logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Precious Moments

Naya baru saja hendak mengikuti Dhea memasuki pelataran rumah ketika tiba-tiba Gasta memanggil. Dua sahabat itu saling berpandangan, lalu menoleh ke arah suara.
“Ada apa, Gas? Udah selesai semua kan, berberesnya?” tanya Dhea yang tidak mengerti dengan maksud kedatangan Gasta.
“Udah,” jawab Gasta seraya mendekat. “Boleh pinjem Naya sebentar?” lanjutnya.
Dhea tertawa mendengar ucapan Gasta. “Kirain ada apa. Jangankan sebentar, lama juga boleh,” ucap Dhea yang disambut dengan lirikan Naya.
“Jangan lama-lama, nggak enak sama orang tua Dhea.” Naya mengingatkan.
Lagi-lagi Dhea tertawa. “Ya udah, aku masuk duluan. Nanti jangan lupa kunci pintu depan ya, Nay!” pesannya sebelum meninggalkan halaman rumah. Naya menjawabnya dengan anggukan kecil.
“Emmm ... ada apa, Gas?” tanya Naya memberanikan diri.
Gasta tampak sedang berpikir. “Maaf, Nay. Mungkin ini terlalu cepet. Tapi jujur, setelah pertemuan pertama kita, entah kenapa aku merasa ada yang beda dari kamu.”
Naya mendengar ucapan Gasta tanpa menyela. Dia membuka telinga lebar-lebar supaya tidak salah dengar.
“Kalau aku mau minta satu hal dari kamu ... kira-kira kamu mau atau nggak?” tanya Gasta membuat Naya bingung.
“Minta apa?” Naya balik bertanya.
Gasta meraih kedua tangan Naya. “Aku mau minta separuh hati kamu, Nay.” Dibawanya kedua tangan Naya hingga menempel di dada Gasta. “Aku pasti menjaganya di sini,” lanjutnya.
Naya kehabisan kata-kata. Selama mengenal Gasta, dia memang menginginkan hubungan yang lebih dari sekedar teman. Dan mendadak detik-detik mendebarkan ini datang.
“Kenapa diam, Nay? Separuh hatiku udah kamu ambil. Apa kamu nggak akan menyerahkan separuh hatimu sebagai gantinya?” tanya Gasta membuyarkan lamunan Naya.
Naya menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. “Sebenarnya ... udah dari kecil separuh hatiku kamu ambil, Gas. Itu sebabnya, aku selalu berdoa supaya kita bisa bertemu lagi. Dan doaku terkabul.” Naya tidak bisa menutupi kebahagiaan yang kini dirasakan. Dia menangis haru karenanya.
“Makasih, ya, udah setia selama itu. Tapi kamu nggak perlu nangis juga, Nay.” Gasta menghapus air mata yang membasahi pipi Naya.
“Aku terharu,” ucap Naya dalam isak tangisnya.
Gasta tersenyum. “Oke-oke. Berarti kita deal, ya? Separuh hatiku ada di kamu, separuh hatimu ada di sini,” ucap Gasta menunjuk dadanya sendiri.
Naya membalas senyum Gasta. Dia mengangguk menyetujui ucapan lelaki itu. Bagi Naya, malam ini adalah malam yang terindah yang pernah dia lewati.
***
Suara Azan subuh membangunkan Naya yang tidak sengaja terlelap di atas dinginnya lantai keramik di sisi jendela. Kepalanya terasa berat sebelah. Dia terlalu banyak memikirkan Gasta.
Perlahan Naya bangkit, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu menunaikan kewajiban.
Ya Allah...
Aku mohon sampaikan padanya
Di sini aku selalu menunggunya
Membawa kembali separuh hatiku yang telah dia ambil sejak lama
Aku ingin dia tahu
Selama ini aku selalu merindunya
Ya Allah...
Aku mohon sekali ini saja
Bukakanlah pintu hatinya
Agar kerinduanku tidak sia-sia.
Tak terasa, air mata Naya luruh begitu saja dalam sujudnya. Ia tak hentinya berdoa, meminta sang penjaga hati, untuk menyempurnakan cintanya. Meski Naya merasa itu tidak mungkin lagi, ia tetap saja meminta hal yang sama.
Naya bukan perempuan yang mudah menyerah begitu saja. Dia selalu memperjuangkan apa pun yang dia inginkan. Meski terkadang, hal itu sulit ia dapatkan.
Seandainya saja dulu Naya tidak membuat kesalahan, mungkin dia tidak akan mengalami krisis kepercayaan seperti sekarang.
Naya sangat menyesal, telah tergoda oleh seorang lelaki tak bertanggung jawab yang mendorongnya ke dalam sebuah pengkhianatan. Dan yang lebih membuatnya sakit adalah saat di mana lelaki itu telah berusaha menodai kesuciannya.
Hal itulah yang membuat Naya semakin merasa bersalah terhadap Gasta. Meski telah lama menjadi pemilik hatinya, Gasta tidak pernah menyentuh Naya sekali pun. Lelaki itu benar-benar menjaga harkat dan martabat dirinya.
Gasta merasa sangat kecewa atas ulah Naya. Amarahnya memuncak ketika seseorang memberi tahu bahwa Naya telah dinodai seorang lelaki yang mengambil perhatiannya saat itu.
Orang itu tidak lain adalah Dhea, yang memperburuk hubungannya dengan Gasta. Naya tidak habis pikir, seseorang yang telah dianggapnya lebih dari sahabat, tega memfitnahnya. Sejak saat itu, Naya cenderung menjauh dari siapa pun yang ingin berteman dekat dengannya. Naya trauma dan lebih memilih untuk menutup diri.
***
Naya masih tampak kacau. Dia berjalan menuju kafe dengan langkah gontai. Rambut panjang yang dibiarkannya terurai, sesekali tertiup angin hingga menutup setengah wajahnya.
Naya tidak sabar ingin menemui Gasta, lalu mengajaknya bicara empat mata. Namun di sisi lain, ada rasa tidak percaya diri menggelung hatinya. Dirinya masih diselimuti rasa bersalah.
“Heeiii! Nona Sambal Hejo, jalannya cepet dikit dong, udah jam berapa, nih?” teriak Julian yang melihat Naya memasuki ruang istirahat pegawai.
Naya sama sekali tidak menyahut.
“Kamu tuh emang bikin gemes ya, Nay! Diajak ngomong, bukannya nyahut. Eeeh ... nyelonong gitu aja!” omel Julian. Bibirnya mengerucut seperti mulut ikan mujair.
“Ada apa sih, ribut-ribut? Nggak enak dilihat pengunjung,” tegur Gasta yang seketika keluar dari ruang manajer.
Julian meringis. “Nggak apa-apa, Pak. Cuman ... Naya telat lagi, tuh!”
Gasta melipat tangannya di depan dada. “Maksudnya telat lagi?”
“Bukan telat, Pak. Tapi emang Naya kalau datang suka mepet jam kerja,” sahut Laras yang diam-diam mencubit pinggang Julian dari belakang. Laki-laki setengah perempuan itu mengaduh sambil beringsut kesakitan.
“Kak, maaf soal semalam,” ucap Naya menghampiri Vicko yang berdiri di balik mini bar.
Vicko tersenyum. “Santai aja.”
Naya mengedarkan pandang ke seluruh ruang kafe yang belum begitu ramai. Hingga tatapannya terhenti pada Gasta yang tengah menatapnya. Naya buru-buru mengalihkan pandang. Berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan, hingga tiba saatnya pulang.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Para pegawai kafe sedang membereskan pekerjaan masing-masing. Merasa tidak ada yang memerhatikan, diam-diam Naya memasuki ruang manajer tanpa permisi.
Gasta yang sedang mengerjakan sesuatu di meja kerjanya mendongak. Setelah melihat siapa yang datang, dia kembali menyibukkan diri dengan aktivitasnya.
Naya duduk di kursi depan Gasta tanpa diminta. Tidak peduli jika lelaki itu akan menganggap dirinya adalah seorang pegawai yang tidak punya sopan santun.
Naya menghela napas panjang. “Kenapa kamu lakukan itu, Gas? Kenapa kamu pura-pura nggak kenal aku?” protesnya.
Seolah tidak mendengar sepatah kata pun, Gasta tetap berkutat dengan layar laptopnya.
“Gas, tolong! Kita cuma berdua. Seenggaknya, kamu bisa jawab pertanyaanku, kan?” desak Naya, lalu menggigit bibir bawahnya.
Naya menatap ke langit-langit ruangan sembari mengerjapkan mata, wajahnya terasa memanas.
“Kenapa kamu diam aja, Gas? Selama ini aku berharap banget untuk bisa ketemu kamu lagi. Tapi percuma aja kita ketemu kalau sikap kamu seperti ini,” sesal Naya. Air mata yang sejak tadi ditahannya, akhirnya luruh juga.
Gasta menatap dingin ke arah Naya. “Kamu mengganggu pekerjaan saya, Nay. Lebih baik kamu keluar,” ucapnya tak kalah dingin.
Hati Naya terasa dicabik-cabik mendapati perlakuan itu dari Gasta.
“Maaf, Gas. Aku—“
“Tolong keluar dari ruangan saya!” ucap Gasta dingin dengan sorot mata tajam.
Naya sama sekali tidak percaya dengan perlakuan Gasta terhadap dirinya. Dia selalu bermimpi untuk bisa memeluk hangat kekasih hatinya, tapi justru perlakuan dingin yang ia dapat.
Perempuan itu menyeka air matanya dengan kasar sebelum meninggalkan Gasta dalam ruang manajernya.

Komento sa Aklat (336)

  • avatar
    Bagus Oktav

    Amazing

    10/11

      0
  • avatar
    Amoy

    sangat menarik

    05/09

      0
  • avatar
    Sahril Hafizul

    keyen

    03/08

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata