"Naura jadi gimana, kamu mau jadi pacar aku?" Naura menarik napas pelan, sebelum akhirnya mengangguk dengan senyuman yang semakin melebar. "Aku mau jadi pacar kamu, Sur." "Serius?" Tanya Surya memastikan. Naura kembali mengangguk, malu. Kepalanya menunduk, menutupi kedua pipi yang sudah diyakini bersemu merah. "YES!" Surya berteriak dengan kencang, melampiaskan kebahagiannya. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang juga tengah berada di tempat itu. Baginya hari ini, adalah hari yang paling membahagiakan untuknya. Surya meraih kedua tangan Naura agar Naura ikut berdiri bersamanya. Matanya menatap Naura dengan penuh binar. "Aku janji, Ra. Aku akan selalu membuatmu tersenyum bahagia seperti ini. Aku akan selalu ada untukmu. Aku janji pada seluruh muka bumi. Kepada keindahan Kota dan Langit malamnya. Aku Surya Armansyah akan mencintai dan menjagamu Naura Nada Shabita. S-E-L-A-M-A-N-Y-A." "Kamu akan selalu menjadi Ratu yang menduduki singgasana di hatiku. Kamu akan selalu menjadi obat disaat laraku. Kamu segalanya." "ARGGHHHHHHHHHHHHH!" "LO JAHAT!" "KENAPA LO PERGI GITU AJA TANPA PEDULI SAMA PERASAAN GUE?!" "MANA JANJI YANG LO UCAPIN KE GUE?!" "Bukannya gue Ratu yang menempati singgasana hati Lo? tapi kenapa pada akhirnya Lo tinggalin Ratu itu di singgasana yang usang?" Cairan bening itu berhasil menembus benteng yang sudah sekuat tenaga Naura tahan. Kenangan itu ... kenangan yang sangat menyakitkan untuk Naura, menusuk tajam tepat ke dalam rongga hatinya. Rasa sesak yang semakin menghimpit, membuatnya seakan sulit bernapas. Arpan yang mendengar teriakan Naura, menghentikan aktifitasnya menghisap rokok. Ia mendekatkan bangkunya ke samping Naura, dan tanpa berpikir panjang Arpan mendekap Naura ke dalam pelukannya. Membiarkan dada bidangnya menjadi pelepas rasa sesak yang diderita gadis yang tengah bersamanya. Gadis yang baru Arpan kenal, dan diikut campuri permasalahannya. Arpan tau luka yang kini tengah menggores hati Naura, adalah luka yang tak bisa dibandingkan sakitnya dengan luka apa pun. Sesuatu yang berhubungan dengan hati dan kekecewaan memang akan teramat menyakitkan. "Kenapa Lo pergi?" Pertanyaan itu terdengar lirih, namun masih bisa didengar oleh Arpan. Arpan mengusap lembut rambut Naura, membiarkan ia meluapkan kekesalannya. Naura semakin erat memeluk Arpan, bahkan kedua tangannya mencengkeram begitu kuat jaket yang Arpan kenakan. Isak tangisnya semakin jelas terdengar. Naura benar-benar meluapkan rasa emosi yang coba ia tahan selama ini. "Menangislah, karena gue yakin hanya itu cara yang bisa membuat hati Lo jauh lebih tenang." Arpan menghela napas pelan, sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "Kehilangan. Satu kata yang membawa banyak luka. Kata yang tidak pernah makhluk bumi inginkan kehadirannya. Namun, setiap orang pasti punya masanya masing-masing. Berada dititik kehilangan, entah itu orangtua, cinta, harapan atau bahkan kebahagian dalam hidupnya. Bedanya, hilang itu bisa dikembalikan dan ada juga yang harus kembali dikubur dalam-dalam. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, kehilangan bukan menjadikanmu seseorang yang lemah. Apapun yang terjadi hidup harus terus berjalan. Jangan biarkan rasa sakit itu terus-terusan menggerogoti jiwamu. Jangan biarkan luka itu mematikan bunga mekar yang ada di hatimu. Kamu berhak untuk mendapatkan kebahagiaan yang lain." Suasana mendadak hening. Raut wajah Arpan berubah setelah mengatakan kalimat panjangnya itu. Matanya tampak jelas memperlihatkan luka lama. Luka yang sudah Arpan lepaskan dengan ikhlas, kendati harus diingat kembali hari ini. "Gue pernah diposisi Lo saat ini. Kehilangan seseorang yang teramat gue sayangi. Bedanya, gue kehilangan orang yang berarti dan berpengaruh besar dalam hidup gue. Saat itu gue ngga tau harus ngelakuin apa. Gue merasa benae-benar sendirian. Seperti ngga ada gunanya untuk hidup." Beberapa detik untuk menunggu Naura sedikit tenang. Isak tangisnya tak lagi terdengar. Mendengar cerita Arpan membuat Naura menghentikan tangisannya. Naura melepas pelukannya pada Arpan. Kemudian menoleh ke arah Arpan yang tengah menatap kosong ke depan. "Lo, kehilangan siapa dalam hidup Lo?" "Ibu," jawabnya lirih. "Di usia gue yang masih tujuh tahun, yang masih memerlukan belaian sosok yang disebut ibu. Pelukan hangatnya. Cerewetnya. Kasih sayangnya. Tapi gue harus kehilangan senyum kebahagiaan itu. Gue harus tumbuh dewasa tanpa adanya seorang ibu. Itu benar-benar menyakitkan. "Terus bokap Lo?" Arpan tersenyum kecut, matanya kini beralih menatap hamparan tanah. "Jangan tanya bokap gue. Bahkan saat nyokap gue pergi dia sama sekali ngga peduli. Dia pergi ninggalin gue dengan wanita barunya." Naura menelan salipanya. Merasa tidak enak karena sudah bertanya terlalu jauh. "Gue minta maaf," ucap Naura. "Santai aja." Arpan menatap Naura yang kembali meneteskan air matanya. Tangannya mengangkat dagu Naura lembut, agar wajah cantik itu tak terus-terusan menunduk. Kedua tangannya menghapus jejak air mata yang masih tersisa di pipi Naura. "Gue yakin Lo pasti bisa. Gue aja bisa bangun dari keterpurukan itu. Kebahagiaan Lo tidak berhenti sampe di sini." Arpan menangkup kedua pipi Naura, memberikan senyum lebarnya. "Senyum!" Naura mengangguk seraya tersenyum simpul. Arpan benar. Naura hanya kehilangan orang yang ia anggap benar mencintainya. Arpan bangkit dari duduknya untuk mengambil balon-balon yang tadi ia susun. Kemudian kembali menghampiri Naura. "Lo bawa foto dia, kan?" tanya Arpan yang sibuk dengan tali balonnya. Naura mengangguk, lantas merogoh tasnya untuk mengambil foto yang dimaksud Arpan. Setelah Naura mendapatkannya ia langsung memberikannya pada Arpan. Sebuah foto yang tadi siang Arpan lihat. Saru-satunya foto yang masih Naura simpan. Arpan menggulung foti itu, kemudian mengikatkannya pada ujung tali balon. Setelah dirasa terikat dengan benar Arpan memberikan balon itu pada Naura. Tanpa berpikir lama Naura langsung mengambil alih seikat balon itu. "Sekarang apa?" Tanya Naura meminta intruksi selanjutnya. "Terbangkan," jawab Arpan. "Tapi sebelum itu, Lo ucapin dulu kalimat yang tadi gue kasih tau ke Lo. Masih inget kaimatnya, kan?" Naura mengangguk. Matanya menatap sendu seikat balon yang kini berada di genggamannya. Naura menghela napas panjang, matanya terpejam sebentar. "Terimakasih untuk semua hal yang pernah sempat singgah. Gue janji setelah ini, gue akan selalu tersenyum. Pergilah layaknya air yang mengalir. Tenang dan membawa kedamaian." Naura perlahan melepaskan genggamannya pada tali balon. Seikat balon itu mulai terbang terbawa angin, membawa pergi foto terkahirnya dengan Surya. Semakin jauh, membawa kenangan dan rasa sakit. Naura menyunggingkan senyum. Ia merasa seidikit membaik sekarang. Sesak yang sedari tadi menghimpit rongga dadanya Kini mulai menghilang perlahan. "Lupakan dia, tapi tidak membencinya. Karena mungkin dia punya alasan melakukannya." Naura menoleh Arpan yang tengah memandang langit malam. Lantas kembali menatap hamparan cahaya di bawah sana. "Gue ngga benci dia, kok. Bagaimanpun juga, dia udah pernah buat gue tersenyum." Arpan mengacak rambut Naura dengan lembut. Ia melempar senyum yang juga dibalas senyuman manis oleh Naura. "Thanks, udah bantu gue," ucap Naura dengan tulus. "You're welcome." Arpan merogoh ponsel di saku jaketnya. Menekan tombol power kemudian mematikannya lagi. "Ayo pulang! Gue kan udah janji sama nyokap Lo buat balikin Lo sebelum larut malem." "Emangnya gue barang." Naura kembali ketus. Arpan yang mendengar itu hanya tertawa kecil.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
18/04
0keren banget ceritanya
23/03
0ceritanya sangat menarik sekali
14/02
0Tingnan Lahat