logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Di ancam

Setelah sampai di halaman rumah Diana, Andre langsung memarkirkan mobilnya. Tanpa membuang waktu Andre langsung mengetuk pintu rumah Diana.
Tok! Tok! Tok!
Diana yang mendengar ketukan dari luar sebenarnya ingin membukanya. Namun, karena kepala masih pusing dia memilih sedikit berteriak.
"Buka saja pintunya, tidak di kunci, kok!" Teriak Diana dari kamar.
Tidak lama kemudian terdengarlah pintu terbuka, Diana mengira itu adalah Dewi, teman sebangkunya.
Ceklek!
Andre memilih diam dan mencari keberadaan Diana. Sampai di kamar Diana, Andre kaget melihat dia berbaring di ranjang dengan seragam lengkap. Sedangkan Diana kaget bukan main melihat Andre ada di kamarnya.
"Kak, kok bisa ke sini?" tanya Diana, seakan tidak peduli pertanyaan Diana. Andre malah balik bertanya.
"Kenapa nggak masuk sekolah?" tanya Andre dingin, berbeda dengan Diana yang bingung dengan sikap ketos jutek itu.
"Em ... ng--ngak apa-apa, Kak," jawab Diana gelagapan, sedangkan Andre hanya menyergitkan keningnya.
"Apa kepalamu masih sakit?" tanya Andre, Diana bingung harus jujur atau berbohong.
"Em ... se--sedikit, Kak," lirih Diana.
"Kalo masih sakit, kenapa kemaren sok-sok an kuat minta pulang?" cecar Andre dengan tatapan tajam, sedangkan Diana hanya menunduk takut.
"Maaf." lirih Diana, sedangkan Andre hanya memutar mata malas.
"Ini tas lu, sekarang kita ke rumah sakit lagi," ajak Andre yang dibalas gelengan oleh Diana.
"Tidak perlu, Kak. Terima kasih banyak sudah membawa tasku eh, gua maksudnya," ucap Diana.
Karena malas berdebat dengan Diana, Andre mengambil kotak P3K di tasnya, lalu menyodorkannya ke arah Diana.
"Ini buat apa, Kak?" tanya Diana polos.
"Buat dimakan. Ya, buat obat kepala lu, lah. Gimana sih," kesal andre, sedangkan Diana hanya mengangguk tanda paham. Lalu Andre menyodorkan kantong plastik lagi ke arah Diana.
"Ini apa, Kak?" tanya Diana.
"Makanan, makanlah! Jangan sakiti dirimu," tegas Andre, sedangkan Diana hanya tersenyum.
'Walaupun ketos ini jahat, tapi dia sangat peduli,' batin Diana.
"Apa Kakak mau minum, biar saya eh gua ambilkan, Kak?" tanya Diana ramah yang di balas gelengan oleh Andre.
"Sudah, jangan pikirin gua. Pikirin diri lu sendiri," perintah Andre yang dibalas anggukan oleh Diana.
"Makasih Kak, sudah menjenguk Diana," ucap Diana sopan.
"Jangan berpikir aneh-aneh. Gua jenguk lu karena gua yang bikin lu kayak gini," ujar Andre penuh penekanan.
"Iya, Kak," jawab Diana sambil menunduk, Andre yang melihat Diana takut sebenarnya merasa kasihan, tapi apa boleh buat dia memang harus terkesan jutek.
"Ya sudah, kalo begitu gua pamit," ucap Andre.
"Iya, Kak." Jawab Diana, kemudian ia hendak turun dari ranjang ingin mengantarkan Andre ke depan. Namun, langsung di cegah oleh Andre.
"Tidak usah, lu istirahat aja, jangan banyak gerak dulu," ujar Andre dengan tatapan dingin, yang dibalas anggukan oleh Diana.
"Gua pamit, assalamu'alaikum," ucap Andre.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati, kak," jawab Diana yang hanya mendapat tatapan datar dari Andre.
***
POV Andre
Dengan perasaan cemas, gua langsung mengetuk pintu rumah Diana, tidak lama kemudian terdengarlah teriakan Diana menyuruhku masuk.
Tanpa membuang waktu gua langsung masuk dan mencari keberadaan suara tadi. Di ambang pintu kamar gua berdiri, sedikit kaget melihat Diana masih berbaring di ranjang dengan seragam lengkap.
Diana bertanya kenapa gua di situ, namun tidak gua indahkan pertanyaan itu, gua malah balik bertanya. Setelah banyak pertanyaan yang gua lontarkan. Gua langsung sadar, akan perhatian yang gua berikan, dengan segera gua pamit pulang untuk menetralkan jantungku yang tidak mau di ajak kompromi.
malam hari
"Andre bagaimana hubunganmu dengan Diana? Abi harap kamu bisa menghargai wanita, Nak. pernikahan kalian dua hari lagi," ucap abi Andre.
"Abi, apakah tidak bisa pernikahan ini dibatalkan, saja?" pinta Andre memohon, langsung di balas gelengan oleh abinya.
"Abi, nggak suka di bantah Andre," tegas Abi, sedangkan Andre hanya mengangguk paham.
'Kalo gua nikah sama dia, gimana dengan Tina?' batin Andre.
"Kalo begitu besok jemput lah Diana, bawa dia kemari lusa kalian akan menikah. O iya, satu lagi jangan lupa izin sama guru sekolah dulu" perintah Abi, sedangkan Andre hanya mengangguk pasrah.
🍀🍀🍀
Pagi hari, Diana sudah sampai ke sekolah karena sudah merasa baikan. Dewi yang melihat Diana di gerbang langsung berlari memeluk sahabatnya.
"Diana lu kemana sih dua hari ini? Sepi tau," ucap Dewi dengan bibir mengerucut, sedangkan Diana hanya terkekeh melihat sahabatnya itu seperti anak kecil.
"Maaf ya, gua sakit," jawab Diana.
"What ... sakit? Lu sakit apa?" Rempong Dewi dengan mengecek suhu tubuh Diana.
"Bukan badan gua Oneng, tapi kepala," ujar Diana.
"Memangnya kepala lu kenapa?" tanya Dewi.
"Eh, nggak papa, cuma jatuh aja nggak liat jalan," ucap Diana berbohong.
"Makanya kalo jalan itu fokus," omel Dewi sedangkan Diana hanya mengangguk.
Tanpa mereka sadari dari kejauhan Andre melihat keduanya bercanda ria, tanpa sadar ia ikut tersenyum melihat Diana bahagia.
**
Di kelas ketika Dewi dan Diana sedangkan fokus pada guru yang menjelaskan di depan, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamu'alaikum, bu. Maaf, saya ganggu waktunya, saya di sini mau memanggil Diana di panggil sama guru BK," ucap Andre sopan, sedangkan Diana sudah takut mendengar nama guru BK.
"Abis dah gua, Wi," ucap Diana.
"Semangat, gak papa kok," balas Dewi supaya Diana tidak takut.
"Wa'alaikumussalam, baiklah. Diana silahkan keluar," perintah guru matematika tersebut.
"Baik bu, saya permisi," ucap Diana sopan yang hanya di angguki oleh guru matematika tersebut.
Tiba di luar Andre dan Diana saling diam dan meneruskan langkah nya. Sudah mau dekat ke ruang BK. Tiba-tiba, Andre menarik Diana ke gudang belakang.
Diana yang kaget berusaha melepaskan cengkraman Andre. Namun, hasilnya nihil.
"Kak, kita mau ngapain ke sini?" tanya Diana, sedangkan Andre hanya diam.
"Nanti pulang sekolah bareng gua, kita ke rumah lu, ambil pakaian lu, trus tinggal di rumah gua," ucap Andre.
"Tapi kenapa, kak?" tanya Diana lagi.
"Karena hari Kamis kita akan menikah, ini perintah Abi," ucap Andre sedangkan Diana hanya mengangguk pasrah.
"Ya sudah, kalau tidak ada pertanyaan lagi, balik ke kelas," ucap andre.
"Loh, bukannya say eh gua harus ke ruangan BK dulu?" tanya diana.
"Tidak perlu," ucap Andre dingin plus datar, kemudian Diana melangkah ingin keluar tapi, langkahnya terhenti karena Andre mencekal pergelangan tangan nya.
"Jangan beri tahu siapa pun, masalah pernikahan ini, paham?" tegas Andre penuh penekanan.
Sedangkan Diana hanya mengangguk, kemudian melangkah pergi.
**Bersambung**
Jangan lupa kasih vote

Komento sa Aklat (1588)

  • avatar
    Amaniey Ryan

    best gila cerita ni...sampai kluar air mata....

    03/07/2022

      0
  • avatar
    asyaaisyah

    baguss

    25/06

      0
  • avatar
    Syahfira Indah Ramadani Lubis

    baguss sukaa❤️

    24/05

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata