Dua jam setelah Risa menarik kalungnya sampai terlepas dari leher, Ardo mendapat ajakan makan siang bersama. Risa tidak enak ditraktir makan beberapa waktu lalu, jadi, dia ingin balik mentraktir Ardo sebagai gantinya agar impas. Ardo tahu hal semacam ini akan terjadi, mantan kekasihnya itu tidak suka berutang budi pada siapa pun. Baiklah, dia juga harus meminta kembali kalungnya yang direbut secara paksa. Anggap saja benar bahwa kalung tersebut adalah hadiah pemberian Risa untuk ulang tahun Ardo yang ke-21 tahun, tetapi selama kurang lebih tujuh tahun ini benda itu selalu menjadi miliknya, dan tidak pernah dilepas jika tidak mendesak. “Dia itu sangat menjengkelkan, kalau statusnya bukan pacar,” gumam Ardo saat memasuki restoran yang masih di hotel. Tadi Ardo berolahraga seperti rutinitasnya, padahal dia jarang ke gym hotel Indra. Ardo lebih suka gym yang letaknya tak jauh dari rumah. Pria itu berbicara sebentar dengan Indra dan akhirnya membersihkan diri setelah merasa cukup, kemudian kemari saat jam makan siang untuk memenuhi undangan lunch bersama dari sang mantan kekasih. Ardo berusaha tampil rapi dan menawan walaupun ini bukan kencan. Namun, apa ada dampaknya bagi Risa? Ardo mendengus, dilirik pun tidak. “Dulu kita juga sempet dinner romantis di restoran,” kata Ardo segera setelah duduk, lalu menuangkan air putih ke gelasnya sendiri. “Inget, kok, malam itu kamu meninggalkan aku di pinggir jalan,” balas Risa sinis. “Itu yang pertama dan terakhir, sisanya kita lebih sering makan di tempat yang murah karena masih mahasiswa bokek.” Sontak Ardo tergelak, ingat jelas apa yang terjadi malam itu. Bukannya mengingat bagian romantisnya, perempuan itu malah mengingat bagian terburuknya. Namun, Ardo tidak akan menyerah semudah itu walaupun sering mendapatkan respons negatif. Dia sudah mengenal Risa dengan sangat baik selama bertahun-tahun lamanya, Ardo yakin seharusnya beberapa trik yang sama bisa berhasil untuk meluluhkannya. “Kalau kupingku ini enggak salah denger, tadi kamu sempet bilang ‘kepikiran’, ya? Kenapa—kalau boleh tahu? Kangen atau apa?” Ardo menyesap air mineral di gelas. “Iya, aku kepikiran … body count-nya Ardo berapa, ya?” Risa bertopang dagu dan sambil mengernyitkan dahi. Seketika pria itu tersedak air, dia batuk-batuk sampai tenggorokannya sakit. Dia cepat-cepat mengambil tisu dan mengelap bibirnya sendiri, sesekali masih batuk dan berusaha menjaga raut mukanya agar terlihat biasa. Namun, sekarang hal yang paling menjengkelkan adalah senyuman perempuan itu, terlihat sangat-sangat menikmati kepanikannya. “Aku nggak pernah pacaran yang serius lagi setelah kita putus,” kata pria itu. Lalu, Ardo bersedekap anggun dan mencoba duduk dengan santai, padahal sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya dia tidak santai sama sekali setelah diserang secara personal. Apakah kabar tentang Ardo yang suka main perempuan sudah terdengar oleh telinga Risa? Namun, akan lebih aneh lagi jika Risa tidak tahu apa-apa tentang itu. Risa memutar mata. “Memangnya aku perduli?” “Kamu harus perduli, menurutmu … kenapa aku masih pakai kalung itu sampai sekarang? Sebaiknya kamu balikin kalung itu ke aku, itu punyaku.” Pria itu mencoba membalik keadaan dengan cara mengarahkan pembahasan ke hal yang lain. Mereka bersama sejak remaja usia belasan tahun sampai berusia awal 20-an, semula Ardo pikir hubungan mereka akan berlangsung selama-lamanya karena mereka sangat bahagia saat bersama. Bahkan, jika perempuan itu menginginkannya berpindah agama ke Katolik, Ardo akan melakukannya dengan senang hati. Akan tetapi, semua angan-angan bahagia selamanya berakhir dalam sekejab mata hanya karena satu kesalahan. “Udahlah, Do, silakan pesen makanan yang kamu mau makan, aku pengin cepetan balik. Capek, mau tidur,” gerutu Risa. *** Satu jam berikutnya mereka sudah menyantap makanan, Ardo hanya memesan beberapa jenis olahan di menu karena sedang tidak bernafsu makan. Perempuan di hadapannya juga terlihat sibuk makan sambil melamun sendiri, terlihat gusar oleh sesuatu dan ingin lekas meninggalkan tempat ini. Ardo sungkan mengajaknya makan malam keluarga dalam situasi seperti ini. Rasa-rasanya akan terdengar sangat murahan jika menggunakan Mama sebagai alasan. Maka dari itu, sebaiknya Ardo harus menunggu sampai waktunya tepat. Bagaimanapun, hubungan mereka ini sangat canggung, Ardo tahu dia sudah membuat sebuah kesalahan besar yang tak termaafkan. Sayangnya, masa lalu mereka terlalu indah untuk Ardo lupakan. “Kapan kamu jadian sama Kala?” tanya Ardo untuk membuka pembicaraan. Risa kemudian berhenti mengunyah dan mengerjap selama beberapa detik, rahangnya baru kembali bergerak mengunyah lagi setelah Ardo diam-diam menghitung dalam hati sampai tiga detik. Terlihat terkejut atas pertanyaan Ardo barusan, seolah-olah ada rahasia besar saja. Perempuan aneh! Ardo kesal sendiri karena bingung bagaimana cara mendekatinya. Lupakan soal Kala! Pria itu hanya bajingan beruntung yang tanpa sengaja muncul di hidup Risa yang sedang patah hati karena Ardo. Seandainya saat itu Ardo langsung minta maaf, maka bulan depan dia sudah naik pelaminan dengan perempuan di depannya ini. Ardo menatapnya cukup lama. “Setidaknya aku ingin tahu apa yang terjadi setelah ‘kita’ versi kamu.” “Dua atau tiga tahun setelahnya,” jawab Risa tenang. “Aku lupa.” Ardo mengangguk-angguk sendiri sambil merenung, itu artinya Kala menjadi kekasih Risa saat usianya 24 tahun. Dia tahu seharusnya tidak perlu merasa kecewa, tetapi setelah tahu hanya butuh waktu dua tahun untuk move on darinya entah mengapa membuat pria itu tersinggung. Semudah itukah Risa merelakan Ardo? Apakah kebersamaan mereka selama lima tahun tidak cukup membekas dan berarti bagi Risa? “Owh, kamu cuma perlu dua tahun untuk move on dariku, ya?” sindir Ardo. “Enggak juga, aku butuh sekitar empat tahunan untuk move on dari kamu, Do.” Kemudian Risa menunduk dan memotong-motong makanan di depannya. Apa? Butuh empat tahun? Selama beberapa saat otak Ardo menjadi blank karena tidak bisa berpikir. Bukan, bukan, bukan! Ardo hanya sedang berusaha mencerna informasi yang cukup bertolak belakang dengan dimulainya hubungan Risa dengan Kala. Bukankah itu artinya perempuan itu masih memikirkannya walaupun sudah memiliki kekasih baru? Maksudnya apa ini? Ardo mematung di tempat dan menutupi keterkejutannya dengan minum air. “Tunggu dulu, maksudnya apa?” Ardo sambil menyisir rambut dengan jari tangannya. “Persis seperti yang kamu pikirkan,” balas Risa acuh tak acuh. Pria itu tertawa pelan. “Yang aku pikirkan adalah … aku masih punya kesempatan.” Mereka saling bertatapan, kali ini Ardo berhasil menemukan kepercayaan dirinya lagi. Jadi, sekarang dia tahu bahwa perempuan itu ternyata masih menunggunya selama beberapa tahun sebelum yakin pada Kala. Sayangnya, Ardo lambat membaca situasi di saat itu, membuatnya gagal menyambar kesempatan lebih cepat. “Enggak, Do, kita udah nggak cocok. Aku butuh leader, bukan influencer.” “Kata siapa? Bahkan, kita belum nyobain jadi pasangan lagi,” bantah Ardo. “Leader apanya? Emangnya kita mau syuting jejak petualang di taman komodo? Aku ini laki-laki dan kamu perempuan, itu udah cukup bagiku.” Risa mengernyit sebelum tersenyum tipis sambil memandangi piring. Tatapannya menjadi sendu ketika kembali menatap Ardo. “Kenapa kamu nggak paham juga, sih? Aku sebentar lagi mau nikah.” Di saat Ardo hendak membuka mulut untuk menyanggah alasan tersebut, tiba-tiba ponsel Risa berbunyi. Ardo tersenyum tipis ketika perempuan itu dengan bangganya menunjukkan siapa yang menelepon, tertulis ‘Kala’ di layar ponsel tersebut. Risa pamit pergi ke toilet demi mengangkat panggilan, Ardo hanya mengangguk ringan untuk mempersilakan. Ardo mengunyah banyak sayuran dengan cepat, marah pada keadaan. Baru saja dia merasa bahagia karena dilambungkan oleh harapannya sendiri, tiba-tiba Kala malah menelepon di saat-saat yang penting. Suasana hati Ardo menjadi lebih buruk dari yang seharusnya karena mencemburui seseorang yang bukan miliknya lagi. Namun, Ardo juga tak mungkin menyerah hanya gara-gara pria itu. “Aku langsung bad mood,” gumam Ardo sesaat setelah menenggak air mineral. Lalu, matanya tertuju pada tiramisu dengan baluran cokelat kental di atas piring berbentuk bunga cantik. Seharusnya Risa tidak akan keberatan jika berbagi sepotong dan Ardo tinggal membuat berbagai alasan agar terdengar masuk akal. Dia tanpa ragu mengambilnya dan mencobanya dengan satu suapan sendok kecil.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
30/10
0keren
29/10
0sangat bagus
14/10
0Tingnan Lahat