Kesenangan Ardo tak berlangsung lama karena kulitnya mulai menunjukkan tanda-tanda alergi, dia gatal- gatal dan perutnya sangat sakit. Risa yang baru kembali 30 menit kemudian pun langsung panik dan marah-marah ke Ardo yang makan tiramisunya tanpa izin. “Kamu itu alergi almond! Bisa-bisanya makan makanan manis tanpa tanya-tanya dulu, sih?” gerutu Risa sambil berusaha membawa Ardo keluar dari restoran. “Aku nggak tahu, kamu nggak bilang,” balas Ardo tidak mau disalahkan. “Makanya tanya!” Risa meninggalkan kartu kredit untuk pembayaran, dia akan mengambilnya nanti setelah mengurusi Ardo yang alergi almond. Perempuan itu menyetir ke rumah sakit terdekat, dia juga memarahi Ardo di sepanjang perjalanan ke sana. Diam-diam Ardo tersenyum melihat wajah kesal mantan kekasihnya itu, membuatnya teringat pada insiden semacam ini di masa lalu. “Aku kangen dimarahin begini kayak dulu, Sa,” kata Ardo saat mobil berada di lampu merah. Perempuan itu menoleh cepat dan menatapnya tajam sebagai balasan. “Ardo, nggak lucu, seharusnya kamu lebih hati-hati karena punya alergi.” Ardo mengernyit kesakitan sekujur tubuhnya terasa panas karena gatal-gatal, tetapi dia juga tersenyum karena merasa diperhatikan. “Biasanya aku hati-hati.” Setelah itu Arisa tidak mengajaknya bicara lagi, sementara Ardo berusaha menahan rasa sakit. Mereka sampai di rumah sakit sekitar 40 menit, bukan rumah sakit besar yang sering Ardo kunjungi, tetapi setidaknya ini adalah yang terdekat dari hotel. Risa memang tampak galak di luar, tetapi dia tetap perhatian dan mengingat detail kecil tentang Ardo. Yang entah mengapa itu membuat hati pria itu terenyuh. Mereka pergi ke dokter spesialis alergi-imunologi untuk pemeriksaan Ardo. Untungnya hari ini tidak ada banyak pasien, Ardo hanya menunggu kurang lebih 20 menit sampai bertemu dokter dan mendapatkan penanganan yang layak. Lalu, Risa menebus obat ke apotek selagi Ardo menunggu di luar, mereka pergi setelah itu. “Aku minta maaf, harusnya tadi bilang ke kamu kalau di tiramisunya mengandung kacang almond,” kata Risa saat berjalan beriringan dengan Ardo di lorong rumah sakit. Ardo menggeleng ringan dan tersenyum tipis. “Enggak, kok, akunya aja yang asal makan.” “Serius, kamu nggak apa-apa?” Nada suara Risa yang penuh kekhawatiran membuat Ardo lebih merindukan kebersamaan mereka dulu. Seandainya waktu bisa diputar, maka Ardo akan memukuli dirinya sendiri yang sudah egois meninggalkan Risa sendirian di pinggir jalan. Malam-malam di tengah rintik hujan, Ardo menurunkan kekasihnya. Jika bukan karena kebodohan Ardo itu, kemungkinan besar dirinya adalah orang yang seharusnya menyematkan cincin pertunangan di jari manis perempuan itu. “Kalau kamu merasa bersalah, gimana kalau kamu ikut dinner keluarga di rumahku beberapa hari lagi?” pinta Ardo secara spontan. Risa mengernyit. “Kamu memanfaatkan situasi, ya, Do?” Ardo mengangkat bahu. “Mamaku kangen kamu.” Karena sudah di-briefing Mama, maka Ardo menjadi lebih tidak tahu malu. Lagi pula, di kesempatan apa lagi dia bisa mengajak Risa ke rumah selain acara makan malam keluarganya? Ardo juga tidak mengada-ada tentang Mama yang merindukan Risa. Bagaimanapun, kedua perempuan itu pernah akrab saat Ardo masih kekasihnya. “Ya ampun, Do, kenapa bisa-bisanya bikin alesan yang susah ditolak, sih? Bawa-bawa Tante segala. Berengseknya.” Risa tersenyum geli bercampur kesal saat menatap ke Ardo. “Udah lama aku nggak ketemu Tante juga, sejak kita putus.” “Jadi, gimana?” tanya Ardo. “Oke, aku akan datang,” jawab Risa dengan pasrah. “Tapi ini demi Tante, ya, bukan kamu.” “Iya, iya, santai aja, kalik. Aku nggak tanya, loh.” Ardo menyeringai bahagia karena walaupun tadi itu sangat memalukan, tetapi akhirnya dia berhasil mengajaknya dinner. *** Di hari yang sudah mereka sepakati, Ardo menjemputnya untuk dinner keluarga. Semula perempuan itu tidak bersedia dijemput, tetapi Ardo tetap memaksa sampai Risa menyerah. Mereka menjadi canggung di tengah jalanan petang yang macet. Padahal, biasanya Ardo melontarkan kata-kata nakal untuk menggodanya, tetapi kali ini dia tidak banyak bicara karena terlalu terpesona oleh penampilan semi formal mantan kekasihnya. Pria itu juga menyesal karena putus di usia terlalu muda dan mereka juga tak terlalu sering dinner berdua dengan suasana yang lebih mewah. Ardo yang berusia 20-an awal tidak suka segala sesuatu yang terkesan kaku dan formal. Ardo yang berusia 28 tahun bisa booking table di restoran mana saja yang dia mau dalam sekali panggilan telepon. Sayangnya, satu-satunya perempuan yang ingin dia ajak dinner romantis adalah tunangan dari seseorang. “Kayaknya kamu lagi nggak sibuk, ya, Do?” Ardo mengalihkan pandangan dari jalan ke Risa. “Sejak akun-akunku diretas, aku memilih untuk rehat sebentar. Ada tim yang mengurusinya, kok, bengkelku juga bisa jalan sendiri, dan clothing line-ku masih rame.” Risa tersenyum bangga padanya sampai-sampai membuat wajah Ardo merah padam karena malu. Jika Risa berkesimpulan bahwa mereka yang sekarang sudah tidak cocok, maka Ardo punya pendapat yang berbeda. Menurutnya, penulis dan influencer sangatlah cocok, mereka sama-sama tidak terikat oleh jam-jam kerja khusus. “Sudah sejauh itu kamu ternyata, ya,” puji Risa sambil menatap lurus ke depan. “Apa?” tanya Ardo bingung. “Hebat,” puji Risa. Perempuan itu menghindari kontak mata dengan cara terus memperhatikan pemandangan mobil macet depan, padahal Ardo justru tersenyum lebar menatapnya sebagai tanggapan atas pujian barusan. Selama ini pria itu selalu bertanya-tanya dalam hati, bagaimana akhirnya jika mereka tidak pernah putus? Andai saja dia bisa mengulang waktu, dia tidak bertindak bodoh seperti—putus dengannya. “Mama tadi bikin soto ayam kesukaan kamu,” kata Ardo sambil kembali memutar kemudi. Dia mencoba tidak terdengar menggoda walaupun sebenarnya sangat bisa memanfaatkan situasi mereka. Ardo tahu mantan kekasihnya tidak akan suka jika dipuji riasannya cantik atau gaunnya yang indah. Setidaknya Ardo menahan diri untuk jangan memujinya sekarang, karena itu akan terdengar sangat murahan. Tiga bulan, dia hanya punya waktu selama itu untuk mengubah pikirannya. Bukankah di luar sana banyak kasus pengantin yang kabur dari pernikahan? Ardo berharap keajaiban itu terjadi padanya juga. “Tante sukanya repot begitu, ya? Padahal, aku ini nggak pilih-pilih makanan, nggak alay ribet kayak kamu.” “Aku? Kenapa? Aku bisa-bisa aja makan yang nggak ada rasanya, bahkan mie instan mentah pas tracking di gunung,” bantah Ardo. “Kamu punya alergi almond, Do, dan kamu itu hobi banget meninggalkan review nggak jelas tiap abis makan di kafe atau resto mana, kek. Padahal, isinya cuman keluhan pribadi yang terlalu personal. Makanannya inilah, tempatnya bau rokoklah, atau pelayanannya ini itu.” Ardo hanya mendengus, tidak bisa membantah karena semuanya adalah fakta yang terang benderang. Pria itu memang suka sekali menulis review keluh kesahnya setiap kali selesai mencoba makanan di restoran dan tempat makan lainnya. Dulu Risa selalu mengingatkan Ardo bahwa itu adalah kebiasaan yang berlebihan dan lebih mirip seperti keluhan Emak-Emak Rempong. “Ya kalau makanannya ternyata nggak enak, wajar ‘kan kalau aku bilang nggak enak, dong. Kalau pelayanannya juga kurang bagus, aku harus komplain biar mereka berbenah diri. Apa salahnya, Sa?” “Enggak, Do, kadang ada hal-hal di luar kontrol kita dan manusia itu bukanlah mesin. Aku kalau nggak suka makanannya atau pelayanannya kurang sreg di hati, ya tinggalin aja, nggak usah ke situ lagi, beres, kan? Nggak perlu ada yang tersinggung, misalnya nanti kalau tutup atau sepi ya itu artinya kualitas yang berbicara.” “Itu juga yang bikin kamu yakin ninggalin aku?” tanya Ardo, matanya mengerjap beberapa kali karena berhasil menarik kesimpulan. “Karena kamu lebih suka langsung pergi tanpa mau bicara sama aku lagi?”
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
30/10
0keren
29/10
0sangat bagus
14/10
0Tingnan Lahat