pada Kirana.
“Pagi.” Adnan menjawab singkat sembari menyerahkan kunci motor padanya dan memerintahkan untuk mengeluarkan mobil dari garasi.
“Cek Limah lagi apo, Mang Cek?” Lelaki berbadan kurus dengan tinggi sedang yang di panggil Mang Cek yang berarti Paman oleh Adnan tadi menoleh, sebelum membuka pintu mobil yang akan dikeluarkan dari garasi.
“Lagi buat Burgo yang bos minta semalam.”
Selaso namanya, adalah orang yang dipercaya mengurusi rumah Adnan sejak beberapa tahun ini. Selaso merasa sedikit keheranan, kala melihat Bosnya masuk ke dalam rumah tanpa mengajak serta gadis yang dibawanya. Selama bekerja di sini, ia sudah biasa melihat Adnan membawa pulang wanita-wanita cantik berpakaian kurang bahan, ke rumahnya. Namun, wanita yang dibawa Adnan kali ini penampilannya lain. Siapa gerangan wanita ini? Apakah dia sedang mencoba bermain-main dengan gadis alim, atau gadis ini hanya casingnya saja yang berbeda, sedangkan isinya sama saja dengan perempuan-perempuan yang lain?
“Oh, yo. Baguslah tu. Sekalian siapke jugo untuk Adik ini.” Adnan menoleh dan mengedipkan sebelah mata pada Kirana yang tengah tersenyum menatapnya. Membuat Kirana tersipu malu.
Ah ... manis sekali. Gelitik hati Adnan sebelum berlalu masuk ke dalam rumah.
Adnan memang sengaja tidak mengajak Kirana masuk. Ia memilih meninggalkan gadis itu di teras.
‘Bila gadis itu menghindari bersentuhan dengan lawan jenis, pasti dia juga tidak akan mau diajak masuk ke dalam rumahnya.’ Pikirnya.
Sedikit banyak Adnan masih mengingat pelajaran agama yang diajarkan oleh kedua orang tuanya yang nota bene pemeluk agama Islam yang taat, walau kehidupan dirinya jauh melenceng dari aturan agama, beberapa tahun belakangan ini, setelah dirinya terpaksa menanggalkan seragam loreng kebanggaannya.
“Hhhh.” Adnan mendengus, menepis ingatan tentang itu.
❤❤
Pagi itu, Adnan menikmati sarapan pagi yang dihidangkan Halimah di teras depan rumah bersama Kirana dengan perasaan aneh, karena mereka menghabiskan makannya dengan saling diam. Kirana lebih banyak memamerkan senyum manisnya ketika diajak berbincang-bincang seputar dirinya, hanya sesekali saja ia menjawab pertanyaan Adnan. Itu pun hanya jawaban singkat.
Sementara Kirana, merasa canggung menikmati hidangan bersama pria tampan yang baru beberapa hari dikenalnya. Dan pagi ini, ia sarapan berdua dengannya. Belum lagi gayanya yang membuat hati kirana kebat-kebit, memandangnya lama-lama sambil tersenyum. Kemudian menuangkan burgo ke mangkuk Kirana, mengisi kembali gelas minumannya yang hampir habis. Ah ... Kirana merasa seperti seorang putri dibuatnya. Jantungnya berdebar-debar setiap Adnan menatapnya sambil tersenyum.
“Jadi ...nak ke mano kito hari ni?” tanya Adnan membuyarkan lamunan Kirana, setelah selesai sarapan.
“Ke PT bae.”
“Dak nak main dulu, kito?” Adnan menawarkan. “Masih pagi jugo, Dik.” Adnan kembali menggoda dengan senyumnya. Menunggu jawaban Kirana, apakah akan menerima tawarannya, atau ....
“Mokasih, Kak. Aku belum mengurus surat lamaran kerja.” Ternyata gadis ini menolak tawarannya. Adnan merasa tertantang. Selama ini banyak wanita cantik bertekuk lutut padanya, bahkan ada yang menawarkan diri. Pertama kali ditolak, justru oleh gadis kampungan ini.
‘Hmm ... dia belum tahu siapa Adnan Afif.’
“Okey lah. Kalu cak itu.” Adnan menyetujui. Padahal di dalam hatinya berkata, “Kita lihat, apa benar kamu bisa menolak seorang Adnan, gadis kampung?”
“Nak bawak dewek, Bos?” Selaso yang juga sebagai sopir pribadinya menanyakan apakah Adnan akan bawa mobil sendiri.
“Iyo.” Adnan menjawab singkat sembari menadahkan tangan meminta kunci mobil di tangan Selaso.
Dengan dibalut kemeja polos berwarna light blue, dan celana panjang berwarna senada yang lebih gelap, membuat penampilan Adnan tampak seperti seorang pegawai kantoran di mata Kirana. Ia penasaran ingin tahu kerjanya di mana, tapi enggan bertanya. Khawatir disangka tertarik padanya. Walau pun di dalam hatinya memang Kirana suka.
“Masuklah!” perintah Adnan sembari membukakan pintu untuk Kirana, senyumnya tidak pernah lepas dari bibir yang dihiasi bulu-bulu halus di atasnya.
Selaso tidak lepas memperhatikan perlakuan Adnan pada gadis belia yang tampak kampungan itu, sebelum ia mengedikkan bahu dan segera menutup pagar, kemudian berjalan dan masuk ke dalam rumah, menemui sang istri yang sudah menyiapkan sarapan pagi di dapur bosnya.
Sementara Kirana yang sudah duduk manis di samping Adnan, menikmati kesegaran aroma lemon dari sesuatu yang tergantung di dalam mobil itu, tiba-tiba menahan napas dan membulatkan matanya, kala Adnan memiringkan badan dan meraih pinggangnya. Kepala Adnan menempel di dada Kirana.
“Kakak nak apo?” Kirana ketakutan, teringat kejadian yang menimpanya tadi malam. Ia mengumpulkan tenaga, bersiap untuk mendorong tubuh Adnan sekuat tenaga. Namun, baru saja tangannya hendak mencengkeram bahu lelaki yang dikira akan berbuat kurang ajar padanya ....
“Tenang, Dik. Kakak Cuma nak bantu Adik pasang sabuk pengaman ini,” bisik Adnan mendongak. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dengan wajah Kirana. Kirana menatap bibir yang berbisik itu begitu dekat dengannya, dan Adnan pun memandangi bibir kirana.
“He he he ... aku pikir Kakak nak apo.” Kirana memalingkan wajahnya ke arah pintu, tersipu malu. Akan tetapi, ia tidak bisa memungkiri debar jantungnya saat kepala Adnan menempel di dadanya, barusan. Dan Adnan pun tahu itu.
Mereka pun tertawa bersama, sebelum mobil Adnan melaju perlahan, lalu membelah jalan menuju ke arah Jembatan Ampera.

Komento sa Aklat (21)

  • avatar
    AmeliaIkhsani

    terbaik

    20d

      0
  • avatar
    HasimHasim

    keren

    03/06/2025

      0
  • avatar
    athirahshafa

    BAGUS KAKK

    27/05/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata