Naura menarik napas panjang saat kakinya kembali menginjak tempat indah yang menyakitkan baginya kali ini. Tempat kisahnya di mulai. Kisah yang kini sudah menemui titik buntu dan tak mungkin kembali lagi. Tempat dimana sumber kebahagiaannya bermuara. Namun kini, berubah menjadi kepingan sesak yang masih dipertanyakan. Tentang kenapa dia pergi dan alasan kenapa dia menghilang. Perasaan yang tiba-tiba dibiarkan tanpa pelukannya. Arpan manaruh beberapa balon di dekat kursi yang memang telah disediakan di sana. Sedangkan Naura masih bergelayut dengan pikiran tak tentunya. Setelah selesai dengan aktifitasnya, Arpan berjalan mendekati Naura, lantas membimbingnya untuk duduk. Naura yang kaget spontan kembali menetralkan wajahnya. Untuk pertama kalinya Arpan memegang tangannya. Arpan yang sadar akan perubahan Naura akhirnya melepaskan cekalannya. "Sorry." "Iya, ngga apa-apa," jawab Naura canggung. "Lo udah siap?" Tanya Arpan yang masih sibuk menata balon-balon yang ia bawa. "Maksud Lo apa, sih? Bukannya Lo nyuruh gue buat ngelepas kenangan gue sama dia? Tapi kenapa sekarang Lo malah nyuruh gue buat mengenang lagi kenangan gue sama dia?" Tanya Naura seraya menatap Arpan dengan ketus. "Terus itu balon-balon buat apa? Gue ngga lagi ulang tahun." "Gue tahu ini bukan hari ulang tahun Lo." Arpan berjalan mendekati Naura, kemudian duduk di sampingnya. "Melupakan bukan berarti melenyapkan semua kenangan. Yang harus Lo buang cuma rasa sakit yang bersarang di hati Lo itu. Dan yang Lo lakukan hari ini, untuk berterima kasih karena dia pernah memberikan kebahagiaan di hidup Lo. Melakukannya untuk terakhir kali adalah sebuah pelepasan yang melegakan. Percaya sama gue." Naura terdiam, berusaha mencerna kalimat yang Arpan lontarkan barusan. Mungkin memang benar, ini adalah cara agar Naura benar-benar lepas dari bayang-bayang pahit yang selalu menjelajahi pikirannya. "Sekarang, ikutin kalimat yang gue ucapkan!" Naura mendongkak, menatap Arpan yang juga tengah menatapnya. "Terimakasih untuk semua hal yang sempat singgah. Gue janji setelah ini, gue akan selalu tersenyum. Pergilah layaknya air yang mengalir. Tenang dan membawa kedamaian." "Terimakasih untuk semua hal yang pernah sempat singgah. Gue janji setelah ini, gue akan selalu tersenyum. Pergilah layaknya air yang mengalir. Tenang dan membawa kedamaian." Naura mengulang kalimat itu dengan sempurna. "Lo harus ucapin kalimat itu setiap kali Lo selalu mengulang kenangan. Jadi Lo harus inget baik-baik kalimat itu. Ucapkan denga hati dan pikiran yang tenang. Gue yakin Lo akan merasa baik setelah itu." Naura menghela napas pelan. Kalimat yang Arpan lontarkan seperti membuka pikirannya. "Oke, gue paham." "Lo siap?" Tanya Arpan memastikan, sebelum memulai misinya. Naura mengangguk dengan penuh keyakinan. "Gue siap kembali mengingat kenangan itu." Naura menghela napas panjang. Mengumpulkan ketegarannya. Ia pasti bisa, dan harus bisa. "Selamat mengulang kenangan." Arpan sedikit menjauhkan kursinya dari Naura, agar gadis itu bisa leluasa. Naura menatap pemandangan di hadapannya dengan nanar. Deretan lampu-lampu kota yang menjulang seperti lautan cahaya. Indah dan mewah. Di atas langit sana ribuan bintang saling menyorotkan kerlipnya. Cahaya Rembulan yang menjadi penghias langit malam. Bersamaan dengan itu, kenangan mulai terputar dalam pikiran Naura. Layaknya film yang terputar secara otomatis. "Sur, kamu bawa aku ke mana sih?" Tanya Naura yang kini matanya tengah ditutup sebuah kain. Tangannya mencoba meraba-raba sesuatu yang ada di depannya. Namun yang rasakan hanya Semilir angin yang menyentuh kulitnya dengan lembut. Surya kembali menuntut Naura untuk duduk di kursi yang ada di sampingnya. Lantas Surya pun ikut duduk di samping Naura. Matanya menatap wajah Naura dengan senyum merekah. Ia tak siap untuk segera mengatakan sesuatu pada Naura. Perasaan yang bergejolak dalam dadanya. "Sur," panggil Naura. Tangannya mencoba mencari keberadaan Surya. "Aku buka sekarang penutupnya, ya." Tangan Surya mulai memegangi ujung kain. "Siap, ya." Naura mengangguk. Surya mulai menghitung. Sampai pada angka ke tiga penutup mata itu terbuka sempurna. Naura membuka matanya perlahan. Hembusan angin malam menerbangkan beberapa helai rambut Naura yang tergerai. Pemandangan pertama yang Naura lihat adalah, deretan cahaya lampu-lampu kota yang indah mengelilinginya. Bak lautan cahaya. Naura tersenyum takjub. Keinginannya untuk datang ke tempat ini akhirnya terwujud. "Ternyata, benar-benar indah!" Naura tak henti-hentinya memuji keindahan kota kelahirannya. "Kamu suka?" Tanya Surya, dan Naura pun mengangguk. "Suka banget! Makasih udah bawa aku ke sini." "Syukur, deh kalo kamu suka. Sorry, cuma bisa bawa kamu ke sini." Naura menoleh ke arah Surya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. "Aku, tuh pengen banget ke tempat ini, Sur. Tempat yang kata orang-orang indah untuk melihat luas dan indahnya kota Bandung. Justru aku yang makasih, aku ngga nyangka kalo kamu bakal bawa aku ke tempat ini. Aku pikir tadi kita ke Taman atau ke Balai Kota." "Berarti aku tepat bawa kamu ke sini." Naura mengangguk, lantas kembali menikmati pemandangan di depan sana. Surya dapat melihat ekspresi wajah Naura yang benar-benar senang dan tampak bahagia. Surya tidak membayangkan kalo Naura akan sebahagia dan seantusias itu. Di saat Naura masih asik dengan lampu-lampu kota di bawah sana. Surya menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Jantungnya kini berdetak lebih kencang dari biasanya. Surya benar-benar gugup. "Ra," panggil Surya pelan. "Iya, Sur?" Naura menatap Surya yang juga menatapnya dengan tatapan yang serius. Membuat Naura jadi salah tingkah. "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Surya lagi. "Mau ngomong apa?" Surya menghela napas panjang. Tangannya meraih kedua tangan Naura, membuat Naura terdiam kelu. Kini bukan hanya jantung Surya yang berdetak tak beraturan. Tapi jantung Naura juga. Mereka saling melempar tatap. "Aku suka sama kamu, Ra. Kamu mau jadi pacar aku?" Naura membulatkan matanya sempurna, tak percaya dengan apa yang Surya katakan. Naura pikir hanya dia yang memiliki perasaan lebih. Tapi ternyata Surya juga merasakan apa yang dirasakan olehnya. Naura seidikit memundurkan duduknya. Mencoba menetralkan ekspresi wajahnya. "Kamu ngga lagi bercanda atau ngeprank, kan?" tanya Naura tak ingin salah paham. Kalo kenyataannya Surya hanya mengusiknya, sungguh akan membuatnya malu. "Aku ngga bercanda, Ra. Aku beneran suka kamu dari pas pertama kali aku ketemu sama kamu di Koridor Sekolah. Senyum manis kamu yang pertama kali itu benar-benar ngga bisa aku lupain. Sampe akhirnya aku tau kalo kita masuk di jurusan yang sama. Di kelas yang sama juga. Aku akhirnya tau nama kamu. Dan coba deketin kamu, sampe akhirnya akrab seperti ini. Dan mungkin, ini juga saatnya untuk aku bilang kalo aku ... jatuh cinta sama kamu." Naura tidak tau harus berekspresi seperti apa. Tapi yang jelas di dalam hatinya senang karena orang yang Naura suka juga menyukainya. "Jadi gimana, Ra? kamu mau enggak jadi pacar aku?" Surya menatap penuh harap, menunggu jawaban yang akan Naura berikan.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
18/04
0keren banget ceritanya
23/03
0ceritanya sangat menarik sekali
14/02
0Tingnan Lahat