logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Kantin

Seorang Gadis berlari keluar kelas mengejar Naura yang lebih dahulu mendahuluinya. Tak butuh waktu lama wanita seumurannya itu berhasil mensejajarkan langkahnya. Wanita itu menoleh ketus ke arah Naura sebelum akhirnya menormalkan napasnya yang tersenggal. Ia mengibas-ibaskan tangannya pada wajah, untuk menghilangkan rasa panas.
"Pokonya, lo harus ceritain ke gue," ucap wanita itu seraya bercakap pinggang.
"Iya, Ayu. Nanti gue ceritain kalo udah nyampe di kantin," jawab Naura menatap temannya itu yang tengah kelelahan.
"Pokoknya har--"
Ayu mendengus sebal saat Naura kembali berjalan meninggalkannya lagi. Ia menggelengkan kepalanya, membenarkan rambut ikal sebahunya yang lepek karena keringat. Padahal Ayu rasa jarak dari kelas sampai sini tidak lumayan jauh. Tapi kenapa panasnya sampai seperti ini.
"Gitu, tuh. Kalo udah laper jalannya ke orang yang lagi lomba jalan cepat." Ayu menghela napas kasar sebelum akhirnya melanjutkan jalannya lagi. Kali ini tidak berlari. Biarkan sajalah, nanti juga ketemu di Kantin.
Di kelas lain nampak Arpan sedang duduk bersama teman sebangkunya, tatapannya tak henti menatap layar ponsel yang ada di tangan.
"Ngomong-ngomong, ya, lo lagi deket sama Naura anak fisika?" tanya teman sebangkunya yang bernama Sidik. Pasalnya tidak hanya Sidik yang tau, tapi beberapa Siswa lain yang kebetulan melihat Arpan mengantar Naura pulang saat itu.
"Begitulah," jawab Arpan yang masih fokus pada apa yang tengah diliatnya di layar ponsel.
"Gue, sih ngga masalah, ya. Tapi nih, ya." Sidik menggeserkan tubuhnya menghadap ke arah Arpan. "Naura itu cewek baik, hatinya lembut. Pokonya cewek yang nggak bisa lo temuin. Ya, awal kenal doang sedikit ketus dan jutek, tapi aslinya dia asik." Sidik menepuk pundak Arpan seraya membuat si empunya menatapnya. "Jadi, lo jangan punya pikiran buat nyakitin dia. Apalagi dia baru aja patah hati gara-gara ditinggal pacarnya tanpa alasan."
Arpan tersenyum kecil, mematikan ponsel dan memasukannya ke dalam saku seragam.
"Emang gue keliatan punya niat nyakitin dia?" tanya Arpan seraya menatap temannya itu dengan serius.
Sidik menggerakkan bahunya ke atas ke bawah. "Keliatannya, sih Lo bukan cowok kek gitu, ya. Tapi biasanya cowok yang pake motor keren-keren gitu, tuh suka f*ck boy."
Detik berikutnya sebuah buku terlempar ke arah Sidik, membuat ia meringis seraya mengelus kepalanya.
"Terus cowok yang bawa motor metik kek Lo bukan cowok f*ck boy gitu?!" Arpan berdiri dari kursinya lantas bergegas pergi meninggalkan kelas, tanpa memperdulikan Sidik yang masih meringis kesakitan.
"Woy ... tungguin!" Sidik yang sadar telah ditinggal buru-buru ke luar kelas dan mengejar Arpan yang mulai berbelok ke koridor lain.
***
Kantin sekolah kini sudah ramai dipenuhi Murid SMA 24 Bandung. Untung saja sekolah menyediakan kantin yang cukup luas, sehingga mampu menampung murid yang jumlahnya hampir ribuan itu. Naura dan Ayu duduk di meja yang tidak terlalu pojok, seraya menunggu pesanan yang sebelumnya sudah Ayu pesankan pada Mbak kantin.
"Jadi, dari mana lo kenal dia?" tanya Ayu yang sudah duduk di samping Naura. Tangannya ia lipatkan di atas meja kantin, bersiap mendengarkan cerita apa saja yang akan Naura ceritakan.
"Perpustakaan," jawab Naura seadannya.
"Terus, kenapa lo bisa deket sama dia?" tanya Ayu lagi yang tingkat kekepoannya sudah memasuki level dewa.
"Gue juga nggak tahu kenapa gue bisa deket sama dia. Di saat gue lagi mikirin Surya, dia pasti selalu muncul.
Awalnya gue risih sama sifat sok mengikut campuri urusan orang. Apalagi dia baru kenal gue banget. Tapi gue pikir-pikir lagi kenapa gue ngga nyoba. Keliatannya dia juga orang baik."
"Permisi, neng mengganggu obrolannya. Ini pesenannya udah siap." Mbak kantin itu meletakkan dua mangkok bakso dan dua lemon tea dingin. "Kalo ada yang kurang, panggil aja ya, teh."
"Iya teh, makasih," ucap Naura sebelum Mbak kantin itu meninggalkan mereka.
Naura mengambil semangkuk bakso miliknya. Tangannya meraih saus yang memang sudah disediakan di atas meja.
"Terus, terus ... Lanjutin dong!"
"Dia orangnya baik. Bijak juga. Kata-kata yang dia ucapin selalu berhasil buat gue tenang dan sedikit ngelupain rasa sakit gue."
Ayu manggut-manggut mengerti seraya mengunyah bakso di dalam mulutnya yang detik lalu ia masukan pada mulutnya.
"Dan kayanya ... cara dia berhasil, Yu." Naura menyunggingkan senyum, tangannya yang memegang sendok tak henti mengaduk-aduk kuah bakso yang sudah selesai ia bumbui.
Ayu menyipitkan matanya, menatap intens ke arah Naura. "Jangan-jangan ... lo mulai suka sama dia?" tanya Ayu penuh selidik.
"Enggak, lah. Nggak mungkin secepat itu," jawab Naura ketus. Ia menyendokkan sepotong bakso dan melahapnya.
"Ya, kali." Ayu kembali fokus dengan bamso di mangkuknya, kemudian kembali melahapnya dengan santai.
"Kita berdua boleh duduk di sini?"
Naura dan Ayu mendongkakkan kepalanya bersamaan, menatap siapa orang yang bertanya. Ayu membulatkan matanya, sedangkan Naura hanya berekspresi biasa. Ia memang sudah mengenali suara itu.
"Duduk aja, kosong, kok," ucap Naura seraya menyunggingkan senyum.
Arpan dan Sidik pun duduk berhadapan dengan Naura dan Ayu. Tepatnya, Arpan di depan Naura dan sudah jelas Sidik duduk berhadapan dengan siapa.
Arpan mulai menyantap bakso yang sebelumnya sudah ia bawa. Naura menatap Arpan sekilas sebelum akhirnya mengambil jus lemon tea miliknya, kemudian meminumnya seperempat.
"Lo Arpan, ya?" tanya Ayu memecah keheningan.
Arpan hanya mengangguk sebagai jawaban 'iya'. Ayu mendecak sebal karena pertanyaannya hanya ditanggapi seperti itu. Bahkan tanpa menoleh padanya sedikitpun.
"Lo, suka sama Naura?" tanya Ayu kembali, sorot matanya menatap intens ke arah Arpan yang tengah mengunyak bakso di dalam mulutnya.
Naura spontan mencubit lengan Ayu dengan tatapan kesalnya. Bisa-bisanya Ayu refleks melempari Arpan dengan pertanyaan seperti itu.
"Lo ngomong apa, sih?! Jangan ngada-ngada deh, Yu," bisik Naura pada Ayu. Ayu hanya meringis kesakitan sebelum akhirnya ketawa cengengesan.
Arpan menelan bakso yang sudah hancur di mulutnya. Netranya kini menatap Ayu lekat, seperti sedang mengitimidasi. Ayu yang melihat tatapan itu mendadak menundukan kepala, kembali fokus dengan baksonya yang hampis habis.
Arpan beralih menatap Naura yang kini sudah salah tingkah gara-gara pertanyaan konyol Ayu. Bagaimana tidak, Naura pasti sangat malu pada Arpan saat ini.
"Ma--maafin temen gue, ya," ucap Naura terbata.
"It's okey." Arpan tersenyum simpul. "Oh, iya. Jangan lupa pulang sekolah nanti."
Ayu dan Sidik mendadak terbatuk secara bersamaan. "Kek, nya ada yang mau malam mingguan, nih."
"Gue juga mau diajakin malam mingguan," keluh Ayu dengan memanyunkan bibirnya.
"Sama aa aja, yuk," ajak Sidik dengan mengedipkan sebelah matanya.
Ayu menatap sinis Sidik. "Gue udah punya gebetan."
"Apaan, sih kalian. Siapa juga yang mau malam mingguan." Naura menatap datar ke arah Arpan. "Gue ngga lupa, kok tenang aja."
"Oke. Gue sama Sidik duluan." Naura mengangguk seraya tersenyum kecil, sebelum akhirnya Arpan dan Sidik melangkah pergi keluar dari kantin.
"Lo, udah bikin gue malu di depan Arpan tahu nggak," ucap Naura sebal.
"Hehe ... maaf, Ra, kan gue cuma pengen tahu." Ayu mengangkatnya kedua tangannya dan membentuk huruf 'V'. "Btw, cie diajak malming." Ayu menyenggol lengan Naura dengan senyum genitnya.
"Gue duluan ke kelas." Naura berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Ayu yang masih meminum minumannya.
"Ra, tunggu elah!" Ayu bangkit kemudian berjalan cepat untuk mengejar Naura. Lagi-lagi ia harus lari.
Mengesalkan.

Komento sa Aklat (120)

  • avatar
    Bwang Mrh

    bagus

    18/04

      0
  • avatar
    Anna14Anna

    keren banget ceritanya

    23/03

      0
  • avatar
    AdeliaSela

    ceritanya sangat menarik sekali

    14/02

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata