logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

5. Matematika

Semenjak saling bertukar pesan, aku dan Jean menjadi semakin dekat. Kita sering bertukar pesan membicarakan hal-hal random. Entah itu tentang pelajaran, tentang teman-teman, tentang guru, tentang keinginan kita, atau tentang hal apa saja yang bisa kita bicarakan bersama.
Sedari tadi pagi berangkat sekolah, suasana hatiku sangat senang. Atau mungkin itu karena aku sudah cukup dekat dengan Jean? Ya Tuhan, sadarlah Ina! Mungkin saja dia sudah memiliki pacar. Tetapi hatiku tidak bisa melepaskannya begitu saja. Ya memang begitulah diriku.
Jam dinding di kelas menunjukkan pukul 09.30. Menandakan waktu istirahat.
"Na mau ke kantin ngga?" Tanya Semi padaku.
"Ah ngga ah males gue," jawabku.
"Yaudah nih ya, gue udah ngajak lo loh. Awas aja nanti ngedumel laper pengen makan." Ancamnya kepadaku.
"Iya iya enggak kok, sana pergi aja. Lea sama Reni udah nungguin noh dari tadi."
"Hmm," jawabnya lalu pergi meninggalkanku.
"Kalo bisa gue nitipin dong ntar gue ganti," aku berteriak sebelum dia benar-benar pergi.
Semi hanya tertawa melihat tingkahku. Dia juga mengacungkan jempolnya pertanda dia paham.
Sekarang masih waktunya jam istirahat, aku terlalu malas untuk keluar kelas. Karena hari ini akan diadakan ulangan matematika untuk kelas kita. Yah aku tidak ingin keluar kelas karena aku sibuk belajar. Benar, belajar matematika tentunya. Sebenarnya aku adalah anak yang cukup ambisius.
Sedang fokus belajar, tiba-tiba Jean menghampiriku. Entah dia datang dari mana. Dia sudah duduk di bangkunya Semi yang berada di sebelahku.
"Na ajarin gue yang ini dong, gue belum ngerti," kata Jean kepadaku.
"Oh ini? Caranya tuh gini."
"Jadi limit x mendekati 0 sama dengan......."
Aku menjelaskan pada dia sambil mengerjakan soalnya. Sebenarnya aku cukup gugup berada di dekatnya. Dia semakin mendekat kearahku, sekarang jarak sudah tidak bisa diukur diantara kita. Bahkan aku bisa dengan jelas melihat wajah tampannya.
Rambutnya yang hitam dan lembut. Alisnya yang tebal, membuat gadis manapun tergila-gila padanya. Bulu mata yang lentik. Dan sorot mata yang sangat tajam mampu menusuk hati gadis manapun yang dia pandang. Hidungnya mancung bak perosotan. Bibirnya yang tipis itu membentuk senyuman yang sangat manis yang tidak akan pernah terlupakan untuk selamanya. Rahangnya yang tegas dan tajam menyempurnakan wajah tampan nan maskulinnya. Sungguh indah ciptaanmu Tuhan.
"Kok berhenti sih," tanyanya membangunkan lamunanku.
"E-eh iya, tadi sampe mana?" Aku sangat gugup. Dan aku langsung melanjutkan agar dia tidak menaruh curiga padaku.
Berada bersama dengan Jean dan dekat dengannya membuat waktu terasa begitu cepat, amat cepat. Hingga tanpa disadari waktu telah usai begitu saja. Sebenarnya aku masih ingin bersamanya. Namun kedekatan kita terpisah karena bel tanda masuk telah berbunyi.
Kringgg.....
Huhh sebenarnya aku cukup gugup. Aku takut jika soalnya terlampau sulit. Bagaimana jika aku tidak bisa mengerjakan nantinya? Ah ayolah Ina, berpikir positif saja, kamu pasti bisa!
Sekarang kita semua sudah duduk di bangku masing-masing. Semi juga sudah berada di sampingku. Begitu pula Lea dan Reni sudah ada di bangku mereka. Semua sudah siap untuk mengerjakan ulangan. Guru membagikan kertas ulangan dan langsung aku lihat. Ternyata soalnya lumayan juga. Emm lumayan sulit.
Sebelum mengerjakan aku melihat ke arah Jean terlebih dahulu. Ternyata dia sudah mulai mengerjakan. Aku tersenyum lega melihatnya. Dan akhirnya aku lanjut untuk mengerjakan soal ulangan.
Satu jam kemudian.....
Akhirnya habis sudah waktu kami untuk mengerjakan. Ibu Guru sudah mengambil semua kertas ulangan. Semoga saja aku tidak remidi, dan semoga juga nilaiku tidak buruk.
Ibu Guru selesai memeriksa ulangan. Dia mengumumkan nilai kita. Memang secepat itulah Guru Matematika, aku saja sampai keheranan.
"Untuk yang tidak remidi hanya dua orang, Kathryna dan Jeano. Kathryna mendapat nilai 100, Jeano mendapat 90. Yang lainnya mendapat nilai di bawah 90, kalian remidi semua," kata Guruku.
"Iya-iya deh yang belajar berdua doang, yang lainnya mah ngga diajak," teriak Haikal sampai semua orang melihatnya.
Lemes sekali memang mulut si Haikal. Sekarang aku sudah malu dilihat teman satu kelas dan juga Guruku.
"Sudah-sudah, yang lain bisa minta tolong ke Ina atau Jean untuk bantu kalian belajar. Besok saya akan adakan remidial," kata Ibu Guru dan akhirnya dia pergi meninggalkan kelas.
Cobaan apa lagi ini? Semua anak berhambur kepadaku dan Jean. Mereka meminta tolong untuk diajarkan cara mengerjakan. Aku yang pasrah mulai mengajari mereka.
"Eh Ina ajarin no 7 dong ini susah banget."
"Gue dulu ini nomer 5 kok ngga ketemu ya jawabannya."
"Antri bego, gue udah di sini duluan dari tadi."
"Ini lagi main dorong dorong gue segala."
"Oke tenang ya kalian semua. Satu kelas bisa dibagi dua. Sebagian ke gue dan sebagian ke Jean. Oh ya gantian ya, karena gue ngga bisa ngejelasin barengan. Yang ngga mau gantian, gue ngga akan ajarin," ucapku pada teman satu kelas.
"Oke siap bos." Mereka semua paham dengan ucapanku. Aku mengajari mereka satu persatu. Yah beginilah nasibku sekarang.
---
Kringgg.....
Bel pulang berbunyi
Aku sudah bersiap akan pulang. Rendy memanggilku.
"Ina. Pulang sekarang yuk?"
"Oh ya ay-"
"Ina pulang sama gue."
Perkataanku terpotong. Itu Mylla, sangat jarang dia ingin pulang denganku.
"Mylla, kenapa?" tanyaku.
"Gapapa, gue pengin aja pulang sama lo. Kita sekarang juga jarang bareng," kata Mylla.
"Ooh gitu, yaudah ayuk," jawabku.
"Sebelum pulang kita ngemall dulu yuk," ujar Mylla.
Aku menjawab dengan anggukan dan senyuman yang sangat antusias.
Akhirnya aku dan Mylla memutuskan untuk pergi ke mall terlebih dahulu. Sebenarnya aku juga sudah sangat rindu padanya. Akhir-akhir ini kita sangat jarang bersama seperti dahulu.
---
Kita sekarang sedang jalan-jalan di mall. Mylla tadi memilih sebuah toko baju. Dan kami masuk ke sana.
"Bantu gue pilihin baju ya, di rumah udah ngga ada baju yang bagus," ucap Mylla.
"Oke siap nanti gue bantu pilihin," ucakpu.
Memilih baju memang butuh banyak waktu. Kita harus benar-benar teliti dalam memilih. Apalagi itu menyangkut penampilan kita, semua orang pasti akan bisa melihat.
"Yang ini gimana Na, bagus ngga?" tanya dia.
"Em kependekkan si menurut gue. Coba cari yang selutut kalo ngga dibawahnya."
"Okey."
"Kalo ini gimana?" Mylla menunjukkan dress berwarna hijau selutut padaku.
"Ukurannya pas si sama lo, tapi.."
"Tapi apa?" Tanya dia antusias.
"Menurut gue lo kurang cocok aja pake warna ijo gitu, aura lo kurang terpancar jadinya," ucapku pada Mylla.
"Hahaha lo tau aja bikin orang seneng." Mylla tertawa menepuk lenganku pelan.
"Ih serius Myll, gue ga becanda."
"Iya-iya."
Setelah mencari cukup lama, aku menemukan dres berwarna kuning yang panjangnya berada di bawah lutut. Aku pikir itu akan sangat cocok dengan Mylla.
"Myll ini lo kudu coba sih."
"Okedeh gue coba dulu ya." Mylla mengambil dres itu llu mengganti bajunya di ruang ganti.
Tidak menunggu lama dia keluar dari ruang ganti. Benar saja, dres itu sangat cocok untuknya. Bahkan terpancar aura sang Mylla sejati.
"Anjir gila cantik banget, emang dah pilihan gue ngga pernah salah." Aku terkagum sambil bertepuk tangan.
Mylla hanya bisa malu dipuji seperti itu.
"Ah lo Na, bisa aja. Yaudah gue ambil yang ini deh."
Dia berganti pakaian kembali dan langsung menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran.
Selesai berbelanja, perutku berbunyi aku merasa lapar.
"Eh Na gue laper kita makan dulu yuk," kata Mylla.
Aku mengiyakan Mylla. Kita akhirnya memutuskan untuk makan karena memang aku sudah sangat lapar.
Setelah mendapat tempat makan, kami memesan makanan yang kami inginkan. Menunggu cukup lama akhirnya makanan tiba. Langsung kusantap mereka, karena baunya begitu menggoda.
Saat sedang menikmati makanan, Mylla berbicara kepadaku.
"Na, gue suka sama Jean."

Komento sa Aklat (160)

  • avatar
    WaeSiti

    keren

    13/06/2025

      0
  • avatar
    Sihkepo_aja

    suka bgt sangat pemberani pengen jadi kk

    12/06/2025

      0
  • avatar
    AsihUmi

    keren ceritanya

    12/06/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata