"Alisya, kamu mau membuat bunda khawatir, ya? Kenapa baru menghubungi bunda? Kamu tahu tidak, kemarin bunda tidak bisa tidur gara-gara kamu? Dasar anak bodoh, kamu hampir membuat bunda mati karena khawatir." Alisya menjauhkan telepon dari telinganya. Ia mengernyitkan dahi dan berdecak sebal saat suara keras sang bunda menyapa gendang telinganya. Ia tahu jika reaksi bundanya akan seperti ini, tapi tetap saja, perasaan jengkel itu datang saat pertama kali ia mendengar suaranya. "Bunda, stop!" titah Alisya dengan tegas. Ayolah, kupingnya terasa panas karena mendengar gerutuan dari sang bunda. "Stop? Astaghfirullah, Alisya, bunda itu khawatir sama kamu. Wajar dong kalo bunda rusuh, bahkan ngomelin kamu kayak gini. Kamu yang gak wajar, Alisya. Seharusnya dari kemarin kamu telepon bunda, kenapa baru sekarang, hah?" Lagi dan lagi, Alisya semakin menjauhkan telepon itu dari telinga. Ia memutarkan mata malas. Kemudian menarik telepon untuk kembali mendekat ke arah telinganya. Mengembuskan napas pasrah, saat hendak menjelaskan, tapi suara nyaring bundanya kembali terdengar dari seberang, "Jangan mentang-mentang kamu di negeri orang, Alisya. Kamu menjadikan jarak sebagai alasan untuk tidak berkomunikasi dengan bunda. Bagaimana pun, bunda ini orang tua kamu, orang yang telah membuat kamu sampai berada di sana. Tidak adil jika kamu memperlakukan bunda seperti ini." "Astaghfirullah. Bunda kok malah berpikir seperti itu sih?" Alisya berjengit mendengar bundanya malah berbicara seperti itu. Ia dijadikan pelaku utama atas kesalahan kecil ini, padahal dirinya juga tidak berkehendak. Kemarin, Alisya sudah berniat untuk mengunjungi salah satu telepon umum di sekitar asrama. Namun, siapa sangka jika setibanya di asrama, ia malah disuruh mendatangi universitas untuk menyiapkan beberapa berkas. Sialnya, setelah selesai mendatangi universitas, hujan deras mengguyur kota Cambridge. Jadilah dirinya memilih berdiam di asrama, ketimbang mencari telepon umum di situasi hujan yang cukup deras. "Salah, ya, Alisya?" Sang bunda malah balik bertanya. Nada suaranya terdengar melemah. "Enggak, Bun. Bukan gitu-" ucapan Alisya terpotong. "Bunda takut, Alisya. Bunda takut. Takut kalo seandainya kamu benar-benar lupa pada bunda. Bunda takut kalo kamu mengabaikan bunda nantinya." Suaranya terdengar seperti tercekik. Isak tangis yang tertahan terdengar setelahnya. Alisya mematung. Pandangannya tiba-tiba kosong. Astaga. Untuk kesekian kalinya, ia telah membuat sang bunda menitikan air mata. "Bunda, maafin, Alisya," cicitnya. Kekehan kecil terdengar dari seberang. Bukan. Bukan kekehan penanda seseorang itu tengah riang, melainkan kekehan yang perlahan mampu mengiris segenap perasaan seseorang yang tengah mendengarnya. "Tidak, Alisya. Kamu tidak salah. Mungkin bunda yang terlalu khawatir, bunda yang terlalu berlebihan." Suara itu terhenti sejenak, sebelum terdengar suara isak tangis yang semakin nyaring. "Tak apa, Alisya. Bunda gak akan nuntut kamu untuk telepon bunda lagi. Jalani saja kehidupan kamu di sana dengan baik." "Bun, Bunda apa-apaan sih? Kok bilangnya kayak gitu? Alisya belum jelasin alasan Alisya telat telepon Bunda, loh. Kenapa Bunda malah menyimpulkan sepihak sih?" Alisya tersulut. Kata-kata terakhir sang bunda tidak bisa diterima begitu saja. Kata-kata itu terkesan ingin memutus kontak dengannya. "Bun, halo, bun, bunda!" Alisya berseru beberapa kali. Teleponnya bergetar sebanyak tiga kali, menandakan jika sambungan teleponnya terputus. Alisya menghela napas kasar. Sial, apa yang harus dilakukannya sekarang? Gadis itu menaruh gagang teleponnya dengan kasar. Menangkup wajah dengan prustasi. Ia menggigit bibir bawahnya, gelisah. Menyambar gagang telepon itu kembali, mencoba menghubungi nomor sang bunda. Kosong. Tidak diangkat. Hanya terdengar bunyi getar dari teleponnya. Alisya berdecak. Kenapa jadi seperti ini? Kembali, ia mencoba untuk menghubungi sang bunda. Sudah hampir lima kali. Namun, teleponnya masih tak kunjung tersambung dengan telepon sang bunda. Jarinya bergerak lagi, memijat tombol-tombol angka yang terpajang di dinding kotak telepon, hendak menelepon sang bunda untuk yang ke enam kalinya. Angka terakhir yang akan dipijatnya urung dilakukan. Sebuah ketukan di kotak telepon terdengar, membuat Alisya mengalihkan fokusnya. "I've been waiting a long time. Have you finished using it?" Seorang pria dengan pakaian santainya, terlihat berdiri di depan kotak telepon. Alisya sejenak mematung. Menatap lamat ke arah pria itu. Astaga. Matanya tiba-tiba saja sulit mengalihkan pandangan. Pria jangkung itu begitu memesona. Jika dilihat secara detail, sepertinya ia orang Asia. Terlihat dari bentuk wajah yang dimilikinya, ditambah dengan warna kulit yang seakan mendukung kebenaran hal tersebut. "Excuse me, if you're done using it, can I use it now?" Suara bass itu segera menyadarkan Alisya yang tadinya tengah terpesona oleh sosoknya. "Ah, wait," balas Alisya. Ia dengan gesit mengalihkan fokus. Menaruh gagang telepon pada tempatnya. Mengambil tas yang tadi ditaruhnya di bawah. "Please. I done using it," ucapnya mempersilakan, setelah ia keluar dari kotak telepon dan berhadapan dengan pria itu. "Thanks." Pria tersebut menjawab sambil membuka pintu dan berakhir masuk ke dalam. Alisya menatap punggung itu dari luar. Ia tersenyum kecil, sebelum pada akhirnya menggeleng keras, menyadari tingkah konyol yang sedang dilakukan. Aneh, baru pertama kali bertemu, kenapa harus langsung terpesona? Alisya merutuki dirinya sendiri. Sial. Jangan sampai ia malah jatuh cinta di negeri orang. *** Harvard Market, Cambridge, Amerika Serikat. Alisya memacu langkah kakinya ke sebuah minimarket di jalan Cambridge. Ia berencana untuk membeli beberapa stok makanan. Uang saku dari kampusnya sudah cair dari hari-H-saat keberangkatannya ke Amerika. Hal tersebut cukup membuat Alisya merasa terbantu dan langsung saja membelanjakannya. Gadis itu memang membawa beberapa stok makanan dari Indonesia, berupa mie instan. Namun, jika hanya mengandalkan barang bawaannya dari Indonesia, ia pikir tidak akan cukup. Apa lagi dengan waktu belajar yang sangat jauh berbeda dari Indonesia, hal itu pasti membuatnya kewalahan dan membutuhkan energi yang berlipat. Jari jemarinya mengabsen beberapa makanan instan berbentuk kotak. Makanan instan yang hanya tinggal dipanaskan ke dalam microwave. Ada, ikan, pasta, daging, dan banyak jenis lainnya. Alisya terperangah dengan banyaknya makanan instan yang dipajang di rak putih berukuran besar itu. Tanpa pikir panjang, ia mengambil beberapa makanan yang dianggap menarik dan membuatnya penasaran akan rasanya. Tentu saja ia mencari makanan instan berlabelkan halal. Bukan hanya makanan instan saja. Alisya juga mengambil beberapa salad buah, sekaligus mentahannya. Ah, jangan lupakan si segar penghilang dahaga yang paling dibutuhkan. Air. Ya, gadis itu mengambil beberapa air kemasan dengan berbagai rasa, ditambah susu kemasan, juga yogurt. Setelah puas dan merasa cukup, maka Alisya memacu langkah kakinya ke arah kasir. Bersiap membayar barang belanjaannya. "Excuse me. Can we check your bag?" Alisya terperangah. Seorang wanita berambut pirang-yang ia tebak berusia 30 tahun-tiba-tiba saja meminta mengecek tasnya. Ia bertanya-tanya, untuk apa pegawai minimarket itu mengecek tas yang merupakan barang paling pribadi dari seorang pembeli. "For what?" tanya Alisya dengan kerutan di dahi. "For that," jawab wanita tersebut sambil menunjukkan sebuah poster yang dipajang di dinding sebelahnya. "Astaghfirullah." Alisya memelototkan matanya saat melihat poster yang ditunjukkan oleh sang kasir. Apa-apaan itu?
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat asyik
13/11
0bagus
10/06/2025
0sangat suka
25/04/2025
0Tingnan Lahat