logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Kembali ke Masa Lalu

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Gasta baru saja keluar dari kafe bersama dengan Pak Husain setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan. Mereka berpisah di tempat parkir, memasuki mobil masing-masing.
Belum lama Gasta menjalankan mobil, dilihatnya Naya tengah duduk termenung seorang diri di taman yang terletak tidak jauh dari kafe. Dia menghentikan mobil sejenak. Ingin sekali Gasta menemui perempuan itu, tetapi ada satu hal yang membuat Gasta urung melakukannya.
Tak lama, terlihat sosok laki-laki menghampiri Naya. Dia menawarkan secangkir minuman dalam cup yang ditolak mentah-mentah oleh perempuan yang sedang diperhatikannya.
Gasta menggeram, mencengkeram kuat-kuat setir mobil yang sejak tadi digenggam. Sorot matanya memerah, tangan kanannya mengepal dan menghantam dasbor mobil hingga menyebabkan robekan kecil pada buku-buku jari. Rasanya begitu pedih, sepedih hatinya yang tidak lagi bisa menyentuh separuh hatinya yang lain.
Gasta menangis dalam mobil yang tertutup rapat. Menangisi kebodohannya yang rela mempertaruhkan hatinya menjadi tawanan, seolah terikat tanpa bisa berpindah tempat. Dirinya, bak ikan dalam keroncong.
***
Malam begitu tenang. Langit cerah dihiasi bintang-bintang bertebaran, menemani gagahnya sang raja malam yang bersinar terang menebar cahaya berkilauan.
Naya duduk terdiam di bangku taman. Batinnya sibuk mencari jawab atas sebab musabab perubahan sikap lelaki yang selalu dia idamkan. Perempuan itu mengepalkan kedua tangan.
Ini nggak bisa dibiarkan. Aku harus bicara dengan Gasta. Aku harus minta penjelasan. Tekad Naya bulat.
“Nay, minum dulu, nih! Biar kamu lebih tenang.” Vicko tiba-tiba muncul, menawarkan secangkir cokelat hangat.
“Makasih, Kak. Aku nggak haus,” tolak Naya sambil tersenyum samar.
Vicko meletakkan cangkir itu di sebelah tempatnya duduk. Laki-laki itu menggosok-gosokkan kedua tangan untuk mengusir hawa dingin yang menyelimuti.
“Kakak pulang aja! Aku mau sendiri dulu,” ucap Naya lirih, hampir tak tertangkap oleh indra pendengaran Vicko.
Laki-laki itu menoleh, “Gimana, Nay?”
“Kakak pulang duluan aja. Aku masih pengen sendiri di sini.” Naya mengulangi ucapannya.
Vicko tersenyum. Dia tidak habis pikir dengan ucapan yang dilontarkan Naya baru saja.
Vicko mengalihkan pandang ke jalan raya yang mulai sepi. “Kamu ada-ada aja, Nay. Ini udah malem banget. Nggak mungkin aku tinggalin kamu sendiri di tempat sepi,” dalihnya.
“Tolong, Kak. Aku pengen sendiri. Cuma itu yang aku butuh. Aku bener-bener pengen sendiri!” tegas Naya. “Tapi kalau Kak Vicko nggak mau pergi, biar aku yang pergi.”
Naya pergi begitu saja, meninggalkan Vicko yang heran dengan sikapnya. Sejujurnya, Naya merasa bosan dengan Vicko yang terus-menerus berusaha mendekati. Dia tidak ingin membuat laki-laki itu kecewa atas harapan kosongnya. Karena yang Naya mau, hanyalah Gasta.
***
Naya membuka pintu kamar dan menutupnya dengan gusar hingga menyebabkan kebisingan di sekitar. Dengan langkah secepat kilat, Naya menuju jendela dan membukanya lebar-lebar hingga terlihat pemandangan seluruh kota. Tak dihiraukannya udara dingin yang terasa menusuk tulang.
Aku bener-bener nggak habis pikir, Gas. Kenapa kamu berpura-pura nggak mengenaliku? Pertanyaan itu terus berkelebat di benak Naya, membuat dadanya terasa sesak. Naya menangis sejadinya.
Seandainya dulu aku setia menunggumu, apa mungkin aku sudah bahagia hidup denganmu, Gas? Sesekali Naya memijat pelipisnya yang terasa nyeri.
Naya memejamkan matanya, lalu duduk memeluk lutut di bawah jendela dan menyembunyikan kepala di sela paha. Angan-angannya kembali melambung ke masa silam.
***
Suasana malam tirakatan cukup ramai. Terdengar lagu-lagu dangdut Jawa sejak tadi diputar oleh para remaja di kampung Dhea. Tidak ada panggung untuk acara tirakatan menyambut hari kemerdekaan ini, melainkan podium lebih tinggi yang di depannya sudah digelar banyak tikar untuk masyarakat.
Naya mengedarkan pandang ke sana-kemari, tidak terlihat sosok Gasta di sisi mana pun. Sampai akhirnya, Dhea membawa Naya kepada seorang teman Gasta yang bernama Ruli. Laki-laki itu tidak kalah menarik dengan Gasta baik dari segi wajah maupun penampilan. Hanya saja, cuma nama Gasta yang sejak kecil tertanam dalam hati Naya.
“Rul, lihat Gasta, nggak?” tanya Dhea to the point.
Merasa tidak melihat Gasta di sekelilingnya, Ruli menanyakan keberadaan Gasta kepada teman yang lain. “Anak-anak bilang Gasta lagi bantu ngurusin snack. Tuh di depan rumah Bu Siti. Coba deh samperin ke sana,” ucap Ruli.
Dhea mengangguk cepat. “Oke, thanks ya Rul,” ucapnya sambil berlalu, sementara Naya tetap mengekor.
Tak lama, mereka sampai di depan rumah Bu Siti, tempat para remaja menyiapkan snack untuk acara tirakatan. Hati Naya mendadak berdesir melihat keakraban Gasta dengan seorang perempuan yang sibuk menata snack di meja yang tepat berhadapan dengan Gasta. Walaupun ada remaja lain di sana, entah mengapa, kedekatan Gasta dengan perempuan di depannya membuat Naya cemburu.
“Gasta!” teriak Dhea memanggil sosok yang sejak tadi dicari.
Gasta menoleh, pun dengan remaja lain yang mendengar teriakan Dhea. Sang empunya nama langsung mendekat begitu melihat siapa yang datang mencari.
“Hai, Nay.” Gasta mengulurkan tangannya.
“Hai,” balas Naya, menyambut uluran tangan Gasta.
“Naya doang nih yang disalamin, aku nggak disalamin juga?” canda Dhea.
“Apa sih, Dhe?” Naya malu dibuatnya.
“Ciieee, yang didatangi pacar. So sweet ...,” celoteh perempuan yang sibuk menata snack dengan Gasta tadi, lalu tersenyum menggoda ke arah Naya dan Gasta secara bergantian.
Gasta menggelengkan melihat tingkah temannya. “Kenalin, ini Naya.”
Teman Gasta mengulurkan tangan. “Hai, Nay. Aku Sarah. Mantan fans-nya Gasta.”
Naya membalas uluran tangan Sarah sambil mengerutkan dahi.
“Sarah pernah naksir Gasta, tapi nggak digubris katanya,” jelas Dhea tanpa diminta.
Sarah menjentikkan jari, membenarkan ucapan Dhea sambil tertawa renyah.
Naya lega mendengarnya. Perempuan yang sempat dicemburui ternyata tidak memiliki hubungan apa pun dengan Gasta.
“Nay, aku tinggal sebentar, ya? Biar nggak bingung nyari, nanti minta Gasta SMS aku aja,” ucap Dhea. Naya hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Kamu ikut aku ngecek yang lain, nggak apa-apa, kan?” tanya Gasta yang bertugas sebagai panitia dalam acara tirakatan tersebut.
“Iya, boleh.” Naya setuju.
Mengekor ke mana pun Gasta melangkah membuat wajah Naya bersemu merah. Dia malu karena setiap berpapasan dengan teman Gasta, mereka mengira bahwa Naya adalah kekasihnya.
“Nggak usah malu, temenku emang gitu. Pada rese orangnya,” ujar Gasta.
Naya hanya menanggapi ucapan Gasta dengan seulas senyum di bibir. Setelah itu, Gasta membawa Naya duduk di tikar yang terletak agak jauh dari podium.
“Tunggu di sini sebentar, ya?” Gasta beranjak dari duduknya.
“Mau ke mana?”
“Ambil minum,” jawab Gasta.
Naya mengangguk, dilihatnya Gasta yang berjalan menjauh dari tempatnya duduk. Tidak bisa dipungkiri, Naya merasa nyaman berada di dekat lelaki itu. Walau terkadang mereka saling terdiam karena kehabisan kata-kata, Naya merasa hidupnya lebih sempurna dengan keberadaan Gasta.
Tak lama kemudian, Gasta datang dengan dua kotak snack di tangan kiri dan segelas teh hangat di tangan kanan. Dia memberikan minuman yang dibawanya kepada Naya.
“Cuma satu? Buat kamu aja deh,” ucap Naya merasa tidak enak.
Gasta meletakkan segelas teh yang tadi dibawanya di depan Naya. “Aku sengaja ambil buat kamu.”
Naya manggut-manggut. “Oh, makasih, ya?” ucapnya sembari meraih gelas yang berisi teh lalu menyeruputnya.
“Dari tadi ngikutin aku sampai kehausan gitu, ya?” seloroh Gasta saat melihat Naya yang meminum tehnya hingga tandas.
Mendengar ucapan Gasta, Naya tersedak. Gasta menepuk-nepuk punggung Naya sambil berulang kali mengucap maaf.
“Sorry banget, Nay. Cuma bercanda,” sesal Gasta, masih dengan tangan menepuk punggung Naya.
“It’s okay. Aku nggak apa-apa, Gas,” ucap Naya dengan bibir terkembang, membuat Gasta sedikit lega walaupun masih merasa bersalah.
“Aku ambilkan air putih, ya?” tawar Gasta yang terlihat salah tingkah. Dia kembali beranjak.
“Eh ... nggak usah, Gas. Udah nggak apa-apa kok, beneran.” Refleks Naya meraih tangan Gasta, bermaksud melarang laki-laki itu pergi.
Menyadari Naya yang secara tiba-tiba meraih tangannya, Gasta urung untuk melanjutkan langkah.
Naya pun segera melepas genggaman setelah sadar dengan apa yang dilakukan. Dia meringis malu. “Duduk di sini aja, ya? Aku malu dilihatin orang,” pintanya.
Tanpa menunggu aba-aba, Gasta kembali duduk di tempat semula. “Ya udah, aku siap menemani nona manis sampai acara ini selesai.” Gasta menggombal, membuat Naya tersenyum malu.
“Apaan sih?”
Gasta menoleh ke arah Naya. “Emang manis, kok.”
Merasa Gasta sedang memerhatikannya, Naya pun menoleh. Dia merasa ada desiran aneh yang melanda hati. Lagi pula, dia tidak pernah menyangka akan berada pada posisi sedekat ini dengan Gasta. Dia menghidu aroma parfum maskulin laki-laki yang sejak sepuluh tahun silam selalu dirindukan. Gasta tersenyum, membuyarkan lamunan Naya tentang sosok kecilnya yang sedang manari-nari di kepala.
Naya mendadak membuang muka, salah tingkah entah yang ke berapa kalinya. “Emmm ... tentang ucapan Dhea tadi, apa benar?” Naya sesekali menoleh ke arah Gasta yang masih saja memerhatikannya.
Gasta mengerutkan dahi. “Tentang apa?”
“Tentang Sarah,” jawab Naya singkat.
Gasta mengalihkan pandang. “Iya, benar,” jawabnya sambil mengembuskan napas pelan. “Sarah pernah ‘nembak’ aku waktu SMP. Tapi aku tolak.”
“Kenapa ditolak?” Naya penasaran.
Gasta mengubah posisi duduk, berhadapan dengan Naya. Perempuan itu merasa gugup dibuatnya.
“Aku nggak suka. Lagi pula waktu itu masih SMP, masih cinta monyet. Makanya aku tolak,” jawab Gasta.
Mendengar ucapan Gasta, Naya merasa lega. “Tapi kalau dilihat-lihat, sepertinya Sarah masih ada rasa sama kamu,” ucapnya asal.
Gasta tertawa mendengarnya. “Sok tahu kamu.” Dicubitnya pipi Naya yang sedikit chubby.
“Aduh! Sakit, tahu?” Naya mengelus pipi yang terasa panas.
“Walaupun Sarah masih ada rasa atau enggak, itu urusan dia. Yang jelas, aku nggak suka,” jelas Gasta yang tidak lagi bisa dibantah oleh Naya.
Naya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri. “Udah jam 9. Acaranya selesai jam berapa? Tolong bilangin Dhea dong, suruh ke sini!”
“Sebentar lagi selesai. Dhea pasti ke sini. Dia kan harus bantu berberes juga.”
“Gimana ngobrolnya? Serasa balik jadi anak SD lagi nih?” canda Dhea yang tiba-tiba muncul dari belakang Naya.
Naya berdecak. “Apaan sih, Dhe?”
Gasta tertawa kecil. “Jujur, aku malah nggak ingat sama sekali tentang Naya waktu masih SD. Udah aku perhatiin dari sisi mana pun, tetep nggak ingat juga,” sesalnya.
“Nggak apa-apa, nggak penting juga,” ucap Naya dengan wajah bersemu merah.
Malam tirakatan benar-benar membawa kebahagiaan tersendiri bagi Naya. Sejak datang ke acara itu, Naya selalu mengekor ke mana pun Gasta melangkah, menemani lelaki itu mengecek segala keperluan supaya acara berjalan dengan lancar. Sampai-sampai, hampir semua teman Gasta mengira kalau Naya adalah pacarnya. Tanpa Gasta ketahui, memang itulah yang diinginkan Naya. Hanya Dhea yang tahu betul tentang hal itu.
Tak lama kemudian, acara tirakatan ditutup dengan doa dan harapan akan lebih baik ke depannya. Dhea membantu para remaja membereskan semua perlengkapan sebelum akhirnya mereka pulang dengan wajah riang.

Komento sa Aklat (336)

  • avatar
    Bagus Oktav

    Amazing

    10/11

      0
  • avatar
    Amoy

    sangat menarik

    05/09

      0
  • avatar
    Sahril Hafizul

    keyen

    03/08

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata